Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Safe House
“Apa ada masalah?” tanya Gabriella cemas. Wanita itu takut kalau penyakit yang diderita anaknya membuatnya gagal mendapatkan beasiswa.
“Tidak ada, Bu. Tenang saja,” Kenzo langsung menenangkan.
“Baiklah, kami akan langsung memasukkan Sofia ke dalam daftar kandidat penerima beasiswa.”
“Benarkah?”
“Iya. Selamat untuk kalian,” ujar Kenzo seraya bangkit, diikuti oleh Hector. Keduanya menyalami Gabriella bergantian, lalu keluar dari rumah wanita itu.
Mereka bergegas kembali ke mobil yang terparkir tepat di depan rumah. Hector langsung melonggarkan ikatan dasi yang dikenakannya.
“Arman sudah selangkah lebih maju,” ujarnya sambil menaruh dasi ke laci dasbor.
“Apa bisa minta anak buahmu untuk terus mengawasi Sofia?”
“Tentu saja. Sekarang apa rencanamu?”
“Percepat perpindahan safe house dan mendapatkan aset tersisa.”
“Ya, kamu benar.”
Kenzo langsung menjalankan kendaraannya. Sambil mengemudi, Kenzo menghubungi Sergio. Rupanya safe house yang dijanjikan sudah tersedia. Sergio memberikan alamat safe house pada Kenzo. Bersama dengan Hector, dia akan langsung memeriksanya.
Arah lokasi safe house yang dikirimkan Sergio cukup jauh dari kediaman orang tua Sofia. Mereka harus menempuh perjalanan hampir satu jam.
Mobil yang dikendarai Kenzo memasuki wilayah Perbukitan Arven. Letaknya sekitar 35 kilometer dari ibu kota Republik Verentis.
Di perbukitan ini hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memiliki rumah. Harga tanahnya sangat mahal dan aksesnya juga terbatas.
Setelah melewati jalanan menanjak dan berliku, Kenzo membelokkan mobilnya ke kanan. Jalan yang dilalui masih menanjak.
Sekitar empat ratus meter kemudian dia tiba di lokasi. Sebuah rumah berdiri kokoh di ketinggian sekitar 120 meter di atas permukaan laut.
Di dekat pintu gerbang terdapat sebuah pos jaga. Lima puluh meter kemudian mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Seorang pria sudah menunggu di sana.
“Roman Valen,” pria itu langsung memperkenalkan dirinya begitu Kenzo dan Hector mendekat. Keduanya pun ikut memperkenalkan diri.
Setelah perkenalan singkat, Roman segera mengajak keduanya berkeliling. Rumah itu terbilang besar, cukup untuk menampung banyak orang.
“Rumah ini memiliki dua kamar utama, lima kamar tamu, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi umum, garasi dan satu ruang kerja.”
Roman menunjukkan ruang yang disebutkan satu per satu. Kedua kamar utama memiliki jendela yang menghadap langsung ke Laut Mediterania. Sementara kamar tamu tidak seluas kamar utama, tapi tetap full furnished.
“Rumah ini juga dilengkapi dengan ruang server yang memantau keamanan secara keseluruhan. Di sebelahnya ada ruangan lain yang bisa digunakan sebagai gudang senjata.”
Kenzo mengangguk paham. Dia cukup kagum dengan tata letak rumah ini. Tidak salah kalau Sergio menjadikan rumah ini sebagai safe house.
Selanjutnya Roman membawa Kenzo dan Hector menuju ruang kerja. Di dalamnya terdapat satu set meja kerja besar dengan satu kursi kerja putar. Di depan meja juga terdapat dua kursi putar.
Tak jauh dari meja kerja terdapat satu set sofa. Dan di belakang meja kerja terdapat rak buku. Roman mendekati rak buku kemudian menarik satu buku keluar. Secara otomatis rak bergeser dan menunjukkan ruang lain di baliknya.
Di balik rak tersebut terdapat tangga yang menuju ruang rahasia. Ruang rahasia ini akan dijadikan jalur pelarian jika terjadi serangan tiba-tiba. Di ujung lantai bawah terdapat lorong sepanjang 180 meter yang akan berakhir di sebuah gua alami yang tersembunyi.
“Rumah ini berada di atas tebing yang ketinggiannya nyaris tegak lurus. Jadi mustahil untuk didaki dari bawah. Gua tersembunyi itu berada di dalam tebing. Jalan keluarnya langsung mengarah pada teluk kecil yang tersembunyi,” terang Roman sambil menyisiri lorong tersebut.
