Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Vitalitas
Keesokan paginya bangun Cakra telah merasa segar, dirinya juga menyadari satu hal kemampuan untuk masuk ke dunia mimpi hanya aktif jikalau tenaga dalam masih ada. Marisa yang mendengar Cakra terbangun langsung menyapa.
“Selamat pagi”
“Cakra”
.
“Ah”
“Selamat pagi” Cakra menyapa balik dengan keheranan.
“Kau…”
“Bangun pagi?”
.
“Hehe aku sedang mencoba membuat bubur”
“Aku juga menyiang ikan sudah berhasil”
“Apa kau ingin merasakannya?” Marisa menyodorkan semangkuk bubur hangat kepada Cakra yang dikasur.
.
“Umm”
“Boleh” Cakra mengambil mangkuk yang disodorkan Marisa.
Cakra memakan dan menyadari rasanya cukup enak.
“Umm ini enak”
“Ada daging juga”
.
“Ya….”
“Aku merebus dagingnya semalaman”
“Aku kira dengan begitu rasa dari dagingnya akan meresap” Marisa merasa bangga.
Cakra melihat tangan Marisa yang melepuh dan penuh luka.
“Kau…”
“Terluka?”
.
“Eh” Marisa menyembunyikan tangannya.
“Tidak tidak apa apa”
“Hanya goresan kecil”
.
Cakra menatap Marisa.
“Sudah”
“Kemarikan tanganmu” mengambil barang dari tasnya.
Cakra memperlihatkan antibiotik luka dan perban juga kapas. Dirinya lalu meneteskan antibiotik ke air yang telah disiapkan dan menyuruh Marisa mencelupkan tangannya.
“Masukkan tanganmu kesini”
.
“Uh… sakit” Marisa menahan sakit ketika memasukkan tangannya.
Setelah selesai membasuh luka, Cakra membalut tangan milik Marisa dengan perban dan juga kapas yang telah ditetesi obat.
“Sekarang selesai”
.
“Terima kasih..”
Marisa tiba tiba teringat akan batu yang dia temukan dan menunjukkan ke Cakra.
“Cakra lihat ini” Marisa menyodorkan kristal hijau yang dia temukan.
.
“Ini….”
“Dari mana kau mendapatkan ini?” Cakra penasaran.
.
“Aku mendapatkan dari monster yang kukalahkan” Marisa membanggakan diri.
.
“Monster apa?”
“Apakah kau tau jenisnya?”
.
“Aku gak tau… hanya saja”
“Benda itu terbentuk dari darah dan daging”
“Aku mengontrol dan mempercepat pohon untuk menyerapnya”
.
“Oh?”
“Kau bisa mengontrol pohon?”
.
“Ya”
“Tanpa sadar kemarin malam aku berhasil melakukannya”
.
“Kau benar benar cepat belajar ya soal ini”
.
“Hum hum”
“Terima kasih”
Cakra lalu seperti sebelumnya mencoba membuat batu itu mengorbit area batu utama. Dia mencoba mengatur jarak semakin dekat hingga akhirnya terasa gaya Tarik. Tapi batu ini rupanya mengorbit sangat dekat dengan batu utama berada.
“Hmm”
“Sepertinya belum ada efeknya…”
“Ya sudah kutunggu”
Setelah beberapa menit melihat, akhirnya muncul efek di lintasan dimana batu ini menyebarkan seperti debu di lintasannya yang terlihat berkelap kelip. Cakra tidak mengetahui fungsinya akhirnya menunggu kembali. Di luar gua, beberapa pohon tiba tiba menghasilkan efek khusus. Dimana bahkan makanan pokok manusia di dunia ini tiba tiba memiliki energi mereka sendiri. Selain itu beberapa pohon terlihat membesar hingga menjadi sebesar gunung, yang membuat manusia cukup kaget.
“Uh….”
“Kenapa aku merasa dunia ini semakin aneh saja”
“Kenapa harus ladangku lagi yang kena?” terlihat seorang petani menatap pohon raksasa dengan tatapan kosong”
Di dalam gua Cakra merasakan sesuatu dari ruang untuknya Bertani, dirinya akhirnya masuk dan melihat jikalau beberapa apel terlihat ukurannya membesar.
“Hmmm”
“Jangan bilang….”
“Efeknya adalah vitalitas…”
“Tapi kenapa hanya untuk tumbuhan…”
“Sebentar…”
“…”
“Sepertinya bukan hanya tumbuhan…”
Sebuah monumen batu muncul di hadapan Cakra, dimana monument ini menunjukkan penjelasan efek. Sedangkan di tempat lain, sebuah Kerajaan Kerajaan yang terkubur muncul dan seperti memancarkan Cahaya ke langit membentuk sebuah formasi yang membuat ruang tak mudah robek. Rupas yang melihat hal tersebut menyadari jikalau dia akan kesulitan, para dewa luar juga berkeringat dingin melihat formasi tersebut.
