Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Suara keran air yang terus mengalir di kamar mandi membuat Jolina tak mendengar panggilan ibunya. Ia sibuk menggosok sepasang sepatu milik Jeremy. Entah apa yang dilakukan pria itu sampai sepatunya kotor dan mengeluarkan bau tak sedap seperti ini.
Ia tak mungkin menyuruh asisten rumah tangga. Ia belum mengenal rumah ini, belum mengenal orang-orang di dalamnya. Jadi mau tak mau, ia sendiri yang harus melakukannya.
Mama masuk ke kamar dan mendapati meja belajar Jolina kosong. Pandangannya kemudian tertuju pada kamar mandi, tempat suara air terdengar jelas. Mama mengetuk pintu. Tak lama, Jolina membukanya.
“Kamu lagi apa, Jolina?” Mama mengernyit. “Dan bau apa ini?”
“Ngapain Mama ke sini?” balas Jolina ketus.
“Kamu belum jawab pertanyaan Mama, tapi sudah bertanya balik.”
Jolina menunduk, menunjuk sepatu di tangannya.
“Aku lagi nyuci sepatunya Jeremy.”
Mama terdiam sejenak. “Kenapa kamu yang nyuci?”
“Terus siapa, Ma?” Jolina tertawa hambar. “Sekarang aku kan babunya Jeremy. Itu yang Mama mau, kan?”
“Jolina,” suara Mama melembut, tapi tegas.
“Udah deh, Ma. Mama mau apa sih ke sini?”
Mama menarik napas. “Mama cuma mau bilang, jangan berkelahi sama Jeremy.”
“Aku nggak pernah punya niat berkelahi sama siapa pun,” suara Jolina bergetar. “Tapi dia yang selalu cari masalah sama aku. Dan Mama selalu belain dia. Anak Mama itu aku, atau dia?”
“Jolina,” Mama mendekat, “Mama sayang sama kamu. Mama cuma nggak mau hidup kamu menderita.”
“Tapi kenyataannya aku menderita, Ma,” Jolina menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Jeremy itu nggak sebaik yang Mama kira. Dia munafik.”
Mama terdiam, lalu berkata pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya.
“Apa pun yang dia lakukan, abaikan saja. Kita sekarang tinggal di rumah Om Mulya. Dia kasih Mama kehidupan yang layak. Dia biayai hidup kamu, sekolah kamu, dan masa depan kamu.”
“Aku tau,” potong Jolina lelah. “Aku tau semuanya.” Ia memalingkan wajah. “Sekarang Mama keluar aja dari kamar aku. Aku capek.”
“Jolina…”
Ia tak menggubris. Jolina kembali membungkuk, menggosok sepatu itu lebih keras dari sebelumnya, seakan ingin melampiaskan semua amarah yang tak pernah didengar siapa pun.
***
Di ruang tamu, Jeremy tengah berbincang dengan seorang produser musik. Pembicaraan mereka berfokus pada jadwal Jeremy untuk kembali ke perusahaan rekaman. Masa comeback sudah semakin dekat, sementara masih banyak hal yang harus dibahas—terutama soal lagu baru yang akan mereka garap.
Jeremy masih mempertimbangkan semuanya. Ia baru saja masuk sekolah dan tak ingin kewalahan. Namun ia berjanji akan menyesuaikan jadwal sebaik mungkin agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolahnya.
Produser itu mengatakan bahwa anggota band lainnya sudah menunggu kehadirannya.
Jeremy tersenyum mendengarnya. Ia pun mengaku bahwa para anggota band juga sudah menghubunginya secara pribadi.
Jeremy memang bisa dibilang sebagai nyawa band tersebut. Ia sangat berbakat—seorang gitaris handal, penulis lagu, sekaligus pemilik suara yang khas. Beberapa aransemen musik dalam lagu-lagu band itu pun lahir dari tangannya sendiri. Tak heran jika sang produser begitu mempertahankannya.
Namun di balik semua pujian itu, Jeremy bukan tipe orang yang mudah mengecewakan. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik, tak hanya untuk band dan kariernya, tetapi juga untuk orang-orang di sekelilingnya—meski caranya sering kali keliru.
Papa ikut bergabung dalam obrolan bersama produser dan Jeremy. Sebenarnya, papa tidak pernah benar-benar menyukai keterlibatan Jeremy di dunia musik. Namun, demi menghargai sang produser, papa memilih menahan diri.
Papa hanya mengingatkan agar sang produser tidak terlalu menaruh harapan besar pada Jeremy. Bagaimanapun juga, Jeremy masih harus sekolah, dan belum tentu masa depannya akan berada di dunia musik.
Ucapan itu membuat raut wajah Jeremy mengeras.
Tak lama kemudian, produser pamit pulang. Papa dan Jeremy mengantarnya hingga ke teras. Begitu mobil produser keluar dari pekarangan rumah, papa langsung menatap Jeremy dengan sorot mata tajam.
