Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Pagi kesekian bagi Aruna, bedanya ia terbangun di tempat berbeda bukan kamarnya. Melainkan kamar yang dulu ia gunakan sebelum di adopsi, tidak menyangka ternyata kamarnya masih di pertahankan. Hanya di perbarui beberapa perabotan di dalam seperti tempat tidur, lemari pakaian juga meja belajar. Kata ibu panti, sengaja kamar ini di siapkan kalau- kalau ia datang berkunjung suatu hari nanti dan menginap.
Jika ternyata mereka melakukan hal yang sama ketika di masa lalu, maka Aruna merasa sangat bersalah sekarang karena tak pernah sekali pun datang berkunjung. Dulu ibu panti, Altair, juga anak-anak lain pasti sangat kecewa padanya. Sekarang Aruna tak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Tok..tok..
"Nona, ini saya Mia. Anda sudah bangun?"
"Iya, baru saja. Masuklah, Mia."
Cklek.
Mia masuk dengan membawa pakaian ganti milik Aruna, meletakkannya di atas meja dengan rapi.
"Pakaian anda, Nona."
"Terima kasih," ucap Aruna. Anak itu sedikit merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan kuapan kecil yang khas.
Tok..tok..
"Oh? Runa? Kau sudah bangun?" tanya Altair dari luar pintu kamar. Ia mengetuk dan kaget karena mendapati pintunya sudah terbuka. Sedikit mengintip dan tersenyum karena mendapati Aruna sedang terduduk di ranjang dengan senyuman di wajahnya.
"Selamat pagi, Al," sapa Aruna.
"Selamat pagi, Runa. Ibu panti dan temanmu itu sudah menyiapkan sarapan. Ayo sarapan bersama," ajaknya.
Aruna mengangguk, "Oke, aku akan mandi dulu dan menyusul."
"Baiklah. Aku akan mengatakannya pada ibu," ucapnya lalu pergi meninggalkan kamar Aruna.
Setelahnya Aruna mandi dan berganti dengan pakaian yang di bawa oleh Mia. Sebenarnya bingung sejak kapan Mia menyiapkan pakaian miliknya karena awalnya mereka tidak berencana untuk menginap. Ia sempat bertanya tadi dan Mia menjawab bahwa ia memang selalu membawa pakaian tambahan kemana pun mereka pergi kalau-kalau hal seperti ini terjadi.
Mia memang pelayan yang sempurna, pantas saja ia lama di pekerjakan di kediaman Adijaya.
Selesai bersiap mereka berjalan menuju ruang makan dengan cepat. Ketika pintu terbuka ia disambut oleh ibu panti, Altair, juga anak-anak panti lainnya yang berjumlah 12 anak.
"Selamat pagi, Kak Runa!" ucap seluruh anak panti dengan kompak dan semangat. Kemarin mereka memang sudah menghabiskan banyak waktu hingga bisa seakrab ini. Bahkan Aruna sendiri yang menyuruh mereka memanggilnya dengan sebutan "Runa" biar lebih mudah saja.
"Selamat pagi juga!" balas Aruma tak kalah ceria. Ia berjalan menuju bangku kosong di sebelahn Ibu Panti juga Altair yang ia tahu pasti di sediakan untuknya, "Selamat pagi, Ibu," sapanya.
Ibu panti tersenyum hangat, "Pagi juga, nak. Apa tidurmu nyenyak semalam? Kasurnya tidak membuatmu pegal, kan?"
Kekehan Aruna terdengar, "Ibu, aku bahkan merasa lebih dari kata nyaman. Aku nyenyak sekali semalam karena ranjangnya empuk sekali."
"Syukurlah, ibu pikir kau takkan nyaman karena ranjang di tempat ini berbeda dengan yang berada di kediaman Adijaya."
Aruna tersenyum tipis, "Ibu, bahkan jika aku hanya tidur beralaskan tikar saja aku tetap akan merasa nyaman. Aku harap ibu tidak memperlakukan berbeda hanya karena aku sudah di adopsi."
"Kau benar. Nah, makanlah. Tadi Mia membantu ibu membuat sarapan," ucap ibu panti sambil melihat ke arah Mia yang hanya berdiri diam di belakang Aruna, "Apa yang kau lakukan, Mia? Ayo duduk dan sarapan bersama kami."
Mia menggeleng cepat, "Tak apa, bu. Saya bisa melakukannya nanti."
