Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Seperti orang kesetanan Savira mengemudikan mobilnya menuju tumah. Beberapa kali ia sempat memukul-mukul setir sambil berteriak saking kesalnya.
“Dasar lelaki bodoh ! Egois ! Tidak punya pendirian ! Kalau bukan karena uangmu, aku tidak akan sudi mengejar anak mami sepertimu !”
Tiba-tiba suara klakson panjang terdengar dari belakang dan kedua sisinya membuat Savira kaget dan kembali memaki.
“Stu***pid !”
Savira tidak sadar kalau lampu lalu lintas sudah berubah merah dan kakinya malahmenekan pedal gas dalam-dalam membuat dua mobil yang datang dari sisi kanan dan kirinya terpaksa rem mendadak atau menabrak mobil Savira.
Baru beberapa meter mobilnya hampir saja menyerempet motor di jalur paling kiri. Untung saja pengemudinya tidak sampai jatuh atau Savira pasti tidak akan dibiarkan pergi begitu saja.
Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan perubahan sikap Baskara. Dulu wajar kalau pria itu marah karena Savira tidak peduli dengan keberatannya bahkan pergi tanpa berpamitan lagi.
Keputusannya untuk menikahi Fanny hanya sebatas balas dendam pada Savira. Buktinya Baskara begitu mudah memaafkan Savira dan kembali menjalin hubungan meskipun statusnya masih suami Fanny.
Kali ini Savira merasa ada sesuatu yang berbeda. Sikap keras dan kemarahan Baskara bukan karena merasa tertekan akan desakan Savira untuk segera menikah.
Jalan yang dilewatinya cukup padat memungkinkan Savira menghubungi seseorang yang tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya.
“Aku punya tugas untukmu.”
“\~\~\~\~ )\~\~\~\~”
“Carikan aku informasi sedetail mungkin. Sebentar aku kirim foto dan namanya.”
“\~\~\~\~ )\~\~\~\~”
“Seperti baru pertama bisnis denganku,” decih Savira. “Kapan aku tidak memberikan bonus untukmu.”
Suara tawa seorang pria terdengar sebagai lawan bicara Savira.
“\~\~\~})) \~\~\~\~”
“Tugasmu mencari informasi bukan jadi penasehat hubungan asmaraku dengan Baskara !” Nada bicara Savira berubah kesal.
“\~\~\~\~ )) \~\~”
“KEPO !” bentak Savira dan langsung memutus pembicaraan sambil mengomel sendiri.
Sudah bosan Savira mendengar nasehat teman-temannya untuk melupakan Baskara dan fokus pada cowok-cowok tampan dan kaya yang berusaha mendekatinya.
Bukan Savira tidak mencoba tapi dari lima pria yang sempat dekat dengannya tidak ada satu pun yang seperti Baskara.
Semuanya sama, merasa dengan uang mereka bisa membeli wanita manapun yang mereka inginkan sementara Baskara adalah satu-satunya pria yang setia karena tergila-gila pada Savira.
Savira membuka galeri foto-fotonya dengan Baskara. Semuanya terlihat sempurna dan tidak ada alasan bagi Savira untuk melepaskan Baskara.
*****
Baskara dibuat kaget saat melihat sosok Andara sudah berdiri dekat meja kerjanya. Dia sendiri baru saja dari kamar mandi yang ada di ruang kerja.
“Siapa yang menyuruhmu kemari ?” tanya Baskara dengan nada ketus.
Peristiwa kopi garam tadi pagi membuat hati Baskara kesal lagi.
“Bu Deswita.”
Baskara berdecak sambil tersenyum sinis. Dia tidak percaya kalau tiba-tiba Deswita menyuruh Andara kemari. Baskara yakin ada campur tangan Rio yang menghasutnya.
“Saya sudah buatkan pak Bas makan siang supaya tidak sakit seperti kemarin. Tapi maaf….”
“Aku tidak mau !” potong Baskara. “Bawa pulang semuanya. Aku ada janji makan siang.dengan rekan bisnis.”
“Saya sudah memastikan dengan pak Rio kalau jadwal bapak kosong sampai jam 3 sore.”
Baskara menghela nafas, firasatnya semakin jelas kalau Rio adalah otaknya.
“Rio tidak tahu kalau saya sudah buat janji.”
“Maaf tapi saya tidak bisa pergi sampai bapak selesai memakan bekal yang saya bawa.”
Andara mengangkat jinjingannya supaya bisa terlihat jelas oleh Baskara.
“Kenapa kamu maksa ? Mama membayarmu untuk mengurus Lily bukan aku.”
