Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Daratan Gangga dan Obsesi yang Bersemi
15 Agustus 700 Masehi
Aroma tanah basah dan rempah-rempah yang tajam menyambut Yudi saat ia menatap garis pantai Teluk Benggala. Wilayah ini—yang di masa depan dikenal sebagai Bangladesh—adalah hamparan delta hijau yang rimbun, tempat sungai-sungai besar bermuara ke laut. Setelah menempuh pelayaran cepat melintasi Samudera Hindia yang luas, Yudi memutuskan untuk mengubah metode perjalanannya.
Superyacht putih megah itu melambat saat memasuki sebuah teluk tersembunyi yang tertutup oleh rimbunnya pohon bakau. Begitu lambung kapal menyentuh pasir yang dangkal, Yudi melompat turun ke air setinggi lutut.
"Galuh, bersiaplah. Kita akan berganti tunggangan," ucap Yudi tenang.
Dengan satu jentikan jari dan perintah mental kepada Sistem, kapal mewah sepanjang 32 meter itu seketika lenyap dari pandangan, masuk kembali ke dalam inventory sipil. Galuh, yang meski sudah berkali-kali melihat keajaiban majikannya, tetap saja terperangah melihat laut yang tiba-tiba kosong di belakangnya.
Yudi beralih ke antarmuka Inventory Kendaraan Sipil. Ia menggeser katalog digital yang melayang di matanya hingga berhenti pada sebuah kendaraan yang cocok untuk medan darat yang belum beraspal.
[Memilih: SUV Off-Road 4x4 Luxury Edition]
[Status: Bahan Bakar Tanpa Batas (Infinity Fuel) Aktif]
Bzzzttt!
Sebuah mobil gagah berwarna hitam matte dengan ban besar dan lampu-lampu LED tambahan muncul di atas pasir pantai. Mesinnya yang bertenaga besar mengeluarkan suara menderu yang berat, membuat burung-burung di hutan bakau terbang berhamburan karena terkejut.
"Naiklah," perintah Yudi sambil membuka pintu kemudi. "Kita akan menuju Varanasi lewat jalur darat. Aku ingin merasakan debu daratan India."
Galuh masuk ke kursi penumpang dengan sangat hati-hati, menyentuh jok kulit yang empuk dan dingin karena AC yang mulai menyala otomatis. Ia menyimpan busur silangnya di kursi belakang, tepat di samping tumpukan makanan dan minuman mewah yang telah ditarik Yudi dari sistem. Segala jenis hidangan, mulai dari daging panggang hangat hingga buah-buahan segar, tersimpan dalam kotak vakum yang menjaga suhunya tetap sempurna.
Mobil itu mulai bergerak, menerjang semak belukar dan jalanan tanah yang becek dengan sangat mudah. Yudi memutar kemudi dengan santai, sementara tangki bensin mobil itu tetap penuh secara ajaib, tak peduli seberapa jauh mereka menempuh perjalanan.
Di Sisi Lain Samudera – Wilayah Nanhai (Laut Tiongkok Selatan)
Gemerincing zirah dan derap langkah ribuan prajurit memenuhi pelabuhan Nanhai. Armada raksasa Dinasti Zhou telah bersandar. Maharani Wu Lin melangkah turun dari kapal induknya dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dan keras dari sebelumnya. Ia tidak punya waktu lagi untuk menangis di atas makam suaminya atau meratapi putranya yang hilang.
Kekaisaran Tang sedang mengancam di utara, dan sang Maharani harus kembali untuk mempertahankan takhtanya.
"Kita akan menempuh jalur darat menuju Luoyang," perintah Wu Lin kepada para jenderalnya. "Bawa pasukan berkuda tercepat. Kita harus tiba sebelum fajar musim gugur menyentuh tembok kota!"
Di belakang Wu Lin, Yue Qing berjalan dengan anggun namun pikirannya bercabang. Ia sudah tidak lagi hanya memikirkan tugas kenegaraan. Sejak menerima laporan terakhir dari agen Shadow Phoenix di Srivijaya tentang "Dewa Baja" yang membawa keajaiban, Yue Qing mulai merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tanggung jawab.
Rasa ingin tahu itu telah berubah menjadi obsesi.
