NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Malam itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Angin musim gugur bertiup pelan di luar jendela besar ruang perpustakaan, membuat dedaunan di halaman belakang bergerak perlahan di bawah cahaya lampu taman. Aku duduk di sofa panjang dekat rak buku sambil memeluk lututku sendiri, ditemani secangkir teh yang sejak tadi sudah kehilangan uap hangatnya.

Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dan Mason belum pulang.

Beberapa hari terakhir aku mulai terbiasa dengan ritme hidupnya yang sibuk dan tidak menentu. Kadang ia pulang sebelum tengah malam. Kadang lebih larut dari itu. Dan anehnya, tanpa sadar aku mulai menunggunya setiap malam, meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya kutunggu. Karena saat Mason pulang pun, kami tidak pernah benar-benar mengobrol banyak.

Aku menghela napas kecil lalu menutup buku yang sejak tadi kubaca tanpa benar-benar kupahami isinya. Ruang perpustakaan ini perlahan menjadi tempat favoritku di rumah besar itu. Tidak terlalu dingin seperti ruang kerja Mason, dan tidak terlalu sepi seperti kamarku sendiri. Setidaknya di sini, aku merasa rumah ini sedikit hidup.

Mataku menatap rak-rak buku tinggi yang memenuhi ruangan. Sebagian besar berisi buku bisnis, sejarah, politik, dan beberapa novel klasik. Aku sempat tersenyum kecil ketika menemukan beberapa novel misteri lama yang ternyata pernah dibaca Mason. Sulit membayangkan pria sedingin dirinya duduk diam membaca cerita detektif sampai larut malam. Namun mungkin memang ada banyak sisi Mason yang belum kukenal.

Aku menunduk pelan sambil memainkan ujung sweaterku sendiri. Entah sejak kapan, rasa penasaranku tentang Mason berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku ingin memahami bagaimana cara pria itu berpikir. Apa yang ia sukai. Apa yang membuatnya diam begitu lama. Dan apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik sikap tenangnya itu.

Hingga di luar sana suara mobil samar terdengar memasuki halaman depan rumah. Aku spontan menoleh ke arah jam lagi, yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.

“Mason pulang…” gumamku pelan.

Namun entah kenapa, tubuhku terasa terlalu lelah untuk bangkit dari sofa. Hari ini aku cukup banyak membantu para pelayan menata beberapa ruangan yang baru selesai direnovasi kecil-kecilan oleh Sarah minggu lalu. Ditambah lagi sejak sore aku membaca terlalu lama di perpustakaan sampai tanpa sadar kepalaku mulai terasa berat.

Aku berniat menunggu Mason beberapa menit saja sebelum kembali ke kamar. Namun ternyata rasa kantuk datang lebih cepat dari yang kuduga.

Aku masih sempat mendengar samar suara langkah kaki di luar perpustakaan. Lalu cahaya lampu ruangan berubah sedikit lebih terang. Setelah itu semuanya terasa kabur dan perlahan gelap.

Saat kembali membuka mata, hal pertama yang kurasakan adalah kelembutan kasur di bawah tubuhku. Aku mengerjap pelan beberapa kali sambil mencoba mengumpulkan kesadaran. Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis di kamarku, menciptakan garis-garis hangat di atas lantai. Selimut tebal menutupi tubuhku dengan rapi, sementara aroma samar parfum yang sangat familiar masih tertinggal di udara.

Aku langsung terduduk pelan.

“Kamarku…?”

Beberapa detik kemudian aku benar-benar tersadar. Semalam aku tertidur di perpustakaan. Lalu bagaimana aku bisa berada di kamar sekarang? Jantungku mulai berdetak sedikit lebih cepat saat sebuah kemungkinan muncul di kepalaku. Aku menatap pintu kamar beberapa detik sebelum tanpa sadar menyentuh ujung selimutku sendiri.

Jangan-jangan…

Pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan dari luar, membuatku sedikit terkejut.

“Nyonya, sarapan sudah siap,” ujar salah satu pelayan dari balik pintu.

Aku segera menjawab dan bergegas turun dari tempat tidur. Anehnya, pagi ini suasana hatiku terasa sedikit berbeda, lebih ringan. Bahkan hanya karena kemungkinan kecil bahwa Mason mungkin memindahkanku ke kamar semalam. Dan kesadaran itu sendiri terasa memalukan.

Aku segera mandi dan bersiap sebelum turun ke lantai bawah. Hari ini hari Minggu, tapi seperti biasa mansion Roux tetap terasa hidup sejak pagi. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan, sementara beberapa pelayan tampak berlalu-lalang membawa sarapan ke meja. Dan di sana, Mason sudah duduk dengan pakaian santainya.

