Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Alam Atas – Sembilan Lapisan Awan Suci.
Kematian Tatanan Surgawi bukanlah peristiwa yang berlalu tanpa jejak. Ketika Sabit Asura milik Shi Hao membelah Mata Surgawi, Rantai Samsara yang selama miliaran tahun mengikat nasib setiap makhluk hidup di Tiga Ribu Dunia hancur menjadi debu cahaya.
Bagi para kultivator di berbagai penjuru alam semesta, malam itu adalah malam keajaiban sekaligus teror.
Tanpa adanya Kehendak Langit yang membatasi dan menindas aliran Qi, energi spiritual murni dari alam semesta meledak tak terkendali. Jutaan kultivator yang tadinya terjebak dalam batas kultivasi selama berabad-abad, tiba-tiba menerobos ke ranah yang lebih tinggi tanpa mengalami Kesengsaraan Petir sedikit pun!
Tidak ada lagi petir penghakiman. Tidak ada lagi takdir yang tertulis mutlak. Langit telah menjadi entitas yang kosong, menunggu untuk diisi, atau dibiarkan bebas tanpa batas.
Namun, di kedalaman Jurang Kekacauan Purba (Primordial Chaos Abyss) sebuah dimensi terlarang yang disegel oleh Tatanan Surgawi jauh sebelum Sembilan Nether tercipta kematian Surga menjadi kunci pembuka belenggu bagi mereka yang telah tertidur terlalu lama.
Di dasar lautan kekacauan yang tak berujung itu, sepasang mata emas bermotif kuno perlahan-lahan terbuka.
"Kehendak Langit... telah musnah," sebuah suara yang menggema dari zaman prasejarah berbisik, menggetarkan ruang dan waktu. "Anak cucu yang mengkudeta kita telah ditebas oleh seseorang dari Dunia Fana... Segel Primordial telah hancur. Waktunya bagi para Leluhur Sejati untuk kembali mengklaim Tiga Ribu Dunia."
Dunia Fana – Desa Angin Lembut.
Matahari pagi menyingsing seperti biasa. Cahayanya yang hangat membasuh atap rumbia, mengusir embun dari dedaunan persik, dan membangunkan ayam-ayam jago yang mulai berkokok bersahutan.
Bagi penduduk Desa Angin Lembut, tidak ada yang berubah. Mereka tidak tahu bahwa rantai takdir kosmik telah putus semalam. Yang mereka keluhkan pagi ini hanyalah hujan bintang jatuh yang turun terlalu lebat hingga membuat atap kandang kambing Paman Wang berlubang.
Di halaman gubuk keluarga Shi, suasana damai begitu kental hingga waktu seakan berjalan lebih lambat.
Shi Hao duduk di teras depan, mengenakan pakaian raminya yang bersih. Tongkat bambunya bersandar di lututnya. Tangan kirinya memegang sepotong kayu pinus, sedangkan tangan kanannya dengan cekatan mengayunkan pisau raut, mengukir kayu tersebut menjadi sebuah sendok sayur baru untuk istrinya.
Gu Qing Yi sedang menyiram petak bunga persik di sudut halaman. Celemek raminya berayun pelan ditiup angin sepoi-sepoi. Kecantikannya yang melampaui bidadari surga tampak begitu alami menyatu dengan cipratan air fana.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan.
"A-Hao! A-Hao! Kau sudah bangun, Nak?!"
Itu adalah Kepala Desa Gou, berlari kecil dengan napas terengah-engah. Di belakangnya, mengekor Gou Dan yang sedang mengunyah ubi rebus.
"Selamat pagi, Paman Gou," sapa Shi Hao ramah, menghentikan pahatannya dan tersenyum. "Ada apa terburu-buru? Apakah bajak kayunya patah lagi?"
"Bukan, bukan itu!" Kepala Desa Gou menyeka keringat di dahinya, lalu menyodorkan sesuatu ke atas meja bambu di depan Shi Hao. "Lihat ini. Semalam saat hujan bintang jatuh terjadi, benda ini menimpa ladang gandumku di bukit belakang. Awalnya kupikir ini meteorit besi, tapi bentuknya aneh sekali."
Mendengar keributan itu, Qing Yi meletakkan gayung airnya dan berjalan mendekat. Ketika pandangan Raja Dewa miliknya jatuh ke atas benda di atas meja itu, langkahnya seketika terhenti. Matanya sedikit menyipit.
Benda itu seukuran kepalan tangan orang dewasa. Warnanya hitam keemasan, dan permukaannya dipenuhi oleh urat-urat aneh yang menyerupai pembuluh darah. Meskipun bagi Kepala Desa Gou benda itu terasa dingin seperti batu biasa, di mata batin Qing Yi, benda itu memancarkan fluktuasi Tatanan Murni yang sangat padat!
