Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Adera langsung bergegas pergi menuju Rumah Sakit Adisakti tempat Papa Nindy dirawat. Hatinya berdebar kencang, campur aduk antara khawatir dan keinginan kuat untuk segera membantu.
Sesampainya di sana, dia langsung menemui Nindy dan Mamanya. Melihat kondisi Papa Nindy yang terbaring lemah dan wajah sahabatnya yang pucat pasi menahan cemas, membuat tekad Adera semakin bulat. Dia memeluk Nindy erat, mencoba menguatkan sahabatnya itu sekuat tenaga.
"Tenang ya Nin... tenang... ada gue di sini. Kita pasti bisa cari jalan keluarnya," bisik Adera lembut, meski di dalam hatinya sendiri juga sedang gugup bukan main.
Adera menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dia tahu satu-satunya harapan mereka saat ini hanyalah satu orang: Damar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Adera mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan nomor pria itu.
Tuuut... Tuuut... Tuuut...
Bunyi sambungan telepon terdengar panjang, namun tidak ada yang mengangkat sama sekali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus otomatis.
Adera mengerutkan kening. Dia mencoba menelepon sekali lagi, dan sekali lagi... hasilnya tetap sama.
Tidak diangkat.
"Apa dia sedang operasi ya?" batin Adera bertanya-tanya. Dia tahu betul bagaimana sibuknya pria itu saat sedang bekerja, biasanya dia tidak akan mengganggu. Tapi kali ini keadaan darurat!
Tapi Adera tidak mau menyerah begitu saja. Demi Nindy, demi Papanya... dia harus bertemu Damar!
"Baiklah... kalau lewat telepon tidak bisa..." gumam Adera tegas. "Aku akan cari dia langsung!"
Tanpa pikir panjang, Adera berlari kecil menuju meja resepsionis utama. Wajahnya terlihat sangat serius dan panik.
"Permisi... Maaf mengganggu," sapa Adera cepat pada petugas admin. "Saya mau tanya, Dokter Damar sedang berada di mana saat ini? Apakah dia sedang operasi? Atau sedang ada di ruangannya?"
Petugas itu tampak sedikit bingung dan ragu, namun melihat wajah Adera yang terlihat begitu tegang, akhirnya menjawab dengan hati-hati.
"Eemm... Dokter Damar saat ini sedang ada di ruang operasi, Non. Masih berlangsung. Sepertinya masih butuh waktu lama," ujar salah satu admin RS.
Mendengar itu, jantung Adera serasa dicekam. Tapi dia tidak mau putus asa.
"Kalau begitu... kalau operasinya selesai, dia biasanya langsung ke ruangannya kan?" tanya Adera cepat.
"Iya benar, Non. Biasanya setelah operasi besar beliau akan istirahat sebentar atau mengecek laporan di ruangan direktur," imbuh admin yang bertugas.
"Baik, terima kasih!" seru Adera cepat.
Adera memutuskan untuk menunggu. Dia tidak akan pergi dari sini sebelum bertemu Damar. Dia akan menunggu sampai operasi itu selesai, dan dia akan menghadang pria itu demi memohon bantuan untuk Papa Nindy!
Waktu terus berlalu, menit demi menit terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa.
Sudah hampir dua jam berlalu sejak Adera memutuskan untuk menunggu di depan ruangan Direktur Utama. Kakinya terasa pegal, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, namun rasa lelah itu sama sekali tidak ia hiraukan.
Di sepanjang koridor yang sepi dan dingin itu, hanya ada dirinya seorang.
Adera berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Matanya sesekali melirik jam tangan, lalu kembali menatap ujung koridor dengan penuh harap. Hatinya dipenuhi rasa cemas yang luar biasa, membayangkan kondisi Papa Nindy yang sedang menunggu pertolongan, membayangkan Nindy dan mamanya yang pasti sedang menangis menunggu kabar.
"Damar... tolong cepatlah selesai... tolong segera keluar..." batinnya berteriak memohon, tangannya tergenggam erat penuh doa.
Ia tidak peduli kalau harus menunggu berjam-jam, tidak peduli kalau kakinya bengkak atau badannya lelah. Selama belum bertemu Damar dan belum mendapatkan kepastian, ia tidak akan beranjak dari tempat itu walau sedetik pun.
