NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak Setelah Badai

Butuh waktu tiga hari penuh bagi Konoha untuk mencabut status darurat militer pasca-malam pembantaian. Selama tujuh puluh dua jam itu, gerbang desa dikunci rapat, patroli Anbu berlapis memenuhi atap-atap bangunan, dan Akademi Ninja diliburkan total. Baru pada hari keempat, setelah pengumuman resmi bahwa Itachi Uchiha telah melarikan diri sebagai kriminal kelas S, aktivitas publik perlahan-lahan diizinkan kembali berjalan. Namun, bekas luka yang ditinggalkan tragedi itu tidak bisa hilang begitu saja dari atmosfer desa.

​Pagi itu, suasana di dalam ruang kelas Akademi Ninja terasa sangat asing. Biasanya, sebelum bel masuk berbunyi, ruangan akan dipenuhi oleh suara gaduh anak-anak yang saling melempar kertas atau tawa nyaring sekelompok siswi di barisan belakang. Kini, udara di dalam kelas terasa berat, dingin, dan dipenuhi kecanggangan yang pekat. Anak-anak berusia delapan tahun di dalam ruangan ini—meskipun belum sepenuhnya memahami peta politik kotor di tingkat atas—bisa merasakan kengerian dari hilangnya salah satu klan pendiri desa secara mendadak.

​Ketika pintu geser kayu kelas terbuka, seluruh pergerakan di dalam ruangan seketika terhenti. Semua pasang mata menoleh ke arah ambang pintu.

​Sasuke Uchiha melangkah masuk.

​Gerakannya pelan dan kaku, tanpa ritme kompetitif yang biasanya selalu ia pamerkan. Seragam biru dengan lambang kipas merah-putih di punggungnya tampak sedikit longgar, seolah-olah berat badannya menyusut drastis dalam tiga hari terakhir. Penampilannya masih rapi, namun ada sesuatu yang telah mati di dalam dirinya. Sepasang matanya yang dulu sering memancarkan kilat arogan yang tajam, kini berubah menjadi sepasang lubang hitam yang kosong, dingin, dan tidak berpijak pada realitas di sekitarnya.

​Tanpa menatap atau menyapa siapa pun, Sasuke berjalan lurus menuju kursi baris belakang, tempat duduknya yang biasa, lalu duduk diam sambil menatap kosong ke permukaan meja kayu.

​"Sasuke-kun..." Sakura Haruno bergumam sangat pelan dari barisan tengah. Jari-jarinya menggenggam ujung bajunya sendiri dengan amat erat hingga memutih. Dia ingin mendekat, ingin mengucapkan sesuatu—apa saja yang bisa meringankan beban temannya—namun aura penolakan yang memancar dari tubuh Sasuke begitu pekat hingga membuat keberaniannya surut di tengah jalan. Di sebelahnya, Ino Yamanaka juga hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan ekspresi wajah yang serupa.

​Di sudut lain, Shikamaru Nara meletakkan kepalanya di atas meja, menatap keluar jendela dengan pandangan yang jauh lebih serius dari biasanya. Sebagai anak dari Shikaku Nara yang berada di lingkaran dalam Hokage, Shikamaru tampaknya memiliki sedikit gambaran bahwa tragedi ini akan mengubah total keseimbangan kekuatan di dalam desa.

​Sementara itu, Naruto Uzumaki duduk di baris depan dengan posisi yang tidak biasa. Dia tidak berteriak mencari perhatian, tidak juga menantang Sasuke seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi. Naruto hanya menatap punggung Sasuke dari kejauhan dengan ekspresi yang sangat rumit—sebuah kombinasi antara rasa bingung, keterkejutan, dan empati mendalam dari sesama anak yang kini tahu rasanya sendirian di dunia ini.

​Dari baris ketiga, Ren mengamati seluruh dinamika psikologis tersebut sambil menopang dagunya dengan tangan kiri. Wajahnya menampilkan ekspresi cemas yang pas, persis seperti murid-murid figuran lainnya yang sedang kebingungan. Namun di balik lensa mata hitamnya yang normal, ingatan visualnya mencatat setiap detail perubahan mikro pada diri Sasuke untuk dimasukkan ke dalam basis data.

