NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEKAT DENGAN MAUT

“Nonik!”

Santi berteriak histeris. Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin mengalir membasahi bajunya. Tiba-tiba dia melihat Nonik. Nonik membawa boneka beruang coklat kecil ditangan mungilnya.

“Mama ahat. Napa mama inggalin Nonik cendilian.”

Kata Nonik dengan cadel anak usia 5 tahun. Mata kecil Nonik seperti bola kecil berkilauan penuh air mata.

“Ndak, Nonik. Mama nngak ninggalin Nonik. Sini nak, deket mama.”

Tangan Santi berusaha meraih tubuh mungil Nonik.

“Nonik mau pelgi. Mama nngak cayang Nonik lagi.”

Nonik memalingkan kepala mungilnya, beranjak meninggalkan Santi.

“Jangan pergi, nak. Jangan tinggalin mama. Ayuk sini nak, deket mama.”

“Mama ahat. Nonik benci mama.”

Pelan-pelan Nonik menghilang, mengepul seperti uap putih.

“Nonik. Jangan ninggalin mama !!!”

Teriak Santi berlari cepat menuju arah Nonik menghilang. Tapi sebuah tangan kuat memegang pinggangnya.

“Jangan kesana San. Itu jalan raya.”

Teriak Dody panik. Untung dia tadi melihat Santi berjalan keluar rumah sehingga cepat-cepat mendatanginya. Sebuah truk tronton melintas dengan cepat. Terlambat sedikit, Santi ketabrak truk tronton tadi. Dia memeluk Santi erat-erat, sedangkan Santi meronta-ronta ingin lepas.

“Nonik…..Nonik……”

Kemudian Santi pingsan. Dody membopong Santi dan membaringkannya ke tempat tidur. Bibik Harti, pembantu setia Dody memegangi tangan Santi.

“Dia seperti ini terus tuan. Semenjak tuan bawa dari rumah sakit.”

Kata bibik Harti prihatin dengan kondisi Santi. Dody menyentuh dahi Santi dengan lembut. Dia benar-benar hampir hilang akal dengan kondisi ini. Nonik belum ketemu, ditambah Santi seperti orang tidak ingat. Serba salah. Dody benar-benar serba salah. Dia meninju tembok kuat-kuat melampiaskan emosinya.

“Udah bik. Aku nngak pa pa.”

Kata Dody ketika bibik Harti mengusap pundaknya lembut.

“Tenangkan hati tuan dulu.”

Bujuk bibik Harti. Dia prihatin dengan rumah tangga tuannya yang belum genap 1 bulan. Dody terdiam. Dia berpikir sejenak.

TING !

Sebuah pesan masuk. Dari mister Chow.

“Mas. Kami menemukan titik terang. Bisa kemari supaya lebih jelas.”

“Baik, pak. Aku segera kesana.”

Dody memasukkan HP-nya ke saku kemejanya.

“Bik, tolong jaga Santi yang baik ya. pintunya tutup aja biar Santi tetap didalam rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku.”

“Baik, tuan.”

Kata bibik dengan hormat.

Ritonga dan mister Chow segera berdiri menyambut kedatangan Dody. Mereka duduk lagi. Mister Chow memberi kode pada pelayan kafe minta pesanan lagi. Pelayan kafe segera menyajikan kopi susu ke meja pengunjung.

“Maaf. Tadi sedikit ada masalah di rumah.”

Kata Dody sambil membuka tutup gelas kopi susunya. Bau harum segera tercium di hidung Dody.

“Santi berulah lagi.”

Kata mister Chow. Dody menganggukkan kepalanya.

“Sabar….sabar….”

Kata mister Chow menghibur Dody.

“Oke lanjut. Gimana hasilnya.”

Kata Dody melihat Ritonga.

“Ada laporan mencurigakan. Seorang dokter bernama Sapto, tiba-tiba menghilang dari rumahnya kemarin. Istrinya sudah menelpon HP suaminya tetapi HP-nya tidak aktif. Ternyata HP-nya tertinggal di rumah, tidak sempat dibawa.”

