NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah gorden kamar Jolina.

“HAH?!”

Jolina langsung duduk tegak di atas ranjang. Matanya membelalak saat melihat jam di ponselnya.

“MATI GUE!”

Ia meloncat turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi, mandi secepat kilat sampai rambutnya masih setengah basah. Seragam dipakai asal, tas disambar, sepatu bahkan belum sempat dirapikan.

“Kenapa sih alarm gue nggak bunyi?!”

Jolina berlari ke pintu kamar dan memutar gagang pintu. Tidak terbuka, ia mencoba lagi, lebih keras.

Klik.

Tetap terkunci.

“Eh…?”

Jolina menatap gagang pintu itu dengan kening berkerut. Ia menunduk, mencoba menarik—tetap tidak bisa.

“Jangan bilang…”

Ia merogoh saku tas, kosong, menyisir meja belajar, kosong.

Di bawah bantal, kosong.

“ANJIRRR!”

Jolina mulai panik. Ia menggedor pintu kamar.

“MAMA! PAAA! BU RATIIHH!”

Sunyi.

Rumah itu terlalu sepi untuk ukuran pagi hari. Ia meraih ponsel dan langsung menelepon mamanya, tidak diangkat.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

“Angkat dong, Ma… sumpah ini bukan drama,” gumamnya mulai putus asa.

Ia mencoba menelepon papa dan sama saja.

Jolina duduk di lantai, menyandarkan punggung ke pintu kamar. Napasnya mulai memburu.

“Ini ulah siapa lagi kalau bukan dia…” desisnya kesal.

Jeremy.

Nama itu langsung muncul di kepalanya.

Jolina berdiri lagi, matanya menangkap jendela kamar yang terbuka sedikit. Ia berlari mendekat, mendorong jendela itu lebar-lebar, lalu menengok ke bawah.

“PAK SATPAAAM!”

Suaranya menggema.

Satpam yang sedang berjaga di depan rumah langsung menoleh ke atas.

“IYA NON JOLINA?”

“Aku kekunci di kamar! Pintunya nggak bisa dibuka!”

Satpam itu terlihat kaget.

“Hah? Baik non, saya lapor ke Bu Ratih dulu ya!”

“Iya pak, tolong cepet yaa!”

Beberapa menit terasa seperti setengah jam bagi Jolina. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah lorong. Bu Ratih berdiri di depan pintu kamar Jolina, mencoba membuka pintu.

“Non Jolina? Ini beneran dikunci dari luar…”

“KAN!” teriak Jolina frustasi. “Saya nggak bercanda, Bu!”

Bu Ratih terlihat bingung.

“Tadi pagi Tuan dan Nyonya sudah berangkat, Non. Jeremy juga sudah pergi ke sekolah.”

Nama itu lagi, Jolina menggertakkan gigi.

“Bagus,” gumamnya pelan. “Bagus banget.”

Beberapa saat kemudian, pintu kamar berhasil dibuka dengan kunci cadangan.

Begitu pintu terbuka, Jolina langsung keluar dengan wajah kusut, rambut masih basah, dan aura emosi yang nyaris meledak.

“Bu Ratih,” ucapnya sambil mengepalkan tangan, “tolong catat satu hal.”

Bu Ratih menatapnya khawatir.

“Apa, Non?”

“Jeremy.”

Jolina tersenyum—bukan senyum ramah.

“Sukses bikin perang.”

***

Di sekolah, jam pelajaran pertama telah dimulai. Suasana kelas relatif tenang, seluruh siswa sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Di saat yang sama, sebuah motor ojek online berhenti mendadak di depan gerbang sekolah. Jolina turun dengan tergesa, bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar. Ia langsung berlari ke arah gerbang—namun langkahnya terhenti seketika.

Gerbang sekolah sudah tertutup rapat.

“Sial…” gumamnya panik.

Jolina mencoba menarik gerbang itu, namun sia-sia. Napasnya mulai memburu. Dari kejauhan, ia melihat satpam sekolah dan langsung melambaikan tangan dengan penuh harap.

“Pak! Pak, tolong!” teriaknya.

Satpam itu menoleh, lalu menggeleng pelan. Ia mendekat dan berkata tegas bahwa Jolina sudah terlambat dan diminta untuk pulang saja.

“Jangan, Pak… tolong,” Jolina merengek. “Saya janji nggak akan ngulangin lagi. Mama saya pasti marah besar kalau saya nggak masuk sekolah.”