​Sistem memproyeksikan data analisis secara pasif di sudut pandangnya.

​[Analisis Kondisi Target: Sasuke Uchiha]

​Status Mental: Trauma Fase Akut (Tingkat Stres: Eksentrik/Mendekati Batas Psikosis).

​Fluktuasi Chakra: Sangat Tidak Stabil — Jalur energi di sekitar otak belakang terus-menerus menegang, indikasi dari Sharingan yang telah bangkit namun dipaksa mati oleh kelelahan mental.

​Rekomendasi Taktis: Hindari kontak visual langsung atau interaksi verbal untuk mencegah pemicuan refleks dari insting protektif target yang sedang tidak stabil.

​Ren mengalihkan pandangannya kembali ke buku catatan kosong di atas mejanya. Bagi Ren, Sasuke saat ini adalah aset politik sekaligus bom waktu biologis yang sengaja dibiarkan hidup oleh Hiruzen dan Danzo. Melibatkan diri dengan Sasuke sekarang hanya akan menarik perhatian mata-mata Anbu yang pasti ditempatkan secara terselubung di sekitar anak itu. Jalan terbaiknya adalah tetap berada di bawah radar.

​Iruka Umino masuk ke kelas beberapa menit kemudian. Wajah sang guru tampak lelah dengan lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya, pertanda dia juga tidak tidur nyenyak selama beberapa hari terakhir. Iruka tidak membahas detail tragedi Uchiha; dia hanya berdeham kecil, membuka buku absen, dan memulai pelajaran sejarah desa dengan nada suara yang dipaksakan ceria agar atmosfer kelas tidak semakin jatuh ke dalam depresi.

​Hari-hari berikutnya di Akademi berjalan dengan rutinitas yang sangat monoton bagi Ren. Di dalam buku nilai milik Iruka, nama Ren selalu berada di posisi yang sangat aman: peringkat dua puluh dari tiga puluh murid. Sebuah posisi median yang sempurna.

​Dalam ujian teori taktik ninja, Ren sengaja membuat kesalahan pada dua soal rumit yang sebenarnya sangat mudah baginya. Dalam latihan fisik luar ruangan seperti melempar senjata rahasia, dari lima shuriken yang ia lemparkan, Ren memastikan hanya tiga yang mengenai sasaran luar, sementara dua lainnya meleset tipis di pinggiran target kayu. Dia tidak ingin menjadi jenius menonjol seperti Sasuke yang selalu diawasi, dan dia tidak ingin menjadi terlalu bising seperti Naruto yang selalu memicu intervensi guru. Menjadi rata-rata adalah perisai kamuflase sosial terbaik.

​Namun, begitu bel pulang berbunyi dan malam tiba, penyamaran pasif itu dilepaskan sepenuhnya di dalam laboratorium bawah tanahnya yang terisolasi.

​Ren menghabiskan waktu berjam-jam di bawah sorotan lampu minyak bertenaga chakra untuk beradaptasi dengan sepasang mata Sharingan tiga tomoe miliknya. Operasi penyatuan saraf yang ia lakukan membutuhkan pelatihan kalibrasi agar tubuhnya tidak mengalami penolakan jangka panjang.

​"Sistem, aktifkan sakelar jembatan saraf. Batasi pasokan chakra pada angka minimum lima persen," perintah Ren dalam hati.

​[Mengeksekusi Perintah: Aliran Chakra Dialirkan ke Rongga Mata...]

​Mata hitam Ren berubah menjadi merah pekat dalam sekejap, dengan tiga pola koma hitam yang berputar dengan sangat tenang. Sesuai konfigurasi Sistem, tidak ada lonjakan energi yang drastis. Jembatan saraf buatan itu berhasil menyaring pasokan chakra Ren agar tidak mengalir keluar secara boros seperti kasus Kakashi Hatake.

