Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Pagi itu, langit masih tertutup awan kelabu. Matahari sesekali muncul di balik awan, tetapi cahayanya tidak mampu menghilangkan perasaan gelisah yang memenuhi hati Adista.
Setelah berpamitan dengan Bik Sumi, Adista dan Maya berangkat menuju rumah pelelangan tempat lukisan wanita misterius itu dibeli enam bulan yang lalu.
Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam.
Adista terus mengingat malam pelelangan itu. Saat itu ia sama sekali tidak menyangka bahwa satu keputusan sederhana membeli sebuah lukisan akan mengubah seluruh hidupnya.
Sekitar satu jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung tua yang masih berdiri kokoh. Di bagian depan terpampang papan bertuliskan nama rumah pelelangan barang seni dan antik.
"Tempatnya masih sama," gumam Adista.
Maya memandang bangunan itu.
"Semoga kita menemukan jawaban di sini."
Mereka masuk ke dalam gedung. Ruangan utama dipenuhi berbagai barang antik. Beberapa pegawai sedang membersihkan lemari pajangan, sementara yang lain sibuk mencatat barang yang baru datang.
Seorang pria paruh baya yang tampaknya menjadi pengelola rumah pelelangan menghampiri mereka.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Adista tersenyum tipis.
"Pak, enam bulan yang lalu saya membeli sebuah lukisan perempuan melalui pelelangan di sini."
Pria itu memperhatikan wajah Adista beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum.
"Kalau saya tidak salah ingat... Ibu yang memenangkan penawaran terakhir untuk lukisan itu."
"Iya, Pak."
"Saya ingin mengetahui asal-usul lukisan tersebut."
Pengelola itu tampak berpikir sejenak.
"Lukisan perempuan yang bergaun putih itu, ya?"
Adista mengangguk.
"Silakan duduk dulu."
Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu kecil dekat meja administrasi.
Pengelola itu kemudian memanggil dua pegawai yang sedang bekerja.
"Rudi... Anton... coba ke sini sebentar."
Dua pria itu segera menghampiri.
"Ada apa, Pak?"
"Masih ingat lukisan perempuan yang terjual enam bulan lalu?"
Rudi langsung mengangguk.
"Lukisan yang datang dalam peti kayu besar itu?"
"Iya."
Anton ikut tertawa kecil.
"Saya masih ingat."
"Itu lukisan yang paling banyak dibicarakan waktu itu."
Maya langsung memperhatikan.
"Kenapa dibicarakan?"
Anton menggaruk kepalanya.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa."
"Cuma... kami merasa lukisan itu aneh."
"Aneh bagaimana?" tanya Adista.
Rudi menjawab lebih dulu.
"Waktu peti kayunya dibuka, lukisannya ditutup kain putih yang sudah sangat tua."
"Baunya seperti peti yang lama disimpan di gudang."
Anton menambahkan,
"Yang membuat kami merinding, mata perempuan di dalam lukisan itu seperti mengikuti setiap orang yang lewat."
Rudi tertawa pelan.
"Awalnya saya pikir cuma perasaan saya."
"Ternyata Anton juga bilang hal yang sama."
Anton mengangguk.
"Sampai kami sempat bercanda, jangan-jangan lukisan itu berhantu."
Maya dan Adista saling berpandangan.
Mereka tidak ikut tertawa.
Melihat wajah mereka berubah serius, senyum Anton perlahan menghilang.
"Ada apa, Bu?"
Adista menggeleng pelan.
"Teruskan saja ceritanya."
Pengelola rumah pelelangan membuka map arsip yang dibawanya.
"Menurut data kami, lukisan itu berasal dari koleksi seorang kolektor barang antik bernama Hendra Wijaya."
"Beliau sudah meninggal tiga tahun yang lalu."
"Semua koleksinya dijual oleh pihak keluarga."
Rudi tiba-tiba seperti teringat sesuatu.
"Oh iya, Pak."
"Saya jadi ingat."
"Waktu kami mengambil barang-barang dari rumah Pak Hendra..."
"...anaknya sempat mengatakan sesuatu."