Ia mengenakan kemeja hitam tipis dengan lengan tergulung sampai siku dan celana panjang gelap. Rambutnya masih sedikit basah, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Namun meskipun begitu, aura dingin dan tenang itu tetap tidak hilang darinya.

“Selamat pagi,” sapaku pelan sambil menarik kursi di depannya.

Mason menoleh sekilas lalu mengangguk kecil. “Pagi.”

Aku berusaha terlihat biasa saja meskipun sejak tadi jantungku terasa aneh. Setelah menuangkan kopi ke cangkirnya, aku akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Mason…”

Ia mengangkat pandangannya sebentar.

“Apa… semalam kau yang memindahkanku ke kamar?”

Hening beberapa detik memenuhi meja makan. Dan tanpa ekspresi berlebihan, Mason menjawab singkat, “Ya.”

Hanya satu kata. Namun entah kenapa, jawaban sederhana itu langsung membuat tubuhku menegang.

Aku spontan menunduk sambil menggenggam cangkir tehku lebih erat. Jantungku berdetak terlalu cepat hanya karena membayangkan Mason menggendongku semalam. Membawa tubuhku dari perpustakaan sampai ke kamar dengan tangannya sendiri. Memalukan sekali.

“Aku tertidur tanpa sadar,” gumamku pelan, mencoba terdengar normal. “Maaf merepotkanmu.”

“Itu bukan masalah besar.”

Nada suaranya tetap datar seperti biasa. Namun kali ini aku tidak terlalu peduli. Karena bahkan perhatian kecil seperti itu sudah cukup membuat hatiku terasa hangat.

Aku mencuri pandang ke arahnya sebentar. Mason sedang memotong rotinya dengan tenang, seolah apa yang dilakukannya semalam memang bukan sesuatu yang perlu dipikirkan lagi. Dan mungkin memang begitu baginya. Namun jelas tidak bagiku.

Beberapa saat kemudian Mason meletakkan garpunya dan berkata, “Hari ini aku akan keluar.”

Aku mengangguk kecil. “Ke perusahaan?”

“Tidak.” Ia menyesap kopinya sebentar sebelum melanjutkan, “Jennifer ada acara di kampusnya. Aku akan menemaninya.”

Kalimat itu langsung membuat rasa hangat di dadaku sedikit meredup. Aku berusaha mempertahankan senyumku. “Oh begitu.”

“Mungkin aku akan pulang malam.”

Aku mengangguk lagi. “Tidak apa-apa.”

Dan seperti biasa, aku mencoba menerima semuanya dengan tenang. Meskipun jauh di dalam hati, selalu ada rasa kecil yang sulit dijelaskan setiap kali Jennifer muncul di antara kami. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya iri. Iri karena Jennifer memiliki tempat di hidup Mason yang bahkan sampai sekarang belum bisa kusentuh.

Sarapan pagi itu kembali dipenuhi keheningan nyaman. Tidak canggung, tapi juga tidak hangat. Kami seperti dua orang asing yang sedang belajar hidup berdampingan tanpa benar-benar memahami satu sama lain.

Setelah selesai makan, Mason bangkit dari kursinya dan meraih jas tipis yang tergantung di sandaran kursi. Aku mengira ia akan langsung pergi seperti biasa. Namun beberapa langkah sebelum meninggalkan ruang makan, ia tiba-tiba berhenti.

Lalu berbalik kembali ke arahku.

“Ada sesuatu untukmu.”

Aku sedikit terkejut. “Untukku?”

Mason membuka map hitam tipis yang sejak tadi dibawanya lalu mengeluarkan dua lembar kertas. Ia berjalan mendekat dan meletakkannya di depanku.

Aku mengernyit kecil sebelum mengambilnya perlahan. Dan detik berikutnya mataku langsung membesar.

“Tiket pesawat…?”

Aku menatap lembaran itu beberapa kali, memastikan bahwa aku tidak salah baca. Dua tiket penerbangan kelas bisnis menuju Santorini untuk keberangkatan besok pagi.

Aku langsung menoleh pada Mason dengan ekspresi tidak percaya. “Kita akan pergi?” tanyaku pelan.

“Ya.”

“Tapi… kenapa tiba-tiba?”