Itu bukanlah batu meteor. Itu adalah Pecahan Inti Dao Surgawi satu-satunya sisa jantung dari Mata Surgawi yang ditebas oleh Shi Hao semalam!
Pecahan itu jatuh menembus Tiga Ribu Dunia, dan karena tarikan karma yang kuat dari si Pembunuh Surga, pecahan itu berakhir di desa fana ini. Benda sekecil itu memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat seorang kultivator fana langsung melompat menjadi Dewa Sejati jika mereka menyerapnya. Bahkan, benda itu perlahan-lahan mencoba merekonstruksi hukum alam semesta di sekitarnya.
"Suamiku..." bisik Qing Yi, memberi isyarat peringatan melalui telepati roh. "Batu itu adalah sisa dari atap yang kau runtuhkan semalam."
Shi Hao menoleh sedikit, seolah "menatap" batu itu dengan mata kirinya yang terbalut kain putih. Ia menjulurkan tangan kasarnya, lalu meraba permukaan batu hitam keemasan tersebut.
Saat jari fana Shi Hao menyentuh Pecahan Inti Surga itu...
WUNG!
Pecahan itu bergetar hebat. Ia mengenali aura pemusnah yang memotongnya semalam! Pecahan Surga itu melepaskan hawa penolakan yang siap meledakkan radius sepuluh ribu mil menjadi debu.
Namun, Shi Hao hanya menepuknya pelan dengan jari telunjuknya. Puk.
Gelombang Mortal Dao (Jalan Kemanusiaan) yang absolut dan tanpa syarat langsung membungkus batu itu. Niat perlawanan dari sisa Surga ditekan kembali ke dalam dengan paksa, disumbat, dan dipadatkan hingga seluruh sifat keilahiannya dinetralkan.
"Hmm," gumam Shi Hao kalem, mengambil batu itu dan memutar-mutarnya di telapak tangannya. "Paman Gou, ini bukan meteorit besi."
"Oh? Lalu benda apa itu, A-Hao? Apa batu giok dari gunung utara?" tanya Kepala Desa penasaran.
"Bukan," Shi Hao tersenyum polos. "Ini adalah sebuah biji. Sepertinya biji dari sejenis pohon buah yang sangat tua. Permukaannya memang keras seperti batu karena kelamaan terjemur di atas... langit."
Gou Dan mendengus. "Biji buah?! Mana ada biji buah sebesar itu dan sekeras besi! A-Hao, kau pasti mengada-ada karena matamu tidak bisa melihatnya dengan jelas!"
"Biji kenari saja keras, Gou Dan, apalagi biji yang jatuh dari atas awan," kekeh Shi Hao, sama sekali tidak tersinggung. "Paman Gou, ladangmu pasti berlubang karena kejatuhan biji ini. Bolehkah aku memintanya? Halaman belakang kami butuh satu pohon peneduh agar istriku tidak kepanasan saat menjemur pakaian."
Kepala Desa Gou tertawa lebar. "Tentu saja, A-Hao! Ambil saja! Aku ke sini hanya karena takut itu batu beracun atau apa. Kalau cuma biji keras, kau tanam saja. Siapa tahu tumbuh jadi pohon rambutan raksasa! Hahaha!"
Setelah berbincang-bincang sejenak tentang jadwal ronda desa, Kepala Desa Gou dan putranya pamit pergi.
Sepeninggal mereka, suasana di teras kembali hening.
Tiga ekor anjing Nether Hitam Satu, Dua, dan Tiga yang sedari tadi bersembunyi di bawah meja gemetar ketakutan, akhirnya berani menjulurkan hidung mereka. Sebagai makhluk iblis, insting mereka merasakan teror mutlak dari batu itu, dan lebih ngeri lagi melihat majikan mereka memegangnya seolah memegang kentang panggang.
"Hao," Qing Yi menatap batu di tangan suaminya dengan ekspresi masam. "Kau tidak benar-benar berencana menanam jantung Tatanan Surgawi di halaman belakang kita, kan? Jika benda itu menyerap Qi dari bumi, ia mungkin akan berevolusi menjadi wujud baru dari Kehendak Langit."
Shi Hao berdiri dari kursinya. Ia memegang Pecahan Surga itu dengan tangan kirinya, dan mengambil cangkul kecil yang bersandar di dinding dengan tangan kanannya.
