Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Sang Iblis Mulai Penasaran
Mansion Vancort biasanya merupakan tempat di mana setiap inci udaranya diatur oleh disiplin militer dan keheningan yang mencekam. Namun, pasca pertemuan dengan Oracle, Leon Vancort menemukan dirinya terjebak dalam sebuah kondisi medis yang belum pernah ia alami selama tiga puluh tahun hidupnya: Rasa Penasaran yang Akut.
Donovan—tangan kanan kepercayaannya, pria yang memegang kunci logistik seluruh organisasi—adalah pengkhianatnya. Informasi itu seharusnya membuat Leon segera memerintahkan eksekusi tanpa ampun. Namun, kehadiran Ailen di sisinya telah mengubah cara kerja otaknya. Alih-alih langsung mengirim tim Alpha untuk melenyapkan Donovan, Leon justru terduduk di kursi kebesarannya, menatap Ailen yang sedang asyik mencoba menyeimbangkan sebuah sendok di atas hidungnya.
"Ailen," panggil Leon pelan.
"Bentar, Mas... satu detik lagi... rekor dunia nih..." Ailen bergumam dengan mata juling, fokus pada sendok perak yang bergoyang di ujung hidungnya. Trak! Sendok itu jatuh menimpa bibirnya. "Aduh! Ya ampun, sendoknya nggak kooperatif banget."
"Ailen, fokus," Leon memajukan tubuhnya. "Oracle bilang kau adalah anomali. Dia bilang kau membawa kehancuran sekaligus keselamatan. Aku mulai penasaran... apa sebenarnya yang kau pikirkan saat kita berada di tengah bahaya? Kau tidak takut mati?"
Ailen mengerjapkan mata, lalu tertawa kecil sambil merapikan daster batik yang baru ia ganti setelah gaun merahnya hancur. "Takut mati? Ya takutlah, Mas! Emangnya saya ini kecoak yang punya nyawa sembilan? Tapi masalahnya, kalau saya takut terus nangis-nangis, pelurunya nggak bakal jadi kerupuk kan? Mending saya mikirin gimana caranya supaya peluru itu nggak kena saya, atau minimal gimana caranya biar saya mati dalam keadaan kenyang."
Leon menyandarkan punggungnya. Jawaban itu sederhana, namun bagi seorang pria yang hidup dalam kalkulasi risiko yang dingin, filosofi "mati dalam keadaan kenyang" milik Ailen adalah sebuah kode biner yang sulit dipecahkan.
Rasa penasaran Leon meluap ke ranah yang lebih pribadi. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Ailen yang selama ini ia anggap sebagai kebisingan latar belakang.
Ia memperhatikan bagaimana Ailen selalu menyisakan potongan daging terakhir di piringnya untuk "disembah" (istilah Ailen untuk dinikmati di akhir tanpa gangguan). Ia memperhatikan bagaimana Ailen bisa tertidur pulas hanya dalam waktu tiga detik setelah kepalanya menyentuh bantal, bahkan jika di luar sedang ada latihan menembak.
Malam itu, Leon tidak bisa tidur. Ia berjalan menuju kamar Ailen. Pintu kamar itu tidak dikunci—sebuah kecerobohan yang biasanya akan membuat Leon mengamuk, namun sekarang ia hanya menghela napas.
Ia masuk dan melihat Ailen tidur dengan posisi yang sangat tidak beraturan. Kakinya berada di atas bantal, kepalanya menggantung di tepi tempat tidur, dan ia memeluk sebuah guling yang sudah ia beri nama "Guling Jenderal".
Leon duduk di kursi di sudut kamar, memperhatikannya dalam kegelapan. Siapa kau sebenarnya, Ailen Gavril? batinnya. Bagaimana bisa seorang gadis panti asuhan yang tidak punya apa-apa bisa menghancurkan tembok pertahananku yang sudah kubangun bertahun-tahun?
Tiba-tiba, Ailen mengigau. "Jangan... jangan ambil... rendangnya... itu punya Mas Leon..."
Leon tertegun. Bahkan dalam tidurnya, gadis ini memikirkan dirinya—meskipun dalam konteks potongan daging rendang. Rasa penasaran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat, sesuatu yang membuat Leon merasa... manusiawi.
Keesokan paginya, suasana kembali tegang. Marco masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat. "Tuan, Donovan bergerak. Dia membawa dua ratus orang menuju gudang distribusi di Utara. Dia tahu kita sudah tahu."