“Temui papa di ruang kerja. Ada yang ingin papa bicarakan.”
Papa berlalu begitu saja, meninggalkan Jeremy yang masih berdiri di teras. Jeremy mengacak rambutnya dengan kesal sebelum akhirnya menyusul.
Tak lama kemudian, ia sudah berada di ruang kerja papa.
“Duduk,” perintah papa singkat.
Jeremy menurut, meski rahangnya mengeras.
“Sepertinya sudah cukup kamu main-main dengan gitar itu,” lanjut papa. “Sudah saatnya kamu fokus ke sekolah.”
“Pa, aku bisa ngatur waktu, seperti yang sudah-sudah,” bantah Jeremy. “Dulu papa nggak begini.”
“Band itu kelihatan konyol,” potong papa. “Papa nggak suka kamu bergabung dengan perusahaan musik itu.”
“Itu hobi aku, Pa. Papa juga mau ngerampas hobi aku?” suara Jeremy mulai meninggi.
“Hobi kamu bikin kamu kelihatan kayak gembel,” kata papa dingin. “Lihat teman-teman kamu. Mereka sekolah? Dari keluarga seperti apa mereka berasal?”
“Mereka semua berpendidikan,” balas Jeremy tajam. “Papa jangan sok tahu.”
“Orang berpendidikan nggak mungkin milih jalan kayak gitu.”
“Aku nggak ngerti jalan pikiran papa,” ucap Jeremy geram. “Papa selalu merendahkan orang-orang seperti itu.”
"Jika kamu nggak bisa papa atur,” kata papa tanpa ragu, “kamu pulang saja ke rumah ibumu.”
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Jeremy menatap papa dengan wajah datar. Tangannya mengepal kuat, menahan amarah yang hampir meledak. Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Jadi… Jeremy masih punya mama?
Senyum tipis—nyaris licik—terukir di wajah Jolina. Entah sejak kapan ia berdiri tak jauh dari ruang kerja itu, cukup dekat untuk menangkap potongan kalimat yang baru saja keluar dari mulut papa.
Menarik…
Kalau Jeremy masih punya mama, itu berarti satu hal:
dia punya tempat lain untuk pulang.
Bukankah itu kabar baik?
Bagus banget malah, batin Jolina. Kalau dia pergi dari rumah ini, hidup gue pasti jauh lebih terang.
Tak perlu lagi berurusan dengan wajah sok manisnya. Tak ada lagi drama, tak ada lagi ancaman samar yang selalu ia lemparkan dengan senyum palsu.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menyilangkan tangan di dada. Otaknya mulai bekerja—tenang, rapi, dan penuh rencana.
Gue nggak perlu ngelakuin hal besar, pikirnya.
Gue cuma perlu nunjukin sifat asli Jeremy ke papa.
Sedikit demi sedikit. Pelan, tapi pasti.
Biar papa tahu, anak kesayangannya itu bukan sebaik yang selama ini ia lihat.
Bukan anak manis.
Bukan anak polos.
Apalagi anak yang pantas dibela mati-matian.
Kalau papa sudah membuka mata, sisanya akan berjalan sendiri.
Dan saat Jeremy akhirnya pergi dari rumah ini Jolina yakin, itu akan jadi hari paling damai dalam hidupnya.
Jolina melangkah menuju kamarnya dengan perasaan yang—untuk pertama kalinya hari ini—terasa ringan. Botol minum ada di tangannya, langkahnya nyaris seperti melayang.
Saat melewati kamar Jeremy, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Jeremy keluar, hampir bertabrakan dengannya. Jolina berhenti, lalu tersenyum manis.
Jeremy langsung mengerutkan kening.
“Kenapa lo?” tanyanya curiga. “Kesurupan?”
“Oh, nggak,” jawab Jolina santai. “Gue cuma… bahagia.”
Jeremy menatapnya tajam.
“Bahagia karena nyuci sepatu gue?”
“Hm.”
Senyum Jolina justru makin lebar.
“Fix,” Jeremy mendecak. “Lo sakit jiwa.”
“Terserah lo mau bilang apa,” balas Jolina ringan. “Tapi gue bener-bener nunggu hari itu datang.”
Jeremy berhenti melangkah, kemudian menoleh.
“Hari apa?”
“Hari yang tepat,” jawab Jolina. “Hari yang pas."
Kening Jeremy makin berkerut.
“Lo lagi ngerencanain apa?”
Jolina mengangkat bahu kecil.
“Kalau gue kasih tau sekarang, namanya bukan surprise dong.”
Jeremy menatapnya lama—datar, dingin, seperti sedang menimbang sesuatu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melanjutkan langkahnya keluar.
Jolina menoleh sambil membuka pintu kamarnya.
“Selamat malam, Jeremy,” ucapnya lembut.
“Semoga mimpi lo indah, ya.”
Pintu kamarnya tertutup pelan. Dan untuk pertama kalinya, Jeremy merasa… ada sesuatu yang tidak beres.