Pengelola menoleh.
"Apa?"
Rudi mengingat-ingat.
"Waktu itu saya bertanya kenapa lukisan sebesar itu disimpan di gudang belakang."
"Lalu anak Pak Hendra menjawab..."
Rudi menirukan ucapan pria itu.
"Kalau ada yang mau membeli lukisan perempuan itu, silakan saja. Ayah saya tidak pernah mau melihatnya lagi."
Ruangan menjadi sunyi.
Maya segera bertanya,
"Dia menjelaskan alasannya?"
Anton mengangguk pelan.
"Saya juga ada di sana."
"Saya sempat bertanya, memang kenapa dengan lukisan itu?"
"Lalu anak Pak Hendra hanya tersenyum."
"Katanya..."
Anton menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Ayah saya selalu bilang, jangan pernah menggantung lukisan itu di dalam rumah."
Adista merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kenapa?"
Anton menggeleng.
"Itu juga yang saya tanyakan."
"Jawabannya membuat saya merinding sampai sekarang."
Semua orang menunggu.
Anton menarik napas panjang.
"Ayah berkata, semakin sering melihat perempuan di dalam lukisan itu... semakin sering dia datang dalam mimpi."
Maya langsung menoleh kepada Adista.
Ucapan itu sama persis dengan yang dialami Adista.
Sejak membeli lukisan tersebut, ia memang berkali-kali bermimpi tentang seorang perempuan yang berlari ketakutan menuju sebuah gudang tua.
Pengelola rumah pelelangan ikut menghela napas.
"Saya kira waktu itu Pak Hendra hanya terlalu percaya pada hal-hal mistis."
"Ternyata..."
Ia tidak melanjutkan ucapannya.
Adista memberanikan diri bertanya,
"Apakah Pak Hendra pernah menceritakan dari mana beliau mendapatkan lukisan itu?"
Pengelola membuka kembali arsipnya.
"Sayangnya tidak."
"Beliau sudah menjadi pelanggan kami selama bertahun-tahun."
"Tapi setiap kali ditanya tentang lukisan itu, beliau selalu menghindar."
Rudi tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Pak... saya ingat satu hal lagi."
"Apa?"
"Waktu kami mengangkat peti kayu berisi lukisan itu..."
"Pak Hendra sudah meninggal."
"Tapi di tutup petinya ada tulisan yang dibuat dengan spidol hitam."
"Apa tulisannya?" tanya Maya.
Rudi menjawab perlahan.
'Jangan dibuka jika tidak ingin masa lalu ikut keluar.'
Ruangan kembali hening.
Adista merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Jangan dibuka jika tidak ingin masa lalu ikut keluar.
Bukankah sejak lukisan itu keluar dari peti kayunya, semua teror memang mulai terjadi?
Pengelola akhirnya menutup map arsip tersebut.
"Saya tidak tahu apakah semua ini hanya kebetulan."
"Tapi kalau Ibu benar-benar ingin mengetahui asal-usul lukisan itu..."
"...mungkin hanya keluarga Pak Hendra yang bisa membantu."
Ia mengambil selembar kertas dan menuliskan sebuah alamat.
"Ini alamat rumah beliau."
"Kalau anaknya masih tinggal di sana, mungkin Ibu bisa mendapatkan jawaban."
Adista menerima kertas itu dengan tangan gemetar.
Ia mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan bersama Maya.
Begitu keluar dari gedung rumah pelelangan, keduanya berdiri beberapa saat di samping mobil tanpa berbicara.
Maya memecah keheningan.
"Bu..."
"Sepertinya Pak Hendra mengetahui sesuatu."
Adista memandang alamat yang ada di tangannya.
"Dan sekarang..."
"...kita harus mencari tahu rahasia yang selama ini dia bawa sampai ke liang kubur."
Tanpa mereka sadari, dari balik jendela lantai dua gedung rumah pelelangan, sepasang mata sedang mengawasi mereka dalam diam. Sosok itu berdiri tanpa bergerak, lalu perlahan menghilang dari balik kaca sebelum sempat terlihat jelas oleh siapa pun.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi