Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Jebakan Malam Pengantin
Rania berlutut di lantai yang dingin sembari terus memohon. Air matanya mengalir deras membanjiri wajahnya. Sementara di depannya sosok tinggi yang terlihat begitu dingin itu bahkan enggan menatap wajahnya.
"Arya, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu."
Isak tangisnya begitu menyayat hati siapapun yang mendengar. Namun penampilan yang hina sudah menutup hati nurani semua orang yang ada di sana.
Rania putus asa menghadapi semua tuduhan itu tanpa adanya kesempatan untuk menjelaskan. Padahal beberapa jam yang lalu suasana begitu meriah dan senyumnya begitu lebar.
Gaun putih yang dipersiapkan jauh-jauh hari menjadi tanda bahwa dirinyalah yang menjadi ratu untuk hari ini. Di ujung altar, sosok pria jangkung menantinya dengan tersenyum. Janji suci berkumandang mengikat dua insan dengan disaksikan Tuhan secara langsung.
Tapi semua berakhir kacau saat Rania sedang berjalan sendirian menyusuri lorong hotel menuju kamarnya. Acara telah berakhir dan ia dengan Arya memesan sebuah kamar khusus untuk malam pertama mereka. Beberapa tamu dari jauh juga sudah di siapkan kamar di hotel yang sama.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba terasa sebuah pukulan di tengkuknya membuat Rania langsung pingsan di saat itu juga. Ketika matanya terbuka, ia sudah berada di bawah selimut dengan seorang pria. Dan mengejutkannya lagi adalah, mereka berdua dalam kondisi tanpa busana.
Belum sempat Rania merespon keadaan, tiba-tiba pintu didobrak dan rombongan manusia masuk memenuhi kamar. Kamera dengan cahaya flash begitu menyilaukan mata membuat Rania mencoba menghalanginya dengan tangan.
"astaga Rania! ternyata kamu main belakang dengan pria lain?"
"ya ampun, bermain di malam pernikahan. Dia sudah gila."
"dia sangat berani membawa selingkuhannya ke ranjang pengantin."
"malang sekali nasib Arya harus diselingkuhi di malam pengantinnya."
Berbagai komentar keluar dan menusuk telinga Rania. Sekuat tenaga ia mengedarkan pandangannya mencari sosok terkasih berharap pria itu mau mendengar sedikit penjelasannya.
Di sana ia melihat Arya berdiri dengan mata memerah, rahang mengeras, dan tangan mengepal. Rania mengambil apapun yang bisa diraih dan memakainya lalu turun dari ranjang berlutut di hadapan pria yang baru saja sah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu.
Tangisan dan permohonan sedemikian rupa tidak mampu menggoyahkan es yang begitu keras. Dari sudut matanya, Rania melihat sosok wanita yang tersenyum dengan penuh kemenangan ke arahnya. Dia adalah Salsa, dan dia yakin bahwa wanita itulah biang keladi semua masalah ini. Tapi harus bagaimana ia membuktikan diri jika kesempatan untuk menjelaskan saja tidak diberikan.
"kalau kamu memang tidak mau menikah denganku, seharusnya katakan dari awal!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Tulang punggung Rania seketika kaku dan dingin ketika mendengar nada bicara yang sangat asing untuknya. Pria itu sudah sangat kecewa terhadapnya.
Rania berdiri dan menatap semua orang satu persatu. Perlahan kakinya mundur ke belakang dan tanpa sadar posisinya sudah berada di dekat jendela besar yang bisa dibuka kapanpun. Tangannya meraih kenop jendela lalu menarik dan menggesernya. Kakinya membawa tubuhnya keluar kamar berdiri di balkon hotel yang cukup kecil.
"Arya, aku bersumpah demi Tuhan bahwa aku masih suci. Aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun sebelumnya dan termasuk malam ini. Aku dijebak oleh seseorang, apa kamu percaya?"
Arya menatapnya tajam namun masih ada guratan khawatir melihat istri barunya itu terlihat frustasi.
"katakan nanti saja, kamu kembali ke sini dan kita bahas baik-baik."