Leon berdiri, matanya kembali dingin. "Siapkan pasukan. Kita selesaikan ini sekarang."
"Mas Leon! Tunggu!" Ailen berlari masuk sambil membawa sebuah kardus besar. "Saya punya ide buat ngadain sambutan meriah buat Om Donovan."
"Ailen, ini perang sesungguhnya. Donovan bukan Baron Van Houtten yang bisa kau pukul dengan kaki kalkun," ucap Leon tegas.
"Iya, saya tahu! Makanya saya nggak pake kaki kalkun. Saya pake ini!" Ailen membuka kardusnya. Isinya adalah ratusan kaleng lem tikus super lengket dan berpuluh-puluh karung tepung terigu.
Marco menatap kardus itu dengan bingung. "Nona, apa yang akan kita lakukan dengan lem tikus? Membuat jebakan untuk hama?"
"Persis! Om Donovan itu kan tikus kantor, jadi kita pake jebakan tikus!" Ailen menjelaskan dengan mata berbinar. "Gudang Utara itu lantainya halus banget kan? Kalau kita tumpahin lem tikus di sepanjang lorong masuk, terus kita kasih tepung terigu di atasnya biar nggak kelihatan, pas mereka lari masuk... zlap! Mereka bakal nempel kayak prangko!"
Leon terdiam. Ia mencoba memvisualisasikan pasukan elit Donovan yang bersenjata lengkap, tiba-tiba terjebak dalam lem lengket dan berlumuran tepung. Itu bukan strategi militer; itu adalah adegan komedi tampar-tamparan.
"Ailen, itu tidak akan berhasil," kata Leon.
"Mas, percaya deh sama saya sekali ini lagi. Mereka itu profesional, mereka pasti nyangka kita bakal pasang bom atau jebakan laser. Mereka nggak bakal nyangka kalau musuhnya adalah barang-barang dari toko bangunan."
Leon menatap Marco. Marco hanya mengangkat bahu, seolah-olah sudah pasrah pada apa pun yang diputuskan bosnya. Leon kembali menatap Ailen. Rasa penasarannya memuncak. Ia ingin melihat apakah kegilaan Ailen bisa sekali lagi memenangkan logika dunia hitam.
"Baiklah," ucap Leon. "Marco, siapkan tim untuk memasang 'Jebakan Tikus' Ailen di seluruh pintu masuk gudang Utara. Tapi tetap siapkan penembak jitu jika ini gagal."
Pukul empat pagi, gudang Utara tampak sunyi. Donovan dan pasukannya bergerak dalam senyap. Mereka menggunakan kacamata night vision dan bergerak dalam formasi tempur yang sempurna. Donovan yakin, dengan jumlah orang sebanyak ini, ia bisa menghancurkan Leon Vancort dalam hitungan menit.
"Masuk! Sektor satu, bersihkan!" perintah Donovan melalui radio.
Pasukan pertama mendobrak pintu besi. Mereka berlari masuk dengan kecepatan tinggi. Namun, begitu kaki mereka menginjak lantai lorong utama...
Sluuurrrp! Cekleeee!
"Apa ini?!" teriak salah satu tentara bayaran. Ia mencoba mengangkat kakinya, namun sepatu bot taktisnya justru semakin melekat erat pada lantai. Rekannya yang di belakang tidak sempat mengerem dan menabraknya dari belakang.
Bruk! Gedebuk!
Dalam sekejap, sepuluh orang pertama sudah bertumpukan di lantai. Lem tikus super lengket yang sudah diatur Ailen benar-benar bekerja secara magis. Semakin mereka meronta, semakin banyak bagian tubuh mereka yang menempel.
"Tepung! Ini tepung?!" teriak yang lain saat Ailen (yang entah sejak kapan berada di ventilasi atas) mulai menumpahkan berkarung-karung tepung terigu ke bawah menggunakan kipas angin raksasa.
Suasana gudang yang tadinya mencekam berubah menjadi adegan dapur yang kacau. Pasukan Donovan kini tampak seperti adonan kue berjalan—putih, lengket, dan benar-benar tidak berdaya.
"Tembak! Tembak ke atas!" teriak Donovan panik dari barisan belakang.
Namun, saat mereka mencoba mengangkat senjata, tangan mereka yang sudah terkena lem tikus justru menempel pada pelatuk atau bahkan menempel satu sama lain. Beberapa orang bahkan tidak sengaja menempelkan wajah mereka ke punggung rekan di depannya, menciptakan barisan manusia yang sangat canggung.
