NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AFTERMATH CANCEL

Jam 10:20, pintu ruang koordinator OK kebuka. Savira hanya seorang diri, memegang map dengan kencang. Di dalamnya ada satu tanda tangan penting. Dokter Devan Adiguna Handaru, Sp. BTKV (K).

Bu Rini noleh. Matanya langsung scan Savira, dari atas ke bawah. Mencari konsulen. Tidak ada. "Loh? Sendirian? Konsulen anestesinya kemana, Dok?" Nadanya naik satu oktaf. Sinis.

"Apa R2 sekarang boleh batalin operasi miliaran sendiri?" Bukan pertanyaan. Tapi tamparan untuk Savira.

Savira tenang. Ia meletakkan map di meja. Buka di halaman tanda tangan. "Konsulen sedang dinas, Bu." Suaranya pelan. "Tapi ini... Tanda tangan dr. Devan. Operator utama." Jarinya nunjuk tinta tebal di atas kertas.

"Beliau menyatakan kasus ini UNFIT FOR ANAESTHESIA. Saya hanya eksekutor lapangan. Jadi yang batalin bukan R2, Bu. Tapi dr. Devan. Sp. BTKV (K)."

Bu Rini diam. Jarinya mengetik klik...klik..kilk...di atas keyboard. Matanya tidak melihat ke Savira lagi. Matanya nempel di tanda tangan dr. Devan di kertas. Tinta hitam tebal. Berkuasa.

Karena di RS ini, nama dr. Devan memang hukum. Lebih tinggi dari LED merah Rp 18.000.000/ Jam. Lebih tinggi dari kerugian OK 108 juta.

Klik. Enter.

Suara Bu Rini kempes. Marahnya hilang. Ganti pasrah dan kesel pada diri sendiri. "OK 3, closed. Booking ulang...16:00." Ia nyodori form baru ke Savira. Mukanya masih sinis.

"Tolong bilangin ke dr. Devan...dendanya tetap masuk laporan ya, Dok." Sindiran terakhir. Gigit jari yang kalah.

Savira lansung ngambil form itu. "Siap, Bu. Terima kasih." Sahutnya sedikit menunduk, kemudian balik badan. Keluar dari ruangan itu.

Setelah pintu tertutup rapat. Savira membuang napas berat. Lega. Punggungnya nempel di dinding koridor, matanya merem. Selamat. R2. Sendirian. Menang lawan koordinator OK.

Jam 10:45, ruang auditorium Medika Care Hospital. Di depan, layar logo RS dan Tulisan merah tebal PRESS CONFERENCE.

Ruangan itu di penuhi wartawan dari berbagai chenel TV nasional. Mereka menantikan konferensi pers dari pihak rumah sakit. Tentang penyebab di tundanya operasi tahanan negara.

Lampu blitz putih menyilaukan dan kamera recording merah semua, menyorot dr. Chandra, dr. Devan, dan dr. Arlo. Mereka menjelaskan alasan kenapa operasi pak Wahyu di tunda. Tidak ada kesalahan, tidak ada kesengajaan, dan tidak ada pihak yang di salahkan.

Semua murni karena alasan medis yang tidak bisa di jelaskan secara detail. Itu privasi pasien adalah hukum, dan ada kode etik kedokteran yang tidak bisa mereka langgar.

Meskipun pernyataan dari ketiga dokter itu tidak memuaskan, para wartawan hanya bisa menunggu sampai jam 16:00 nanti. Di jam operasi pak Haryoko di lakukan. Mereka hanya bisa menutup mic, melipat kamera dan nongkrong di depan lobi RS. Menunggu momen yang sama.

FAMILY LOUNGE VVIP.

Sebuah ruangan di lantai 13 yang dingin dan harum. AC nya disetel 22°C. Wanginya white tea + vanilla dari diffuser mahal. Tidak ada bau antiseptik dan disinfektan yang menyengat seperti lantai lain di gedung Medika Care Hospital. Di sini lebih mirip ruangan hotel bintang lima.

Darma dan Feli duduk di sofa putih yang empuk. Sofa kulit Italia yang dalem banget sampai mereka tidak ketanem. Di depan mereka, layar 85 inch nyala. Menayangkan live konferensi pers dari auditorium lantai bawah.

Kedatangan Darma ke rumah sakit memang sudah di rencanakan. Yaitu untuk menyaksikan secara langsung operasi yang akan dilakukan putranya, Arlo. Sedangkan Feli, ia datang karena ingin bertemu dengan sang kakak yang super sibuk.

Feli memiringkan kepalanya. Melihat layar TV. Wajah Arlo close up di layar. Rahangnya kenceng. Mata kosong. Tidak ada senyum protokoler sama sekali.

"Pi, kenapa muka kak Arlo gitu? Kayak marah." celetuk Feli mengamati wajah kakaknya.

