NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Benjamin si Tsundere

"Aku hanya takut... Takut jika suatu saat nanti kau juga akan berkhianat," gumam Benjamin lagi, jemarinya bergetar samar di udara. "Aku tahu takdir pasanganmu lebih dari satu. Aku takut kau akan pilih kasih nantinya, lalu mengabaikan aku begitu saja."

Benjamin tersenyum miris, menertawakan garis takdir yang digariskan semesta untuknya. "Sebenarnya, entah mengapa takdir harus menjatuhkan pilihan pada gadis sepertimu. Dari sekian banyak wanita di dunia immortal, kenapa harus kau, Evelyn? Kenapa pula harus Damian dan Kaelen yang menjadi sainganku? Aku bahkan tidak tahu bagaimana masa depan kita nanti. Aku takut... bukan hanya mereka berdua saja yang menjadi mate-mu, melainkan masih ada pria lain yang tersisa. Jika hari itu tiba, aku hanya bisa pasrah menerima takdir."

Benjamin menghela napas berat. Tangan bidangnya terulur perlahan, berniat merapihkan anak rambut yang menutupi kening Evelyn. Namun, tepat sebelum kulitnya menyentuh helai rambut gadis itu—

Grep!

Mata Benjamin membelalak sempurna. Jantungnya mencelos seketika.

Sebuah tangan mungil namun mencengkeram dengan kekuatan yang mengejutkan tiba-tiba mengunci pergelangan tangan Benjamin.

Di saat yang sama, sepasang kelopak mata Evelyn terbuka lebar, menatap langsung ke dalam manik mata hijau sang Mage dengan sorot mata yang tajam dan sedingin es.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa ada di kamar hotelku?" tuntut Evelyn, suaranya terdengar sangat waspada tanpa ada sisa kantuk sedikit pun.

Benjamin membeku, lidahnya mendadak kelu. Otak cerdasnya berputar cepat mencari alasan paling masuk akal, meski wajahnya kini sudah memerah padam karena malu.

"A-Aduhh... sepertinya aku salah kamar," dalih Benjamin gelagapan, mencoba menarik tangannya yang masih dikunci Evelyn. "Kukira ini kamar temanku."

'Sial! Aku ketahuan! Habislah aku, memalukan sekali!' batin Benjamin menjerit frustrasi.

Di balik rasa malunya yang setengah mati, sebuah pertanyaan besar menghantam kepalanya:

Bagaimana bisa mantra tidur tingkat tinggi miliknya sama sekali tidak mempan pada gadis manusia ini?!

"Kau berbohong, Tuan. Aku sudah mendengar semua ratapanmu sejak tadi," ucap Evelyn tenang.

Ia mengubah posisinya menjadi duduk, lalu melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Benjamin dengan santai. Sebenarnya, sejak sang naga Mage mendarat di sisi ranjangnya, insting Evelyn sudah terjaga sepenuhnya. Namun, ia sengaja berpura-pura terlelap. Selain karena ingin menguji apa yang akan dilakukan pria asing ini terhadap dirinya, Evelyn diam-diam memiliki niat terselubung untuk memanfaatkan situasi tersebut.

Benjamin mendengus, buru-buru menegakkan tubuh dan memalingkan wajahnya ke samping demi menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Kau pasti salah dengar. Lupakan semua bualan gila yang kau dengar tadi, aku hanya sedang meracau. Soal kehadiranku di sini... itu murni kesalahan teknis yang tidak disengaja. Titik koordinat sihir teleportasiku mendadak melenceng jauh dan sialnya malah mendarat di kamarmu," ketusnya dengan nada sedingin es yang dipaksakan.

"Benarkah begitu?" Evelyn menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Benjamin dengan binar jenaka yang memprovokasi. "Bilang saja jika kau malu untuk mengakuinya, Tuan Mage. Aku sama sekali tidak keberatan jika kau memang menyukaiku. Aku bahkan bisa menerimamu menjadi kekasihku detik ini juga... tapi tentu saja dengan satu syarat."

Mendengar penuturan percaya diri itu, Benjamin sontak menoleh cepat dengan mata melotot sempurna. Ego naganya seketika berontak mendengar dirinya seolah dianggap tidak punya harga diri.

"Jangan terlalu percaya diri, Nona!" sentak Benjamin, suaranya naik satu oktav namun tetap ditahan agar tidak membangunkan Sofia.

"Kau sama sekali bukan tipeku! Lagipula, aku tidak menyukai gadis kurus, pucat, dan ringkih sepertimu. Selera kelasku jauh lebih tinggi; aku lebih menyukai gadis bertubuh sintal, subur, dan sehat!"

"Oke, oke. Jika gadis sintal dan subur adalah tipemu, aku tidak masalah," sahut Evelyn santai sembari mengedikkan bahu. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika nanti aku mencari pria lain yang bisa menerimaku apa adanya."

Sebenarnya, Evelyn merasa sangat heran dengan pria berambut merah di hadapannya ini. Di satu sisi, ia selalu bersikap ketus, dingin, dan kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas. Namun anehnya, dalam igauan batinnya tadi, Benjamin justru terang-terangan menyebut Evelyn sebagai pasangan takdir atau mate-nya—meski Evelyn sendiri belum sepenuhnya paham apa arti dari istilah asing tersebut.

Benjamin mendengus, mencoba mengeraskan hatinya yang mendadak terasa panas. "Ya sudah, cari saja pria lain. Kau bebas melakukan apa pun, lagipula aku bukan siapa-siapa bagimu," ketusnya, meskipun dalam hati kecilnya insting naganya menolak keras dan siap mencabik siapa saja pria yang berani menyentuh gadis itu.