“Formasi ini….”
“Ini adalah formasi murni”
“Bukan formasi buatan” Zeus mengggenggam singgasananya hingga terlihat retak.
Formasi formasi ini tersebar mengelilingin dunia itu seperti menopang langit mereka. Cakra gak terlalu peduli tapi dia menyadari kalau sesuatu juga terjadi di luar. Jadi dia melihat sebuah Cahaya terpancar ke langit.
“Cahaya ini….”
“Ah aku paham ini revitalisasi langit dan bumi”
“Yang dijelaskan monument itu cukup menarik…”
“…”
“Sebentar”
“Kalau begitu bukannya masing masing batu punya efek masing masing?”
“…”
“Ah penjelasannya gak lengkap”
“Apalagi batu utama”
.
“Cakra liat ini” Marisa memperlihatkan sebuah kunang kunang yang tertidur ketika keluar dari ruangan pertanian.
.
“Ini…”
“Apakah fungsinya mirip lebah?”
.
“Apa tu fungsinya?” Marisa penasaran.
.
“Fungsi dari lebah itu untuk penyebaran serbuk sari secara alami”
“Karena ketika mereka mengambil nectar pada dasarnya mereka membantuk pembuahan”
“Di duniaku orang orang sudah mulai kehilangan lebah”
.
“Oooh aku paham” Marisa terlihat senang akan penjelasan.
Di pohon pohon raksasa terlihat mahluk seperti lebah turun, saat lebah lebah ini turun terjadi pembuahan yang cukup cepat membuat panen meningkat. Tapi para peneliti dan ahli tanah mengatakan ini hanya sementara, walau rasa buah akan meningkat untuk seterusnya.
“Hmm”
“Kami yakin seperti itu” seorang peneliti berpakaian seperti pejabat mengatakan hal diatas.
Cakra mencoba melihat bagian dalam gua yang terbuka sebelumnya, memperhatikan lapisan seperti akar sudah hampir terbentuk sempurna.
“Hmm hanya tersisa sehari lagi…”
“Apakah ini akan berhasil”
“Mungkin ini bisa membantuku untuk pergi ke banyak dunia…”
“Ah yasudahlah”
Cakra kembali ke tempatnya duduk melihat Marisa sedang membaca, Cakra menyadari Marisa terlihat sangat asik akan cerita tersebut.
“Apa itu seru?” Cakra bertanya ke Marisa.
.
“Ya”
“Ini sangat seru”
“Wanita yang sangat tegas dan bisa bertindak seperti pemimpin”
“Aku ingin seperti dirinya”
.
“Sepertinya perjalananmu masih panjang…”
Marisa melanjutkan membaca buku, sedangkan Cakra sedang mencoba memikirkan skema menciptakan Yggdrasil di dunia mimpi milik Marisa.
“Hmm”
“Apa mungkin”
“Awalnya Pohon dunia itu adalah biji pengganti lubang hitam yang kulihat…”
“Kalau begitu bagaimana jika…”
Cakra terlihat menulis urutan yang dia anggap benar, sebuah bentuk keadaan yang mirip menurutnya.
“Baiklah”
“Mungkin inti yang awalnya hanya sebuah bola lebih memadat menjadi sebuah benih singularitas”
“Tujuan Marisa harusnya meledakkan biji itu untuk menciptakan Cahaya yang menyebar dan cara membekukannya bisa dengan…”
“Menemukan tempat yang cocok….”
“….”
“Ya bisa seperti itu…”
Cakra masih terus menyempurnakan cara buatannya, karena dirinya gak bisa mengawasi secara langsung jadi dia merasa harus memastikan tidak adanya kesalahan. Cakra tiba tiba kehilangan kesadaran dan terus menggambar. Didalam gambarnya sebuah fase-fase terbentuk, dimana setiap fase rupanya adalah cara yang cukup sulit dilakukan oleh dunia milik Cakra. Cakra sadar.
“Ini…”
“Fase fasenya…”
“Dia hanya melengkapi yang aku terlewat”
“Tekanan benar benar benih itu harus menyimpan daya ledak yang sangat tinggi”
“Yang berarti pemadatan menjadi benih itu dilakukan bertahun tahun”
“…”
“Tapi pada saat proses itu harusnya waktu akan dipercepat”
Cakra berpikir apakah Marisa bisa menahan hal ini…
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...