Leon keluar dari balik tumpukan kontainer, diikuti oleh Marco. Leon tidak perlu melepaskan satu peluru pun. Ia hanya berdiri di sana, menatap Donovan yang sekarang sedang berusaha melepaskan kakinya yang terjepit di antara dua rekannya yang sudah berlumuran tepung.
"Donovan," panggil Leon dengan suara datar. "Kau ingin menguasai duniaku, tapi kau bahkan tidak bisa menguasai lantai gudangku."
Donovan menatap Leon dengan penuh kebencian, namun wajahnya yang putih penuh tepung membuatnya sulit untuk terlihat mengintimidasi. "Vancort... kau... kau curang! Ini bukan cara bertarung seorang pria!"
"Memang bukan," sahut Leon. Ia melirik ke arah ventilasi. "Ini adalah cara bertarung seorang anomali."
Ailen melompat turun dari ventilasi (menggunakan tali pengaman yang dipasangkan Marco sebelumnya). Ia mendarat dengan anggun—setidaknya menurut versinya—dan berjalan mendekati Donovan.
"Om Donovan, udah saya bilang kan, jangan jadi tikus. Tikus itu akhirnya selalu berakhir di lem tikus," ucap Ailen sambil memberikan sebuah kerupuk udang kepada Donovan. "Nih, buat ganjel perut pas di penjara nanti. Biar nggak pucet banget mukanya."
Pasukan Vancort segera mengamankan Donovan dan anak buahnya. Mereka harus menggunakan minyak sayur dalam jumlah besar untuk melepaskan para tawanan itu dari lantai—sebuah proses yang memakan waktu tiga jam dan penuh dengan suara rintihan yang memalukan.
Setelah semuanya selesai, Leon dan Ailen berdiri di dermaga luar gudang, menatap matahari terbit yang berwarna oranye keemasan.
"Mas Leon?"
"Ya?"
"Mas masih penasaran kenapa saya nggak takut mati?" tanya Ailen tiba-tiba.
Leon menoleh, menatap wajah Ailen yang terkena sedikit bedak tepung di pipinya. "Ya. Aku masih tidak mengerti bagaimana pikiranmu bekerja."
Ailen tersenyum, kali ini senyumnya sangat tulus dan tenang. "Karena sejak saya ketemu Mas, saya ngerasa kalau saya nggak bakal mati sia-sia. Mas itu kayak jangkar buat saya. Kalau saya melayang terlalu jauh ke kegilaan, Mas yang narik saya balik. Dan kalau Mas terlalu tenggelam dalam kegelapan, saya yang bakal narik Mas ke atas."
Ailen menggandeng tangan Leon. "Jadi, daripada takut mati, saya lebih milih buat bikin Mas penasaran terus. Karena kalau Mas penasaran, Mas bakal terus merhatiin saya. Dan kalau Mas merhatiin saya, Mas nggak bakal sempet mikirin buat jadi Iblis lagi."
Leon terdiam. Rasa penasarannya kini telah terjawab, namun jawaban itu justru menimbulkan perasaan baru yang jauh lebih kuat. Ia meremas tangan Ailen dengan lembut.
"Kau benar-benar berbahaya, Ailen Gavril," bisik Leon. "Kau tidak membunuhku dengan peluru, tapi kau membunuh sisiku yang kejam dengan lem tikus dan tepung terigu."
Ailen tertawa renyah, kepalanya bersandar di bahu Leon. "Itu namanya diet mental, Mas! Biar Mas nggak terlalu berat bawa beban dosa."
"Ayo pulang, Ailen. Aku ingin makan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tepung atau lem."
"Nasi goreng spesial buatan Mas Leon?"
"Hanya jika kau berjanji tidak akan menaburkan BonCabe level 30 ke dalamnya."
"Hehe... nggak janji ya, Mas!"
Mereka berjalan menuju mobil, meninggalkan gudang yang penuh dengan aroma minyak sayur dan sisa-sisa pengkhianatan yang gagal total. Sang Iblis mungkin masih memiliki banyak rahasia, tapi satu hal yang pasti: ia tidak lagi penasaran tentang masa depannya. Karena selama ada si Gadis Semprul di sampingnya, masa depan itu—setidaknya—akan selalu memiliki rasa gurih dan penuh tawa.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