"Mia, jangan menolak kebaikan ibu. Ayo, duduk dan makan bersama," ucap Aruna sembari melihat ke arahnya dan tersenyum. Awalnya Mia masih akan menolak tapi ia menurut tanpa kata saat melihat senyuman tulus Aruna.
"Baiklah, Nona."
Pagi itu sarapan terasa lebih menyenangkan dari biasanya karena di penuhi oleh canda tawa. Anak-anak panti yang heboh karena merasakan sarapan hari ini begitu spesial juga dengan adanya kehadiran Aruna. Di tambah lagi, Aruna membawakan hadiah untuk mereka semua saat datang kemarin juga bermain bersama mereka tanpa merasa lelah atau terganggu.
"Apa kak Runa akan tinggal dengan kami?" tanya salah satu anak panti.
"Tentu saja tidak, Ana! Kak Runa punya rumah dan keluarganya sendiri," sergah anak lainnya yang duduk di sebelah anak bernama Ana itu.
"Benarkah? Padahal akan menyenangkan jika kak Runa tinggal di sini," gerutu Ana.
"Kenapa sedih begitu? Aku mungkin tak bisa tinggal di sini tapi tempat ini akan selalu menjadi rumahku. Jangan cemas, aku akan selalu datang berkunjung, kok," kata Aruna mencoba menenangkan.
Ana melirik Aruna ragu, "Kakak janji? Kakak takkan mengingkari, kan?"
"Tentu saja! Aku janji. Aku tak pernah mengingkari janjiku. Tanyakan saja pada Ibu atau Altair. Iya, kan?"
Sang ibu terkekeh, "Iya, Aruna tak pernah mengingkari janjinya, kok."
"Benar. Makanya kalian harus rajin belajar agar Kak Runa mau datang bermain lagi," ucap Altair menyetujui.
"Siap! Kami akan rajin belajar!"
Tawa diruangan itu kembali terdengar, celotehan para anak-anak panti menjadi hiburan tersendiri bagi Aruna. Selama dua tahun ia di adopsi, dirinya selalu sarapan sendirian di ruangan yang sepi tanpa ada yang menemaninya atau bahkan menunggunya. Mendengar keributan, gelak tawa, hingga kejahilan yang terjadi membuat Aruna tak bisa berhenti untuk tersenyum lebar. Mengingatkannya kembali pada saat dirinya masih tinggal di panti asuhan. Keributan selalu terjadi pada saat sesi makan begini, entah itu meributkan air minum, roti atau bahkan selai.
Ia merindukan suasana seperti ini.
Rasanya benar-benar tak ingin kembali ke rumahnya yang sekarang. Mengingatnya lagi membuat senyuman Aruna memudar perlahan-lahan karena ia harus segera pulang.
"No-nona!" panggil Mia tiba-tiba dan membuat Aruna kaget. Gadis kecil itu menoleh ke arahnya dengan kening berkerut bingung. Bahkan ibu panti bersama dengan yang lainnya menatap Mia tak mengerti.
"Ada apa?"
Mia tak menjawab dan melihat ke arah luar jendela ruang makan. Aruna ikut berdiri karena penasaran, melihat juga keluar jendela dan ia membelalak syok karena mendapati Elvio berdiri di sana.
Apa yang di lakukan pria itu di tempat ini?
Aruna dan Mia saling menatap satu sama lain sebelum mereka bergegas keluar diikuti oleh ibu panti juga Altair.
"Tuan Adijaya!" sapa sang ibu panti ketika mereka sudah keluar dan berdiri di halaman. Di sana berdiri Elvio bersama Sammy dengan gayanya yang khas. Sedangkan Aruna hanya diam tak mengatakan apa pun, berdiri tepat di sebelah Altair yang ternyata memperhatikan mereka sedari tadi.
"Selamat pagi, bu Nasya. Saya harap kedatangan saya pagi-pagi begini tidak menganggu," ucap Elvio dengan sopan juga senyuman ramah miliknya.
Ibu Nasya atau biasa di panggil Ibu panti oleh anak-anak panti itu menggeleng pasti dengan senyuman lebar.
"Apa maksud anda? Tentu saja tidak. Kehadiran anda selalu diterima di tempat ini. Berkat anda bangunan panti bisa di perbarui, juga kebutuhan sehari-hari serta sekolah anak-anak panti lebih terjamin. Kemurahan hati anda begitu menolong kami, Tuan."