“Apa sudah menghubungi rumah sakit tempatnya bekerja ?”

Sambung Dody.

“Udah. Hasilnya nihil. Dokter itu punya daftar operasi di rumah sakit KM tapi dokternya tidak datang sampe sekarang.”

“Ou. Apa itu berhubungan dengan hilangnya Nonik.”

Sambung Dody lagi.

“Ntahlah. Tapi bukankah Nonik sakit keras. Dia butuh dokter untuk merawatnya.”

Dody berpikir keras. Mungkinkah yang mengambil Nonik, membawa dokter itu untuk merawat Nonik yang sakit keras. Masuk akal.

“Kebetulan rumah dokter itu di daerah Harmoni. Jadi kemungkinan besar, bisa jadi dokter itu dibawa yang mengambil Nonik.”

“Sapa nama dokternya?”

Tanya Dody.

“Dokter Sapto. Praktek di rumah sakit KM.”

Jawab Ritonga pendek.

“Oke. Kita mulai dari dokter Sapto yang hilang. Menurutmu yang ngambil Nonik lari ke daerah Harmoni sedangkan dokter itu rumah tinggalnya deket daerah Harmoni, tepatnya perbatasan antara Harmoni dengan pusat kota yang ramai.”

“Yak.”

“Kau udah nemui istrinya?”

“Udah.”

Dody berpikir lagi. Kalau titik rumah tinggal dokter itu di perbatasan antara pusat kota dengan Harmoni. Juga orang yang mengambil Nonik lari ke daerah Harmoni, besar kemungkinan tempat persembunyiannya agak dekat dengan titik tempat tinggal dokter itu.

“Kau tau, disekitar lingkungan tinggal dokter itu apa. Misalkan apakah berbukit, ada hutannya atau tanda yang lain.”

“Itu masuk jalanan yang sepi. Jarang kendaraan lewat. Karena tempat tinggal dokter itu masuk ke daerah paling pinggir, tepatnya perdusunan yang jarang penduduknya, hanya warung-warung kecil yang berjejer jarang pembeli yang datang.”

“Gimana kalo kita kesana saja.”

Kata Dody.

“Baik. Tapi abisin kopimu dulu.”

Dody meminum kopi susunya dengan nikmat. Lalu ketiganya berangkat menuju TKP.

Rani tersenyum senang. Nonik menghabiskan bubur yang disuapkan kepadanya.

“Ni anak pinter.”

Kata Rani memegang pipi Nonik lembut. Nonik tertawa senang. Nafasnya masih kedengaran nguk-nguk tapi sudah tidak parah lagi. Jantungnya juga sudah stabil walau bisa saja sewaktu-waktu kumat lagi.

“Sekarang tidur ya, anak pinter.”

“Nngak mau. Nonik nngak mau cidur. Nonik mau jalan-jalan. Lumah cakit cumpek. Nonik mau maen.”

Kata Nonik dengan cadelnya. Rani menarik nafas sejenak. Madun sudah berpesan padanya supaya tidak keluar rumah.

“Jangan keluar rumah, bahaya. Nanti ada yang liat.”

Kata Madun dengan penuh kewaspadaan.

“Anak pinter. Maen disini aja ya.”

Bujuk Rani.

“Nngak mau. Pokoknya nngak mau.”

Teriak Nonik menangis. Matanya yang kecil sudah mengalir airmata dengan deras. Rani kebingungan.

“Ya, baeklah. Tapi deket rumah aja ya sayang.”

Kata Rani menenangkan Nonik.

“Ya, mbak antik.”

“Hih, gemes deh.”

Tangan Rani menepuk pelan pipi Nonik. Nonik tertawa riang.

“Ei, mbak mau kemana.”

Darto menghalangi Rani yang membawa Nonik keluar.

“Darto minggir kau. Aku nngak kemana-mana. Mau ajak bocah ini maen sebentar diluar sekitar rumah.”

Kata Rani menghalau badan Darto yang menghalangi pintu keluar. Tapi Darto tidak mau minggir. Dia masih tetap menghalangi.

“Boss udah pesen jangan keluar rumah. Bahaya.”

