NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Waktu adalah hal yang paling aneh di dunia ini. Dulu, saat Reno baru melangkahkan kaki masuk ke gerbang kayu Pesantren Al-Falah satu tahun yang lalu, waktu terasa berjalan sangat lambat, bagai siput yang merayap di atas pasir panas. Setiap detik terasa seperti jam, setiap jam terasa seperti hari, dan satu tahun itu rasanya seperti seumur hidup yang tak akan ada akhirnya. Saat itu, Reno hidup dengan rasa yang paling melimpah: rasa benci, rasa terpaksa, rasa marah, dan rasa ingin cepat-cepat berlari jauh dari tempat itu. Baginya, pesantren ini hanyalah penjara, dan dirinya adalah tahanan yang sedang menunggu masa hukuman berakhir.

Namun hari ini, tepat saat kalender di dinding ruang belajar Kyai Ahmad menunjukkan bahwa masa pengabdiannya tinggal menyisakan tujuh hari lagi, waktu seolah berubah menjadi kuda liar yang berlari kencang tak terkendali. Detik berganti menit, menit berganti jam, dan hari berganti malam dengan kecepatan yang membuat dada Reno sesak napas. Ia merasa baru kemarin ia tiba dengan wajah masam dan hati keras, dan sekarang, ujung masa baktinya sudah di depan mata. Dan kini, satu perasaan yang paling mendominasi seluruh relung jiwanya adalah satu kata: KURANG.

Rasa kurang waktu. Rasa kurang ilmu. Rasa kurang mengabdi. Rasa kurang melihat wajah-wajah yang dicintainya. Dan yang paling menyakitkan, rasa kurang berada di dekat sosok yang menjadi pusat semestanya, Zahrana.

Bagi orang lain, tujuh hari itu adalah 168 jam, atau 10.080 menit. Waktu yang cukup panjang untuk berkemas, berpamitan, dan bersiap pulang. Tapi bagi Reno, itu hanya seperti kedipan mata yang sebentar, lalu lenyap. Ia merasa ia belum apa-apa. Ia merasa ia belum cukup menjadi anak yang baik bagi Kyai dan Ibu Nyai, belum cukup menjadi sahabat bagi teman-temannya, belum cukup bermanfaat bagi warga desa, dan yang paling terasa menyayat hati: ia belum cukup menjadi sosok yang pantas bagi Zahrana.

Pagi itu, kabut putih tebal masih menyelimuti hamparan sawah dan pepohonan di sekeliling pesantren. Udara terasa sangat dingin, menusuk sampai ke tulang sumsum, namun Reno sudah bangun jauh sebelum azan Subuh berkumandang. Ia duduk bersila di beranda masjid, di sudut yang bisa melihat hampir seluruh isi kompleks pesantren. Matanya menatap kosong ke arah kabut yang perlahan menipis diterpa cahaya fajar yang mulai mengintip malu-malu. Di dadanya, perasaan kurang itu berputar kencang, menyesakkan, membuat napasnya terasa pendek dan berat.

Ia menatap kedua tangannya sendiri. Tangan yang dulu putih, halus, lunak, dan tak pernah tersentuh debu jalanan. Tangan yang dulu hanya mahir memegang pena emas, setir mobil mewah, atau menerima tumpukan uang kertas. Kini, tangan itu berubah total. Kulitnya menghitam terbakar matahari, kasar dan kering, penuh dengan kapalan tebal di telapak tangan dan ruas jari. Ada bekas luka jahitan kecil di dekat pergelangan tangan akibat kecelakaan saat menebang kayu beberapa bulan lalu, ada guratan-guratan halus jejak duri dan ranting. Dulu, Reno merasa ini cukup sebagai bukti perubahannya. Ia merasa ia sudah hebat, sudah kuat, sudah berilmu, sudah bisa mengalahkan egonya sendiri. Tapi hari ini, saat ia menatap tangan ini, ia justru merasa: “Masih kurang. Belum cukup. Ini baru kulit luarnya saja, belum sampai ke tulang dan ke sumsumnya. Aku masih kasar, masih banyak kurangnya, masih jauh dari kata sempurna.”

“Masih tujuh hari lagi, Nak. Dan aku tahu, hatimu sedang merasa 'kurang' segalanya saat ini.”

Suara berat dan lembut itu memecah keheningan pagi. Reno menoleh dengan terkejut, segera bangkit berdiri dan menunduk hormat dalam-dalam. Kyai Ahmad berdiri di sampingnya, mengenakan sarung dan baju koko putih bersih, wajah beliau teduh namun ada guratan sendu yang samar tergambar di sana. Beliau seolah bisa membaca setiap baris tulisan yang tertulis di hati murid kesayangannya itu, seolah beliau tahu betapa perihnya rasa berpisah ini bagi Reno.

