NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 26

Desa tempat tinggal Kakek Hasan mulai terasa tidak tenang. Letaknya yang paling dekat dengan kota membuat warga semakin waspada.

Meskipun rumah-rumah mereka memiliki tembok tinggi dan para zombie tidak bisa masuk, rasa khawatir tetap menghantui.

"Mulai sekarang kita harus berhemat, ya, Ibu-ibu. Kita sudah tidak bisa lagi ke kota untuk membeli kebutuhan," ujar salah satu ibu dengan nada serius.

"Iya, untung saja Abah Hasan sudah menyuruh kita menanam sayur di belakang rumah. Jadi masih aman," sahut ibu lainnya.

"Tapi kita tetap tidak boleh lengah. Jangan sampai kita membiarkan anak-anak keluar dari desa ini."

"Iya, sekolah saja sudah ditutup demi keselamatan anak-anak kita."

Aira hanya diam menyimak pembicaraan itu. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding yang lain. Ia sudah lebih dulu mengalami situasi seperti ini, jadi rasa takutnya tidak sebesar warga lainnya.

"Kok Neng Aira malah terlihat biasa saja mendengar hal seperti ini?" tanya salah satu ibu yang sedang berbelanja di warung Buk Aisyah.

Aira tersenyum tipis.

"Karena aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, Bu. Intinya, jangan terlalu takut," jawabnya pelan.

"Astaghfirullah, ibu jadi ingat… kamu kan berasal dari kota yang sudah diratakan itu," ucap ibu tersebut dengan wajah prihatin.

Aira hanya mengangguk pelan.

"Untung aku sudah stok banyak bahan makanan, jadi tidak terlalu susah," batin Aira.

"Ibu-ibu, hari ini saya terakhir jualan, ya. Jujur saja, saya takut berkeliaran di luar seperti ini.

Untuk sekarang, berdiam diri di dalam rumah itu yang paling aman," ungkap Buk Aisyah.

Ibu-ibu yang terkenal suka bergosip itu pun segera pamit pulang dari warung Buk Aisyah. Wajah mereka tampak cemas, langkah mereka pun tergesa-gesa.

Shila yang melihat kejadian itu merasa heran.

"Mereka kenapa, Buk Aisyah? Kok seperti ketakutan begitu?" tanya Shila.

Buk Aisyah tersenyum kecil.

"Ibu bilang mau tutup warung karena takut zombie. Padahal itu cuma alasan saja. Ibu pusing dengan obrolan mereka," jawabnya jujur.

Shila dan Aira langsung tertawa kecil mendengar itu. Namun, mereka tidak bisa memungkiri bahwa suasana desa memang terasa sepi. Jarang sekali terlihat anak-anak bermain di luar rumah seperti biasanya.

"Lo ngapain ke sini, Shila?" tanya Aira.

"Ini mau beliin Kakek dan yang lain gorengan. Kakek minta pisang goreng. Masih ada, Buk?" tanya Shila.

"Masih, tapi tunggu sebentar ya. Ibu gorengkan dulu," jawab Buk Aisyah sambil bersiap di dapur.

Aroma minyak panas mulai tercium, disusul suara gemerisik saat pisang dimasukkan ke dalam wajan. Suasana hangat itu sedikit mengurangi ketegangan yang sejak tadi terasa.

Sambil menunggu gorengan matang, Shila dan Aira duduk berdekatan.

Mereka mulai mengobrol tentang masa-masa bahagia mereka dulu di kota kelahiran—kota yang kini sudah rata dengan tanah, bahkan telah berubah menjadi deretan vila mewah.

"Aku kangen suasana dulu…" ucap Aira pelan.

Shila tersenyum tipis, namun matanya menyimpan kesedihan.

"Iya… dulu kita nggak pernah kepikiran hidup bakal berubah sejauh ini."

Angin sore berhembus pelan melewati warung kecil itu.

Di tengah tawa ringan mereka, terselip luka dan kenangan yang belum sepenuhnya sembuh. Dan tanpa mereka sadari… bahaya perlahan semakin mendekat ke desa tersebut.

"Buk, Bapak mau ke rumah Abah Hasan sebentar, ya," pamit Heru kepada sang istri.

"Iya, Pak. Tapi jangan pulangnya malam-malam," jawab Buk Aisyah dengan nada khawatir.

"Ikut aku saja, Pak Heru. Ayo," ajak Shila. Kebetulan gorengan pesanannya sudah matang dan dibungkus rapi.

"Iya, sana, Pak. Naik motor saja sama Shila biar cepat sampai," sahut Aira.

Heru mengangguk.

"Iya, kalau begitu Bapak ikut Shila saja."

Tanpa menunggu lama, Heru langsung menghampiri motor Shila. Ia naik ke belakang, sementara Shila bersiap menyalakan mesin.

Buk Aisyah memperhatikan mereka dengan perasaan cemas.

"Hati-hati di jalan, ya!" teriaknya.

"Iya, Buk!" jawab Shila singkat.

Motor pun melaju meninggalkan warung kecil itu, membelah jalan desa yang mulai sepi. Angin sore berhembus pelan, namun suasana terasa berbeda—lebih sunyi dan mencekam dari biasanya.

