*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Penyangkalan Agung
Minggu ketiga setelah badai di rumah keluarga Yudhistira, perkembangan hubungan antara sang CEO dan asisten pribadinya berjalan ke arah yang semakin positif. Di balik pintu kaca lantai dua puluh, mereka tidak lagi sekadar menjadi atasan dan bawahan yang kaku. Efisiensi kerja mereka meningkat drastis, frekuensi adu mulut mereka kini terasa seperti ritual harian yang dinamis, dan tidak jarang ada perhatian-perhatian kecil yang mulai lolos dari celah gengsi masing-masing.
Namun, ketenangan Arsenio terusik saat akhir pekan lalu ia terpaksa menghadiri makan malam keluarga di kediaman utama.
Di sela-sela waktu santai di ruang cerutu, Bima Yudhistira tidak melewatkan kesempatan untuk menyenggol putranya. Sembari menghirup kopi, Bima melirik Arsenio dengan seringai jahil andalannya. "Arsen, Daddy perhatikan belakangan ini kamu tidak pernah mengeluh lagi soal Kiera di meja makan. Malah, laporan dari tim analis bilang kalian kompak sekali. Jujur sama Daddy, kamu sebenarnya sudah jatuh hati, kan, sama asistenmu itu?"
Mendengar godaan telak sang Daddy, Arsenio langsung menegakkan punggungnya. Wajahnya disetel sedingin es, dan dengan nada ketus yang sangat tegas, ia menjawab, "Tidak. Sama sekali tidak, Dad. Kiera itu hanya asisten pribadi yang kebetulan kerja otaknya lumayan rapi belakangan ini. Rasa peduli aku selama ini murni hanya profesionalitas seorang atasan pada karyawannya. Tidak lebih. Gengsi aku terlalu mahal untuk jatuh cinta pada gadis seperti dia."
Bima hanya terkekeh misterius, menepuk bahu putranya seolah berkata *'kita lihat saja nanti'*.
Sialnya, ketegasan Arsenio di depan daddynya justru berbanding terbalik dengan kondisi mentalnya sekarang. Sejak percakapan malam itu, setiap kali ia bertemu dengan Kiera di kantor, kata-kata sang Daddy terus saja terngiang-ngiang di kepalanya bak kaset rusak.
"Jatuh hati? Saya? Pada Kiera?" gumam Arsenio frustrasi, mondar-mandir di balik meja kerjanya yang luas.
Setiap kali Kiera masuk mengantarkan kopi, atau saat Kiera dengan elegan membantunya merapikan dokumen di ruang rapat, kalimat Bima Yudhistira mendadak berputar otomatis di otaknya. Hal itu sukses membuat Arsenio frustrasi setengah mati. Untuk menenangkan egonya yang terluka, Arsenio terus mendoktrin hatinya sendiri dengan keras. Ia sangat yakin, seyakin-yakinya, bahwa semua rasa peduli, jas yang ia sampirkan di bahu Kiera, atau vitamin yang ia minum dari gadis itu hanyalah bentuk kepedulian seorang bos agar aset perusahaannya tidak jatuh sakit. TIDAK LEBIH.
---
Pukul 17.00 WIB, jam pulang kantor telah tiba.
Arsenio melangkah keluar dari lift eksekutif menuju lobi utama lantai dasar Yudhistira Tower. Langkah kakinya tegap, dikawal oleh beberapa pengawal pribadi di belakangnya. Ia berniat langsung menuju mobil jemputannya untuk menghadiri pertemuan bisnis eksternal.
Namun, baru beberapa langkah melewati meja resepsionis, langkah kaki jenjang Arsenio mendadak terhenti sempurna. Matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik di dekat pintu kaca keluar.
Di sana, berdiri Kiera Anandita. Gadis itu belum pulang dan tampak sedang mengobrol dengan seorang lelaki muda berpakaian rapi, yang dari tanda pengenalnya dapat dipastikan adalah salah satu karyawan dari divisi pemasaran di lantai belasan.
Arsenio tidak akan mempermasalahkan jika itu hanya obrolan kerja biasa. Namun detik berikutnya, ia melihat pemandangan yang membuat seluruh pasokan oksigen di paruparunya mendadak lenyap.
Kiera sedang tersenyum lebar. Bukan senyuman formal, kaku, atau senyum penuh sarkasme yang biasa gadis itu berikan padanya di lantai dua puluh. Kiera sedang tertawa lepas, matanya menyipit jenaka, dan sebuah senyuman yang sangat—catat ya, sangat tulus—terpancar jelas di wajah cantiknya saat mendengarkan ucapan lelaki di hadapannya.
*KRETEK.*
Tanpa sadar, Arsenio mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana bahan mahalnya begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Manik mata hitamnya menyorot tajam, menguliti sosok karyawan pria yang berani membuat asisten pribadinya tertawa seperti itu.
Entah mengapa, melihat Kiera memberikan senyuman setulus itu pada laki-laki lain mendadak memicu reaksi berantai di dalam tubuh Arsenio. Ada rasa panas yang luar biasa pekat menjalar di hatinya, membakar seluruh logika dan doktrin profesionalitas yang ia agung-agungkan selama dua minggu terakhir. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi oleh rasa tidak terima dan letupan emosi asing yang sangat egois.
*“Senyum tulus itu... kenapa dia berikan pada orang lain? Kenapa bukan kepada saya?!”* jerit batin Arsenio penuh kepanikan dan amarah yang bergejolak, menyadari bahwa benteng pertahanan egonya malam ini tidak lagi sekadar retak, melainkan hancur lebur dihantam badai cemburu yang gagal ia sangkal.