Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 8: "SUNYI YANG KEMBALI" part 3
Dia kembali fokus pada layar laptop dengan senyum lebar, sementara Malakos tersenyum dan mulai membersihkan meja yang ada di ruang tamu. Di luar, bulan semakin terang dan menyinari Desa Wening dengan cahaya yang penuh dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik—dimana manusia dan makhluk gaib bisa hidup berdampingan dengan damai, penuh dengan cerita, hiburan, dan tentunya, banyak snack yang lezat.
Lampu bohlam kuno di ruang tamu menyala dengan cahaya kuning hangat, menambah suasana nyaman yang sudah terasa di setiap sudut rumah. Suara klik keyboard dan klik mouse berirama menyatu dengan tawa dan suara terkejut yang keluar dari mulut Jay dan teman-temannya.
• RUANG TAMU - MALAM
Jay lagi main game bareng Malakos, Zora, dan beberapa makhluk gaib lainnya—layar laptop yang besar menampilkan dunia game yang penuh warna, dengan karakter-karakter yang dikendalikan oleh masing-masing dari mereka bergerak bersama untuk menyelesaikan misi akhir. Zora dengan bentuknya yang kini bisa muncul sebagai karakter dalam game sedang menggunakan kemampuan bunga-bunganya untuk membantu tim maju, sementara salah satu makhluk gaib dari Kampung Kemarin yang bisa mengendalikan angin sedang membimbing mereka melalui medan yang sulit. Meja kecil di sebelah sofa penuh dengan berbagai macam snack—keripik, biskuit, kacang rebus, bahkan ada potongan buah segar yang diberikan oleh nenek Jay sebelum dia tidur.
Malakos yang sudah mahir bermain game kini fokus mengendalikan karakter pendukungnya dengan tangan yang lincah. Kadang kala dia mengambil snack dari meja dan memberikannya ke Jay yang terlalu fokus untuk meraih sendiri. "ꀘꋬꂵ꒤ ꉣꏂꋪ꒒꒤ ꂵꋬꀘꋬꋊ ꋬꍌꋬꋪ ꏂꋊꏂꋪꍌ꒐ ꓄ꏂ꓄ꋬꉣ ꓄ꏂꋪ꒻ꋬꍌꋬ ꒻ꋬꌦ," ucapnya dengan suara yang lembut namun tetap fokus pada layar. "ꀘꋬ꒒ꋬ꒤ ꀘꋬꂵ꒤ ꒒ꏂ꒒ꋬꁝ, ꀘ꒐꓄ꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꒻ꏂ꒯ꋬ ꇙꏂꃳꏂꋊ꓄ꋬꋪ ꇙꋬ꒻ꋬ."
Zora yang sedang berada di sisi lain sofa tertawa riang ketika karakter yang dia kendalikan berhasil mengalahkan musuh besar kecil. "꒐ꋊ꒐ ꇙꋬꋊꍌꋬ꓄ ꂵꏂꋊꌦꏂꋊꋬꋊꍌꀘꋬꋊ!" ucapnya dengan mata yang bersinar. "꒯꒐ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꇙꋬꌦꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꋬ꒯ꋬ ꍌꋬꂵꏂ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꒐ꋊ꒐—ꀘꋬꂵ꒐ ꃳ꒐ꋬꇙꋬꋊꌦꋬ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꃳꏂꋪꂵꋬ꒐ꋊ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꃳ꒤ꋊꍌꋬ ꒯ꋬꋊ ꋬꋊꍌ꒐ꋊ. ꓄ꋬꉣ꒐ ꒐ꋊ꒐ ꒻ꋬ꒤ꁝ ꒒ꏂꃳ꒐ꁝ ꇙꏂꋪ꒤!"