​Ren mengambil seutas benang tipis yang ia gantung di langit-langit lab, dengan sebuah jarum medis kecil yang diikat di ujungnya. Dia mengayunkan jarum tersebut dengan kekuatan penuh, membuatnya berputar secara acak di udara yang minim cahaya dengan kecepatan tinggi.

​Melalui pandangan Sharingan, pergerakan jarum yang awalnya berupa bayangan samar seketika melambat drastis seperti objek yang bergerak di dalam air. Ren bisa melihat detail lubang jarum, pusaran angin mikro yang terbentuk di sekitar benang, hingga prediksi jalur ayunannya dengan akurasi matematis. Dengan satu gerakan tangan yang santai, Ren menusukkan seutas benang lain tepat ke dalam lubang jarum yang sedang bergerak cepat tersebut tanpa meleset satu milimeter pun.

​[Pelatihan Kinetik Visual Selesai]

​Tingkat Akurasi Prediksi Objek: 98,4%

​Efisiensi Konsumsi Chakra: 0,02 unit per menit (Sangat Optimal).

​Selain melatih penglihatan kinetik, Ren memanfaatkan fungsi komputasi Sistem untuk mereplikasi teknik fisik (Taijutsu) yang ia rekam secara visual dari gerakan instruktur ninja atau ninja dewasa yang ia temui di jalanan desa. Sharingan bertindak sebagai kamera perekam resolusi tinggi, sementara Sistem bertindak sebagai mesin pembongkar kode yang memetakan koordinasi otot, sudut sendi, dan distribusi berat badan yang tepat ke dalam sistem saraf motorik Ren.

​Setelah menyelesaikan sesi latihan fisik, Ren menurunkan pandangannya ke arah cermin besar di depannya. Dia membuka kancing jubah hitamnya, menyingkapkan sisi kiri dadanya yang selama ini selalu tertutup rapat.

​Di atas jantungnya, sebuah tato berbentuk segel kuno berwarna hitam pekat terukir di kulitnya. Tanda itu terbentuk dari sisa-sisa radiasi chakra merah Kyuubi yang mengental dan diserap oleh Sistem ketika dia masih bayi di bawah reruntuhan rumah sakit. Selama bertahun-tahun, tato ini diam tak bergerak. Namun malam ini, begitu sepasang mata Sharingan tiga tomoe miliknya menatap tanda tersebut, sebuah reaksi aneh mulai terjadi.

​Deg... Deg...

​Tato hitam di dadanya tiba-tiba berdenyut, mengeluarkan sensasi panas yang menyengat sirkuit energinya. Di dalam cermin, Ren bisa melihat garis-garis tato kuno itu mulai memancarkan pendaran warna merah redup yang sangat tipis.

​[PERINGATAN SISTEM! Terdeteksi Resonansi Energi Skala Mikro!]

[Analisis: Chakra Uchiha dari Sharingan memicu respons pasif dari sisa energi Bijuu Ekor Sembilan yang tersegel di dalam jaringan dada kiri Anda. Sejarah genetik mencatat adanya ikatan kontrol antara Sharingan tingkat tinggi dan energi Kyuubi]

[Suhu Inti Jantung Meningkat: 0,6°C. Menjalankan Protokol Stabilisasi...]

​Ren memicingkan matanya. Melalui penglihatan khusus Sharingan, struktur tato itu kini tidak lagi terlihat seperti pigmen kulit biasa. Di matanya, tato itu adalah pusaran energi merah yang sangat padat, korosif, dan dipenuhi dengan aura kebencian yang murni. Namun, energi raksasa itu terikat erat oleh rantai komputasi tak terlihat dari Sistem yang menguncinya sejak ia bayi.

​"Sistem, jika energi ini memicu resonansi, apakah ada kemungkinan kebocoran chakra yang bisa dideteksi oleh penghalang sensorik desa?" tanya Ren, tangannya menyentuh kulit di atas tato yang terasa hangat.

