Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Gema dari Masa Lalu
Jakarta kembali menyapa Arka dengan hiruk-pikuknya yang tak pernah tidur. Namun, kemewahan kantor pusat Dirgantara Group kini terasa hampa bagi pria yang baru saja kembali dari London itu. Arka berdiri di depan jendela kaca besar di lantai 50, menatap kemacetan di bawahnya. Penampilannya sudah lebih rapi, rambutnya terpangkas pendek, dan kemeja birunya terpasang sempurna. Namun, matanya tetap menyimpan kedalaman yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah kehilangan segalanya.
"Tuan, ini laporan bulanan dari firma hukum di London," Bayu masuk dengan langkah tenang. Ia meletakkan sebuah dokumen di atas meja kerja Arka.
Arka tidak segera membacanya. Ia tahu isinya adalah laporan rutin tentang kesehatan Alya dan ibunya, serta perkembangan kehamilan yang kini sudah memasuki bulan keenam. Reno mengirimkan laporan itu secara profesional, tanpa ada bumbu emosional.
"Bagaimana dengan Nyonya Ratna?" tanya Arka tanpa menoleh.
"Sidang pembacaan vonis akan dilakukan lusa, Tuan. Pengacaranya mencoba mengajukan banding atas dasar kondisi kesehatan mental, namun jaksa memiliki bukti kuat bahwa semua tindakannya dilakukan secara sadar dan terencana," jawab Bayu.
Arka mengangguk dingin. "Pastikan dia mendapatkan hukuman maksimal. Aku tidak ingin ada celah sedikit pun."
"Baik, Tuan. Dan... ada satu tamu yang sudah menunggu di lobi sejak pagi. Beliau menolak pergi sebelum bertemu Anda."
"Siapa?"
"Tuan Prasetyo."
Keheningan menyelimuti ruang tamu pribadi Arka saat Prasetyo masuk. Pria paruh baya itu tampak jauh lebih tua. Rambutnya memutih sepenuhnya, dan langkahnya tidak lagi tegap. Ia menatap Arka dengan perasaan campur aduk—antara takut, benci, dan rasa bersalah yang mendalam.
"Untuk apa kau ke sini, Yah?" Arka akhirnya memecah kesunyian. Ia tidak lagi menggunakan nada menghina, namun suaranya tetap datar.
Prasetyo duduk perlahan di sofa beludru. "Aku baru saja kembali dari rumah sakit. Istriku... dia sudah bisa bicara lewat telepon meski masih terbata-bata. Dia menceritakan semuanya, Arka. Tentang betapa menderitanya Alya di rumah ini."
Arka memalingkan wajah. Topik itu selalu menjadi duri yang menusuk ulu hatinya.
"Aku datang bukan untuk meminta maaf atas kesalahan bisnisku di masa lalu," lanjut Prasetyo, suaranya bergetar. "Aku tahu aku salah karena tidak jujur padamu saat itu. Tapi aku ke sini untuk memberikanmu ini."
Prasetyo meletakkan sebuah amplop tua yang sudah kusam ke atas meja. Di dalamnya terdapat sebuah surat perjanjian asli dari tiga puluh tahun yang lalu.
"Ini adalah surat yang tidak sempat dibaca ayahmu sebelum dia meninggal. Ayahmu tidak dikhianati, Arka. Kami justru bekerja sama untuk menyelamatkan aset dari kejaran kreditor saat krisis itu. Uang yang kau kira aku curi... sebenarnya adalah dana yang ayahmu titipkan kepadaku untuk disimpan atas namamu, jika suatu hari nanti perusahaannya benar-benar bangkrut."
Arka tertegun. Ia meraih surat itu dengan tangan gemetar. Ia membaca setiap barisnya. Tanda tangan ayahnya ada di sana, jelas dan sah.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya sejak dulu? Kenapa kau membiarkan aku membencimu dan menghancurkan hidup Alya?!" raung Arka, amarahnya kembali meledak.
"Karena aku takut," isak Prasetyo. "Setelah ayahmu meninggal, keluargamu sangat agresif. Ratna menghasut semua orang bahwa aku adalah pencurinya agar dia bisa menguasai sisa aset ayahmu. Aku diancam, Arka. Dan aku pengecut. Aku menggunakan uang itu untuk membangun bisnisku sendiri demi bertahan hidup, tapi aku selalu merasa dihantui."