Di tengah meja yang sudah dibersihkan Malakos, Buku tua itu terbuka di meja dan menampilkan tulisan akhir untuk Season 2:
"ᛇ𐌵ᚻᚶᚽ ᚶᚣᚻᏵ ᛒᛊᚱᚽᛇᚽᛕ ᛇᛊᚣᛇᛟᚻ 2 ᛇᛊᛕᚣᚱᚣᚻᏵ ᛕᛊᛖᛒᚣᚳᚽ ᛖᛊᚻᒍᚣᚦᚽ ᛘᛊᚻᚣᚻᏵ. ᛘᛊᛘᚣᚹᚽ ᛇ𐌵ᚻᚶᚽ ᚽᚻᚽ ᛘᚽᚦᚣᛕ ᚳᚣᏵᚽ ᛘᛊᚻᚣᚻᏵ—ᚽᚣ ᚦᚽᚽᛇᚽ ᚦᛊᚻᏵᚣᚻ ᛈᛊᚱᚽᛘᚣ ᚦᚣᚻ ꃅ𐌵ᛒ𐌵ᚻᏵᚣᚻ ᚶᚣᚻᏵ ᛇ𐌵ᚦᚣꃅ ᚦᚽᛒ𐌵ᚣᛘᛕᚣᚻ."
Tulisan tersebut muncul dengan cahaya emas yang lembut, seolah sedang menyampaikan pesan yang penuh dengan kedamaian. Setiap huruf tampak seperti sedang bergetar perlahan, menyimpan energi dari semua cerita yang telah terjadi di musim kedua ini. Cahaya dari buku itu sedikit menerangi wajah mereka yang sedang asik bermain game, menambah kesan misterius namun tetap hangat di ruangan.
Setelah beberapa menit lagi berjuang dalam game, Jay berhasil mengalahkan bos akhir dengan gerakan yang tepat. Layar laptop menunjukkan pesan kemenangan yang besar, dengan efek cahaya yang menyala terang. Semua orang mulai bersorak riang, dengan suara yang memenuhi ruang tamu dan bahkan terdengar sampai ke luar rumah.
Jay menarik napas panjang dan mengeluarkan napas dengan senyum puas. Dia mematikan suara game sebentar dan melihat ke arah layar yang masih menampilkan pesan kemenangan, lalu perlahan melihat langsung ke arah pembaca dengan wajah yang penuh dengan candaan dan kedamaian.
JAY: "Jadi ini aja ya akhir dari Season 2nya. Semua masalah sudah terselesaikan, aturan dunia jadi lebih baik, dan kita semua bisa hidup damai lagi. Tentu aja dengan cara yang gak ribet dan tetap nyaman buat saya!"
Suaranya terdengar jelas dan riang, sambil dia mengambil sejumput keripik dari meja dan mengemilnya dengan santai. Dia menunjuk ke buku tua yang masih terbuka di meja. "꒒꒐ꁝꋬ꓄ ꋬ꒻ꋬ, ꃳꋬꁝꀘꋬꋊ ꃳ꒤ꀘ꒤ ꒐ꋊ꒐ ꒻꒤ꍌꋬ ꃳ꒐꒒ꋬꋊꍌ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꓄ꏂꋊꋬꋊꍌ ꇙꏂꀘꋬꋪꋬꋊꍌ. ꒻ꋬ꒯꒐ ꇙꏂꀘꋬꋪꋬꋊꍌ ꇙꋬꌦꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꊰꄲꀘ꒤ꇙ ꋬ꒻ꋬ ꂵꋬ꒐ꋊ ꍌꋬꂵꏂ, ꋊꄲꋊ꓄ꄲꋊ ꋬꋊ꒐ꂵꏂ, ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꋊ꒐ꀘꂵꋬ꓄꒐ ꇙꋊꋬꉔꀘ ꓄ꋬꋊꉣꋬ ꋬ꒯ꋬ ꂵꋬꇙꋬ꒒ꋬꁝ ꃳꏂꇙꋬꋪ ꌦꋬꋊꍌ ꂵꏂꋊꍌꍌꋬꋊꍌꍌ꒤."