“Iya, Kyai. Rasanya… rasanya saya belum apa-apa. Rasanya baru kemarin saya belajar cara bersabar, baru kemarin saya belajar cara ikhlas memberi, baru kemarin saya belajar memaafkan musuh. Dan sekarang waktu sudah habis. Saya merasa saya kurang belajar, kurang mendengar wejangan Bapak, kurang melayani Ibu, dan kurang bermanfaat bagi tempat ini. Rasanya satu tahun ini tak ada artinya dibandingkan apa yang seharusnya saya dapatkan, dibandingkan betapa luasnya samudra ilmu yang Bapak miliki.” Suara Reno terdengar berat, pecah, dan matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang meluap.

Kyai Ahmad tersenyum, senyum yang memahami dan mengerti, senyum kebanggaan seorang guru. Beliau menepuk-nepuk pelan bahu Reno yang kini jauh lebih tegap dan kekar dibanding saat pertama kali datang.

“Itulah tanda bahwa isimu sudah mulai penuh, Reno. Orang yang kosong, dia selalu merasa 'sudah cukup'. Dia merasa sudah pintar, sudah baik, sudah sempurna, sudah paling benar. Dia merasa satu buku sudah mewakili seluruh isi dunia. Tapi orang yang mulai berisi, semakin dia tahu, semakin dia sadar betapa luasnya samudra ilmu dan betapa dangkalnya pengetahuannya. Rasa 'kurang' yang kau rasakan ini, Nak, itu bukan tanda kekuranganmu. Itu adalah tanda kelimpahan jiwamu. Itu adalah rasa lapar dan haus yang paling mulia, rasa lapar untuk terus menjadi lebih baik, terus menjadi lebih tinggi derajatnya, terus mendekat pada kebenaran.”

Kyai Ahmad duduk di sisi Reno, mengajaknya menikmati hening pagi yang suci itu, di mana hanya ada suara angin dan gemerisik daun.

“Tujuh hari ini, jangan kau habiskan dengan rasa sedih karena merasa kurang. Tapi jadikan rasa kurang itu sebagai bahan bakar untuk mengisi sisa waktu yang sedikit ini sepenuhnya. Kalau kau merasa kurang memberi, maka berilah lebih banyak dari sebelumnya. Kalau kau merasa kurang mengabdi, maka layanilah dengan lebih tulus dari sebelumnya. Kalau kau merasa kurang dekat, maka dekati dengan segenap hatimu. Jangan menyesali apa yang sudah lewat, tapi perbaiki apa yang masih ada di depan mata. Rasa kurang itu akan selalu ada, Nak. Bahkan nanti saat kau sudah tua, sudah kaya, sudah punya segalanya, rasa itu akan tetap ada. Karena rasa kurang adalah bukti bahwa hatimu masih hidup, masih tumbuh, dan masih punya ruang untuk kebahagiaan yang lebih besar.”

Reno mengangguk pelan, namun rasa itu tak hilang. Ia merasa, sebanyak apa pun yang ia berikan, seluas apa pun yang ia pelajari, ia akan tetap merasa kurang terhadap tempat ini, dan terlebih lagi, terhadap Zahrana. Baginya, Zahrana adalah samudra ketulusan yang tak akan pernah bisa ia jelajahi sampai dasar paling dalamnya.

Selama tujuh hari itu, Reno menjalani hari-harinya dengan semangat yang membara namun juga dengan hati yang semakin sesak karena rasa ingin memiliki waktu lebih banyak. Ia bangun dua jam sebelum subuh, bukan hanya untuk beribadah, tapi untuk menyapu seluruh halaman pesantren yang luasnya hampir satu hektar, membersihkan selokan yang tersumbat, mengisi bak mandi, dan memperbaiki kerusakan kecil di sana-sini. Ia melakukan semua itu bukan lagi karena latihan, tapi karena rasa sayang yang meluap. Ia ingin setiap sudut tanah ini terkena sentuhannya, sebagai tanda terima kasih yang tak terucap.

Ia mendatangi Pak Yasin, tetua desa yang keras kepala namun berhati emas itu, memeluk orang tua itu dan membantu mengerjakan seluruh ladang yang tersisa sampai matahari tinggi.