Hingga akhirnya...
Suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat dari arah ruang operasi.
Tubuh tinggi besar itu muncul di ujung lorong. Damar baru saja selesai melakukan operasi panjang dan melelahkan. Wajahnya tampak serius dan sedikit lelah, seragam medisnya masih melekat sempurna, namun aura wibawanya tetap terpancar kuat.
Namun, saat ia berjalan mendekati ruangannya dan melihat sosok yang sedang berjalan bolak-balik dengan gelisah tepat di depan pintunya...
Langkah Damar seketika terhenti mati.
Matanya membelalak lebar tak percaya. Alisnya terangkat tinggi, wajahnya yang tadi datar dan dingin seketika berubah menjadi kaget luar biasa.
"A-Adera?!" seru Damar pelan namun terdengar jelas di koridor yang hening itu.
Ia mengucek matanya sebentar, memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi akibat kelelahan. Tapi tidak... itu benar-benar Adera! Gadis yang selama ini memenuhi pikirannya!
Damar benar-benar terkejut bukan main. Ia tidak pernah menyangka akan menemukan gadis itu berdiri menunggunya di sana, apalagi sampai mondar-mandir dengan wajah penuh kekhawatiran seperti itu.
"Kamu... kamu ngapain ada di sini? Dan sejak kapan kamu berdiri di sini?!" tanya Damar cepat, langkah kakinya otomatis berjalan mendekat dengan wajah penuh tanda tanya sekaligus rasa haru yang tak terduga.
Tanpa membuang waktu dan tanpa peduli rasa malu atau canggung, Adera langsung melangkah mendekat dengan langkah tergesa. Matanya yang tadi terlihat panik kini mulai berkaca-kaca menahan tangis.
"Damar... tolongin aku Damar..." panggil Adera dengan suara bergetar hebat. Dadanya terasa sesak menahan beban kekhawatiran yang begitu besar.
"Ada apa Sayang? Tenang dulu, tarik napas..." ucap Damar cepat, tangannya terangkat ingin menyentuh bahu gadis itu untuk menenangkannya.
Tapi Adera langsung memotongnya dengan permohonan yang tertahan di tenggorokan.
"Tolong bantu aku Damar... tolong banget!" seru Adera memohon dengan sangat memelas. "Papa sahabat aku... Papa Nindy... kondisinya lagi kritis banget. Dia butuh operasi secepatnya. Dokter yang menangani bilang... cuma kamu satu-satunya yang paling ahli dan bisa nanganin kasus ini dengan aman. Tolong Damar... tolong selamatin dia..."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh menetes di pipi mulus Adera. Wajahnya terlihat begitu putus asa namun penuh harap besar pada pria di depannya.
Melihat gadis yang dia sayangi menangis dan memohon dengan begitu tulus seperti itu, hati Damar serasa diremas kuat. Dia tidak tega melihat Adera secemas ini.
"Shhh... udah jangan nangis lagi..." bisik Damar lembut, suaranya terdengar sangat menenangkan. "Tenang ya... tenang dulu. Masuk dulu sama aku ke dalam ruangan, jangan di sini."
Damar dengan sigap membuka pintu ruangannya, lalu menggiring tubuh mungil Adera masuk ke dalam.
Begitu pintu tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar, Adera yang merasa sudah aman dan merasa Damar adalah satu-satunya harapan.
Tangan mungilnya langsung mencengkeram kuat bagian baju seragam Damar. Dia memegang erat kain itu seolah itu adalah tali penyelamat satu-satunya.
"Damar... aku mohon banget sama kamu..." ucap Adera lirih, wajahnya mendongak menatap Damar dengan tatapan memohon yang sangat menyayat hati. "Aku gak bisa bayangin kalau terjadi apa-apa sama Papa Nindy. Tolong bantu kami ya... tolong operasi dia. Aku tahu kamu sibuk, aku tahu kamu orangnya penting, tapi tolong... demi aku ya Damar... tolong..."
Adera mengepal kuat bajunya Damar, tubuhnya gemetar hebat menahan isak tangis. Dia benar-benar memohon dengan segala kerendahan hati, berharap keajaiban akan terjadi dan pria itu mau menuruti permintaannya.