Namun tak lama setelah dia berkata demikian, ada sesuatu yang mulai berubah. Tiba-tiba buku tua itu mulai bergetar perlahan—getarannya semakin kuat seiring waktu, membuat halamannya bergeser dengan sendirinya. Cahaya emas yang tadinya lembut mulai berubah menjadi warna ungu muda yang lebih misterius, dan muncul tulisan baru:
"ᛈᛊᚱᚽᛘᚣ ᛒᛊᚳ𐌵ᛖ ᛇᛊᚳᛊᛇᚣᚽ. ᚣᚦᚣ ᚱᚣꃅᚣᛇᚽᚣ ᛘᛊᚱᛒᛊᛇᚣᚱ ᚶᚣᚻᏵ ᛒᛊᚳ𐌵ᛖ ᛘᛊᚱ𐌵ᚻᏵᛕᚣᚹ—ᚣᛇᚣᚳ ᛖ𐌵ᚳᚣ ᛇᛊᛖ𐌵ᚣ ᚦ𐌵ᚻᚽᚣ ᚽᚻᚽ ᚦᚣᚻ ᛇᚣᚻᏵ ᚹᛊᚻ𐌵ᚳᚽᛇ ᚶᚣᚻᏵ ᛖᛊᚻᛈᚽᚹᛘᚣᛕᚣᚻ ᛇᛊᛖ𐌵ᚣ ᛈᛊᚱᚽᛘᚣ. ᛇᛊᚣᛇᛟᚻ 3 ᚣᛕᚣᚻ ᛖᛊᛖᛒ𐌵ᛕᚣ ᛇᛊᛖ𐌵ᚣ ᚱᚣꃅᚣᛇᚽᚣ ᚽᛘ𐌵."
Tulisan ini muncul dengan cahaya yang lebih terang dari sebelumnya, membuat seluruh ruang tamu menjadi lebih terang. Suara dering lembut terdengar dari buku tersebut, seolah sedang memberi isyarat akan sesuatu yang sangat penting. Semua makhluk gaib yang ada di ruangan menjadi tenang, dengan wajah yang menunjukkan rasa penasaran dan sedikit kekaguman.
Malakos mengangguk dan berkata:
MALAKOS: "Ada sesuatu yang lebih besar dari semua dimensi yang kita kenal. Sang pencipta yang membuat dunia hiburan ini ternyata punya alasan khusus mengapa memilih kamu sebagai Titik Diam utama."
Dia menjelaskan bahwa sejak awal, ada kekuatan yang lebih besar yang mengawasi semua dimensi dan semua cerita yang ada di dalamnya. Sang pencipta tidak hanya membuat dunia fisik semata, tapi juga semua bentuk hiburan—game, anime, musik, dan cerita—yang menjadi jembatan antara makhluk satu sama lain. Malakos sendiri baru saja mengetahui hal ini dari energi yang datang dari buku tua tersebut.
"ꀘꋬꂵ꒤ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꒯꒐ꉣ꒐꒒꒐ꁝ ꀘꋬꋪꏂꋊꋬ ꀘꋬꂵ꒤ ꋬ꒯ꋬ꒒ꋬꁝ ꉔ꒤ꉔ꒤ ꒯ꋬꋪ꒐ ꃳ꒤꒯꒐ ꇙꋬꋊ꓄ꄲꇙꄲ," lanjut Malakos dengan suara yang lebih serius. "ꋬ꒯ꋬ ꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌꋬꋊ ꀘꁝ꒤ꇙ꒤ꇙ ꋬꋊ꓄ꋬꋪꋬ ꀘꋬꂵ꒤ ꒯ꋬꋊ ꇙꋬꋊꍌ ꉣꏂꋊꉔ꒐ꉣ꓄ꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꃳꏂ꒒꒤ꂵ ꓄ꏂꋪ꒤ꋊꍌꀘꋬꉣ. ꒐꓄꒤ ꂵ꒤ꋊꍌꀘ꒐ꋊ ꒻꒤ꍌꋬ ꋬ꒒ꋬꇙꋬꋊ ꂵꏂꋊꍌꋬꉣꋬ ꀘꋬꂵ꒤ ꇙꏂ꒒ꋬ꒒꒤ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂꋊꏂꂵ꒤ꀘꋬꋊ ꉔꋬꋪꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꋊ꓄ꋬ꒐ ꒯ꋬꋊ ꉣꏂꋊ꒤ꁝ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉔ꒐ꋊ꓄ꋬ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꋊꌦꏂ꒒ꏂꇙꋬ꒐ꀘꋬꋊ ꂵꋬꇙꋬ꒒ꋬꁝ ꃳꏂꇙꋬꋪ."
