Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
Di aula depan, kebisingan mulai tak terkendali. Beberapa botol arak berkualitas tinggi yang disuguhkan untuk Paman Wang kini telah tandas tak bersisa. Pria paruh baya itu mulai meracau asal-asalan akibat pengaruh alkohol. Di sebelahnya, wajah Bibi Wang kian memerah menahan malu setiap kali suaminya itu melontarkan celetukan ringan yang memalukan.
"Pantat pengawal itu kutendang kasar!" seru Paman Wang dengan suara lantang sembari menepuk dadanya congkak.
"Aku ini hanya ingin bersenang-senang dengan pelayan gadis itu, tapi pengawal sialan itu malah memukulku!" Tangannya menebas udara dengan kesal, wajahnya kian memerah pekat dengan sorot mata yang semakin kuyu dan sayu.
Pria paruh baya itu menggebrak meja dengan kasar. "Aku ingin gadis itu jadi selirku!" teriaknya kesal, tepat sebelum sebuah pukulan keras dari Bibi Wang mendarat di lengannya untuk membungkam mulut lancangnya.
Gu Mingyue tetap duduk dengan tenang, menikmati setiap sesapan dari cangkir tehnya. Sebuah senyuman kepuasan tersungging lebar, tersembunyi dengan aman di balik dinding cangkir porselen.
"Bibi, kurasa aku harus belajar banyak hal darimu," ujar gadis itu seraya menurunkan cangkirnya perlahan, menyambut tatapan penuh tanya dan kilat amarah dari Bibi Wang.
"Terutama untuk tata krama menghadapi suami yang mabuk dan meracau ingin mengangkat selir baru," lanjut Mingyue sengaja menjeda kalimatnya, lalu melirik manja ke arah Shen Mufeng. "Meski suamiku sendiri sudah berjanji di hadapanku bahwa dia tidak akan pernah mengangkat seorang selir pun."
Bibi Wang mendengus kasar, wajahnya merah padam menahan dongkol. "Itu urusan rumah tanggamu!"
Gu Mingyue terkekeh pelan, menumpukan dagunya dengan anggun. "Bibi, tadi Anda begitu bersikeras ingin mengajariku tentang tata krama istri utama. Tapi sekarang? Aku justru sedang meminta ilmu dari Bibi," gadis itu melirik ke arah Paman Wang yang kini telah teler dan ambruk di atas meja sambil terus meracau lirih. "Aku sama sekali tidak sedang mengejekmu, Bibi."
Shen Mufeng buru-buru memotong pembicaraan sebelum Bibi Wang sempat melayangkan balasan sengit atas ucapan istrinya, "Bibi, malam sudah kian larut. Kurasa kita semua harus segera beristirahat."
Namun, Paman Wang justru malah meraung keras, menolak untuk disuruh tidur dan menuntut tambahan botol arak baru. Dengan kesadaran yang sudah tersisa separuh, ia berteriak lantang bahwa ia ingin bebas malam ini dari cengkeraman istrinya yang galak.
Bibi Wang rasanya ingin menghilang dari atas lantai aula saat itu juga.
"Paman sepertinya memang sangat merindukan masa mudanya... yang penuh gairah," ucap Mingyue halus, dengan satu sudut bibirnya yang terangkat sebelah, melempar pandangan penuh kemenangan ke arah Bibi Wang.
Sementara itu, di balik pintu aula depan, Bibi Liu berdiri mengamati kericuhan yang tengah terjadi di dalam. Merasa situasi di aula depan sudah cukup kacau dan perhatian semua orang telah sepenuhnya teralih, pelayan tua itu tahu inilah saat yang tepat baginya untuk menyelinap.
Ia mendekati salah satu pelayan junior yang berjaga di koridor, lalu berbisik pelan dengan nada penuh perintah, "Aku ada urusan mendesak di belakang. Kau, selesaikan dan urus semua keperluan di sini."
Tanpa menunggu jawaban, Bibi Liu langsung berbalik arah, melangkah cepat menuju kegelapan koridor belakang dengan seikat kunci tersembunyi di balik lengan bajunya.
Bibi Liu melangkah cepat menuju salah satu tempat paling berbahaya di seluruh Kediaman Shen; "Ruang Utama Jenderal" yang berada di dalam paviliun pribadi Shen Mufeng. Tempat itu bukan sekadar ruang kerja sang Jenderal, melainkan pintu masuk menuju sebuah penjara bawah tanah rahasia yang tersembunyi di bagian belakang bangunan.
Napas pelayan tua itu memburu. Tanpa membuang waktu, Bibi Liu memantapkan langkahnya mendekati seorang pengawal militer bertubuh tegap yang berjaga ketat di depan pintu masuk paviliun.
"Aku harus masuk untuk mengambil persediaan arak pribadi Jenderal, Tuan," bohong Bibi Liu, mencoba menstabilkan suaranya seraya memamerkan seikat kunci gudang di tangannya sebagai bukti pembenaran.
Pelayan tua itu segera berjalan masuk ke dalam ruang pribadi Jenderal, berpura-pura melangkah menuju rak koleksi arak pribadi sang Tuan. Setelah melirik ke beberapa penjuru untuk memastikan tidak ada orang yang mengawasi, ia bergegas mendekati sebuah pintu rahasia di sudut ruangan yang menghubungkan langsung ke penjara bawah tanah.
Langkahnya menuruni anak tangga yang gelap, lembap, dan sedingin es. Beberapa obor dinding tampak membara samar, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang temaram di dalam inti penjara—sebuah ruangan jagal tempat Shen Mufeng biasa menginterogasi musuh-musuh militer yang ditangkapnya.
Di salah satu sel besi, tampak tergeletak seorang pria berpakaian gelap dalam kondisi tak berdaya. Bibi Liu menoleh ke kanan dan ke kiri sekali lagi untuk memastikan situasi aman, sebelum akhirnya melangkah mendekat dengan terburu-buru. Tangan keriputnya meraba pinggang, mengeluarkan sebilah belati tajam yang berkilat dari balik lipatan pakaiannya.
"Kau sangat bodoh!" makinya dengan suara berbisik yang bergetar penuh amarah.
"Mengapa kau harus sampai ketahuan, hah?!" cecar pelayan tua itu lagi, menatap tajam sosok interogator sewaan yang kini sudah sekarat.
Pria di dalam sel itu hanya mengerang lemah, bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya.
"Lupakan seratus tael perak yang kujanjikan itu! Sekarang, kau harus mati!" desis Bibi Liu kejam, seraya mengangkat belatinya tinggi-tinggi, bersiap menghujamkannya demi membungkam satu-satunya saksi kunci pengkhianatannya.
Tangan wanita tua itu terangkat tinggi, otot-otot wajahnya mengeras penuh kedengkian. Ujung belati sudah siap menusuk ke bawah sebelum sebuah anak panah melesat cepat membelah kegelapan, menghantam telapak tangannya dengan akurat.
Jlap!
Benturan keras itu seketika membuat Bibi Liu memekik kesakitan, "Ah!"
Belati di genggamannya terlepas, berdenting nyaring di atas lantai batu saat darah segar mulai menetes dari lukanya. Panik dan gemetar, ia buru-buru memegangi tangannya yang terluka sambil mengedarkan pandangan liar ke sekeliling sel yang remang-remang.
"Kau akhirnya terjebak juga, Bibi Liu," sebuah suara berat menginterupsi dari kegelapan.
He Si melangkah keluar dari salah satu sel dingin yang gelap gulita, memegang busur panahnya dengan tatapan mata yang teramat dingin dan menghakimi.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya