Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER -5 AWAL KEHANCURAN
Sudah enam hari sejak Lily terlahir kembali.
Minggu pagi itu, Lily sedang duduk santai di gazebo belakang mansion milik keluarganya. Namun, ada sesuatu yang terasa aneh. Udara di sekitarnya sangat dingin meskipun matahari sedang bersinar terik.
"Kenapa suhunya sangat dingin? Bukannya kiamat baru dimulai besok?" gumam Lily bingung.
Menurut ingatannya, kiamat akan dimulai esok hari, diawali oleh hujan es dan badai salju ekstrem, lalu disusul fenomena bulan merah serta hujan darah.
"Mungkinkah ini efek butterfly?" pikirnya.
Karena sudah tidak tahan dengan udara dingin yang menusuk tulang, Lily akhirnya masuk ke dalam rumah dan menuju ruang keluarga. Di sana, Azalea sedang duduk santai sambil bermain ponsel.
"Lo dari mana?" tanya Azalea tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Lily berjalan ke sofa dan duduk di samping kakaknya.
"Dari gazebo belakang. Tadinya mau duduk santai, tapi nggak tahan dinginnya."
Azalea hanya mengangguk.
"Kak, hari ini lo nggak ke mana-mana, kan?" tanya Lily.
"Enggak. Gue di rumah seharian sampai besok," jawab Azalea.
"Oh... Mommy, Daddy, sama Bang Alex mana?"
"Mommy lagi di dapur, Daddy di ruang kerja. Kalau Alex, mungkin masih di kamar main game."
Lily mengangguk pelan.
Mereka berdua kemudian menonton televisi bersama. Namun, suhu udara semakin lama semakin dingin.
Tak lama kemudian, sebuah berita darurat muncul di layar televisi.
"Fenomena salju dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Indonesia..."
Mata Lily langsung melebar.
Ia buru-buru menoleh ke arah jendela.
"Kak, lihat deh! Salju turun!"
Lily menunjuk ke luar.
Butiran-butiran putih perlahan jatuh dari langit.
Mata Azalea langsung membelalak.
"Astaga! Ini Indonesia! Gimana mungkin ada salju turun di sini?!"
Ia segera berdiri dan berlari menuju jendela.
"Gilak... ini benar-benar gilak..."
Azalea hanya bisa tercengang.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari belakang.
"Azalea, Lily, kalian ngapain di situ? Ayo makan siang dulu," ajak sang Mommy yang belum mengetahui apa yang sedang terjadi.
Saat itu Daddy sudah duduk di meja makan.
"Mom! Lihat deh! Ada salju! Dunia kayaknya mau kiamat!" seru Azalea heboh.
Mendengar itu, Mommy dan Daddy segera menghampiri jendela.
Ketika melihat pemandangan di luar, keduanya ikut terkejut.
"Bagaimana mungkin ada salju di Indonesia?" ucap Mommy bingung.
"Ya... ini sangat aneh. Aku harap ini bukan pertanda buruk," kata Daddy dengan wajah serius.
"Sudah, sudah. Ayo makan siang dulu," ajak Mommy.
Mereka pun menuju meja makan.
Tak lama kemudian, Alex turun dari kamarnya.
Seperti biasa, keluarga Mahendra makan siang dalam keadaan tenang karena itu memang sudah menjadi aturan keluarga.
Setelah makan, Lily langsung kembali ke kamarnya.
Saat itu jam menunjukkan pukul 15.34 sore.
Di luar, salju turun semakin deras.
Sore berganti malam.
Namun badai salju bukannya mereda, malah semakin menggila.
Setelah makan malam, seluruh keluarga Mahendra berkumpul di ruang keluarga.
"Sampai kapan kira-kira hujan salju ini akan berlangsung?" tanya Daddy.
Tidak ada yang menjawab.
Tidak seorang pun mengetahui jawabannya.
Karena udara semakin dingin, mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Lily segera membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
"Sistem, berapa suhu sekarang?" tanyanya sambil menggigil.