"Kau yakin, Tuan?" pancing Evelyn dengan senyuman miring yang provokatif.

"Tentu saja aku yakin," jawab Benjamin singkat dan kaku.

Evelyn menatap lurus ke dalam manik mata hijau zamrud Benjamin. "Kalau begitu, bisakah kau membantuku bertemu dengan pria berambut cokelat yang bersamamu di pantai tadi sore? Tolong beritahu aku di mana letak rumahnya. Tapi tidak sekarang, melainkan nanti setelah acara study tour ini selesai."

Sepasang mata Benjamin seketika melebar, kilatan emosi melintas di netranya. "Untuk apa kau datang ke sarangnya? Kau mau menyerahkan nyawamu secara sukarela?"

"Aku memiliki sedikit urusan penting yang sangat mendesak dengannya. Tenang saja, aku tidak berniat mati konyol di tangannya. Aku hanya ingin tahu seperti apa rupa rumah dari pasangan keduaku itu," ucap Evelyn dengan nada santai yang dibuat-buat.

Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, Evelyn sedang merajut rencana kelam. Ia tidak hanya ingin tahu; ia diam-diam bertekad memanfaatkan status mate itu untuk membalaskan dendam mendiang ibunya kepada Damian, sang Raja Demon.

Benjamin mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasa terusik dengan kalimat terakhir Evelyn. "Daripada mana kau tahu jika pria brengsek itu adalah pasanganmu?" tuntutnya dengan nada menyelidiki.

Evelyn terkekeh rendah, menikmati raut wajah Benjamin yang tampak semakin frustrasi. "Dia sendiri yang mengatakannya padaku tadi. Dia bilang... aku adalah belahan jiwanya."

"Terserah kau saja. Pergi saja sendiri, jangan pernah meminta tolong padaku," dengus Benjamin sembari bersedekap dada, mencoba bersikap acuh tak acuh.

"Tapi aku akan tetap memaksamu sampai kau mau membantuku," tegas Evelyn, menatap lurus dengan binar mata yang tidak menerima penolakan.

Benjamin mendesis kesal. "Kau benar-benar gadis pemaksa. Sudah kukatakan, aku tidak sudi membantumu hanya untuk menemui pria brengsek itu! Lagipula, aku sama sekali tidak yakin kau bisa sampai ke kastilnya dengan selamat. Baru beberapa langkah menginjakkan kaki di depan gerbang teritorinya saja, kau pasti sudah mati duluan karena dimakan oleh para demon liar yang kelaparan di sekitar hutan."

"Justru karena alasan itulah aku membutuhkan bantuanmu, Tuan Mage. Kumohon," pangkas Evelyn, nadanya melunak sedikit namun tetap terdengar penuh tuntutan.

"Tidak. Jawabanku tetap tidak akan pernah!"

Evelyn menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang membuat Benjamin mendadak curiga. "Baiklah kalau kau menolak. Tapi jangan salahkan aku jika nanti setelah acara ini selesai, aku akan mendatangi rumah kayumu dan mengganggu ketenangan hidupmu setiap hari."

Benjamin membelalak sejenak, namun buru-buru mendengus remeh. "Memangnya kau masih ingat di mana letak rumahku? Jangan bermimpi, Nona. Lagipula, aku jarang sekali berada di rumah."

Evelyn hanya tersenyum misterius dalam hati. Beruntung, memori otaknya sebelum terlempar kembali ke pantai masih merekam jelas rute menuju kediaman terpencil Benjamin di atas Bukit Hutan Perak.

Meskipun letak rumah kayu itu sangat jauh dari keramaian dan tersembunyi, Evelyn tahu ia masih bisa naik bus umum dari pusat kota dan turun di halte terakhir yang jaraknya paling dekat dengan bukit tersebut. Sisa perjalanan tinggal ia tempuh dengan berjalan kaki—sebuah tantangan kecil bagi gadis yang dibesarkan oleh seorang ghost hunter.

"Heh, kenapa kau malah senyum-senyum begitu?! Wajahmu bertambah jelek tahu!" semprot Benjamin, wajahnya memerah padam menahan malu. "Dengar, sekali lagi aku tegaskan kepadamu; jangan pernah berani datang ke rumahku, apalagi mencari si brengsek Damian. Kau mengerti? Sudah, sekarang aku harus pergi!"

Benjamin buru-buru merogoh saku jubah peraknya. Dengan gerakan kasar yang canggung, ia menyodorkan sebotol ramuan merah yang berpendar ke hadapan Evelyn.

"Minumlah obat ini dalam sekali teguk. Tapi ingat, minum setelah aku pergi dari sini! Jangan banyak bertanya kenapa aku memberikan obat ini kepadamu. Anggap saja ini bentuk pertolongan dari orang tanpa tanda jasa sepertiku," cerocos Benjamin tanpa titik koma, berusaha menyembunyikan rasa pedulinya yang mendalam.

Pria itu berbalik hendak segera melarikan diri, namun Evelyn dengan cepat menahan ujung jubahnya. "Tunggu. Obat ini sebenarnya untuk apa? Aku bahkan tidak yakin cairan ini bisa—"

"Kau ini cerewet sekali! Minum saja kubilang, jangan banyak tanya!" potong Benjamin sengit. "Kalau kau mau sembuh, ya minum! Kalau tidak mau, buang saja ke tempat sampah! Dan kalau nanti ramuan itu habis dan kau butuh lagi, minta saja padaku."

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!