Mason tampak tenang seperti biasa. “Anggap saja hadiah pernikahan.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata beberapa detik. Dadaku terasa penuh oleh sesuatu yang hangat sampai sulit dijelaskan. Selama ini aku selalu berpikir Mason tidak benar-benar peduli pada hal-hal seperti ini. Bahkan ketika Sarah beberapa kali menyinggung soal honeymoon, aku mengira Mason hanya menjawab asal agar ibunya tenang. Namun ternyata, ia benar-benar menyiapkannya.

“Kau serius?” tanyaku lagi pelan, hampir terdengar bodoh.

Mason mengangguk kecil. “Aku sudah mengatur semuanya.”

Aku menatap tiket itu lagi dengan jantung yang berdetak semakin cepat. Bahkan tanganku sampai sedikit gemetar menahannya.

Santorini. Liburan, bersama Mason. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa ada sesuatu yang akhirnya mulai bergerak di antara kami. Mungkin masih kecil, mungkin masih samar. Tapi cukup untuk membuatku berharap lagi.

Tanpa sadar senyumku perlahan melebar. “Aku… senang sekali,” gumamku jujur.

Tatapan Mason jatuh padaku beberapa detik lebih lama dari biasanya. Lalu ia berkata pelan, “Bagus kalau begitu.”

Setelah itu ia kembali mengambil kunci mobilnya. Sikapnya tetap tenang dan datar seperti biasa, seolah baru saja memberikan dokumen biasa alih-alih sesuatu yang membuat jantungku hampir meledak karena bahagia.

Namun kali ini aku tidak peduli. Karena bahkan perhatian kecil darinya terasa begitu berarti bagiku.

Sebelum pergi, Mason sempat berhenti di dekat pintu masuk lalu menoleh sekilas ke arahku. “Siapkan barang-barangmu malam ini.”

Aku langsung mengangguk cepat. “Baik.”

Dan beberapa detik kemudian ia benar-benar pergi meninggalkan rumah. Suara mobilnya perlahan menghilang dari halaman depan. Sementara aku masih berdiri di ruang makan dengan dua tiket pesawat di tangan dan jantung yang belum juga tenang.

Aku menunduk memandangi namaku yang tercetak di samping nama Mason Roux di tiket itu. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil sendiri. Mungkin… mungkin aku memang terlalu mudah bahagia hanya karena hal-hal kecil darinya. Tapi untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan itu. Karena untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa Mason benar-benar mengingat keberadaanku sebagai istrinya.

1
Lili Inggrid
ceritanya bagus..lanjutkan dan tetap semangat 🙏🙏
Yellow Sunshine: Thank you. happy reading 🤗
total 1 replies
partini
hai dari awal kamu tuh masuk di antara mereka lah , betul" bebal kali kau zel dan ga tau diri
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
partini
ngapain natap Dengan kebencian zel kan kamu yang penghalang hubungan mereka kamu hadir diantara mereka ihhhj ga sadar diri kamu,,
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
Dew666: Hooh betul
total 1 replies
partini
yesss you DAM STUPID zel ,,di jelas kan kan bisa di lihat mereka lovely doply ❤️❤️❤️ ngapai di jelasin sih
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
Yellow Sunshine: Sabar ya kak 🤭
total 1 replies
partini
ehh bukan salah Manson lah kamu nya aja yg ga sadar diri zel ga usah terluka ini pilihan mu mencintai nya biarkan dia bahagia bersama orang dia cintai
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa
Dew666
Lagian dah dicuekin mulu msh aja bertahan kerja kek cari kesibukan aneh
Yellow Sunshine: Mungkin Hazel memang orangnya suka berprasangka baik 😄🤭
total 1 replies
partini
clue nya udah terang benderang kaya gitu masih aja ga yampe yah ,OMG she Damm stupid eeh
Yellow Sunshine: cinta tak harus memiliki, ya. terkadang cinta berarti membiarkannya pergi 🤗
total 6 replies
falea sezi
prett amat bloon
falea sezi
novel apaan MC nya belooon
falea sezi
bodoh di tolak mentah mentah cerai bloon🤣🤣🤣
Anonim
Kau hansel memang bodoh tolol murah juga
falea sezi
sejauh ini masih muter g sat set
falea sezi
bodoh endingnya pasti balek🤣 ketebak thor.. kenapa MC nya di buat menyee gk tegas 😒
Yellow Sunshine: susah memang ya kalau orang udah terlanjur cinta mati 🤭 udah ditolak, masih aja dikejar 🤭
total 1 replies
falea sezi
😒 kebanyakan flasback
Dew666
🍎
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Anonim: type kayak gitu biasanya CEWEK MASOKIS sih
total 5 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!