Jay hanya mengangguk tanpa terlalu khawatir, sambil sudah mulai menekan tombol untuk melanjutkan game ke mode berikutnya.
JAY: "Ya sudah lah, masalah besar itu kita pikirin di Season 3 aja. Sekarang saya mau fokus menangin game ini dulu—lagi mau dapatkan trophy khusus lho!"
Dia bahkan mulai mengatur kontroler game agar lebih nyaman digunakan. "Kalau memang ada rahasia besar, pasti akan ada waktunya untuk mengungkapkannya. Lagian, aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan di musim ini—ada banyak trophy yang belum aku dapatkan, anime yang belum aku tonton, dan snack baru yang belum aku coba beli dari pasar kota."
Semua makhluk gaib di ruangan mulai tertawa riang, dengan suasana yang kembali menjadi hangat dan riang. Zora mulai mengajak mereka untuk bermain mode baru dalam game, sementara Malakos menyusun snack di meja agar lebih mudah dijangkau.
Di luar rumah, pagar bambu berkilau dengan pola yang lebih kompleks—pola anyam yang tadinya sudah rumit kini tampak memiliki lapisan tambahan yang lebih halus dan indah, dengan bentuk-bentuk yang menyerupai bintang dan buku yang menyala. Dan sumur belakang mengeluarkan cahaya yang menyala perlahan seperti sedang memberi isyarat akan sesuatu yang lebih besar—cahaya tersebut tidak lagi hanya berwarna biru atau putih, tapi berubah-ubah antara warna ungu, biru, dan emas seiring dengan angin yang bertiup.
Seiring dengan malam yang semakin larut, semua makhluk gaib mulai kembali ke tempat masing-masing—Zora kembali ke dimensinya dengan membawa beberapa snack sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya, sementara makhluk gaib dari Kampung Kemarin kembali dengan janji akan datang lagi besok sore untuk main game bareng. Namun mereka semua berjanji bahwa masih sering berkunjung ke rumah Jay untuk main game dan makan snack bersama.
Jay sendiri masih fokus pada layar laptopnya, dengan mata yang bersinar penuh dengan semangat untuk mendapatkan trophy khusus yang dia incar. Malakos sudah menyiapkan teh hangat lagi dan menyebarkan selimut kecil di sofa agar Jay tidak merasa dingin. Di luar, bulan sudah berada di puncak langit, menyinari Desa Wening dengan cahaya yang penuh dengan misteri dan harapan untuk musim ketiga yang akan datang.
Pagar bambu di halaman terus berkilau dengan pola yang semakin kompleks, seolah sedang menyimpan semua rahasia yang akan terungkap nanti. Sumur belakang tetap menyala dengan cahaya yang lembut, sebagai pintu gerbang menuju dunia yang lebih besar yang belum pernah mereka jelajahi. Dan di dalam rumah, suara klik keyboard dan tawa riang masih terdengar, menandakan bahwa cerita memang belum selesai—hanya saja saatnya untuk beristirahat sebentar sebelum petualangan baru yang lebih besar dimulai.