“Masih kurang tenaga saya Pak, untuk membalas semua ilmu yang Bapak beri. Masih kurang keringat ini untuk menebus jasa Bapak yang mengajarkan saya arti kerja keras dan kejujuran,” ucapnya saat itu. Dan Pak Yasin hanya tertawa haru, menepuk punggungnya kasar namun penuh kasih, matanya berkaca-kaca melihat perubahan luar biasa pada pemuda itu.

Ia mendatangi Pak Surya, orang tua yang dulu pernah ia bantu dan mengajarkannya arti keikhlasan. Di sana, ia membawa sedikit uang sisa tabungannya dan menaruhnya diam-diam di bawah bantal rumah tua itu saat Pak Surya sedang ke luar. “Masih kurang ini Pak, belum cukup untuk membalas kebaikan dan kesabaran Bapak mengajarkan saya ketulusan. Anggap ini sekadar tanda bahwa saya tak akan pernah lupa,” batinnya berucap.

Ia menemani Dani, sahabat sejatinya, tidur satu kasur, mengobrol sampai larut malam, menumpahkan segala rasa terima kasih dan persaudaraan. “Masih kurang pelukan dan tawa kita, Dani. Kurang sekali. Kurang cerita-cerita konyolmu, kurang omelanmu, kurang segala hal tentangmu,” katanya pelan. Dani hanya mengangguk, matanya basah, paham betul apa yang dirasakan sahabatnya itu.

Namun, rasa kurang yang paling tajam, paling perih, dan paling mendalam, ia rasakan setiap kali matanya bertemu pandang dengan Zahrana.

Sejak Reno sadar bahwa masa tinggalnya di sini tinggal sedikit, ia merasa setiap kali melihat Zahrana, ia tak pernah puas. Ia ingin menatapnya selamanya, ingin mendengar suaranya terus-menerus, ingin berada di dekatnya tanpa jeda. Tapi kenyataannya, mereka hanya bisa bertemu di selipan waktu, di kejauhan, atau di sela-sela aktivitas pesantren yang padat. Dan setiap kali mereka berpisah setelah bertemu, Reno selalu merasa: “Belum cukup. Aku belum cukup melihat senyumnya. Aku belum cukup mendengar nasihatnya. Aku belum cukup merasakan ketenangannya. Aku masih kurang.”

Di hari ketiga menjelang keberangkatan, saat sore hari yang cerah namun terasa sendu seolah alam pun ikut berduka, Zahrana datang menghampiri Reno yang sedang duduk melamun di bawah pohon beringin pinggir sungai. Di tangannya, ia membawa selembar kain sarung tenun halus berwarna coklat tua dengan motif sederhana namun sangat rapi, serta sepasang sandal anyaman dari serat kayu yang halus dan kuat.

Langkah kakinya pelan, anggun, dan wajahnya tampak lebih teduh dari biasanya, meski di dalam matanya tersimpan ribuan perasaan yang sama beratnya dengan yang dirasakan Reno.

“Mas Reno,” sapa Zahrana lembut, suaranya membelai telinga Reno selembut kapas. “Kenapa akhir-akhir ini wajah Mas Reno selalu tampak sedih dan tak pernah puas menatap apa pun? Seolah semesta ini kurang lengkap di matamu.”

Reno menoleh, menatap wajah cantik itu lekat-lekat, menghabiskan setiap milimeter wajah itu, menyimpannya di memori matanya, karena ia tahu sebentar lagi pandangan ini akan terhalang jarak ribuan kilometer. Ia menatap mata itu, mata yang menjadi rumah baginya, mata yang selalu meneduhkan.

“Karena memang kurang, Zahra. Semuanya terasa kurang. Waktunya kurang, kesempatannya kurang, dan rasanya… rasanya aku belum cukup melakukan apa pun untukmu.” Suara Reno berat dan parau, hampir hilang ditelan suara gemericik air sungai. “Satu tahun ini aku di sini, kamu yang mengubahku, kamu yang menyelamatkanku dari kehancuran diri sendiri, kamu yang menjadi alasanku bernapas dengan bahagia dan penuh makna. Tapi apa yang sudah aku berikan padamu? Tidak ada apa-apa. Aku tak pernah memberi hadiah mahal, aku tak pernah memberi kenyamanan, aku bahkan tak pernah berani menyentuh ujung jari kelingkingmu. Aku hanya menerima, menerima, dan menerima. Rasanya kurang sekali, Zahra. Rasanya aku begitu miskin dan tak berharga di hadapanmu. Rasanya seumur hidupku pun tak akan cukup untuk membalas satu detik senyummu ini.”