DING!
(Suhu saat ini telah mencapai -50°C, Nona.)
"Astaga..."
Lily terkejut.
Penurunan suhu ini jauh lebih cepat daripada yang ia ingat.
"Sistem, kira-kira berapa lama badai salju ini akan berlangsung?"
(DING!!!)
(Perkiraan sistem, badai salju akan berakhir dalam tiga hari ke depan.)
Lily hampir pingsan mendengarnya.
Baru setengah hari saja, tubuhnya sudah terasa membeku.
Apalagi jika harus bertahan selama tiga hari penuh.
Ia yakin sebelum badai salju berakhir, dirinya sudah berubah menjadi patung es.
Karena tidak tahan lagi, Lily segera memasuki ruang sistem miliknya.
Begitu masuk, ia langsung menghela napas lega.
Udara di ruang sistem terasa hangat dan nyaman.
Selain itu, siklus waktu di sana berhenti pada siang hari.
"Ahhh... inilah kehidupan."
Lily menghirup udara dengan rakus.
"Setelah badai salju selesai, akan muncul bulan merah dan hujan darah."
"Setelah itu, seluruh umat manusia akan tertidur selama satu minggu."
"Siapa yang gagal menahan proses evolusi akan berubah menjadi zombie."
"Sedangkan mereka yang berhasil akan menjadi manusia super atau manusia yang telah terbangkitkan."
Lily memang tidak menginginkan kiamat terjadi.
Namun, ia juga tidak bisa menghentikannya.
Semua ini sudah menjadi takdir dunia.
Setelah beristirahat cukup lama di ruang sistem, Lily akhirnya keluar.
Saat kembali ke kamar, jam masih menunjukkan pukul 02.31 dini hari.
Ia pun kembali tidur dengan dua lapis selimut.
Keesokan paginya, Lily bangun dengan perasaan malas.
Bagaimana tidak?
Suhu udara kini telah mencapai -53°C.
Saat turun ke lantai satu, ia melihat seluruh keluarganya mengenakan pakaian musim dingin yang tebal lengkap dengan syal panjang.
"Pagi semuanya," sapa Lily.
"Pagi," jawab mereka hampir bersamaan.
Menu sarapan pagi itu adalah bubur ayam hangat dan teh panas.
Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
Sebuah pemanas ruangan diletakkan di bawah meja untuk mengurangi dinginnya udara.
"Daddy mungkin akan di rumah selama beberapa hari ke depan sampai badai salju ini selesai," kata Daddy.
"Dan Daddy juga mendapat pemberitahuan dari kepala sekolah kalian. Kegiatan belajar diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan."
Lily dan Alex hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing.
Lily memilih kembali ke kamarnya.
"Sistem, cek status."
DING!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
STATUS TUAN RUMAH
Nama : Lily Mahendra
Ras : Manusia
Umur : 19 Tahun
Visual : 91 (Sangat Sempurna)
Kekuatan : 83 (Sempurna)
Kelincahan : 90 (Sangat Sempurna)
Kemampuan
Elemen:
- Air (Terbangkitkan)
- Api (Terbangkitkan)
- Tanah (Terkunci)
- Tumbuhan (Terkunci)
- Cahaya (Terkunci)
- Kegelapan (Terkunci)
- Halilintar (Terbangkitkan)
Kemampuan Bawaan Sistem:
- Ruang Penyimpanan Tanpa Batas
- Kekuatan Metal
Senjata:
- Dagger Hitam
- Katana Seribu Bayangan
Mutan/Hewan Kontrak:
-
-
-
Lily tersenyum puas setelah melihat status miliknya.
Usahanya selama beberapa hari terakhir ternyata tidak sia-sia.
Namun, rasa dingin yang terus menusuk membuatnya tidak memiliki semangat untuk melakukan apa pun.
Akhirnya, ia kembali berbaring di atas tempat tidur, membungkus dirinya dengan selimut tebal, lalu tertidur sambil menunggu badai salju yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.