Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deg-degan Magang & Hukuman Sang Posesif
Suasana di dalam kamar tidur Ziva masih terasa hangat dan nyaman, meski jarum jam di dinding sudah menunjuk angka sebelas malam. Di atas kasur empuk yang besar, Ziva duduk bersandar di kepala ranjang sambil membolak-balik halaman buku, namun perhatiannya sering teralihkan ke sosok gadis imut yang sejak tadi sibuk bergerak-gerak di dekatnya.
Zea, adiknya itu, sejak sore tadi belum mau beranjak dari kamarnya. Gadis itu duduk bersila di tepi kasur, matanya berbinar-binar penuh semangat, mulutnya tak berhenti bercerita tentang ini dan itu, tangannya sesekali menyentuh rambut, membenarkan letak bantal, atau sekadar menatap wajah Ziva dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa sedikit tidak nyaman.
Bukan rasa tidak nyaman karena terganggu, melainkan rasa canggung yang asing bagi Ziva. Selama hidupnya, ia terbiasa hidup sendirian, keras, dan kaku. Tidak pernah ada yang menatapnya sedemikian rupa—tatapan yang penuh kekaguman, rasa sayang yang tulus, dan rasa bangga seolah-olah Ziva adalah benda paling berharga di dunia. Dan yang membuatnya makin canggung, pemberi tatapan itu adalah Zea, gadis cantik jelita yang wajahnya manis, kulitnya putih bersih, dan senyumnya bisa membuat siapa saja luluh. Rasanya aneh, ada getaran halus yang tak bisa dijelaskan setiap kali Zea menatapnya dengan pandangan memuja seperti itu.
"Zea, hari sudah malam lho, sudah hampir tengah malam. Kamu tidak ngantuk apa? Kenapa belum tidur di kamarmu sendiri?" tanya Ziva akhirnya memecah keheningan, mencoba mengalihkan perhatian adiknya itu.
Zea langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, rambut panjangnya bergoyang indah mengikuti gerakan kepalanya. Wajahnya terlihat penuh semangat namun ada sedikit kegelisahan yang tersembunyi di balik senyumnya.
"Enggak Kak, belum ngantuk sama sekali! Malah rasanya jantungku mau meledak deh, mana bisa tidur," jawab Zea sambil memegangi dadanya yang terasa berdegup kencang. "Besok itu hari pertama kita magang lho Kak! Aku jadi deg-degan parah rasanya, campur antara takut dan senang. Aku takut nanti salah tingkah, takut tidak becus kerja, atau takut disuruh-suruh hal yang susah. Kakak tenang-tenang saja ya, jangan tinggalkan aku sendirian di sana."
Mendengar itu, sudut bibir Ziva terangkat membentuk senyum tipis yang sedikit mengejek. Ia meletakkan bukunya, lalu menatap adiknya itu dengan tatapan datar.
"Aduh, dasar anak manja. Apa sih yang bikin kamu berdebar hebat begitu? Itu kan cuma jadi anak magang biasa saja di perusahaan orang asing. Paling juga disuruh bikin kopi, fotokopi berkas, atau mengantar surat-surat. Tidak ada yang menakutkan kok, tidak perlu sampai gemetar begini," ucap Ziva santai, sama sekali tidak mengerti kegelisahan adiknya.
Mata Zea langsung terbelalak lebar, mulutnya menganga tak percaya mendengar jawaban yang begitu enteng keluar dari mulut kakaknya itu. Ia langsung menepuk lengan Ziva pelan karena gemas.
"Kakak! Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa ya?! Kamu pikir perusahaan tempat kita magang itu perusahaan sembarangan?!" seru Zea sedikit berteriak karena kaget, suaranya terdengar cukup lantang. "Itu lho Kak, Grup Arganza! Perusahaan terbesar, terhebat, dan paling berpengaruh di seluruh kota ini! Bahkan pemiliknya adalah orang terkaya nomor satu di kota ini, lho! Semua orang ingin sekali bisa masuk ke sana, bahkan jadi karyawan biasa saja susahnya minta ampun, apalagi kita magang di kantor pusatnya langsung. Itu kesempatan emas, Kak!"
Ziva hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ah, masa sih? Astaga, ribet amat. Bukannya kita juga termasuk keluarga orang terkaya di kota ini? Apa bedanya, sama saja kan?"
"Bedanya jauh sekali Kak!" bantah Zea tak terima. "Kita itu cuma nomor dua lho di daftar orang terkaya. Dan Grup Arganza itu nomor satu! Jauh banget perbedaannya, seperti langit dan bumi. Kalau di sana kita harus sopan, harus jaga sikap, jangan sampai malu-maluin nama keluarga Sterling, apalagi sampai bikin kesalahan."
Melihat wajah Zea yang benar-benar serius dan cemas, Ziva hanya bisa memutar kedua bola matanya malas. Baginya, urusan peringkat kekayaan tidak ada bedanya, semuanya sama saja. Ia merasa adiknya ini terlalu berlebihan, terlalu lebay.
Namun, di saat itulah sosok penolong datang menyelamatkannya dari celotehan panjang Zea.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka perlahan tanpa diketuk lebih dulu. Di ambang pintu, berdiri sosok tinggi besar dengan wajah yang tidak terlihat ramah sedikitpun. Tangan pria itu bersedekap di dada, tatapannya tajam dan menusuk, seolah bisa menembus dinding. Itu Kevin.