Air mata Reno akhirnya menetes, jatuh membasahi tanah di antara kakinya, menghilang diserap bumi yang kering. Rasa kurang itu bukan hanya soal materi, tapi rasa kurang pantas, rasa kurang cukup untuk mendampingi wanita semulia ini.

Zahrana tersenyum, senyum yang paling indah, senyum yang mengandung pengertian yang luas dan kasih sayang yang tak terhingga. Ia melangkah maju sedikit, meski tak bersentuhan, jarak di antara mereka terasa menyatu, terasa seolah ada benang tak kasat mata yang mengikat hati mereka menjadi satu. Ia mengangkat kedua benda di tangannya.

“Mas Reno, dengar saya. Rasa 'kurang' yang Mas Reno rasakan itu, itu bukti bahwa hatimu sudah penuh. Kau merasa kurang memberi, karena kasih sayangmu melimpah ruah dan tak ada wadah yang cukup untuk menampungnya. Kau merasa kurang waktu, karena setiap detik bersamamu itu adalah emas yang tak ternilai harganya bagiku juga.”

Ia menyodorkan sarung dan sandal itu ke depan, menatap benda buatan tangannya sendiri itu dengan pandangan bangga namun rendah hati.

“Lihat ini. Sarung ini saya tenun dari benang kasar, saya pintal sendiri, saya tenun setiap hari kosong, sambil menyebut nama Mas Reno dalam doaku. Bahan ini kurang bagus, kurang halus, dan kurang mewah kalau dibandingkan dengan apa yang biasa Mas Reno pakai di rumah. Tapi saya berikan ini dengan perasaan yang mengatakan: ini saja belum cukup untuk membungkus tubuhmu yang mulia ini, ini saja belum cukup untuk menuntun langkah kakimu yang berat ini.”

Zahrana menundukkan pandangannya, suaranya melembut, bergetar menahan tangis yang mulai mengancam pecah.

“Saya juga merasa kurang, Mas Reno. Saya merasa kurang melayanimu, kurang mendampingimu, kurang mendengarkan ceritamu. Saya merasa, seumur hidupku pun tak akan cukup waktu untuk membalas rasa syukurku karena Tuhan mengirimkanmu ke sini. Saya merasa, seluruh dunia pun kurang harganya kalau dibandingkan dengan satu senyummu. Saya merasa, apa pun yang saya berikan padamu, akan selalu kurang nilanya dibandingkan apa yang kau berikan padaku: harapan dan arti hidup yang baru.”

Reno menerima pemberian itu dengan tangan gemetar hebat. Ia meraba tekstur kasar namun hangat kain itu, merasakan setiap tenunan yang dibuat dengan cinta.

“Zahra… ini bukan kurang. Ini justru yang paling berlebih dan paling mahal yang pernah ada. Ini adalah jiwamu yang kau berikan padaku. Tapi aku tak bisa menghilangkan rasa ini. Aku takut aku pulang nanti, aku makin merasa kurang. Aku akan kurang melihatmu setiap hari, kurang mendengar suaramu, kurang merasakan kedamaianmu. Bagaimana aku bisa bertahan, Zahra? Bagaimana aku bisa hidup dengan rasa kurang yang terus-menerus menggerogoti hatiku?”

Zahrana mengangkat wajahnya kembali, menatap mata Reno dalam-dalam, matanya berbinar teguh dan penuh keyakinan, seolah ia sedang mengukir janji abadi di sana.

“Justru rasa kurang itulah yang akan membuatmu kuat, Mas Reno. Rasa kurang itu akan menjadi tali yang mengikat hatimu agar tak terlepas dari ingatan ini. Rasa kurang itu akan menjadi bahan bakarmu untuk bekerja keras, untuk menjadi lebih baik, untuk mengumpulkan kekuatan, supaya suatu hari nanti… kamu datang kembali ke sini, dan berkata: 'Zahra, hari ini aku datang membawa segalanya, dan rasa kurangku padamu sudah terbayar lunas dengan perjuangan dan kesetiaan ini.'”

Ia menghela napas panjang, melanjutkan dengan suara lembut namun tegas.

“Jangan takut pada rasa kurang ini, Mas Reno. Jadikan itu cinta yang tak pernah kering, cinta yang selalu tumbuh, cinta yang tak pernah merasa cukup walau diberi satu dunia sekalipun. Karena cinta sejati itu memang begitu. Dia tak pernah puas, dia selalu ingin lebih, ingin memberi lebih, ingin bersama lebih lama. Dan itu yang membuat cinta kita ini berbeda dari cinta yang semu dan hambar.”

Hari-hari bergulir makin cepat, dan tibalah di hari terakhir.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!