NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Rapuh

...

Langit malam di atas pesisir pantai tidak pernah benar-benar hitam pekat. Ada rona biru tua yang kelam, berpadu dengan bintik-bintik bintang yang sinarnya redup terhalang kabut garam. Di bawah langit itu, mobil sport mewah milik Zidan terparkir beberapa puluh meter dari Kedai "Selasih", bersembunyi di balik bayangan pohon-pohon ketapang yang rimbun.

Mesin mobil mati, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam kabin. Zidan duduk di balik kemudi dengan tatapan mata yang lurus menembus kaca depan. Setelan jasnya sudah dia lempar ke kursi belakang, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung asal-asalan. Pria itu sedang bertarung hebat dengan isi kepalanya sendiri.

Gengsinya yang setinggi langit malam ini dipaksa merangkak di tanah. Siang tadi dia pergi dengan hantaman amarah setelah diusir oleh pemilik kedai dan ditatap dingin oleh mantan istrinya. Egonya mendikte agar dia mengabaikan Pamela, kembali ke kota, dan membuktikan bahwa dia bisa menyelesaikan segalanya dengan uang. Namun, bayangan tangisan ibunya, jeritan frustrasi adiknya, dan wajah pucat sang ayah yang menolak cuci darah di rumah sakit terus menghantuinya bagai teror tanpa henti.

Maka di sinilah dia sekarang. Kembali ke tempat yang sama, mengubur harga dirinya dalam-dalam, memilih untuk menunggu di dalam kegelapan sampai kedai itu tutup dan Pamela berjalan pulang sendirian. Dia tidak akan menyerah, bukan hanya karena kebutuhan keluarganya, melainkan karena ada rasa kehilangan yang teramat pekat yang mulai mencengkeram dadanya setiap kali mengingat tatapan kosong Pamela siang tadi.

...

Tepat pukul sepuluh malam, lampu-lampu neon di Kedai "Selasih" mulai dipadamkan satu per satu. Sosok yang ditunggunya akhirnya keluar dari pintu samping.

Pamela berjalan pelan sambil menyandangkan tas anyaman bambu di pundaknya. Langkah kakinya tampak lelah setelah seharian berdiri di depan wajan tanah liat, namun ada ketenangan yang terpancar dari siluet tubuhnya yang diterpa angin malam. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang agak sunyi menuju rumah panggung tempat tinggalnya.

Cklek.

Suara pintu mobil yang dibuka memecah kesunyian malam. Pamela menghentikan langkahnya seketika saat melihat sesosok pria tinggi tegap melangkah keluar dari kegelapan bawah pohon ketapang, menghalangi jalan setapak di depannya.

Cahaya lampu jalan yang remang-remang menerpa wajah pria itu. Jantung Pamela sempat berdesir aneh, bukan karena rindu, melainkan karena rasa trauma yang mendadak bangkit.

"Zidan?" bisik Pamela, suaranya terdengar sangat datar, sedingin es, namun ada kerutan samar di keningnya yang menandakan rasa tidak nyaman yang mendalam. "Mau apa lagi kamu ke sini? Saya pikir ucapan saya siang tadi sudah cukup jelas bagi orang sepertimu."

Zidan tidak langsung menjawab. Dia melangkah maju dua kali, mengikis jarak di antara mereka hingga Pamela bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau asap rokok yang pekat tanda bahwa pria itu sedang sangat frustrasi. Tatapan mata Zidan malam ini tidak seagresif siang tadi, ada kabut tipis keputusasaan di balik sepasang mata elang yang biasanya angkuh itu. Namun tetap saja, tembok gengsinya membuat suaranya terdengar kaku.

"Kamu pikir saya mau buang-buang waktu mengemis di tempat terpencil seperti ini kalau situasinya tidak darurat, Pamela?" ucap Zidan, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya meskipun suaranya sedikit serak. "Saya sengaja menunggu kamu di sini karena kita harus bicara. Tanpa ada orang-orang kedai yang ikut campur."

Pamela mendengus sinis, memalingkan wajahnya ke arah hamparan laut yang berombak tenang. "Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa untuk dibicarakan, Zidan. Tolong minggir, saya mau pulang dan istirahat."

Saat Pamela mencoba melangkah melewati bahunya, Zidan dengan cepat berbalik dan mencegatnya kembali. Kali ini, dia tidak berani mencengkeram tangan Pamela karena teringat ancaman pemilik kedai siang tadi, namun tubuhnya yang besar mengunci pergerakan wanita itu.

"Papa menolak cuci darah, Pam," suara Zidan tiba-tiba merendah, kehilangan sebagian besar keangkuhannya dalam satu detik. "Beliau mencopot sendiri selang infusnya sore tadi. Beliau bilang... kalau kamu tidak datang ke rumah sakit besok pagi, beliau lebih pilih pulang ke rumah lama dan menunggu ajalnya di sana. Beliau tidak mau makan, tidak mau minum obat, dan terus-menerus memanggil namamu."

Kata-kata itu meluncur dari mulut Zidan seperti sebuah pengakuan dosa yang teramat berat.