Elvio terdiam sejenak sembari melirik Aruna yang tidak bereaksi sama sekali. Anak itu bahkan tidak menatapnya.
"Jangan berkata begitu. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya serta rasa terima kasih saya karena ibu mengijinkan Aruna untuk menjadi bagian dari keluarga saya."
"Oh, benar! Apa kedatangan anda untuk menjemput Aruna?" tanya ibu panti memastikan.
"Ya, keadaan Aruna akhir-akhir kurang baik. Ia sering sakit dan jatuh pingsan, jadi saya cemas dan memutuskan untuk menjemputnya," jelas Elvio.
Ibu panti syok begitu pun Altair, mereka menatap Aruna bersamaan meminta penjelasan yang pasti.
"Seharusnya kau istirahat jika sakit, nak. Kenapa memaksakan diri untuk datang?" kata ibu panti.
Aruna menggeleng pelan, "Aku sudah merasa baikan. Akhir-akhir ini aku kelelahan karena tugas sekolah tapi aku sekarang tak apa. Ibu jangan cemas."
Altair sendiri langsung menggenggam jemari Aruna dan itu tak luput dari penglihatan Elvio yang menajam.
"Runa, kau sungguh baik-baik saja? Kemarin kau banyak bermain dengan anak-anak, kau pasti kelelahan. Bagaimana jika kau sakit lagi?" ucap Altair cemas.
Gadis kecil itu menoleh ke arah Altair dan tersenyum, ia balas menggenggam jemari anak lelaki itu lembut.
"Aku tidak apa-apa. Aku bersumpah, jadi kau tak perlu cemas," kata Aruna.
"Aku harap kau jujur jika keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Jangan memaksakan dirimu, Runa."
"Aku tahu, Al. Terima kasih sudah mencemaskanku."
"Aruna, ayo kita pulang," ucap Elvio yang menginterupsi pembicaraan mereka. Namun, matanya tak lepas dari tangan Altair yang masih terus menggenggam jemari Aruna. Entah kenapa ia tak suka dengan hal itu dan berharap Altair melepas genggamannya.
"Kak Runa! Kak Runa!"
Anak-anak panti tiba-tiba saja berhamburan keluar dan mengerubungi Aruna seperti semut.
"Kak Runa, sudah mau kembali?"
"Ya, aku akan datang lagi nanti," kata Aruna.
"Baiklah. Kami akan menunggu," ucap Ana.
Aruna terkekeh gemas sembari mengelus kepala Ana, "Terima kasih. Kalian baik-baik ya, jangan membantah ucapan ibu dan harus selalu mendengarkan ibu. Kalian paham?"
"Paham kak!" teriak mereka bersamaan.
Hal itu membuat Aruna kembali tertawa, kemudian menatap ibu panti dan memeluknya erat.
"Aku akan kembali lagi nanti, bu. Tak apa kalau aku rajin datang, kan?"
"Tentu saja, anakku. Ini juga rumahmu jadi datang kapan pun kau mau."
"Terima kasih, bu," ucap Aruna lalu melepas pelukannya dan menatap Altair.
"Aku pergi dulu," katanya.
Altair mengangguk, setelahnya ia melepas kalungnya dan memberikannya pada Aruna.
"Aku pinjamkan padamu, jadi kau harus membawanya kembali nanti."
Ucapan Altair membuat Aruna tertawa semakin lebar, "Al, aku hanya akan kembali pulang, bukan pergi berperang."
Anak lelaki itu mendengus, "Aku tahu. Tapi entah kenapa aku merasa kau akan terlalu sibuk untuk datang berkunjung lagi."
"Itu perasaanmu saja tapi terima kasih!" kata Aruna semangat di akhir.
Setelah acara pamit-pamitan Aruna masuk ke dalam mobil. Anehnya Elvio malah masuk ke dalam mobil yang sama dengannya padahal pria itu membawa dua mobil. Namun, Aruna tidak mengatakan apa pun dan hanya duduk diam saja di sebelah Elvio. Kedua mobil mereka pun meninggalkan Panti itu dengan segera.
"Bagaimana keadaan tubuhmu?" tanya Elvio.
"Baik," jawab Aruna singkat.
"Apa tidurmu nyenyak semalam?"
"Ya."
"Kau merindukan mereka?"
"Itulah mengapa aku datang."
Elvio tersenyum tipis, setidaknya Aruna masih mau berbicara padanya meski jawabannya terlampau singkat dan dingin.