Ia terus memohon, suaranya hampir bergetar. Melihat wajah Jolina yang pucat dan panik, hati satpam itu akhirnya luluh.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Tapi ada syaratnya. Pulang sekolah nanti kamu harus membersihkan area kolam renang.”

Jolina langsung mengangguk cepat. “Iya, Pak. Iya, saya mau.”

Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari masuk ke dalam area sekolah, menyusuri lorong dengan langkah tergesa. Dadanya naik turun saat ia akhirnya sampai di depan kelas.

Begitu pintu dibuka, seluruh aktivitas di dalam kelas seketika terhenti.

Semua mata tertuju padanya.

Jolina berdiri kaku di ambang pintu, napasnya belum sepenuhnya teratur. Wali kelas menatapnya tajam.

“Kamu tahu sekarang jam berapa, Jolina?” tegurnya dingin.

Jolina menunduk. “Maaf, Bu. Saya terlambat.”

“Kamu pikir ini pasar? Datang sesuka hati?” Bu Lani melipat tangan di dada. “Ini jam pelajaran pertama.”

Wali kelas memarahinya cukup lama. Jolina mendengarkan dengan patuh, lalu mengangkat kepala dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Saya minta maaf, Bu. Saya janji ini tidak akan terulang lagi. Saya juga sudah menerima hukuman dari pak satpam—saya harus membersihkan kolam renang sepulang sekolah.”

Kelas langsung riuh pelan.

Wali kelas menghela napas, lalu mengangguk. “Baik. Silahkan Duduk. Tapi ini peringatan terakhir.”

“Iya, Bu. Terima kasih.”

Jolina segera berjalan ke bangkunya. Begitu duduk, Audrey langsung mendekat dan berbisik.

“Jo… Lo kenapa bisa telat separah ini?”

“Panjang ceritanya,” gumam Jolina kesal. “Dan pelakunya duduk manis di kelas ini.”

Audrey langsung menoleh ke arah tertentu.

Jeremy.

Ia duduk dengan posisi santai, satu tangan menopang dagu, wajahnya tenang—terlalu tenang. Begitu mata mereka bertemu, Jeremy mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.

Senyum yang membuat darah Jolina mendidih.

Dasar ular berbentuk manusia…

Jeremy memiringkan kepala sedikit, bibirnya bergerak tanpa suara.

Telat ya, Kak?

Jolina langsung menajamkan pandangan. Tangannya mengepal di bawah meja.

“Tunggu Lo,” gumamnya pelan. “Ini belum selesai.”

Di depan kelas, Bu Lani kembali menjelaskan materi. Tapi satu hal yang Jolina tahu pasti, hari ini tidak akan berjalan normal.

Dan kolam renang itu… hanyalah pembuka dari balas dendam yang lebih besar.

***

Sebelum jam pelajaran wali kelas berakhir, Bu Lani kembali memanggil nama Jolina. Gadis itu refleks menegakkan tubuhnya, firasat buruk langsung menyergap.

“Karena kamu terlambat hari ini,” ucap Bu Lani tegas, “ibu beri kamu tugas tambahan.”

Jolina hanya bisa mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih, meski hatinya terasa semakin berat.

Bu Lani kemudian melanjutkan, nadanya sedikit melunak, “Kalau kamu tidak paham dengan materinya, kamu bisa bertanya pada Jeremy. Kalian satu rumah, kan? Kakak-adik pula. Sudah seharusnya saling membantu.”

Beberapa siswa langsung melirik ke arah mereka berdua, sebagian berbisik pelan. Jolina menunduk, rahangnya mengeras menahan emosi.

Perlahan, ia melirik ke arah Jeremy.

Laki-laki itu tampak santai, tengah berbincang dengan teman sebangkunya, sesekali tertawa kecil seolah dunia sedang baik-baik saja. Tidak ada raut bersalah, tidak juga rasa canggung.

Melihat itu, dada Jolina terasa semakin sesak. Bukan hanya karena tugas tambahan, bukan hanya karena dipaksa bergantung. Tapi karena setiap kali namanya disandingkan dengan Jeremy, rasa benci itu tumbuh semakin dalam.

Dan untuk pertama kalinya, Jolina benar-benar menyadari satu hal: menjadi saudara tirinya bukan sekadar masalah rumah, melainkan perang yang pelan-pelan sedang dimulai.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!