"Sebuah biji tetaplah sebuah biji, Istriku," kata Shi Hao dengan ketenangan yang menghancurkan logika. "Dulu dia menganggap dirinya sebagai 'Atap' yang berkuasa di atas sana, mengatur semua orang dan memutuskan siapa yang hidup dan mati. Itu karena posisinya terlalu tinggi dan tidak pernah menyentuh tanah."
Shi Hao melangkah perlahan menuju halaman belakang, melewati barisan jemuran baju.
"Kali ini, biarkan dia lahir kembali dari lumpur," lanjut sang Kaisar Asura. "Biar dia merasakan bagaimana rasanya membutuhkan air hujan untuk minum, membutuhkan kotoran ayam untuk tumbuh, dan dipangkas daunnya jika tumbuh terlalu lebat. Kehidupan fana akan mengajarkan kerendahan hati pada Surga."
Mendengar filosofi suaminya, Qing Yi hanya bisa menghela napas pasrah namun dihiasi senyum penuh pemujaan. Bagi Kaisar Asura, menghukum Surga bukan dengan cara menghancurkannya hingga tak bersisa, melainkan memaksanya bereinkarnasi menjadi pohon peneduh di rumahnya. Sungguh bentuk penghinaan tertinggi sekaligus pencerahan teragung.
Di halaman belakang, Shi Hao mengayunkan cangkulnya.
Crak! Crak!
Tanah berdebu itu digali sedalam dua jengkal. Shi Hao melempar Pecahan Inti Surga itu ke dalam lubang tanpa perlakuan khusus. Ia lalu meraup segenggam pupuk kompos kandang (yang kebetulan dibuat dari kotoran ayam biasa, ditambah sedikit ludah Hitam Satu), dan menimbun Pecahan Surga itu rapat-rapat.
"Nah, tidurlah yang nyenyak. Tumbuhlah ke atas, jangan mengakar ke samping agar tidak merusak pondasi rumah," pesan Shi Hao sambil menepuk-nepuk gundukan tanah itu.
Sebagai penutup, ia mengambil kendi air dan menyiramkan air sumur biasa ke atasnya.
Namun, tepat pada detik ketika tetesan air fana itu menyentuh tanah yang telah diberkati oleh Mortal Dao Shi Hao...
DZZZZZT!
Sebuah resonansi spiritual yang tak terdengar oleh telinga manusia meledak, menembus lapisan bumi fana, menembus penghalang Alam Atas, dan terus melesat hingga menggetarkan dasar dari Jurang Kekacauan Purba!
Biji Surga itu tidak mati. Di bawah tekanan mutlak Hukum Kemanusiaan, ia terpaksa beradaptasi, mengakar langsung ke dalam Urat Nadi Tiga Ribu Dunia untuk bertahan hidup.
Kedalaman Jurang Kekacauan Purba.
Di atas sebuah altar raksasa yang terbuat dari jasad naga purba berekor sembilan belas, bayangan-bayangan raksasa setinggi langit perlahan-lahan bangkit dari tidur panjang mereka. Rantai-rantai surgawi yang mengikat tubuh mereka selama jutaan zaman telah hancur.
Sosok yang memiliki tiga pasang mata emas di dahi dan enam sayap cahaya purba memandang tajam ke arah kanvas alam semesta.
"Resonansi Penciptaan Baru..." Suaranya terdengar seperti badai meteor yang beradu. "Kehendak Langit yang lama mati, dan sekarang ada seseorang yang berani menanam benih Langit baru di dunia yang paling rendah?"
Sosok raksasa lain di sampingnya siluman raksasa bermuka harimau purba dengan tubuh bersisik perak menggeram buas.
"Beraninya manusia fana mempermainkan Hukum Penciptaan! Jika Benih Surga itu tumbuh di bawah kendalinya, dia akan menjadi Tatanan Mutlak yang baru!"
"Tidak akan kita biarkan," potong sosok bermata enam dengan dingin. Ia mengangkat sebuah tombak yang bilahnya terbentuk dari bintang-bintang runtuh. "Bangunkan Seratus Raja Leluhur. Buka Gerbang Kekacauan. Kita akan turun ke Dunia Fana itu, membakar tanahnya menjadi lahar abadi, dan mencabut benih itu beserta kepala manusia yang menanamnya!"
Genderang perang purba, yang belum pernah ditabuh sejak alam semesta diciptakan, mulai menggema dari kedalaman ketiadaan.
Sementara itu, di bawah sana, di sebuah desa yang tenang, seorang petani buta hanya mengusap keringat di dahinya, tidak menyadari (atau mungkin tidak peduli) bahwa pohon mangga barunya baru saja memicu murka para Dewa Pertama.