Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Setelah perjalanan pulang yang singkat namun tetap diisi candaan ringan, kendaraan Elio akhirnya berhenti rapi di halaman rumah keluarga Wijaya. Langit sore itu masih terang, diselimuti awan putih yang bergerak pelan, menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman setelah hari yang cukup sibuk di sekolah. Begitu mematikan mesin, Elio menoleh ke arah Alena yang baru saja melepaskan sabuk pengamannya dengan senyum lembut.
“Aku harus pulang sebentar dulu, ya. Kakek Baskara mengirim pesan tadi pagi, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dan harus didiskusikan segera. Tidak lama kok, paling hanya satu atau dua jam saja,” ujar Elio sambil membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Alena turun dengan langkah ringan, lalu mengangguk mengerti. “Tidak apa‑apa, silakan saja. Kebetulan Kakek Wijaya juga sudah pulang sejak siang tadi, jadi aku tidak sendirian di rumah.”
“Baiklah. Nanti aku datang lagi, bawa sesuatu untuk Kakek juga. Jangan pergi ke mana‑mana dulu, tunggu saja kabarku,” tambah Elio sambil mengusap lembut puncak kepala Alena sebelum masuk kembali ke dalam mobil dan melaju perlahan meninggalkan halaman.
Begitu masuk ke dalam rumah, Alena mendapati kakeknya sedang duduk santai di ruang tengah sambil membaca koran sore. Suasana terasa tenang dan sepi. Setelah menyapa dan menanyakan keadaan kakeknya, Alena berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Hari itu terasa cukup melelahkan—mulai dari jam pelajaran, ujian susulan, hingga suasana hati yang sempat naik turun karena keisengan Elio tadi pagi. Begitu sampai di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang terasa sangat nyaman.
Dengan santai, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur, lalu mulai membuka media sosial dan membaca pesan‑pesan masuk dari teman‑temannya. Namun, rasanya matanya terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Kepalanya terasa sedikit pusing, dan rasa kantuk perlahan menyelimuti kesadarannya. Tanpa sadar, jari‑jemarinya yang memegang ponsel perlahan melunak, posisinya semakin miring ke samping, dan tak lama kemudian, Alena pun terlelap dalam tidur yang nyenyak, ponselnya tergeletak di samping bantal.
Sementara itu, Elio tiba di rumahnya sendiri. Ia segera menemui Kakek Baskara yang sudah menunggunya di ruang kerja. Pembicaraan berlangsung cukup singkat, hanya membahas persiapan administrasi dan jadwal pertemuan keluarga untuk merencanakan acara pernikahan nanti. Setelah semuanya selesai, Elio langsung bergegas bersiap‑siap lagi. Ia berhenti sejenak di toko kue langganan keluarga, memilih sekeranjang kue bolu dan kue kering yang paling disukai Kakek Wijaya, lalu segera melaju kembali menuju rumah Alena.
Sesampainya di sana, Elio disambut hangat oleh Kakek Wijaya yang sudah tahu kedatangannya. Ia menyerahkan keranjang kue itu dengan sopan, lalu mengobrol sebentar membahas hal‑hal ringan sebelum akhirnya meminta izin untuk menemui Alena.
“Alena tadi bilang ingin beristirahat sebentar, mungkin masih di kamarnya,” kata Kakek Wijaya sambil tersenyum. “Silakan naik saja, Nak.”
Elio berjalan pelan menaiki tangga, lalu mengetuk pintu kamar Alena dengan lembut. Karena tidak ada jawaban, ia mendorong pintu sedikit dan melihat keadaan di dalamnya. Begitu melihat Alena yang sudah tertidur pulas di atas kasur, senyumnya langsung mengembang. Ia melangkah masuk perlahan, mendekati tempat tidur, lalu duduk di tepinya sambil menatap wajah gadis itu dengan pandangan lembut.
“Tidurnya nyenyak sekali, sampai tidak mendengar ketukan pintu,” bisiknya pelan, lalu mengusap rambut Alena yang terurai rapi.
Beberapa menit kemudian, Elio menggerakkan bahu gadis itu dengan lembut. “Alena… bangunlah, sayang. Sudah sore, dan aku ada rencana untuk kita.”
Alena mengerjapkan matanya perlahan, baru sadar bahwa ia tertidur cukup lama. Ia mengucek matanya, lalu menatap Elio yang sudah duduk di sampingnya. “Kamu sudah datang? Maaf, aku tertidur tadi…”
“Tidak apa‑apa, istirahat itu baik untukmu. Sekarang bangun dan bersiaplah, ya. Sore ini aku ingin mengajakmu menonton pertandingan basket yang akan aku ikuti. Teman‑teman di tim memintaku bergabung, dan aku ingin kamu ada di sana untuk menyemangatiku,” ujar Elio antusias.
Mendengar itu, Alena langsung bangkit dan tersenyum. “Baiklah, aku akan segera bersiap. Jangan lama menungguku.”
Setelah berpakaian santai namun tetap rapi, mereka berdua segera berangkat menuju lapangan basket yang terletak tidak jauh dari sekolah, tempat biasa diadakan pertandingan persahabatan antar kelompok siswa. Begitu sampai di lokasi, suasana sudah terasa ramai. Banyak siswa dari berbagai kelas yang sudah berkumpul, duduk di bangku penonton atau berdiri di pinggir lapangan.
Namun, begitu melangkah masuk ke area lapangan, pandangan Alena langsung menangkap sosok yang sudah sangat dikenalnya—Jena. Gadis itu sudah duduk di bangku paling depan, mengenakan pakaian yang terlihat sengaja dipilih agar menarik perhatian, dan sesekali melirik ke arah pintu masuk seolah sedang menunggu seseorang. Saat melihat Elio datang, wajah Jena langsung berseri‑seri, namun ekspresinya segera berubah menjadi cemberut saat melihat Alena berjalan berdampingan dengan Elio.