Andara menyipitkan mata sambil maju dua langkah. “Tapi bapak bilang gaji saya terlalu besar untuk seorang pengasuh makanya bapak menambah tugas saya untuk….”
“Tidak usah diteruskan !” Baskara mengangkat tangannya.
“Pokoknya aku tidak mau makan bekal yang kamu bawa dan segera pergi dari sini !”
“Tidak mau !” tolak Andara dengan tegas. “Bu Deswita tidak mengijjnkan saya pulang sampai bapak selesai makan atau….”
Baskara tidak menggubris tapi sampai beberapa detik Andara tetap diam, ia pun mendongak, menatap perempuan itu dengan mata menyipit.
“Atau gajimu akan dipotong ?”
Kedua alis Baskara menaut saat kepala Andara menggeleng.
“Aku akan mengganti potongannya dua kali lipat.”
Tanpa sadar Andara malah mencibir.
“Kenapa ? Kurang ?” Baskara mulai naik pitam.
Bukan soal uang pak Bas tapi bu Deswita mengancam akan menjadikan saya istri ketiga anda dengan cara apapun.
Biar anda cakep dan kaya tapi anda bukan selera saya banget !!! Selain itu sekalipun miskin saya masih punya harga diri.
“HEI !”
Bentakan Baskara membuat Andara gelagapan. Tanpa minta ijin lagi, Andara membuka semua bekal yang dibawanya di atas meja kerja Baskara.
“Jangan di sini !”
“Tidak perlu dihabiskan, bapak cukup makan satu sendok saja atau mau pura-pura makan juga tidak masalah. Bu Deswita minta bukti foto kalau saya sudah datang dan mengantar makanan buat bapak.”
“Memangnya kamu kurir makanan yang perlu foto sebagai bukti ?”
“Hhhmmmm…. kurang lebih begitu. Tolong bantu saya.” Andara mengatupkan kedua tangannya di depan wajah dengan ekspresi memelas.
“Saya tidak mau !”
Bukannya menuruti permibtaan Baskara, Andara malah membuka setiap kotak yang dibawanya dan menuangkan lauk di atas nasinya.
“Tolong bapak puta-pura makan.” Andara meletakkan sajian itu di hadapan Baskara.
“Sudah saya bilang tidak mau !”
Andara menghela nafas, memutar otak untuk mencari akal bagaimana membuat Baskara memenuhi permintaannya.
“Aku akan membayar potongan gajimu lima kali lipat !”
“Masalahnya bukan soal uang yang saya takutkan kalau mengabaikan permintaan bu Deswita.”
“Memangnya mama memberikan ancaman apa ?”
Bukannya menjawab, Andara malah mengeluarkan handphone dan langsung mencari tombol kamera.
“Sudah saya bilang pak Bas cukup pura-pura makan atau bu Deswita akan minta supaya nama pak Bas dicoret sebagai ahli waris.”
Baskara tersenyum mengejek. “Kamu pikir saya anak kecil yang gampang dibohongi ?”
“Kalau pak Bas menganggap saya bohong, silakan bicara langsung dengan bu Deswita.”
Andara langsung menekan nama paling atas di dalam daftar panggilan masuknya.
Baskara menggeram kesal, merampas handphone Andara dan memutus sambungan telepon ke nomor Deswita.
“Jangan coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan !” ancam Baskara dengan mata melotot.
Kepala Andara mengangguk, bibirnya menahan senyum melihat Baskara mengambil sendok dan garpu yang sudah disiapkannya.
“Nah gitu dong ! Membantu orang yang lemah sama dengan beramal.”
Andara mengaktifkan kembali kameranya dan mencari posisi yang paling bagus menurut tangkapan matanya.
”Terima kasih Pak Baskara.”
“Mana buktinya ?”
Andara langsung menunjukkan layar handphonenya dan terbukti foto itu langsung dikirimkan ke nomor Deswita.
“Bawa pulang semuanya !”
“Bapak yakin ?”
Belum sempat menjawab, perut Baskara berbunyi seperti waktu di apartemen tapi kali ini Andara tidak berani tertawa malah berpura-pura menuruti perintah Baskara.
”Keluar dari ruanganku sekarang !”
Andara tidak mendebat hanya mengangguk. Sambil melenggang keluar bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
Rasa percaya diri Andara sedikit bertambah karena cerita Rio terbukti kalau Baskara menyukai masakan Andara. Seandainya Baskara tidak cocok, sudah pasti pria itu akan ngotot menyuruh Andara membawa pulang semua bekal yang dibawanya.