NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Perjalanan panjang menuju ibu kota Kekaisaran Shenghuang memakan waktu hampir dua minggu penuh. Selama empat belas hari itu, roda-roda besi kereta kekaisaran melaju dengan stabil di atas jalan raya utama yang membelah wilayah kekuasaan, melewati kota-kota besar yang padat penduduk hingga desa-desa kecil yang terpencil di pinggiran. Lin Chen menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruang kereta yang sunyi dalam diam. Ia sesekali memejamkan mata untuk tidur atau sekadar menatap kosong ke arah pemandangan luar yang bergerak mundur melalui jendela kecil berjeruji besi di sampingnya, mempertahankan citra dirinya sebagai pemuda yang pasrah pada takdir.

Suatu malam, ketika kelelahan mulai melanda rombongan, mereka memutuskan untuk berhenti dan menginap di sebuah pos persinggahan resmi kekaisaran yang terletak di pembatasan wilayah tengah. Pos ini berukuran cukup besar dan tergolong mewah, dikelilingi oleh pagar batu tinggi dan dijaga ketat oleh prajurit zirah lengkap. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Xue Feng dan Lei Ming sepakat untuk beristirahat semalaman di tempat ini sebelum melanjutkan sisa perjalanan esok pagi.

Di halaman belakang pos persinggahan yang sunyi, Lin Chen duduk sendirian di sebuah bangku kayu panjang yang terletak tepat di bawah naungan pohon besar berdaun rimbun. Sebuah lentera kecil yang tergantung di dahan pohon menyala redup, memancarkan cahaya kuning temaram yang bergoyang pelan tertiup angin malam yang dingin. Ia sedang menikmati secangkir teh hangat, membiarkan uapnya menerpa wajahnya yang tenang, ketika langkah kaki yang berderap pelan menandakan kehadiran Xue Feng dan Lei Ming yang berjalan mendekatinya.

“Pangeran Kesembilan,” sapa Xue Feng terlebih dahulu dengan seulas senyum ramah yang selalu terpasang rapi seperti topeng formalitasnya. “Malam ini angin gunung bertiup cukup kencang dan suhunya terasa sangat dingin. Apakah Pangeran membutuhkan selimut tambahan atau pelayan untuk menghangatkan ruangan?”

Lin Chen meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menggelengkan kepalanya dengan lembut disertai senyuman sopan. “Terima kasih atas perhatiannya, Tuan Utusan. Saya sudah terbiasa dengan kondisi dingin di gunung, jadi saya baik-baik saja di sini.”

Lei Ming tanpa canggung langsung mengambil posisi duduk di bangku batu yang terletak tepat di seberang Lin Chen dengan sikap santai dan kasarnya yang biasa. Sementara itu, Xue Feng memilih untuk tetap berdiri tegak di samping rekannya dengan tangan bersedekap di dada. Untuk beberapa saat, mereka bertiga duduk dalam keheningan yang cukup canggung, hanya ditemani oleh suara desir daun yang saling bergesekan. Merasa momen ini cukup aman, Lin Chen memutuskan untuk melemparkan satu pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ia pendam selama perjalanan.

“Jika diizinkan, bolehkah saya bertanya satu hal kepada Anda berdua, Tuan Utusan?” ucap Lin Chen dengan nada suara yang pelan, diatur agar terdengar seperti seorang pemuda yang diliputi rasa penasaran sekaligus ragu.

Xue Feng mengalihkan pandangannya, menatap jernih ke arah Lin Chen lalu mengangguk pelan. “Silakan, Pangeran. Jika itu adalah hal yang berada dalam batas kewenangan kami, kami akan menjawabnya.”

“Kenapa Baginda Kaisar mendadak memanggil saya untuk pulang ke ibu kota setelah sekian lama membiarkan saya berada di sekte luar? Apakah... ada alasan khusus atau tugas tertentu yang menanti saya di sana?”

Mendengar pertanyaan polos itu, Lei Ming tiba-tiba tertawa kecil dengan suara parau, seolah-olah menganggap bahwa kebingungan Lin Chen adalah sesuatu yang sangat lucu untuk didengar. “Hahaha, alasannya sebenarnya cukup sederhana dan tebakannya tidak rumit, Pangeran. Kau dipanggil pulang karena garis darahmu masih berguna. Kau akan dijodohkan dengan salah satu putri dari—”

“Lei Ming!” potong Xue Feng dengan suara yang tiba-tiba meninggi dan tegas. Wajah ramahnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin yang sarat akan peringatan berbahaya. “Jaga mulutmu dan ingat batasanmu sebagai prajurit kekaisaran.”