​[Analisis Keamanan: Selama batas penguncian Sistem berada di atas 95%, tidak akan ada partikel energi yang bocor ke luar tubuh. Penghalang sensorik Konoha tidak akan mendeteksi apa pun]

[Rekomendasi Komputasi: Dengan kemampuan visual Sharingan 3-Tomoe saat ini, Anda dapat memulai "Protokol Ekstraksi Mikro" untuk menyadap sisa energi Bijuu ini sebagai tangki bahan bakar chakra darurat]

​Ren menatap lurus ke dalam cermin, mengamati bagaimana pola tiga koma di matanya berputar cepat, mencoba memetakan celah-celah terkecil dari struktur segel di dadanya. Pemikiran taktisnya mulai bekerja. Memiliki pasokan chakra yang besar adalah salah satu syarat mutlak untuk bertahan hidup di dunia ninja. Sisa chakra Kyuubi ini adalah tambang emas tersembunyi, namun sangat berbahaya karena sifat energinya yang korosif dan merusak kesadaran manusia.

​"Lakukan simulasi ekstraksi dalam skala murni nol koma nol satu persen," perintah Ren dingin. "Gunakan filter komputasi Sistem untuk memisahkan emosi negatif dan kebencian dari chakra tersebut. Saya hanya butuh energinya, bukan polusi mentalnya."

​[Memulai Protokol Ekstraksi Mikro: Simulasi Skala 0,01%...]

[Menjalankan Filter Mental Sistem... Berhasil Mengisolasi 100% Emosi Negatif Target]

[Mengalirkan 0,01% Energi Ekor Sembilan ke Sirkuit Aliran Utama...]

​Ssssh...

​Sebuah sensasi energi yang sangat padat, liar, dan panas tiba-tiba meledak dari dada kirinya, mengalir deras ke seluruh jalur chakra di lengan dan kakinya. Aliran energi ini jauh lebih tebal dan destruktif dibandingkan dengan chakra biru normal miliknya. Rasanya seolah-olah pembuluh darahnya sedang dialiri oleh air panas yang bergolak.

​Namun, karena Sistem telah menyaring seluruh luapan emosi kebencian Kyuubi, pikiran Ren tetap sedingin es. Tidak ada rasa ingin mengamuk, tidak ada kehilangan kendali diri. Dia merasakan tangki chakranya terisi penuh dalam hitungan detik hanya dari sebagian kecil energi yang dilepaskan.

​Ren mengepalkan tangan kanannya. Di sekeliling jemarinya, pendaran chakra merah tipis sempat berkedip sebelum akhirnya diredam kembali oleh Sistem.

​[Simulasi Ekstraksi Selesai. Hasil: Sukses Mutlak]

[Catatan Taktis: Energi ini dapat digunakan sebagai cadangan darurat jika Anda kehabisan chakra dalam pertempuran nyata. Konsumsi energi ini tidak akan memicu alarm sensorik luar karena filter Sistem mengunci tanda frekuensinya tetap berada di dalam tubuh Anda]

​Ren mengembuskan napas panjang, membiarkan uap hangat keluar dari mulutnya saat suhu tubuhnya perlahan kembali normal. Warna merah di matanya memudar, berganti dengan warna hitam normal. Dia mengancingkan kembali jubahnya, menyembunyikan tato segel kuno itu kembali ke dalam kegelapan kain pakaiannya.

​Eksperimen malam ini memberikan Ren satu lagi kartu as yang mematikan. Kombinasi antara analisis presisi Sharingan dan kemampuan komputasi Sistem telah berhasil menjinakkan energi paling berbahaya di desa ini secara diam-diam.

​Riak pasca-pembantaian klan Uchiha perlahan-lahan mulai mereda di permukaan Konoha seiring berjalannya waktu. Desa kembali ke ritme normalnya, mengubur tragedi berdarah itu di bawah tumpukan dokumen sejarah yang mulai berdebu. Dari minggu ke bulan, dan dari bulan ke tahun, Ren terus mengulang rutinitas sunyi ini dengan disiplin yang kaku. Di balik meja Akademi yang membosankan, dia tetap menjadi murid rata-rata yang tidak menarik perhatian, sementara di bawah lantai kayu kamarnya yang dingin, sirkuit kekuatannya terus bertumbuh dengan kepastian yang matang seiring berjalannya waktu menuju ujian kelulusan yang kian mendekat.

1
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!