Darma ngangguk. Ia setuju dengan penglihatan sang putri. "Arlo memang begitu. Dia akan marah jika rencananya gagal." Sahutnya pelan. Berat.

Tabiat Arlo memang seperti itu. Saat gagal, ia akan menyalahkan orang lain. Dan jika tidak ada yang bisa ia salahkan, maka ia akan menyalahkan dirinya sendiri.

Feli melihat papinya, lalu kembali melihat layar. Bibir gadis itu mengerucut panjang. "Sepertinya papi haru nikahin kakak dulu. Setelah itu baru aku. Biar hidup kakak gak cuma tentang buku anatomi dan pisau bedah." Usulnya.

Darma menoleh putrinya. Tidak marah. Tidak tertawa. Hanya tarik napas panjang. Mungkin ide Feli ada benarnya. Harus ad sesuatu yang bisa menarik perhatian Arlo selain deretan jurnal medis dan ruang operasi.

.....

Di ruangan Devan, ketegangan tidak bisa di hindari. Tatapan tajam dr. Chandra begitu menusuk, menguliti seluruh bagian tubuh Devan. Hawa dingin AC 19°C seolah kalah dengan hawa panas, kemarahan sang Handaru.

"Rumah sakit kita tidak kekurangan dokter senior, bahkan profesor!" Suaranya menggema. "Bisa-bisanya kamu pake R2 untuk operasi sebesar ini! Ini operasi penting, Devan! Kamu jangan main-main!" Bentaknya, marah.

Devan hanya diam dan menatap datar ayahnya. Menahan diri agar tidak emosi. Ada Savira yang harus ia lindungi dari api amarah sang Handaru yang siap membakar hidup-hidup kalau dia pecah sekarang. Savira akan menjadi tumbal.

"Alasannya jelas, Pa. Bukan karena R2, tapi karena SOP yang...." Kata-katanya belum selesai, tapi dr. Chandra memotongnya.

"PERSETAN!" suaranya tinggi. Menggema. Devan merem sambil mengepalkan tangannya di atas paha. "Akan lain ceritanya kalau kamu bawa dr, Handoko atau dr. Anton. Bukan anak magang kemarin sore!"

Udara beku. AC 19°C rasanya seperti -10°C. Devan diam, ia mati-matian menahan diri meskipun dalam tubuh darahnya mendidih.

"Dia anestesi utama di tim. Kerjanya bagus, dia bisa mengikuti ritme ku yang bahkan prof Handoko tidak bisa." Katanya tenang. "Berapa pasien VIP yang selamat? Berapa banyak kasus VIP yang selesai dua bulan terakhir?" Ia tidak ingin ada seseorang yang meremehkan kemampuan Savira. Sekalipun orang itu papanya.

Tangannya merapihkan kertas-kertas yang ada di meja. "Masalah bukan karena R2, tapi karena alasan medis yang mutlak. Bahkan papa lebih tahu bagaimana SOP itu?"

Dokter Chandra berdecih pelan, tidak mungkin ia mengakui kebenaran itu. Rahangnya mengeras. Egonya masih tinggi, tapi logikanya berjalan cepat.

Kali ini ia diam. Ia kalah dengan data yang sesuai dengan perkataan Devan. "Papa harapan itu benar!" sahutnya dengan gengsi setinggi langit.

" Karena operasi siang ini batal. Persiapkan dirimu. Kita makan siang bersama Arlo dan dokter Darma. Anggap saja sebagai upacara penyambutan Arlo bergabunglah di rumah sakita kita." katanya. Kali ini, ia tidak punya alasan untuk menggali lebih dalam tentang R2 nya.

Penyataan Devan berhasil membungkam amarahnya.

Devan mendesah pelan. Ia paling tidak suka dengan acara seperti ini. Yang pasti akan menimbulkan gosip murahan, dan akan menyakiti hati kekasihnya.

"Papa tidak menerima alasan apapun. Apalagi sibuk!" Pungkasnya, lalu keluar dari ruangan Devan.

*

*

*

*

*

*

To be continued

Hai... Hai... Hai....

Kalian sadar gak sih, kalau bab kemarin itu ada kesalahan fatal yang author lakukan???

Kalau ada orang dari Fakultas Kesehatan, atau nurse yang baca, pasti mereka bakal bilang authornya ngaco, amatiran 😫😫😫😫😫 Dan buat kalian yang gak tahu, tetap pura-pura gak tahu aja.... Bikin author bahagia sekali-kali 😉

1
Nasi Loncom
/Smile/
Ariany Sudjana
semoga Savira bisa melewati masa kritisnya dan dokter Devan tetap setia mendampinginya
Ariany Sudjana
semoga Savira bisa melewati masa kritisnya
Rsi Anindyatama
lanjut thor....... jangan mikir kurang. two thumbs up buat author
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!