Lei Ming langsung menghentikan kalimatnya. Meskipun suasananya mendadak menegang, sudut bibir pria bertubuh kekar itu masih menyunggingkan senyum meremehkan. Ia mengangkat kedua bahunya dengan santai seolah tidak ada hal besar yang terjadi. “Baiklah, baiklah. Maafkan kekhilafan saya, Xue Feng. Saya hanya bercanda untuk mencairkan suasana malam yang beku ini.”

Xue Feng tidak memedulikan pembelaan rekannya. Ia kembali melirik ke arah Lin Chen dengan tatapan mata yang tajam dan sulit untuk dibaca maknanya. “Pangeran Kesembilan tidak perlu cemas atau menebak-nebak. Anda akan mengetahui seluruh detailnya secara langsung setelah kita tiba di istana nanti. Baginda Kaisar sendiri yang akan menjelaskan seluruh titahnya. Tugas kami berdua murni hanya mengantar Anda sampai dengan selamat.”

Lin Chen mengangguk pelan dengan patuh, ekspresi wajahnya dipermukaan tetap terjaga dengan sangat tenang tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun. “Saya mengerti, Tuan Utusan. Terima kasih banyak atas jawabannya.”

Malam itu, Lin Chen memilih untuk menutup mulutnya dan tidak melontarkan pertanyaan lanjutan apa pun. Namun, di balik tengkorak kepalanya yang tenang, roda perhitungan taktis dan analisis batinnya sudah mulai berputar dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

‘Dijodohkan?’ batin Lin Chen dengan senyuman yang sangat dingin di dalam jiwanya. ‘Jadi, darah pangeran sampah ini sengaja dipanggil pulang untuk dijadikan bidak aliansi politik. Menarik sekali.’

Keesokan harinya, rombongan kecil itu kembali melanjutkan perjalanan panjang mereka. Semakin dekat jarak mereka dengan wilayah ibu kota, kondisi jalan raya utama yang mereka lalui pun menjadi semakin ramai dan padat. Kereta-kereta dagang berukuran besar, rombongan kultivator mandiri dengan senjata pusaka yang berkilau, serta kereta-kereta mewah milik para bangsawan faksi tengah semakin sering berpapasan dengan mereka. Udara di sekitar pun perlahan terasa menjadi lebih berat dan padat, dipenuhi oleh fluktuasi aura kekuasaan dan formasi pelindung tak kasat mata yang menekan dari segala arah.

Pada sore hari di hari keempat belas perjalanan, kemegahan ibu kota Kekaisaran Shenghuang akhirnya mulai menampakkan wujudnya di kejauhan. Sebuah dinding benteng raksasa yang menjulang tinggi membelah langit, dihiasi oleh dua buah patung naga emas raksasa di kedua sisi gerbang utama yang tampak mencengkeram awan dengan gagah. Kota kekaisaran Shenghuang—yang menjadi pusat tertinggi dari seluruh peradaban kultivasi dan pusaran politik kekaisaran—berdiri dengan sangat megah di bawah siraman cahaya matahari senja yang berwarna merah keemasan.

Lin Chen mengintip pemandangan kolosal tersebut dari balik celah jendela kecil keretanya tanpa memperlihatkan ekspresi kekaguman yang berlebihan. Bagi semua orang yang melihat dari luar, dirinya tidak lebih dari sekadar seorang pangeran buangan tak berbakat yang kembali dengan kepala tertunduk setelah bertahun-tahun diasingkan di perbatasan. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu kekuatan mengerikan apa yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik sikap rendah hati pemuda tersebut.

Setelah melalui proses pemeriksaan identitas yang singkat oleh pasukan penjaga gerbang utama, kereta kekaisaran akhirnya melenggang masuk. Jalanan di dalam ibu kota tampak sangat lebar, bersih, dan dilapisi oleh batu giok hitam yang halus. Di sisi kiri dan kanan jalan, berderet bangunan-bangunan tinggi berarsitektur megah serta patung-patung peringatan dari para Kaisar terdahulu yang pernah memimpin kekaisaran. Banyak orang berpakaian sutra mewah berlalu lalang di trotoar, di mana sesekali pandangan mereka melirik ke arah kereta kekaisaran dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu dan bisik-bisik spekulasi.

Rombongan tidak berhenti di area luar kota, melainkan langsung bergerak lurus menuju kompleks istana bagian dalam yang dikhususkan bagi keluarga inti kekaisaran. Begitu roda kereta melewati gerbang kedua yang ukurannya jauh lebih masif dan dijaga oleh para kultivator ranah Nascent Soul, atmosfer udara di sekitar seketika berubah drastis. Udara di dalam kompleks istana terasa jauh lebih dingin, pekat, dan dipenuhi oleh tekanan spiritual tak kasat mata yang berasal dari formasi pelindung kuno tingkat tinggi.

