Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh dari Langit Bukanlah Berkah
Malam di Distrik X bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Udara malam itu terasa tebal, membawa aroma besi berkarat dan air laut yang asin dari dermaga terdekat. Di sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer, suasana sangat mencekam. Lampu bohlam tunggal yang menggantung di tengah ruangan berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding yang mengelupas.
Leon Vancort berdiri di sudut tergelap ruangan itu. Jubah hitam panjangnya seolah menyatu dengan kegelapan. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan mata sebiru es kutub, tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Di depannya, seorang pria paruh baya bernama Hans bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat. Hans adalah orang kepercayaan yang baru saja terbukti menjual informasi jalur distribusi senjata milik keluarga Vancort.
"Leon... tolong... aku punya anak istri," rintih Hans dengan suara serak.
Leon tidak menjawab. Ia perlahan mengeluarkan sarung tangan kulit hitamnya dan mengenakannya dengan gerakan yang sangat metodis. Setiap gesekan kulit sarung tangan itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Hans. Bagi Leon, pengkhianatan adalah satu-satunya dosa yang tidak memiliki ruang untuk pengampunan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan kasih sayang hanyalah penghalang menuju kekuasaan absolut.
"Anak istrimu akan tetap hidup, Hans. Tapi kau?" Leon mengangkat pistol Silver Ghost miliknya, mengarahkan moncongnya tepat ke dahi Hans. "Kau harus membayar harga dari sebuah rahasia."
Jari telunjuk Leon perlahan menekan pelatuk. Seluruh anak buahnya yang berjaga di sekitar ruangan menahan napas. Keheningan itu begitu tajam hingga suara detak jam tangan Leon pun terdengar jelas.
Satu...
Dua...
BRAAAKKKKKKKK!!!!
Tiba-tiba, suara dentuman keras yang sanggup meruntuhkan gendang telinga meledak dari langit-langit. Bukan suara ledakan bom, melainkan suara atap seng yang robek paksa. Debu putih dari asbes dan serpihan kayu menghujani ruangan itu seperti salju di neraka.
Sesosok bayangan jatuh dari ketinggian sepuluh meter dengan kecepatan tinggi. Bukannya mendarat dengan gaya superhero yang keren, bayangan itu justru menghantam meja kayu besar di tengah ruangan hingga hancur berkeping-keping.
"ADUH! JANC*K! PINGGANG GUE MAU COPOT!"
Suara lengkingan melengking itu memecah ketegangan. Leon refleks melompat mundur, menyipitkan mata di balik kabut debu. Anak buahnya langsung siaga dengan senjata laras panjang, mengelilingi pusat reruntuhan meja tersebut.
Saat debu mulai menipis, terlihatlah seorang gadis. Ia mengenakan kaus oblong putih kedodoran yang ada noda sambalnya, celana training hitam yang sudah bolong di bagian lutut, dan rambut yang diikat asal-asalan menyerupai sarang burung. Gadis itu—Ailen Gavril—sedang duduk bersila di atas puing meja sambil memegangi pinggangnya.
"Gila ya, itu atap apa kerupuk? Tipis bener!" keluh Ailen sambil memijat punggungnya. Ia belum sadar sepenuhnya bahwa ia sedang dikepung oleh selusin pria yang siap mengirimnya ke liang lahat.
"Siapa kau?" suara berat Leon menggelegar. Ia merasa rencananya yang sempurna telah dikotori oleh kehadiran makhluk aneh ini.
Ailen tersentak. Ia menoleh ke arah Leon. Matanya yang bulat dan jernih berkedip beberapa kali. Selama beberapa detik, Ailen terpaku. Bukan karena takut, tapi karena wajah Leon yang terlalu tampan untuk ukuran manusia.
Gila... ini orang apa pahatan dewa Yunani? Hidungnya bisa buat prosotan anak TK, matanya tajam banget kayak silet baru, batin Ailen. Namun, sifat "semprul"-nya jauh lebih dominan daripada rasa kagumnya.
