Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang singa yang terisolasi
Ketegangan di mansion De Luca mencapai titik didih. Leonardo tidak hanya mengurung Olivia, ia juga mulai membatasi pergerakan ibunya sendiri. Baginya, setiap orang di rumah ini adalah celah keamanan potensial selama pengkhianat yang mengambil foto Olivia belum ditemukan.
"Bunda, kembali ke kamarmu. Aku sudah menempatkan dua pengawal tambahan di depan pintumu," ucap Leonardo lugas saat bertemu Donna Isabella di koridor utama.
Isabella menatap putranya dengan tatapan tajam yang penuh kekecewaan. "Kau sudah gila, Leonardo. Kau memperlakukan rumah ini seperti penjara bawah tanah. Istrimu tidak makan sejak pagi, dan sekarang kau menyuruh ibumu sendiri untuk bersembunyi?"
"Aku menyuruhmu istirahat demi keselamatanmu, Bunda! Foto itu diambil dari dalam perimeter. Ada pengkhianat di antara pelayan atau penjaga kita," bentak Leonardo. Napasnya memburu, matanya merah karena kurang tidur dan paranoid yang memuncak. "Sampai aku menemukan siapa yang menjual akses itu, tidak ada yang boleh berkeliaran."
Isabella menghela napas panjang, menyadari bahwa putranya sedang tenggelam dalam kegelapan yang sama yang dulu menghancurkan ayahnya. "Kau akan kehilangan dia, Leo. Bukan karena peluru Navarro, tapi karena tanganmu sendiri yang mencekiknya."
Tanpa menjawab, Leonardo melangkah pergi menuju kamar utamanya. Ia memberikan isyarat pada Marco yang berdiri siaga di depan pintu kayu jati itu. Marco mengangguk dan membukakan kunci.
Begitu masuk, suasana kamar terasa sunyi dan dingin. Gorden masih tertutup rapat. Leonardo melihat Olivia terbaring di ranjang, posisinya hampir tidak berubah sejak ia pergi tadi pagi. Nampan sarapan di meja kecil di samping tempat tidur masih utuh; bubur dan buah-buahan itu sudah dingin dan mengeras.
Leonardo melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah istrinya yang pucat. Lingkaran hitam mulai muncul di bawah mata biru Olivia yang biasanya bersinar. Gadis itu tidak menoleh, ia hanya menatap kosong ke arah dinding.
Rasa sesak yang asing tiba-tiba menghujam dada Leonardo. Ia melihat bekas kemerahan di pergelangan tangan Olivia—bekas cengkeramannya semalam saat ia kehilangan kendali. Penyesalan, sebuah emosi yang jarang ia rasakan, mulai merayap seperti racun yang lambat.
Ia telah membangkitkan tubuhnya melalui wanita ini, tapi sepertinya ia sedang membunuh jiwa wanita itu dalam prosesnya.
"Makanlah sedikit, Olivia," suara Leonardo melunak, jauh lebih rendah dari sebelumnya. Ia mencoba meraih tangan Olivia, namun gadis itu menarik tangannya dengan gerakan lambat namun penuh penolakan.
"Untuk apa? Agar aku punya tenaga untuk kau hancurkan lagi nanti malam?" bisik Olivia parau. Suaranya kering, tanpa emosi.
Leonardo terdiam. Ia mengepalkan tangannya di atas lutut. "Aku melakukan ini untuk menjagamu tetap hidup."
"Ini bukan hidup, Leonardo. Ini hanya bernapas di dalam peti mati yang sangat mahal," Olivia akhirnya menoleh, menatap suaminya dengan tatapan yang hancur. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau memperlakukanku lebih buruk daripada musuhmu. Mereka setidaknya punya kesempatan untuk melawan. Aku? Aku bahkan tidak punya hak atas tubuhku sendiri."
Leonardo memejamkan mata. Kata-kata Olivia menghantam harga dirinya lebih keras daripada peluru mana pun. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan di altar katedral—untuk menjaga dan menyayangi. Namun yang ia lakukan justru mengurung dan mengintimidasi.
Ia bangkit, berjalan menuju jendela dan menyentakkan gorden beludru itu hingga terbuka. Cahaya matahari sore masuk menyinari ruangan, memperlihatkan betapa berantakannya kamar itu—sebuah cerminan dari kekacauan di hati mereka.
"Marco!" teriak Leonardo ke arah pintu.
Marco masuk dengan sigap. "Ya, Tuan?"
"Bawa pelayan masuk. Bersihkan ruangan ini. Siapkan air hangat untuk Nyonya," perintah Leonardo lugas. Ia berbalik menatap Olivia. "Dan panggil koki. Suruh dia membuatkan sup ayam Inggris yang biasa dimakan keluarganya. Pastikan dia memakannya sampai habis."
Leonardo melangkah menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. Ia tidak berbalik, suaranya terdengar kaku. "Besok... jika kau menghabiskan makananmu dan berjanji tidak akan keluar tanpa izin, aku akan membiarkanmu pergi ke rumah kaca selama dua jam. Dengan penjagaan dariku langsung."
Itu adalah konsesi terbesar yang pernah diberikan seorang Leonardo De Luca. Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari kamar. Penyesalan itu masih ada, mengganjal di tenggorokannya. Ia menyadari satu hal: ia adalah pria yang sangat berkuasa, tapi ia adalah pria yang sangat lemah saat melihat air mata mawar Inggris-nya.
Di koridor, Leonardo menatap Marco dengan dingin. "Cari pengkhianat itu malam ini juga, Marco. Seret dia ke markas bawah tanah. Aku ingin dia merasakan setiap inci rasa sakit yang dirasakan istriku karena ulahnya."
Author : Kamu nya aja yang seperti kesurupan Leo, huuuu maklum aja ges sebelum nya mati rasa...
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...