Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Garam di Atas Daging
Setiap kali ombak kecil menabrak dadanya, Arka harus menggigit bibir bawahnya hingga robek untuk menahan jeritan.
Air laut di bawah dermaga Sektor 3 ini tidak hanya dingin, tetapi juga jenuh oleh polusi tumpahan solar, limbah pabrik, dan konsentrasi garam yang pekat. Ketika cairan beracun itu menyusup masuk ke dalam pori-pori kulit dadanya yang hangus dan terkelupas, rasanya seperti jutaan semut api sedang memakan ujung-ujung sarafnya secara hidup-hidup.
Tangannya yang gemetar hebat mencengkeram ban karet berlumut yang terikat pada tiang penyangga dermaga. Napasnya terdengar seperti rintihan babi yang disembelih—tersengal, basah, dan penuh keputusasaan.
Aku akan mati karena syok neurogenik jika terus berendam di sini, alarm di kepalanya meraung. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk memanjat tiang setinggi lima meter dengan sudut kemiringan...
BZZZZZT!
Sengatan Neural Feedback menghajar pangkal tengkoraknya, membuat pegangannya pada ban karet nyaris terlepas. Kepalanya terkulai lemas ke belakang, membentur beton tiang. Ia tidak boleh menghitung probabilitas. Dunia ini membenci otaknya.
Mengandalkan murni insting hewani dan sisa-sisa adrenalin yang menipis, Arka mengangkat lengannya, memeluk tiang penyangga dermaga yang dipenuhi cangkang teritip setajam silet. Ia menarik tubuhnya naik dari permukaan air kotor tersebut.
KREEEK.
Teritip-teritip itu merobek kulit telapak tangan dan lengan bawahnya dengan mudah, meninggalkan garis-garis merah darah yang langsung tersapu air laut. Arka mengerang panjang, matanya melotot menahan siksaan yang bertumpuk. Luka bakar di dada, luka sayat di tangan, dan hipotermia yang membekukan aliran darahnya.
Satu inci demi satu inci, ia menyeret tubuh kurusnya ke atas tiang, hingga akhirnya jemarinya berhasil menggapai tepian catwalk (jembatan inspeksi) baja berkarat yang menggantung di bawah lantai beton dermaga. Dengan satu tarikan napas terakhir yang berbau karat, ia melemparkan tubuhnya ke atas kisi-kisi baja itu.
Bruk.
Arka terkapar miring. Dadanya yang melepuh naik turun dengan ritme yang menakutkan. Uap dingin mengepul dari tubuh basahnya ke udara malam Sektor 3 yang lembap. Pandangannya mulai menyempit, diwarnai bintik-bintik hitam di sudut matanya.
"Bram..." rintih Arka. Tangannya meraba kisi-kisi baja kosong di depannya. "Gelap... aku kedinginan, Bram."
Dari sudut matanya yang mengabur, siluet raksasa Bram muncul, berjongkok di atas jembatan berkarat itu sambil menghisap rokok linting yang tak bernyala.
"Kau pikir air laut ini bisa jadi salep, Bos?" Suara halusinasi Bram terdengar berat dan mengejek. "Bangun. Kalau kau mati membeku di sini, Hasan tidak akan pernah dapat obatnya."
Nama Hasan adalah tombol darurat terakhir di jiwa Arka. Rahangnya mengeras. Ia menolak mati sebagai bangkai tanpa nama di bawah pijakan kaki para pekerja Sektor 3.
Arka memaksa lututnya menekuk. Ia merangkak di sepanjang jalur inspeksi yang sempit dan gelap itu. Beberapa meter di depannya, tepat di bawah sambungan pilar utama, terdapat sebuah kotak logam kuning kusam yang tertempel di dinding beton—kotak P3K Darurat untuk kuli pemeliharaan dermaga.
Tangan Arka yang penuh darah dan lendir teritip menggapai tuas kotak itu. Terkunci. Gembok analog berkarat menahan pintunya.
Arka tidak perlu berpikir atau meretas. Ia memungut sebuah baut baja seukuran kepalan tangan yang tergeletak di lantai catwalk, memegangnya dengan kedua tangan yang gemetar, lalu menghantamkannya ke gembok berkarat itu dengan sisa tenaga terakhirnya.
PRANG!
Gembok itu hancur. Kotak terbuka. Bau obat-obatan murahan dan alkohol medis langsung menguar, bau yang lebih manis dari parfum mana pun saat ini.
Di dalamnya hanya ada perlengkapan sisa: dua gulung perban kasar, botol kecil alkohol pembersih, dan satu tube salep luka bakar kelas industri yang biasa digunakan untuk kuli yang terkena percikan las.
Arka menyandarkan tubuhnya ke dinding beton. Tangannya yang lecet membuka tutup tube salep itu menggunakan gigi. Tanpa ragu, ia meraup salep kental berwarna putih itu dalam jumlah besar, lalu mengusapkannya langsung ke atas luka bakar stadium dua di dadanya.
"AAARRRGGHH!" Jeritan Arka tertahan oleh gigitannya pada kerah kemeja bekunya sendiri. Sensasi dingin dari salep itu bertabrakan hebat dengan dagingnya yang matang, menciptakan ledakan rasa sakit yang memaksanya meneteskan air mata darah. Tubuhnya mengejang hebat selama sepuluh detik penuh.
Saat kejangnya mereda, efek anestesi lokal dari salep murah itu mulai bekerja, meredam denyut api di dadanya menjadi rasa kebas yang menumpulkan saraf. Arka terengah-engah, dengan cepat melilitkan perban kasar memutari dada dan punggungnya secara asal-asalan, hanya untuk mencegah infeksi dari udara dermaga.
Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap ke arah celah di atas dermaga. Dari sana, cahaya neon berwarna-warni memantul dari Sektor 3, diiringi suara dentuman musik mekanik dari bar-bar bawah tanah dan deru kendaraan hover kelas menengah.
Ia telah menembus gerbang neraka Sektor 3. Ia berdarah, sendirian, gila, dan setengah membeku, namun Arka tersenyum.
"Kita akan cari siapa Sitorus itu, Bram," bisiknya pada tiang beton yang dingin, matanya kini memancarkan obsesi gelap yang menyala-nyala. "Kita potong jalur logistiknya dari dalam."
***
**[AUTHOR NOTE]**Perjuangan survival absolut! Merangkak naik dengan tangan teriris cangkang teritip dan merawat luka bakar dengan salep kuli kelas bawah. Arka akhirnya berhasil memberikan pertolongan pertama pada dirinya sendiri, meskipun kewarasannya semakin terkikis oleh halusinasinya terhadap Bram. Sekarang Arka secara teknis berada di perut Sektor 3, wilayah kekuasaan Sitorus. Apa langkah pertamanya di kota neon distopia ini? Tulis teori kalian!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