"Aduh, Mas Ganteng! Galak bener nanyanya," sahut Ailen sambil berdiri dan menepuk-nepuk debu di celananya. "Kenalin, nama saya Ailen. Tadi itu... anu... saya lagi ngejar kucing oren di atap. Eh, si Oyen pinter banget manuvernya, saya malah kejeblos. By the way, Mas lihat kucing warna oranye lewat sini nggak? Dia bawa lari sandal jepit saya yang sebelah kanan! Itu sandal keramat, Mas! Belinya pas saya menang lomba makan kerupuk tingkat kelurahan!"
Hening.
Semua anggota mafia di ruangan itu saling pandang. Mereka telah menghadapi agen interpol, kartel Meksiko, hingga pembunuh bayaran internasional. Tapi mereka belum pernah menghadapi gadis yang menanyakan sandal jepit di tengah eksekusi mati.
"Kau... mengganggu urusanku hanya karena sandal jepit?" Leon melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan suara klik yang berwibawa di atas lantai beton. Ia berdiri tepat di depan Ailen, membuat gadis itu harus mendongak jauh karena perbedaan tinggi badan mereka.
"Bukan cuma sandal, Mas! Itu masalah harga diri!" Ailen berkacak pinggang, mencoba terlihat sangar meski wajahnya lebih mirip anak kucing yang minta dipukpuk. "Lagian Mas ini siapa sih? Malem-malem main tembak-tembakan. Nggak takut tetangga keganggu? Ini udah jam istirahat tahu!"
Leon merasa urat di keningnya berdenyut. "Aku adalah Leon Vancort. Dan kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri."
"Leon Van-apa? Van Houten? Mas jualan cokelat?" Ailen malah nyengir.
"Habisi dia," perintah Leon dingin kepada anak buahnya. Ia berbalik badan, tidak sudi mengotori tangannya untuk gadis gila seperti ini.
Tiga orang pria berotot maju mendekati Ailen. Salah satunya mencoba mencengkeram leher Ailen. "Ikut kami, bocah tengil!"
Namun, dalam sekejap mata, emosi Ailen berubah. Matanya yang tadinya jenaka berubah menjadi dingin dan fokus. Saat tangan pria itu hampir menyentuh kulitnya, Ailen bergeser sedikit ke samping dengan gerakan sehalus sutra. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya 180 derajat, dan memberikan tendangan lurus tepat ke arah ulu hati.
Bugh!
Pria itu terlempar tiga meter ke belakang, menabrak tumpukan drum minyak hingga penyok.
Dua orang lainnya menyerang bersamaan. Satu menggunakan pisau, satu lagi mencoba melakukan tackle. Ailen melakukan salto ke belakang—gerakan yang sangat tidak sinkron dengan celana training-nya yang kedodoran. Saat di udara, ia menendang dagu pria yang membawa pisau, lalu mendarat dengan satu tangan dan menyapu kaki pria lainnya hingga jatuh terjungkal.
"Woy! Jangan main keroyokan dong! Enggak gentle!" teriak Ailen sambil kembali ke mode konyolnya, menjulurkan lidah ke arah mereka.
Leon berhenti melangkah. Ia berbalik dan menyaksikan anak buahnya tumbang satu per satu hanya oleh seorang gadis yang tampak seperti pengangguran. Gerakan Ailen bukan sekadar bela diri biasa; itu adalah kombinasi antara akrobatik, jiu-jitsu, dan insting liar yang sangat murni.
"Cukup," suara Leon menghentikan semua gerakan. Ia berjalan perlahan menuju Ailen. "Siapa yang melatihmu?"
Ailen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Latih? Oh, itu... saya sering berantem sama emak di rumah rebutan remot TV, Mas. Terus tiap pagi saya dikejar anjing gila satu komplek. Ya lama-lama jadi jago sendiri."
Leon tidak percaya. Ia bisa melihat potensi besar di balik kegilaan gadis ini. Keberaniannya, kecepatannya, dan ketidakpeduliannya terhadap maut adalah aset yang langka. Namun, di saat yang sama, Leon merasa harga dirinya sebagai raja mafia tercoreng.
"Kau tahu siapa pria yang hampir kubunuh tadi?" tanya Leon sambil menunjuk Hans yang masih gemetar di pojok.
