NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Poligami
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar yang Berbeda

Keheningan di dalam kamar itu terasa lebih pekak daripada suara guntur semalam. Mata Gus Malik yang biasanya tajam dan penuh otoritas, kini tampak sayu dan bingung saat beradu langsung dengan mata coklat Lea. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas Malik terasa hangat di kening Lea.

Malik adalah orang pertama yang tersadar. Ia segera menarik lengannya yang semula melingkar di bahu Lea, lalu bangkit duduk dengan gerakan yang hampir terburu-buru. Ia beristighfar berkali-kali, meraup wajahnya dengan telapak tangan seolah ingin menghapus memori tentang betapa nyamannya ia mendekap wanita itu sepanjang malam.

"Kalea... saya... saya minta maaf," suara Malik serak, khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh dengan kecanggungan yang nyata.

Lea ikut terduduk, ia menarik selimutnya hingga menutupi dada, meski ia masih mengenakan piyama lengkap. Wajahnya merona merah. "Lo nggak perlu minta maaf. Gue yang minta lo di sini semalam."

Malik tidak menjawab. Ia segera turun dari ranjang, merapikan baju kokonya yang kusut, dan mencari sandalnya. "Sudah masuk waktu Subuh. Saya harus ke masjid."

Tanpa menoleh lagi, Malik melangkah keluar kamar dengan langkah lebar. Lea hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Rasa takutnya pada kegelapan semalam telah hilang, digantikan oleh debaran aneh yang membuatnya merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

Sepanjang shalat Subuh di masjid, fokus Malik terganggu. Berkali-kali ia harus memantapkan niatnya agar kembali khusyuk, namun bayangan wajah tidur Lea dan sensasi saat gadis itu bersandar di dadanya terus muncul. Baginya, ini adalah ujian batin yang paling berat. Ia adalah seorang pemimpin, seorang panutan, namun ia merasa lemah hanya karena sebuah pelukan di tengah hujan.

Sepulangnya dari masjid, Malik menemukan rumah masih sepi. Najwa dan rombongan diperkirakan baru akan sampai menjelang siang. Ia menuju dapur untuk membuat kopi, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Tak lama kemudian, Lea muncul. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan kaos lengan panjang dan celana kain yang rapi. Rambutnya yang masih basah tergerai indah.

"Gus," panggil Lea pelan.

Malik yang sedang menuang air panas hampir saja menumpahkannya. "Ya?"

"Makasih soal semalam. Gue... gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo," Lea berdiri di ambang pintu dapur, tampak ragu. "Dan soal bibir lo... gue beneran minta maaf soal kejadian di *club* itu. Gue nggak sadar."

Malik terdiam sejenak, membelakangi Lea. Ia menyentuh sudut bibirnya yang kini sudah hampir sembuh. "Lupakan saja. Itu sudah berlalu. Yang penting sekarang kamu fokus pada kuliahmu dan menjaga sikap di pesantren."

Lea tersenyum tipis. "Lo selalu begitu ya? Kaku banget. Padahal semalam lo nggak sejahat itu."

Malik berbalik, menatap Lea dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Saya tidak jahat, Kalea. Saya hanya menjalankan amanah. Dan semalam... melindungimu dari ketakutan adalah bagian dari amanah itu."

Sekitar pukul sebelas siang, suara mobil terdengar di halaman. Najwa, Ibu mertua, dan Arkan telah kembali. Arkan langsung berlari masuk ke dalam rumah.

"Onty Lea! Abi!" teriak Arkan riang.

Najwa masuk dengan bantuan kursi rodanya yang didorong oleh pengasuh. Ia menatap wajah suaminya, lalu beralih ke wajah adiknya. Sebagai wanita yang peka, Najwa menyadari ada perubahan atmosfer di antara mereka. Tidak ada lagi ketegangan yang menyakitkan, melainkan sebuah kecanggungan yang lebih... manis.

"Gimana di rumah? Aman?" tanya Najwa sambil tersenyum penuh arti.

"Aman, Kak. Semalam cuma mati lampu lama banget, untung ada Gus Malik," jawab Lea, melirik Malik sekilas.

Najwa menangkap lirikkan itu. Ia merasa rencana "mengungsi" ke Bandung kemarin sangat berhasil. "Syukurlah. Mas Malik, terima kasih sudah menjaga Lea ya."

Malik hanya mengangguk kecil. "Sudah kewajiban saya, Humaira."

Sore harinya, saat mereka sedang bersantai di teras belakang, Najwa meminta Malik untuk menemani Lea mengerjakan tugas kuliahnya yang menumpuk.

"Mas, bantu Lea sebentar. Dia bilang ada bab tentang ekonomi syariah yang dia belum paham. Mas kan ahlinya," pinta Najwa.

Meskipun enggan, Malik akhirnya duduk di samping Lea di meja teras. Mereka membuka laptop dan beberapa buku referensi. Lea yang biasanya keras kepala, kali ini nampak sangat patuh mendengarkan penjelasan Malik.

"Jadi, intinya bukan cuma soal untung rugi, tapi soal keadilan bagi semua pihak," ucap Malik sambil menunjuk satu paragraf di buku.

Lea mengangguk-angguk, namun matanya lebih sering memperhatikan bagaimana jemari Malik bergerak dan bagaimana seriusnya wajah pria itu saat menjelaskan sesuatu. Di tengah diskusi itu, angin sore berhembus kencang, membuat beberapa helai rambut Lea menutupi matanya.

Tanpa sadar, Malik mengulurkan tangannya dan menyelipkan helai rambut itu ke belakang telinga Lea.

Keduanya terdiam. Tangan Malik tertahan sejenak di dekat wajah Lea. Mata mereka kembali bertemu, dan kali ini tidak ada guntur atau kegelapan yang menjadi alasan. Hanya ada desiran angin dan detak jantung yang mulai seirama.

Di kejauhan, Najwa melihat pemandangan itu dari balik jendela kaca. Air matanya jatuh, namun kali ini bukan karena duka. Ia merasa tugasnya di dunia ini sudah hampir selesai. Ia telah menemukan pelindung yang tepat untuk adiknya, dan ia telah melihat benih cinta mulai tumbuh di ladang yang tadinya gersang.

"Tumbuhlah dengan baik, cinta..." bisik Najwa dalam doanya, menyadari bahwa ia siap jika suatu saat takdir memanggilnya pulang.

1
6690
wait ini Lea sama Najwa kakak beradik kandung ya? mohon maaf ya Thor, bukannya kalau kandung tidak boleh dinikahi secara bersamaan oleh pria yang sama , kecuali salah satunya sudah meninggal, baru boleh menikah. misalnya boleh menikah dengan suami kakak namun ketika si istri/kakak sudah meninggal. CMIIW
Nda
double up thor
Nda
novelmu luar biasa thor
Ci Ka
ditunggu up nya thor💪
Nda
ditunggu double up nya thor
Sri Jumiati
lanjut up thor
Sri Jumiati
umur kalea brp ya? kok msh kuliah .kan di buang 20 th yll
Jeon Ndhh: Dikirim umur 3-5 tahun → 20 tahun di London → balik ke Indonesia umur 23-25 tahun → sekarang kuliah semester akhir. karna pernah tertunda. kuliah di umur berapa pun boleh kuliah umur 50 tahun pun masih bisa kuliah 🙏
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor
Sri Jumiati
bagus ceritanyq
Waodeumizahara Waodeumizahara
kapan apload nya thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
thor lebih banyaknya lagi dong aploadnya🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
plis, up lebih banyak thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat menarik/Heart/
Anonim
GUS GUS AGUUUS AGUUUSSS
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
plis doubel up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!