Arka menjatuhkan surat itu. Seluruh hidupnya, seluruh dendamnya, ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan yang diciptakan oleh ibu tirinya sendiri. Ia telah menghancurkan Alya—wanita yang seharusnya ia lindungi—hanya karena sebuah kesalahpahaman yang dipelihara oleh kebencian.
"Kau menghancurkan segalanya, Yah," bisik Arka parau. "Kau membiarkan aku menjadi iblis bagi putrimu sendiri."
"Aku tahu. Karena itu, bunuhlah aku jika itu membuatmu merasa lebih baik. Tapi tolong... jangan benci anak yang ada di rahim Alya. Dia tidak bersalah atas dosa kakek maupun ayahnya."
Malam itu, Arka tidak pulang ke rumah. Ia duduk di kantornya hingga larut malam, menatap surat perjanjian itu. Kebenaran yang baru saja ia ketahui terasa lebih menyakitkan daripada kebohongan mana pun. Ia merasa tidak lagi memiliki hak untuk sekadar menyebut nama Alya.
Ia mengambil ponselnya, menatap nomor Reno. Ia ingin menelepon, ingin berteriak memberi tahu Alya bahwa mereka semua adalah korban dari permainan Ratna dan ketakutan Prasetyo. Namun, ia berhenti.
Apa gunanya? pikirnya pahit. Kebenaran ini tidak akan menghapus memar di wajahnya. Kebenaran ini tidak akan mengembalikan bulan-bulan ketakutan yang ia lalui.
Arka kemudian membuka laptopnya. Ia mulai mengetik sesuatu. Bukan surat untuk Alya, melainkan sebuah pernyataan pengakuan publik yang akan membersihkan nama Prasetyo sepenuhnya dan mengakui kesalahannya sendiri sebagai suami yang gagal.
Sementara itu, di Richmond, salju pertama mulai turun menyelimuti London. Alya berdiri di depan jendela, memegang cangkir cokelat panas. Ia merasa bayinya menendang dengan kuat malam ini.
"Kau merasakannya juga, Nak? Salju pertamamu," bisik Alya sambil mengelus perutnya.
Pintu apartemen terbuka, Reno masuk dengan wajah yang tampak serius. Ia membawa sebuah koran bisnis internasional edisi digital.
"Al, kau harus melihat ini," ucap Reno.
Alya membaca berita utama di layar tablet Reno. “CEO Dirgantara Group, Arka Dirgantara, Mengundurkan Diri dan Melakukan Permohonan Maaf Publik kepada Keluarga Prasetyo.”
Di bawah berita itu, terdapat kutipan langsung dari Arka: *“Saya telah bertindak sebagai hakim yang buta di atas kebenaran yang diputarbalikkan. Mulai hari ini, saya akan menyerahkan seluruh kepemimpinan perusahaan kepada dewan direksi dan mendedikasikan hidup saya untuk menebus luka yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya sembuh.”*
Alya terduduk lemas di kursi. Cangkir cokelatnya hampir terlepas. Ia menatap foto Arka di berita itu—pria itu tampak hancur, namun ada semacam kejujuran yang terpancar dari matanya.
"Dia melepaskan semuanya, Al. Kekuasaannya, hartanya, reputasinya... hanya untuk membersihkan nama ayahmu," ujar Reno pelan.
Alya memejamkan mata. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dendam itu kini telah benar-benar luruh, namun menyisakan rasa perih yang baru. Ia menyadari bahwa Arka tidak lagi mencoba mengejarnya dengan kekuasaan, melainkan dengan kerendahan hati yang paling dalam.
"Reno..."
"Ya?"
"Boleh aku mengirimkan sesuatu padanya?"
Reno mengangguk. "Apapun yang kau mau."
Alya mengambil sebuah kartu ucapan kosong. Ia tidak menuliskan kata-kata maaf, karena ia belum siap untuk itu. Ia hanya menuliskan satu baris singkat:
"Dia laki-laki. Namanya akan ku awali dengan huruf 'A', seperti namamu. Tapi biarlah dia tumbuh dengan hatiku, bukan dengan dendammu."
Kartu itu dikirim malam itu juga melintasi samudera. Sebuah pesan sederhana yang menandakan bahwa meski luka itu masih ada, pintu maaf yang selama ini tertutup rapat, kini mulai terbuka sedikit—memberikan ruang bagi cahaya fajar untuk masuk ke dalam hati yang selama ini membeku. Di Jakarta, Arka menerima kartu itu di tengah kesunyian rumahnya yang luas, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum di tengah tangisnya. Penebusan itu masih panjang, namun harapan itu kini memiliki nama.