“Kamu lihat kan? Dia juga ada di sini,” bisik Alena sambil menyikut lengan Elio pelan.
Elio hanya melirik sekilas, lalu mengangkat bahu santai. “Biarkan saja. Yang penting kamu ada di sini, itu sudah cukup bagiku.”
Setelah berpamitan sebentar untuk berganti pakaian dan bersiap di pinggir lapangan, Elio meninggalkan Alena di bangku penonton yang cukup strategis. Tak lama kemudian, peluit pertandingan dibunyikan dan permainan pun dimulai.
Sejak bola pertama bergulir, Jena langsung beraksi. Ia berdiri dari tempat duduknya, melambaikan tangan dan berteriak sekeras mungkin agar suaranya terdengar hingga ke tengah lapangan.
“AYO ELIO! KAMU BISA! SERANGLAH! KUATKAN LARI MU!” teriaknya berulang kali, suaranya terdengar nyaring dan menarik perhatian orang‑orang di sekitarnya.
Alena yang awalnya hanya duduk santai, merasa sedikit terganggu dan terpicu semangatnya. Ia tidak ingin kalah suara atau perhatian dari gadis itu. Dengan semangat yang tiba‑tiba meledak, Alena pun berdiri, lalu mulai meneriakkan dukungannya dengan nada yang tidak kalah keras dan jelas.
“ELIO! LEMPAR BOLANYA! TANGKAP DENGAN KUAT! AKU ADA DI SINI MENYEMANGATIMU!” seru Alena, suaranya terdengar jelas dan penuh keyakinan, membuat beberapa penonton di sebelahnya menoleh dan tersenyum melihat persaingan kecil itu.
Setiap kali Elio berhasil mencetak poin, baik Alena maupun Jena sama‑sama berteriak riang, memuji kemampuannya dan mendorongnya untuk bermain lebih baik lagi. Suasana menjadi semakin seru, bahkan pemain di lapangan pun sempat melirik ke arah penonton sambil tersenyum melihat dua gadis yang sama‑sama bersemangat itu. Elio sendiri justru merasa terhibur dan makin bersemangat, karena di dalam hatinya ia tahu mana suara yang paling ingin didengarnya.
Setelah dua babak pertama selesai, tibalah saatnya waktu istirahat singkat. Para pemain berjalan keluar dari lapangan untuk mengambil napas dan menyegarkan tubuh. Begitu melihat Elio mendekati pinggir lapangan, baik Alena maupun Jena langsung bergerak serentak dari tempat duduk mereka.
Jena sudah memegang sebotol air mineral dan handuk kecil, berjalan dengan langkah cepat sambil tersenyum manis, berharap bisa menjadi orang pertama yang memberikannya. Namun, Alena yang posisinya sedikit lebih dekat dan sudah bersiap sejak tadi, melangkah lebih lincah dan cepat. Ia berjalan mendahului Jena, tiba tepat di hadapan Elio sebelum gadis itu sempat sampai.
“Ini, minumlah dulu. Jangan terlalu lelah, nanti sakit lagi,” kata Alena sambil menyerahkan botol air dingin dan handuk bersih yang sudah disiapkannya.
Elio menerimanya dengan senyum lebar, bahkan menyentuh tangan Alena sebentar sebelum membuka tutup botolnya. “Terima kasih, sayang. Terima kasih juga sudah menyemangatiku tadi, suaramu terdengar paling jelas dan paling membakar semangatku.”
Di belakang mereka, Jena yang baru saja sampai terpaksa berhenti di tempat, wajahnya memerah karena kesal dan malu. Ia memandang kedua botol air di tangannya sendiri, lalu menghela napas panjang sambil berdecak pelan, “Aduh, kenapa dia bisa secepat itu…”
Alena mendengar suara itu, lalu melirik sekilas dengan senyum kecil yang penuh kemenangan, namun tetap bersikap sopan. Ia berdiri tepat di samping Elio, seolah ingin menegaskan posisinya agar tidak ada yang salah paham.
“Bagaimana permainannya sejauh ini? Masih sanggup melanjutkan?” tanya Alena lembut sambil mengusap pelan lengan Elio yang berkeringat.
“Tentu saja, apalagi ada kamu yang menyemangati. Rasanya tenaga ini terasa berlipat ganda,” jawab Elio sambil meminum airnya dengan nikmat, matanya tak lepas menatap wajah Alena.
Sementara itu, Jena hanya bisa berdiri agak jauh, melihat dari kejauhan tanpa berani mendekat lagi. Ia sadar, betapapun kerasnya ia berteriak atau secepat apapun ia berjalan, ia tetap tidak akan bisa menandingi kedekatan dan perhatian yang sudah terjalin erat antara Elio dan Alena.
Tak lama kemudian, peluit berbunyi lagi menandakan pertandingan akan dilanjutkan. Elio kembali masuk ke lapangan, namun sebelum pergi, ia menoleh sebentar ke arah Alena dan mengedipkan matanya dengan senyum nakal.
“Tunggu aku selesai, nanti kita pulang bersama dan aku akan ajak makan malam yang enak sebagai hadiah untuk pendukung utamaku,” bisiknya pelan hanya untuk didengar Alena.
Alena tersenyum lebar, mengangguk semangat, lalu kembali bersiap meneriakkan dukungannya yang kali ini terasa lebih keras dan lebih bahagia dari sebelumnya. Di belakangnya, Jena hanya bisa berdiri diam, menyadari bahwa hari ini ia kembali kalah—bukan karena kecepatan atau suara, melainkan karena hati Elio sudah terisi penuh oleh gadis yang tepat untuknya.