Pamela terpaku di tempatnya berdiri. Sodet tak kasat mata seolah menghantam ulu hatinya, membuat napasnya mendadak terasa sesak. Pandangan matanya yang semula sedingin es perlahan mulai goyah, digantikan oleh riak emosi yang teramat rumit.

Hati Pamela benar-benar telah terluka, hancur berkeping-keping karena perlakuan kejam keluarga Arkatama selama tujuh tahun ini. Luka itu teramat dalam, meninggalkan bekas yang tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan beberapa kalimat penyesalan. Ego di dalam dirinya menuntut agar dia tetap acuh, membiarkan keluarga itu menuai apa yang telah mereka tanam atas kesombongan mereka.

Namun... mendengar kata 'Bapak' dan 'Rumah Sakit' membuat pertahanan es di dalam diri Pamela perlahan-lahan mulai retak di bagian terdalam.

Bayangan almarhum kedua orang tuanya mendadak melintas di pelupuk matanya. Pamela teringat bagaimana dulu dia mendampingi ibunya di saat-saat terakhir di bangsal rumah sakit yang sempit, teringat betapa hancurnya perasaan dia saat kehilangan pelindung satu-satunya di dunia ini. Kedua orang tuanya telah almarhum, pergi meninggalkannya dalam kesendirian sebelum dia terjerumus ke dalam neraka pernikahan bersama Zidan.

Di dalam rumah mewah Arkatama, di antara semua manusia narsis dan egois yang selalu menghinanya, hanya Papa mertuanya yang sesekali menunjukkan sisa-sisa kemanusiaan. Pria tua itu memang galak dan tegas, namun dia tidak pernah memaki Pamela dengan kata-kata kasar seperti yang dilakukan oleh Mama mertua atau Keysha. Papa mertuanya menghargai masakannya, menghargai baktinya, dan kini... pria tua itu sedang sekarat di atas ranjang pesakitan karena menahan kecewa pada anak kandungnya sendiri.

'Apakah aku harus sekadar menutup mata melihat seorang ayah mati, di saat aku sendiri tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua?’ batin Pamela menjerit, jiwanya bergolak hebat di antara rasa benci yang pekat dan ketulusan hatinya yang dasarnya memang lembut.

Belum sempat Pamela menguasai badai emosi di dalam dadanya, rasa rindu yang lain tiba-tiba datang menyergap tanpa ampun. Wajah mungil Ryan dan Riana, anak-anak kembar yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa, mendadak membayangi pikirannya. Sudah hampir dua minggu dia tidak mendengar suara tawa mereka, tidak memeluk tubuh mungil mereka yang wangi bedak bayi sebelum tidur, dan tidak mengusap air mata mereka saat mereka menangis karena berebut mainan.

Rasa rindu seorang ibu adalah titik paling rapuh dari pertahanan seorang wanita. Pamela memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya yang mulus di bawah temaram lampu jalan.

Zidan memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah mantan istrinya. Untuk pertama kalinya, pria itu melihat celah kerapuhan di balik tembok es yang dibangun Pamela. Ada rasa bersalah yang teramat sangat yang tiba-tiba merayapi batin Zidan saat melihat air mata itu menetes. Dia tahu, dia yang telah merusak wanita selembut ini hingga menjadi begitu dingin.

"Pamela..." panggil Zidan lagi, kali ini suaranya terdengar benar-benar memohon, tanpa ada sisa gengsi yang menempel. "Saya tahu saya bajingan. Saya tahu keluarga saya sudah berbuat kejam padamu. Tapi saya mohon... demi Papa. Demi Ryan dan Riana yang setiap hari menangis mencarimu... Tolong ikut saya ke kota. Hanya untuk membuat Papa mau bertahan hidup."

Pamela membuka matanya perlahan, menghapus air matanya dengan ujung jarinya yang kasar karena sering bekerja di dapur. Dia menatap Zidan dengan pandangan yang teramat dalam, penuh dengan kesedihan yang pekat namun juga ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Saya akan datang ke rumah sakit besok pagi, Zidan," ucap Pamela, suaranya bergetar namun terdengar sangat mutlak. "Tapi tolong catat ini baik-baik di dalam otak narsismu. Saya datang bukan karena saya masih mencintaimu, bukan karena saya takut pada ancaman keluargamu, dan bukan untuk kembali menjadi budak di rumah mewahmu."

Pamela melangkah maju, menatap tepat ke manik mata Zidan dengan jarak yang sangat dekat, membiarkan aura dinginnya menekan ego pria itu. "Saya datang murni karena saya masih memiliki rasa kemanusiaan terhadap seorang ayah yang sedang sakit, dan karena saya merindukan anak-anak yang saya lahirkan dari rahim saya sendiri. Status kita sudah selesai, Zidan. Jangan pernah berharap lebih dari itu."

Setelah mengucapkan kalimat yang seakan memiliki jiwa dan ketegasan yang meremukkan itu, Pamela berjalan melewati Zidan dengan langkah tegas, meninggalkan pria itu berdiri terpaku di bawah pohon ketapang yang sunyi.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!