Setiap malam, ia menatap lukisan wajah pangeran yang hilang (Yudi) sambil membandingkannya dengan deskripsi yang dikirimkan mata-matanya. Pemuda yang mandiri, kuat, kaya raya, dan memiliki benda-benda yang melampaui logika dunia. Baginya, Yudi bukan lagi sekadar tunangan yang dijodohkan demi politik, melainkan teka-teki paling menarik yang harus ia miliki.
"Kalian," bisik Yue Qing kepada komandan unit Shadow Phoenix yang berdiri di bayang-bayang pelabuhan Nanhai.
"Hamba siap, Nona," jawab bayangan itu.
"Jangan pernah lepaskan dia. Ikuti dia melintasi lautan Bengali, masuk ke pedalaman India, atau ke mana pun dia pergi. Jangan pernah berinteraksi, jangan biarkan dia sadar. Laporkan setiap helai rambut yang jatuh dari kepalanya kepadaku setiap hari," perintah Yue Qing dengan mata yang berkilat penuh obsesi.
"Jika dia dalam bahaya, apakah kami harus menolong?" tanya si mata-mata.
Yue Qing tersenyum tipis, sebuah senyuman yang cantik namun sedikit mengerikan. "Gunakan nyawa kalian untuk melindunginya. Dia adalah milikku, dan tidak ada satu dewa pun di dunia ini yang boleh menyentuhnya sebelum aku sendiri yang berdiri di hadapannya."
Setelah bayangan itu menghilang, Yue Qing segera menyusul Maharani Wu Lin untuk perjalanan panjang menuju ibu kota. Perang besar menanti di Utara, namun hatinya tertambat pada seorang pengembara di Barat.
Pedalaman Bangladesh – Jalur Menuju Varanasi
SUV hitam milik Yudi membelah hutan tropis dan desa-desa kecil di pedesaan Bangladesh. Penduduk lokal yang melihat kendaraan itu segera berlutut di pinggir jalan, mengira itu adalah kereta perang dewa yang turun dari langit. Asap tipis mengepul dari knalpot saat Yudi menginjak gas lebih dalam.
"Tuan, orang-orang itu... mereka ketakutan," ucap Galuh sambil melihat keluar jendela kaca film yang gelap.
"Baguslah kalau mereka takut. Itu artinya mereka tidak akan berani menghalangi jalan kita," jawab Yudi santai. Ia sedang menikmati musik yang diputar melalui sistem audio mobil, lagu-lagu modern yang tentu saja terdengar seperti bahasa alien bagi Galuh.
Yudi melirik kaca spion. Dengan indranya yang sudah mencapai level maksimal, ia sebenarnya tahu ada beberapa orang yang mencoba mengikutinya dengan kuda-kuda tercepat dari kejauhan.
"Sistem," bisik Yudi dalam hati.
[Ya, Host?]
"Orang-orang yang mengikutiku itu... mereka adalah mata-mata dari organisasi yang sama dengan di Srivijaya, kan?"
[Analisis Berhasil: Subjek adalah agen elit Shadow Phoenix. Mereka menjaga jarak aman 2 kilometer di belakang Host.]
Yudi menyeringai. "Jadi wanita itu—ibuku—masih belum menyerah? Atau mungkin tunangan yang disebutkan dalam data sistem itu? Mereka cukup gigih juga."
Yudi tidak merasa terganggu. Justru, ia merasa ini adalah permainan yang menarik. Ia menekan pedal gas lebih dalam, membuat SUV itu melesat melewati jalanan berlumpur dengan kecepatan 100 km/jam, meninggalkan para pengejarnya yang kepayahan memacu kuda mereka.
"Mari kita lihat sejauh mana kalian bisa mengejar teknologi abad ke-21," gumam Yudi.
Varanasi, kota suci di pinggir sungai Gangga, masih berjarak beberapa hari perjalanan. Bagi Yudi, setiap kilometer adalah hiburan. Ia memiliki makanan tanpa batas, kendaraan yang tak pernah kehabisan bensin, dan perlindungan dari sistem paling canggih di alam semesta.
Di dunia yang masih menggunakan pedang dan kayu, Yudi adalah anomali yang berjalan di atas roda baja. Dan saat ia semakin dekat dengan pusat spiritual India, bayang-bayang obsesi Yue Qing dan kemarahan perang Dinasti Zhou terus membayangi di belakangnya, siap untuk meledak saat waktunya tiba.
"Galuh, buka satu kaleng soda dingin di belakang. Perjalanan ini masih panjang," ucap Yudi sambil tertawa, membelah senja di tanah India yang purba.