Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kemesraan Sesaat
Didalam mobil mewahnya, Theo tersenyum lebar meski hatinya mulai goyah. Di sampingnya, Bianca sedang memegang lengannya sembari mengerucutkan bibir dengan ekspresi yang dibuat semanis mungkin.
"Sayang, kan dana talangan lima belas miliar dari Avalanka Group sudah cair dan aman di rekening," ujar Bianca dengan nada manja.
"Masa kamu tidak mau membelikan aku tas branded keluaran terbaru yang kemarin aku tunjukkan? Apartemenku yang sekarang juga rasanya sudah terlalu sempit, Theo. Aku mau pindah ke penthouse yang ada kolam renang pribadinya, ya?"
Theo terkekeh pelan, mengacak rambut Bianca dengan sayang untuk menutupi rasa penatnya.
"Iya, Sayang. Apa sih yang tidak untuk kamu? Nanti kalau urusan proyek ini sedikit mereda, kita cari penthouse baru. Sekarang kamu belanja saja dulu pakai kartuku," ujar Theo sambil menyerahkan sebuah kartu kredit hitam ke tangan Bianca.
Bianca langsung tersenyum girang, mengecup pipi Theo dengan mesra sebelum akhirnya turun di depan salah satu pusat perbelanjaan elit.
Begitu Bianca menghilang di balik pintu lobi mal, senyum di wajah Theo seketika memudar. Dia mengembuskan napas lega.
Setelah berhasil mengamankan dana besar dari Tristan kemarin, rasa percaya diri Theo memang melonjak drastis, namun tuntutan Bianca yang mulai tuman dan serakah perlahan mulai menguras energinya.
Sebenarnya, selama dua hari belakangan ini, Theo memang memilih untuk tinggal dan menginap di apartemen Bianca.
Sementara itu, ibunya, Ratna, sudah pulang kembali ke rumah pribadinya bersama sang suami, Paulus Falcon.
Merasa butuh mengambil beberapa berkas penting perusahaan yang masih tertinggal di sana, Theo memutuskan untuk memutar arah mobilnya menuju rumahnya bersama Zarlin dulu.
Begitu masuk ke dalam rumah yang terasa sepi itu, Theo berjalan menuju area dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Tepat saat Theo melewati ruang makan, pandangannya terkunci pada sebuah benda asing di atas meja makan marmernya.
Sebuah keranjang anyaman besar yang dihiasi pita kain, berisi tumpukan buah-buahan segar kualitas premium yang tampak sangat mencolok.
Theo mengernyitkan alisnya heran. Jantungnya tiba-tiba berdesir aneh. Siapa yang membeli buah semewah ini? Dengan dahi berkerut, Theo berteriak memanggil pelayan barunya.
"Bik! Bik Sumi!" Panggil Theo dengan nada tinggi.
Bik Sumi yang sedang menyetrika di kamar belakang langsung berlari terbirit-birit dengan wajah yang seketika panik begitu melihat sang majikan sudah berdiri di samping meja makan.
"I-Iya, Tuan Theo? Ada apa, Tuan?" suara Bik Sumi bergetar kaku.
"Ini keranjang buah punya siapa? Siapa yang membawa ke rumah ini?" tanya Theo tajam, matanya menyipit penuh selidik.
Mendengar pertanyaan itu, Bik Sumi merasa gugup. Pelayan itu teringat ancaman Theo yang melarangnya membocorkan apa pun soal kondisi rumah ini pada siapa pun. Tapi, ingatan tentang kedatangan tamu dua hari lalu membuat dia tidak bisa berbohong.
"I-Itu... dua hari yang lalu, ada tamu yang datang ke rumah ini, Tuan," jawab Bik Sumi terbata-bata.
"M-Mertua Tuan... orang tua dari Nona Zarlin yang datang mengantarkan buah itu."
Deg! Deg! Deg!
Bagai dihantam tepat di dada, jantung Theo rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Tangannya yang memegang gelas kaca gemetaran sedikit.
"A-Apa kamu bilang?!" Theo mencengkeram bahu Bik Sumi dengan tatapan mata yang membelalak horor.
"Orang tua Zarlin datang ke sini?! Dua hari yang lalu?!"
"I-Iya, Tuan... Tuan Bramasta dan Nyonya Amelia yang datang. Mereka menyempatkan mampir untuk mengantarkan buah untuk Tuan dan Nyonya Ratna..." bisik Bik Sumi ketakutan.