"Zea!" suara berat dan tegas Kevin langsung menggema di ruangan itu. "Ngapain kamu masih ada di sini? Jam sudah berapa, kamu tahu tidak? Cepat kembali ke kamarmu dan tidur! Jangan ganggu kakakmu terus, dia butuh istirahat."
Suara keras dan tatapan tajam yang seolah ingin memangsa itu langsung membuat darah Zea menegang. Gadis itu seketika pucat, rasa takut seketika menyergapnya. Tanpa sadar ia langsung merangkul lengan Ziva dengan erat, bersembunyi di balik tubuh kakaknya seolah Ziva adalah tameng pelindungnya. Ia gemetar melihat tatapan dingin Kevin yang menakutkan itu.
Namun, Kevin tidak peduli. Ia melangkah lebar mendekat, tangannya yang besar dan kekar langsung mencengkeram pergelangan tangan Zea dengan cukup kasar, menarik paksa tubuh gadis itu agar melepaskan pelukannya pada Ziva.
"Ayo ikut aku!" perintah Kevin singkat dan tidak bisa dibantah.
Ziva hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu. Ia menghela napas pelan. "Dasar Kevin, keterlaluan sekali. Padahal Zea itu termasuk adiknya juga, tapi sikapnya lebih posesif daripada pacar. Sepertinya dia benar-benar tidak menganggap Zea sebagai adiknya, melainkan miliknya sendiri yang tidak boleh didekati siapa pun, termasuk aku," batin Ziva sambil tersenyum kecil paham akan keadaan itu.
Di dalam kamar Zea yang pintunya segera dikunci rapat dari dalam, suasana berubah drastis.
Begitu masuk, Kevin sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya. Ia malah mendorong tubuh mungil Zea hingga terjatuh ke atas kasur empuk. Belum sempat gadis itu bangkit, tubuh kekar Kevin sudah menyusul dan menindihnya dengan berat yang pas, mengunci pergerakan Zea sepenuhnya. Kedua tangan Zea tertahan di atas kepalanya oleh satu tangan kekar Kevin, sementara tangan yang lain bebas bergerak sesuka hati.
"Kak Kevin! Ampun Kak, aku janji akan nurut kok, aku mau tidur sekarang, jangan nindih aku begini dong! Berat tahu!" seru Zea panik, wajahnya memerah karena gugup dan malu. Ia menggoyangkan tubuhnya berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Kevin terlalu kuat baginya, tubuhnya tak bergerak sedikitpun di bawah tindihan pria itu.
Kevin hanya tersenyum miring, senyum yang penuh godaan dan kemenangan. Ia menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga Zea, suaranya berat dan bergetar menggoda.
"Sudah berapa ratus kali aku bilang padamu, Zea? Kalau kamu tidak mau mendengarkan perkataanku, kalau kamu tidak mau nurut perintahku, maka aku harus memberimu hukuman. Supaya kamu ingat dan tidak mengulanginya lagi. Dan sekarang... kamu melanggar lagi. Jadi, ini saatnya kamu menerima hukumanmu," bisik Kevin pelan namun penuh penekanan.
Belum sempat Zea memohon lagi, tangan bebas Kevin mulai bergerak nakal. Telapak tangannya yang hangat dan kasar perlahan merayap naik dari pinggang, melewati perut, hingga akhirnya mendarat tepat di bagian dada Zea yang kenyal dan padat, terasa sangat pas di telapak tangannya. Ia memijat dan meremasnya perlahan namun penuh rasa memiliki yang mendalam.
"Kak! Itu... itu nakal sekali! Lepaskan!" rintih Zea, matanya terpejam erat karena rasa geli dan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kakinya lemas.
Namun Kevin tidak berhenti di situ. Ia semakin mendekatkan wajahnya, lalu tanpa aba-aba bibirnya mendarat keras di bibir mungil Zea, menggigitnya pelan namun penuh gairah yang terpendam lama. Ciuman itu dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan.
"Kevin Sterling!!! Brengsek!!!" teriak Zea keras, matanya menatap tajam penuh amarah dan malu, memukuli dada bidang Kevin dengan tangan yang bebas.
Tapi teriakan itu sama sekali tidak terdengar keluar ruangan. Karena kamar Zea memang sengaja didesain kedap suara, jadi apa pun yang terjadi di dalam sana, tidak akan ada yang mendengarnya dari luar. Itu sengaja diatur oleh Kevin sendiri.
Kevin hanya tertawa pelan di sela-sela ciumannya, wajahnya terlihat sangat senang dan puas melihat wajah kesal gadis yang dicintainya itu. Baginya, melihat Zea marah dan memukulnya dengan kemarahan yang lucu seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada melihatnya takut-takut. Dan yang paling penting, saat ini Zea sepenuhnya miliknya, tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu momen mereka berdua.
"Hukuman belum selesai sayang... masih ada lagi yang harus kau terima karena nakal," bisik Kevin dengan nada yang semakin berat dan penuh gairah, kembali menunduk menyambung ciumannya yang terputus, membuat protes Zea perlahan berubah menjadi desahan halus yang tak berdaya.