Beberapa pejabat istana dan eunuch senior berpakaian resmi yang telah menunggu kedatangan mereka segera melangkah maju. Meskipun mereka menundukkan kepala dengan hormat ketika berhadapan dengan Xue Feng dan Lei Ming selaku utusan resmi, tatapan mata mereka saat melirik ke arah Lin Chen yang baru saja turun dari kereta justru dipenuhi oleh rasa meremehkan yang hampir tidak disembunyikan sama sekali. Bagi para pelayan bermata tajam ini, seorang pangeran tanpa basis kultivasi tidak lebih berharga daripada seorang kasim tingkat rendah.

“Pangeran Kesembilan akhirnya telah kembali ke istana,” gumam salah seorang pejabat paruh baya dengan nada suara yang datar, dingin, dan tanpa kehangatan sedikit pun. “Jika Pangeran sudah siap, silakan ikuti langkah kami untuk menuju ke kediaman sementara yang telah disiapkan oleh pihak istana dalam.”

Lin Chen melangkah maju, mengikuti petunjuk arah mereka dengan langkah kaki yang tenang dan ritme yang teratur. Xue Feng dan Lei Ming tetap berjalan mendampingi di sisi kiri dan kanannya sampai mereka tiba di sebuah kediaman kecil berstruktur kayu yang terletak agak menyudut di pinggiran kompleks istana bagian dalam. Tempat itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai tempat yang buruk, namun strukturnya yang sederhana jelas menunjukkan bahwa tempat tersebut sama sekali tidak layak untuk dijadikan sebagai kediaman resmi bagi seorang pangeran kekaisaran yang sah.

Seorang eunuch senior melangkah maju ke hadapan Lin Chen, lalu berkata dengan nada suara melengking tinggi yang khas, “Pangeran Kesembilan akan menetap di kediaman ini untuk sementara waktu demi memulihkan kondisi. Besok pagi hari, setelah lonceng istana berbunyi, Baginda Kaisar secara pribadi akan memberikan titah untuk memanggil Pangeran menghadap di Aula Agung Utama.”

Lin Chen menundukkan kepalanya sedikit, memberikan anggukan yang sangat sopan dan terukur. “Saya mengerti. Terima kasih atas bantuannya.”

Setelah eunuch, para pejabat, serta Xue Feng dan Lei Ming pamit undur diri untuk melaporkan tugas mereka, Lin Chen kini berdiri sendirian di tengah halaman kecil kediaman barunya yang sunyi. Embusan angin malam di dalam kompleks istana ini terasa sangat berbeda dengan angin gunung di Sekte Taixuan—angin di tempat ini terasa jauh lebih dingin, tajam, dan sarat akan aroma perhitungan serta konspirasi yang busuk.

Ia melangkah perlahan, lalu mengambil posisi duduk di atas sebuah bangku batu bulat di sudut halaman sambil menengadahkan kepalanya, menatap hamparan langit senja yang perlahan mulai menggelap sepenuhnya dan menelan sisa cahaya merah matahari.

‘Perjodohan paksa... intrik politik antar faksi... dan seorang ayah kandung yang mendadak mengingat keberadaanku setelah membuangku selama bertahun-tahun dalam kehampaan,’ monolog Lin Chen di dalam hatinya.

Di tengah kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti istana, seulas senyuman tipis yang sangat dingin, tajam, dan penuh dengan aura superioritas yang mengerikan perlahan terukir di sudut bibir Lin Chen.

“Baiklah kalau begitu,” gumamnya dengan suara yang sangat rendah hingga menyatu dengan desir angin malam. “Mari kita lihat bersama-sama, permainan catur seperti apa yang sedang berusaha kalian mainkan di tempat ini.”

Malam pertama di pusat kekuasaan itu berlalu dengan keheningan yang mencekam. Namun Lin Chen tahu pasti, bahwa keheningan malam ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai politik yang sebenarnya berhembus menghantam esok hari.

1
Ilham Yono
terbaik
Hadi Hadi
semangat😍💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
Ilham Yono
beuh /Determined/
Zahira Valen
Alkemia
Ilham Yono
hihihi/Facepalm/
Ilham Yono
coool🆒
Ilham Yono
kereeen thor/Angry/
Ilham Yono
terbaik Thor...bantai bantai gambatheeeee
Ilham Yono
mulai curiga kayaknya sih sudah tau pangeran 9 bukan kaleng kaleng
Ilham Yono
hem/Facepalm/
Ilham Yono
beuh berat berat ini guys
Ilham Yono
misteri/Shy/
Ilham Yono
hihi mau maen maen ma kita /Facepalm/
Ilham Yono
beuh kaga nyadr
Hadi Hadi
bantai💪
Ihya Ilmi
Terus ditunggu lanjutannya thor
Ihya Ilmi
Kata-katanya mantap poooollll
Ilham Yono
hihihi /Facepalm/
zerotwo
Tanpa ampun MC nya 👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!