"Si Om itu? Kelihatannya dia lagi sakit perut, Mas. Mending dikasih minyak kayu putih aja daripada ditembak. Kasihan, istrinya pasti nungguin di rumah buat makan malem," jawab Ailen dengan nada tulus yang entah kenapa terdengar sangat menyebalkan di telinga Leon.
Leon mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Ailen bisa mencium aroma maskulin Leon yang bercampur dengan bau mesiu. Jantung Ailen berdegup kencang, tapi otaknya malah berpikir: Waduh, kalau deket gini, bulu matanya lentik banget. Pakai maskara merk apa ya dia?
"Kau telah merusak malamku, membiarkan pengkhianat ini punya kesempatan untuk bernapas lebih lama, dan menghina harga diri keluarga Vancort," bisik Leon, suaranya seperti desisan ular.
"Ya ampun, Mas... sensi amat kayak lagi dapet," Ailen malah menepuk bahu Leon dengan akrab. "Gini deh, sebagai permintaan maaf karena atap Mas jebol—yang sebenernya salah atapnya karena rapuh—saya kasih ini."
Ailen merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah bungkusan plastik kecil berisi dua keping kerupuk kaleng yang sudah remuk.
"Ini kerupuk juara satu kelurahan tadi siang. Enak banget, Mas. Kriuknya bisa buat ngilangin stres. Anggap aja ini uang damai kita, oke?" Ailen menyodorkan kerupuk itu ke telapak tangan Leon yang sedang memegang pistol mahal.
Anak buah Leon yang masih sadar hampir pingsan lagi melihat itu. Bos mereka, yang biasanya diberi upeti berupa emas batangan atau berlian darah, kini disodori kerupuk remuk oleh seorang gadis semprul.
Leon menatap kerupuk di tangannya, lalu menatap Ailen. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Leon merasa bingung harus merespons apa. Apakah ia harus meledakkan kepala gadis ini, atau membawanya ke rumah sakit jiwa?
"Kau..." Leon menggenggam kerupuk itu hingga hancur menjadi bubuk. "Kau akan ikut denganku."
"Hah? Ke mana? Mau nyari sandal saya?" mata Ailen berbinar penuh harapan.
"Ke neraka pribadiku," jawab Leon sambil mencengkeram lengan Ailen dan menariknya paksa keluar dari gudang.
"Eh! Eh! Pelan-pelan dong Mas Van Houten! Celana saya melorot nih! Tolong! Penculikan pria ganteng! Tolong!" teriak Ailen yang suaranya menggema di sepanjang dermaga, merusak keheningan malam yang seharusnya penuh teror.
Leon terus menariknya, mengabaikan ocehan Ailen tentang merk sandal jepit dan harga sewa atap seng. Di dalam hatinya, Leon tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kegelapan yang selama ini ia bangun dengan rapi, baru saja dihantam oleh badai bernama Ailen yang datang membawa bau kerupuk dan kekacauan tanpa batas.
Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, sang Raja Mafia dan si Gadis Semprul memulai sebuah ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Sebuah perjalanan yang penuh dengan peluru, darah, dan—tentu saja—komedi yang mengocok perut.
"Mas, kalau kita mampir beli martabak dulu boleh nggak? Saya laper banget abis atraksi tadi," celetuk Ailen saat mereka sampai di depan mobil limousine hitam Leon.
Leon hanya bisa menghela napas panjang, menatap langit malam, dan bertanya-tanya dosa apa yang ia perbuat di masa lalu hingga harus bertemu dengan makhluk seperti Ailen.
"Mas? Kok diem? Pelit ya?"
"Masuk ke mobil sebelum aku berubah pikiran untuk membuangmu ke laut," desis Leon.
"Siap, Bos Cokelat!" Ailen melompat masuk ke mobil mewah itu seolah-olah itu adalah angkot langganannya.
Dan begitulah, babak pertama dari kekacauan ini resmi dimulai. Jatuh dari langit memang bukanlah berkah bagi Leon, tapi bagi Ailen, itu hanyalah cara unik untuk memulai petualangan baru bersama seorang pria tampan yang butuh sedikit "penyegaran" di otaknya yang terlalu kaku.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