Otak Theo seketika meledak oleh kepanikan yang luar biasa hebat. Dua hari yang lalu adalah hari di mana dia baru saja menginap di apartemen Bianca, dan di hari itu pula Bramasta meneleponnya.
Di telepon itu, Theo dengan sangat manis berbohong bahwa hubungannya baik-baik saja dan Zarlin hanya pulang karena rindu orang tua.
"Mati aku..." gumam Theo dengan panik.
Pikiran Theo langsung dilanda kepanikan. Jika Bramasta dan Amelia datang ke rumah ini diam-diam, apakah mereka masuk ke dalam?
Apakah mereka sadar kalau seluruh barang-barang Zarlin sudah tidak ada?! Ketakutan terbesar Theo yang sempat mereda kini kembali mencekik lehernya hingga dia merasa sesak napas.
"Kenapa mereka datang tiba-tiba?" tanya Theo pada Bik Sumi
"Saya tidak tahu, Tuan. Mertua anda hanya datang membawa buah." ujarnya gemetar
"Mereka menanyakan aku?" tanya Theo
Bik Sumi mengangguk takut, "I-Iya, Tuan. Tapi saya hanya menjawab kalau Tuan sedang tidak ada dirumah dan mereka menitipkan buah itu." ujar Bik Sumi
"Aghhgg sialan!" teriak Theo memukul meja makan membuat Bik Sumi ketakutan.
Belum sempat Theo menata detak jantungnya yang menggila akibat teror keranjang buah tersebut, ponsel di dalam saku celananya berbunyi nyaring.
...Drtt... Drtt...Drtt...
Theo tersentak kaget. Dengan tangan yang masih bergetar, dia merogoh ponselnya dan melihat nama Tristan - CEO Avalanka terlihat di layar ponselnya.
Theo meneguk ludah kaku, mencoba menenangkan suaranya sebelum menggeser layar ponselnya.
"Halo? Selamat siang, Tuan Tristan," sapa Theo, berusaha keras mengembalikan nada suaranya.
Namun, tidak ada nada ramah dari telepon. Yang terdengar justru suara yang sangat dingin, penuh penekanan, dan sarat akan nada meremehkan.
"Theo Falcon," panggil Tristan dari sana.
"Saya hanya ingin menanyakan, seberapa jauh progres dari penggunaan dana talangan lima belas miliar rupiah yang kemarin sudah saya cairkan ke rekening perusahaan Anda? Anda tidak sedang menyalahgunakan dana berharga dari Avalanka Group untuk membiayai hal-hal yang tidak berguna, bukan?"
Theo mengerutkan keningnya, merasa tersindir dan terintimidasi oleh wibawa Tristan.
"T-Tentu saja tidak, Tuan Tristan. Dana tersebut murni dialokasikan untuk keperluan teknis Falcon Corp. Mengapa Anda tiba-tiba menanyakan hal tersebut? Bukankah kesepakatan kita—"
"Kesepakatan?" Tristan memotong kalimat Theo dengan tawa dingin yang begitu menusuk.
"Saya hanya ingin mengingatkan Anda, Tuan Theo. Jangan terlalu merasa berada di atas angin hanya karena Anda memegang dana pinjaman dari saya. Sekali saja saya melihat ada langkah Anda yang tidak becus dalam proyek ini, saya bisa menarik seluruh kerja sama secara sepihak!"
"Baik Tuan Tristan, tapi–"
Klik.
Panggilan diputus oleh Tristan. Theo perlahan menurunkan ponselnya dari telinga dengan tatapan kosong.
"Sialan! Bagaimana dia bisa seteliti itu?!" teriak Theo di meja makan.
Di dalam ruang makan yang sunyi itu, tubuh Theo terasa lemas tak bertenaga. Dia mengambil segelas air lalu meminumnya setelah itu melemparkan gelas kaca itu ke lantai.
"T-Tuan–" Bik Sumi ingin menangkan tapi malah mendapat bentakan dari Theo
"Jangan menambah beban ku lagi!" bentak Theo
Theo lalu mengambil berkas penting dari kamarnya dan pergi kembali ke kantornya, meninggalkan Bik Sumi yang masih ketakutan.
Bik Sumi mulai membersihkan pecahan gelas kaca itu. Ia tak sadar air matanya seketika jatuh.
"Sudah lama aku menjadi ART tapi baru kali ini aku mendapatkan majikan yang begitu kejam." batin Bik Sumi
hidupnya emang berat sih, anak sama istrinya gak ada yg waras 🥲