we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 perjalanan menuju kerjaan valen
Suasana di jalan hutan itu berubah menjadi tegang.
Angin yang sebelumnya berhembus pelan kini terasa lebih dingin.
We Lin berdiri diam sambil menatap kelompok berjubah hitam di hadapannya.
Jumlah mereka tidak banyak.
Hanya enam orang.
Namun entah kenapa, keberadaan mereka memberikan tekanan yang tidak biasa.
"Jadi..."
"Kami akhirnya menemukanmu."
We Lin mengernyit.
Ia yakin tidak pernah bertemu dengan orang-orang itu sebelumnya.
"Siapa kalian?"
Tidak ada jawaban.
Orang berjubah yang berdiri paling depan justru terus menatap ke arah dada We Lin.
Lebih tepatnya ke arah liontin yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Di sampingnya.
Tetua Morcant perlahan menurunkan cangkir tehnya.
Tatapannya sedikit menyipit.
Melihat itu, We Lin langsung menyadari sesuatu.
Tetua Morcant kemungkinan mengenal mereka.
"Kakek?"
Tetua Morcant tidak langsung menjawab.
Matanya tetap tertuju pada sosok berjubah di depan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu akhirnya ia membuka mulut.
"Sudah lama sekali."
Salah satu orang berjubah tertawa pelan.
"Benar."
"Sudah sangat lama."
We Lin semakin bingung.
Jadi mereka memang saling mengenal.
Namun sebelum ia sempat bertanya.
Orang berjubah itu kembali berbicara.
"Kami tidak menyangka masih bisa menemukanmu hidup."
Tetua Morcant tersenyum tipis.
"Dan aku tidak menyangka kamu masih seperti dulu."
Suasana kembali hening.
Pemimpin kelompok berjubah itu mengalihkan pandangannya kepada We Lin.
"Liontin itu."
We Lin refleks memegang dadanya.
"Ada apa dengan liontin ini?"
"Kau tidak perlu tahu."
Jawaban singkat itu membuat We Lin semakin curiga.
Tetua Morcant menghela napas kecil.
"Lalu?"
"Kalian datang jauh-jauh hanya untuk melihatnya?"
Orang berjubah itu terdiam sesaat.
Kemudian menggeleng.
"Kami hanya ingin memastikan."
"Memastikan apa?"
"Bahwa artefak itu benar-benar telah aktif."
Mata We Lin sedikit menyipit.
Sebelum ada yang sempat berbicara lagi.
Pemimpin kelompok itu berbalik.
"Ayo pergi."
Salah satu bawahannya tampak terkejut.
"Kita pergi begitu saja?"
"Kita sudah membuat pemilik baru liontin itu ketakutan."
Mereka tidak menjelaskan apa pun lagi.
Satu per satu sosok berjubah hitam itu berjalan kembali ke dalam hutan.
Dalam waktu singkat.
Mereka menghilang dari pandangan.
Menyisakan banyak pertanyaan.
We Lin langsung menoleh.
"Kakek."
"Hm?"
"Siapa mereka?"
Tetua Morcant mengambil kembali cangkir tehnya.
"Entahlah."
"Kakek mengenal mereka, kan?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Aku sudah tua. Ingatanku tidak sebaik dulu."
"Itu bukan jawaban."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Tetua Morcant tersenyum tipis.
We Lin hanya bisa menghela napas.
Ia sudah menduga akan mendapat jawaban seperti itu.
Perjalanan mereka pun kembali berlanjut.
Hari demi hari berlalu.
Mereka melewati beberapa desa kecil.
Kota persinggahan.
Serta jalan perdagangan yang ramai dilalui para pedagang.
Di sepanjang perjalanan.
We Lin melihat banyak hal yang sebelumnya hanya ia dengar dari cerita orang lain.
Ada petualang yang baru pulang dari perburuan monster.
Ada pedagang yang membawa barang dari negeri jauh.
Bahkan ada rombongan penyihir muda yang sedang menuju Akademi Sihir Valen.
Perjalanan yang awalnya terasa biasa perlahan menjadi pengalaman baru baginya.
Sementara itu.
Liontin tua di sakunya tetap tenang.
Tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Namun entah kenapa.
Sejak bertemu kelompok berjubah hitam itu.
We Lin merasa semakin banyak orang memperhatikan dirinya.
Meski mungkin hanya perasaannya saja.
Beberapa hari kemudian.
Mereka akhirnya tiba di sebuah bukit besar.
Tetua Morcant berhenti melangkah.
"Sampai."
We Lin yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.
"Hm?"
Tetua Morcant menunjuk ke depan.
We Lin mengikuti arah jarinya.
Dan sesaat kemudian.
Matanya membelalak.
Di kejauhan.
Berdiri sebuah kota raksasa yang dikelilingi tembok tinggi.
Menara-menara batu menjulang ke langit.
Bendera kerajaan berkibar di berbagai sudut.
Jalan-jalan besar terlihat dipenuhi orang yang keluar masuk.
Bahkan dari kejauhan.
Keramaian kota itu sudah bisa dirasakan.
"Itu..."
"Kerajaan Valen."
We Lin terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini.
Ia melihat kota sebesar itu.
Tetua Morcant tersenyum kecil.
"Bagaimana?"
We Lin menatap kota megah di depannya.
Lalu tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.
"Jauh lebih besar dari yang kubayangkan."
Mereka kembali berjalan.
Menuju gerbang utama Kerajaan Valen.
Tanpa menyadari.
Bahwa kedatangan mereka telah dinantikan oleh lebih banyak orang daripada yang mereka kira.