Rania menggelengkan kepalanya lalu tersenyum namun terlihat begitu menyedihkan.
"tidak, kamu tidak percaya kepadaku. Kalau aku masuk, nanti kamu pasti akan menuntut ku untuk minta maaf dan mengakuinya kan?"
"tidak akan, ayo kita bicara dulu," kali ini suara sang sahabat terdengar. Dona berbicara dari samping Arya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Sepertinya hanya sahabatnya saja yang benar-benar tulus memedulikan dirinya.
Suasana menjadi semakin menegangkan saat Rania duduk di tepi balkon. Hanya satu dorongan kecil saja maka tubuh kurusnya itu akan terhempas dan jatuh bebas ke bawah. Dari posisinya saat ini di lantai lima belas, bisa dipastikan tubuhnya akan remuk.
"Arya, kamu suamiku. Aku berharap kamu bisa melindungi aku, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi. Bahkan untuk mendengar penjelasanku saja kamu memilih tidak mau. Lalu daripada memilih mencari bukti untuk mengetahui faktanya, kamu malah lebih memilih tidak mempercayai aku."
Rania terkekeh merasa hidup dan cintanya hanyalah sebuah lelucon. Aibnya bukan hanya menjadi pemicu retaknya rumah tangga yang baru dibangun beberapa jam, tapi juga menjadi tontonan seluruh masyarakat. Ia sudah tidak memiliki muka lagi untuk melanjutkan hidup.
Matanya terpejam dan tubuhnya terjun bebas ke bawah. Saat itu, matanya kembali terbuka untuk melihat terakhir kalinya wajah orang-orang di atas sana. Tapi yang membuatnya terkejut adalah, Dona tersenyum di samping Arya yang menatapnya dingin. Ternyata semuanya memang hanya lelucon. Dia adalah badut asli di tengah kerumunan itu. Jika ada kehidupan kedua, Rania memilih untuk tidak mengenal mereka berdua lagi.
Tubuhnya mendarat begitu keras di atas aspal. Darah keluar dari berbagai sisi. Rasa sakit memeluknya begitu erat. Matanya terpejam dan tidak bisa terbuka sama sekali. Nafasnya tersendat hingga dadanya terasa begitu sakit namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Sirine ambulan dan polisi bersautan mendekat. Orang-orang mulai berkerumun untuk berusaha menyelamatkannya. Tapi semuanya terlambat, jantungnya berhenti bekerja. Paru-parunya tidak mampu menerima oksigen lagi. Otaknya sudah hancur di dalam kepalanya.
Orang-orang yang tadi berada di dalam kamar itu berbondong-bondong turun ke bawah. Menyaksikan hal paling menyeramkan dalam hidup mereka. Arya di sana mematung dengan wajah yang pias. Jantungnya berdebar dan tangannya gemetar. Kakinya lemas hingga tidak berani untuk mendekat.
Dua orang paruh baya berlari ke arah Rania dan memeluk gadis itu, "Rania putri ayah ayo bangun sayang," ucapnya sembari menepuk-nepuk pipi yang masih terasa hangat itu.
Ibunya sudah menangis sesenggukan tidak mampu berbicara apapun. Lalu sang ayah melihat sosok Arya di depan pintu hotel, ia pun langsung berlari dan menerjang pemuda itu.
Pukulan pertama mendarat dengan mulus, namun pukulan kedua berhasil di tahan. Arya memanggil keamanan untuk mengamankan Ayah dan Ibu Rania.
"aku menyesal menikahkan putriku denganmu! Seharusnya aku tidak merestui hubungan kalian!" teriaknya saat tubuhnya diseret paksa oleh pihak keamanan.
Dona memeluk lengan Arya dan kepalanya bersandar di lengan pria itu. "Arya jangan sedih, ada aku di sini."
Rania melihat semua itu dengan jelas. Rohnya terbangun dan melayang diantara kerumunan. Ia ikut menangis saat melihat orang tuanya diperlakukan sedemikian rupa. Salsa, Dona dan Arya, ia akan mencatat nama itu baik-baik.