Sekeluarnya dari gua yang menjadi jalur rahasia pelarian, Kenzo dan Hector langsung disuguhi pemandangan laut lepas. Tidak jauh dari sana terdapat beberapa speedboat yang dapat digunakan untuk meninggalkan tempat ini.
“Aku menginginkan adanya ruangan medis untuk berjaga-jaga.”
“Aku bisa usahakan itu.”
“Besok semua aset akan dipindahkan ke sini, jadi semuanya harus sudah siap.”
“Baiklah,” jawab Roman sambil memandu Kenzo dan Hector kembali ke rumah utama.
“Apa sebelumnya tempat ini dijadikan safe house?” tanya Kenzo penasaran.
“Tidak. Rumah ini dulunya milik salah satu pimpinan Mafia terkejam di Italia. Dia kabur ke sini dan membangun rumah ini. tapi setelah dirinya dan semua keturunannya dibantai habis, rumah ini dilelang. Untuk pemiliknya dirahasiakan.”
“Apa pemiliknya berhubungan dengan pemerintahan?” tanya Kenzo curiga.
“Tidak. Tenang saja, pemiliknya bukan orang pemerintahan. Dia hanya seorang eksentrik yang identitasnya tidak ingin diketahui dan tidak berminat dengan urusan politik atau kekuasaan.”
Tentu saja Kenzo tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan Roman. Dia akan meminta Armin untuk menyelidiki siapa pemilik rumah ini.
Namun karena saat ini didesak keadaan, Kenzo tidak punya pilihan kecuali menyetujui tempat ini sebagai safe house.
Setelah lokasi safe house ditentukan, Kenzo langsung memerintahkan Kael dan Sergio menjalankan rencana. Sementara dirinya dan Hector akan menjemput yang lain di Port Caleus.
Arsela dan yang lain akan langsung ditempatkan di safe house baru sambil mematangkan rencana pengalihan esok hari.
***
Verentis International Airport selalu terlihat sibuk seperti biasanya. Memasuki musim liburan, bandara itu selalu dipadati penumpang. Di antara banyaknya pengunjung, tampak Arsela dan Lyra. Keduanya sengaja menjaga jarak, seolah tidak saling mengenal.
Arsela didampingi oleh Eric dan tiga orang pengawal bayangan. Di sisi lain, personel yang menyamar sebagai Arsela sudah siap menggantikan wanita itu nantinya.
Sementara Kael mengawasi dari tempat tersembunyi. Tugasnya memastikan Arsela selamat dan membawanya ke safe house baru.
Berbeda dengan Lyra yang hanya sendirian saja. Namun begitu, ada Sergio yang mengawasi gerak-geriknya.
Lyra bergerak seolah-olah dia menghindari kamera CCTV dan membiarkan dirinya tertangkap salah satu kamera pengawas tersebut.
Dalam hitungan detik, keberadaan Lyra sudah sampai ke pihak Arman. Pria itu langsung memerintahkan anak buahnya menuju bandara.
Bahkan dia langsung menghubungi pihak bandara, meminta petugas di sana untuk mencari tahu tujuan Lyra pergi dan menahan sementara waktu sampai timnya tiba.
Dari tempatnya duduk, Sergio terus mengawasi pergerakan Lyra. Sudut matanya kemudian melihat seorang petugas bandara mendekat.
“Selamat pagi,” sapa petugas itu pada Lyra.
“Pagi.”
“Apa Anda sudah mendapatkan tiket?” tanya petugas itu sopan.
“Iya. Memangnya ada apa?”
“Anda terlihat seperti orang yang kebingungan. Siapa tahu ada yang bisa saya bantu.”
“Tidak ada, terima kasih.”
Dengan sengaja petugas itu menyenggol Lyra, membuat tiket di tangannya terjatuh. Melihat maskapai penerbangan yang diambil Lyra memberinya sebuah ide untuk menahan wanita itu.
“Anda hendak menggunakan Sky Airways rupanya,” ujar sang petugas sambil mengambilkan tiket tersebut kemudian memberikannya pada Lyra. “Khusus pengguna Sky Airways, kami menyediakan lounge khusus untuk menunggu. Apakah Anda bersedia? Saya bisa mengantar Anda ke sana.”
Sesaat Lyra terdiam sebelum akhirnya dia mengangguk. Petugas tersebut segera mengajak Lyra menuju lounge dimaksud. Sergio langsung bergerak mengikuti keduanya.
Mereka terus berjalan menuju eskalator. Petugas itu mengajak Lyra menaiki tangga berjalan itu ke lantai dua. Sesampainya di sana, keduanya menyusuri koridor yang sepi.
***
Kira² Lyra ketangkep nggak ya?
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