Sementara itu, Buk Aisyah segera menutup warungnya. Selain karena dagangannya sudah habis, rasa takut membuatnya tidak ingin berlama-lama berada di luar.

Ia menutup pintu dengan cepat, lalu menguncinya rapat-rapat.

Di kejauhan, suara motor Shila dan Heru perlahan menghilang.

********

Motor yang dikendarai Shila melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan desa yang mulai lengang. Hanya suara mesin motor dan hembusan angin yang terdengar di antara mereka.

Pak Heru yang duduk di belakang tampak gelisah. Beberapa kali ia menoleh ke kanan dan kiri, seolah memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti mereka.

"Shila…" panggilnya pelan.

"Iya, Pak?" jawab Shila tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Kamu sudah dengar kabar tentang zombie yang makin ganas itu, kan?" tanya Pak Heru dengan suara sedikit ditekan.

Shila mengangguk.

"Sudah, Pak. Bahkan sekarang mereka muncul bukan cuma malam hari, tapi juga pagi."

Pak Heru menghela napas panjang.

"Iya… itu yang bikin Bapak makin khawatir. Dulu kita masih bisa sedikit tenang di siang hari, tapi sekarang… rasanya tidak ada waktu yang benar-benar aman."

Motor terus melaju, melewati rumah-rumah yang pintunya tertutup rapat.

"Menurut kamu… mereka bisa sampai ke desa kita nggak, Shila?" tanya Pak Heru lagi, nada suaranya kini terdengar lebih cemas.

Shila terdiam sejenak. Ia melirik ke depan dengan tatapan serius.

"Kalau melihat keadaan sekarang… kemungkinan itu ada, Pak," jawabnya jujur.

Pak Heru langsung menelan ludah.

"Kalau sampai itu terjadi… kita semua dalam bahaya."

Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang. Daun-daun di pinggir jalan bergesekan, menimbulkan suara yang membuat suasana semakin mencekam.

Shila memperlambat laju motornya sedikit.

"Makanya kita harus siap, Pak. Nggak cuma bergantung sama tembok desa," ucap Shila tegas.

Pak Heru terdiam, mencerna ucapan itu.

"Tapi… apa kita punya cara buat melawan mereka?" tanyanya lagi.

Shila mengepalkan tangannya di setang motor.

"Ada, Pak…" Jawabannya singkat, namun penuh keyakinan.

Pak Heru sedikit mengernyit.

"Maksud kamu?"

Shila tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah menyimpan sesuatu.

Tak lama kemudian, motor yang dikendarai Shila mulai memasuki halaman rumah Abah Hasan. Suasana di sekitar rumah itu terlihat lebih tenang dibandingkan jalan desa yang mereka lewati.

Shila mematikan mesin motor, lalu menoleh ke belakang.

"Kita sudah sampai, Pak."

Pak Heru menghela napas lega.

"Alhamdulillah… akhirnya sampai juga."

Keduanya turun dari motor. Shila langsung mengambil bungkusan gorengan yang tadi ia beli, sementara Pak Heru menatap sekeliling rumah, memastikan semuanya aman.

Rumah Abah Hasan tampak seperti biasa—tenang, namun entah kenapa terasa lebih waspada. Beberapa jendela tertutup rapat, dan halaman terlihat lebih sepi dari biasanya.

"Assalamu’alaikum…" ucap Shila sambil melangkah masuk.

"Wa’alaikumussalam," jawab suara dari dalam.

Tak lama kemudian, Abah Hasan keluar dari dalam rumah. Tatapannya langsung tertuju pada Shila dan Pak Heru.

"Kalian sudah sampai," ucapnya tenang, seolah memang sudah menunggu kedatangan mereka.

"Iya, kek. Ini Shila bawakan pisang goreng yang kakek minta," kata Shila sambil menyerahkan bungkusan itu.

Abah Hasan tersenyum tipis.

"Terima kasih, Nak."

Pak Heru kemudian maju sedikit. Wajahnya tampak serius, berbeda dari biasanya.

"Bah… saya ke sini mau membicarakan sesuatu," ujarnya.

Abah Hasan mengangguk pelan, seolah sudah mengetahui apa yang ingin dibicarakan.

"Tentang zombie itu, kan?" tebaknya.

Pak Heru terkejut.

"Iya, Bah… keadaan sudah semakin tidak aman. Warga mulai panik."

Abah Hasan terdiam sejenak, lalu mempersilakan mereka masuk.

"Masuklah dulu. Kita bicarakan di dalam," ucapnya.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam terasa hangat, namun tetap menyimpan ketegangan yang tak terucapkan.

Shila duduk di salah satu kursi, sementara Pak Heru masih terlihat gelisah.

"Bah… menurut Abah, apa mereka bisa sampai ke desa kita?" tanya Pak Heru dengan suara berat.

Abah Hasan menatapnya dalam-dalam.

"Bukan soal bisa atau tidak…"

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada serius.

"Tapi kapan."

Suasana mendadak hening.

Shila menatap Abah Hasan, jantungnya berdegup lebih cepat.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!