“Udah minggir Darto. Aku Cuma deket rumah saja. Ngertiiii!”

“Ta…ta…tapi, mbak kalo boss bangun mbak dan bocah itu nngak ada gimana.”

“Udah nanti aku yang hadapi Madun. Udah kau minggirlah.”

Darto membiarkan Rani lewat. Dia juga kasihan pada Nonik yang diambil pada waktu sakit keras.

“Biarlah. Mungkin dia butuh hiburan.”

Desis Darto pelan.

Rani menggandeng Nonik. Mereka berjalan-jalan di pinggiran rumah melihat pemandangan. Nonik memutar-mutar tubuhnya dengan riang. Sudah beberapa lama dia tidak main seperti ini. Benar-benar hati senang.

“Sayang, hati-hati!”

Kata Rani cemas. Dia melihat Nonik terlalu kuat memutar-mutar tubuhnya.

Nonik tiba-tiba terjatuh. Nafasnya satu dua dan suara nguk-nguk terdengar keras seperti bunyi kereta api lewat. Rani berlari panik dan segera memberikan inhaler pada Nonik. Nonik segera mengisap inhaler tersebut.  Berlahan-lahan nafasnya kembali normal dan bunyi nguk-nguk hanya terdengar sesekali.

Ada seorang yang mengamati keduanya. Orang itu pura-pura mencari rumput dengan sabitnya ketika Rani melihatnya. Cepat-cepat Rani mengajak Nonik pulang setelah Nonik nafasnya normal kembali.

Muka Madun merah padam. Dia marah pada Rani yang ceroboh membawa Nonik keluar rumah. Ketika dia mau bicara, Rani memberi isyarat untuk berhenti dulu. Madun menahan diri, sampai Rani masuk kamar membawa Nonik.

“Ran, kau ni gimana. Udah kuperingatkan napa tak kau perhatikan.”

Cerocos Madun begitu Rani keluar dari kamar.

“Sssssstttttt. Bocah itu nanti denger. Ayuk keluar dari sini.”

Pinta Rani pelan.

Setelah keluar dari rumah, Madun menumpahkan kemarahannya kepada Rani.

“Ran, kau ni macam orang tak paham keadaan. Kita, orang yang dicari-cari. Kau tau itu.”

Teriak Madun memarahi Rani. Rani hanya mendengarkan saja Madun marah.

“Kalo sampe ada orang liat, tuh bahaya buat kita. Kita dalam masalah. Ngertiiii!”

Rani diam saja menyimak Madun bicara. Setelah Madun diam baru Rani berbicara.

“Udahan marahnya. Gantian aku bicara, okeee!”

Rani menaikkan tensi bicaranya perlahan. Madun diam saja.

“Oke…..oke…..aku salah. Aku minta maaf. Tapi bocah tuh butuh udara segar. Dia sakit pernafasan. Tauuu!”

Madun hanya diam terus tidak menyambung bicaranya Rani. Sekali Rani bicara keras, Madun lebih baik mengalah saja. Takut kalau Rani nanti meninggalkan dirinya lagi, karena dia dulu berani membalas bicaranya Rani 5 tahun yang lalu.

“Dia sakit, Madun, sakit. Dia di kamar sumpek ventilasi sedikit. Dia tuh tersiksa banget. Dia butuh udara segar.”

“Yak Ran. Oke itu untuk bocah itu. Tapi pa tadi tidak ada yang liat kau sama bocah itu.”

Rani terdiam. Dia tadi memang melihat seorang yang melihatnya diam-diam. Begitu dia balas melihat, orang itu pura-pura mencari rumput dengan sabitnya padahal dia tidak bawa keranjang atau karung buat tempat rumput itu.

“Tadi, ada yang liat. Tapi orang yang cari rumput.”

“Nah, tuh. Tau lah kita dincer orang.”

Tandas Madun.

“Sekarang cepetan benahi barang-barang, saat ini juga kita pergi dari sini.”

“Nonik…..jangan pergi nak. Jangan tinggalin mama!”

Teriak Santi yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!