(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 12 - PERTAHANAN DESA
...Malam itu, Brakenford tidak berdiri sebagai desa......
......melainkan sebagai benteng terakhir yang menolak untuk runtuh....
...⚙⚙⚙...
Monster pertama keluar dari kegelapan hutan dengan raungan liar. “Nightclaw Stalker...” Rogan berkata pelan.
Di belakangnya puluhan monster lain mulai muncul dari balik pepohonan. Makhluk-makhluk itu adalah predator paling berbahaya yang berkeliaran di hutan utara dan pegunungan gelap di sekitar Brakenford.
Makhluk itu keluar dari kabut hutan seperti sesuatu yang tidak seharusnya hidup. Tubuhnya membungkuk rendah, kedua tangannya menyeret tanah. Langkahnya berat hingga tanah retak sedikit di bawahnya. Retakan di tubuhnya menyala merah samar. Seperti bara yang terjebak di dalam batu hidup.
Bram menahan napas. “...itu bukan binatang.”
Garrick menyipitkan mata, “itu... Stonefang Ravager.”
^^^*gambar buatan AI^^^
Rogan mengarahkan crossbow mekanisnya ke arah kumpulan monster itu. “Mereka biasanya hanya muncul dalam kelompok kecil...” suaranya tegang. Kenapa malam ini jumlah mereka jauh lebih banyak dari biasanya?”
Bram menggertakkan gigi. “Ada yang tidak beres, Paman... mereka bergerak terlalu teratur.” Matanya mengikuti gerakan kawanan itu, “...seperti ada sesuatu yang memerintahkan mereka.”
Garrick tidak melepas pandangan dari hutan didepannya. Lalu ia berbicara dengan nada yang datar dan tegas. “...bukan 'sesuatu'.”
Rogan langsung menoleh cepat ke arahnya. “Maksud Paman?”
Garrick sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari kegelapan di depan sana. “...seseorang.”
Bram mengerutkan dahinya, berusaha memahami makna ucapan itu. “Seseorang...?”
Rogan mengeratkan genggamannya pada gagang busur yang ada di tangannya. “Kau masih ingat bekas retakan berbentuk lingkaran yang kita temukan di dalam hutan kemarin malam, Bram?”
Bram mengerjapkan matanya. “Ya. Apa hubungannya dengan semua ini?”
Garrick menoleh sedikit, cukup hanya untuk memastikan kedua orang itu benar-benar mendengarkan setiap kata yang akan ia sampaikan. “Itu bukan sekadar retakan tanah biasa.”
Suaranya menjadi lebih rendah, seolah ingin memastikan hanya mereka berdua yang mendengarnya. “Itu bekas dari sebuah proses pembukaan.”
Bram langsung menegangkan seluruh tubuhnya. “Pembukaan?”
Garrick mengangguk pelan. “Sihir Pemanggil.”
Sesaat saja, kata-kata itu seolah menimbulkan beban berat yang tergantung di udara. Bram dan Rogan sama-sama memalingkan wajah menatap Garrick, raut wajah mereka berubah menjadi kaget dan serius sekaligus.
Rogan mengernyit dalam-dalam. “Sihir pemanggil...?
Bram kembali menatap ke arah hutan dengan tatapan yang sulit dipercaya. “Jadi maksud Paman... serangan kali ini bukan datang dari kawanan binatang buas yang bergerak sendiri?”
Garrick mengangkat sedikit palunya. “...kita tidak sedang diburu oleh monster biasa.” Matanya menyala tajam. “...kita sedang diuji.” Ia melangkah setengah langkah ke depan, mendekati tepi tembok pembatas.
Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Namun senyum itu tidak membawa rasa hangat, juga tidak menenangkan. Hanya ada ketegasan dan kesiapan yang terlihat jelas di sana. “...dan rasanya pertempuran ini sudah mulai terasa seperti sebuah peperangan yang sesungguhnya.”
Beberapa saat kemudian...
Tanah di luar gerbang Brakenford mulai bergetar hebat. Getaran itu merambat hingga ke dasar dinding batu, membuat butiran pasir dan debu berjatuhan dari celah-celah susunan batu.
Dari dalam kegelapan hutan utara, bayangan-bayangan hitam muncul bergerombol, melaju seperti gelombang besar yang membelah kegelapan malam. Mereka berlari tanpa ragu sedikit pun, tidak mengubah arah dan tidak melambat sedetik pun.
Di barisan paling depan, kawanan Nightclaw Stalker bergerak melesat di antara batang pohon dan semak belukar. Tubuh mereka rendah hampir menempel di permukaan tanah, kaki-kaki panjangnya melangkah cepat dan ringan. Setiap kali mereka melompat, ranting-ranting yang dilewatinya patah begitu saja, daun-daun kering beterbangan tertiup hembusan angin yang ditimbulkan gerakan tubuh mereka.
Di belakang mereka langkah-langkah berat Stonefang Ravager menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa. Setiap kali kaki besar mereka menyentuh permukaan tanah, lapisan tanah itu langsung retak membentuk garis-garis panjang, gumpalan tanah dan batu kecil melayang ke udara, dan suara benturan itu bergema memantul di antara dinding bukit lembah. Tanah yang tadinya rata kini dipenuhi bekas lubang pijakan yang dalam.
Kedua jenis makhluk itu bergerak selaras. Yang depan cepat dan lincah membuka jalan, yang belakang kuat dan berat menghancurkan segala yang menghalangi. Semua bergerak menuju satu titik sasaran, gerbang desa Brakenford.
“MEREKA DATANG!” Suara Rogan meledak memecah suasana, terdengar jelas dari atas menara pengawas. Tangannya sudah siap di gagang busur mekanis, matanya tajam mengamati setiap pergerakan kawanan itu satu per satu.
Di bawah tepat di depan gerbang, Garrick berdiri tegak. Tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun, tidak ada tanda ketakutan atau kegelisahan yang terlihat. Palu raksasa yang ia bawa bertumpu ringan di bahunya, permukaan logamnya memantulkan cahaya nyala obor membentuk garis-garis terang yang bergerak mengikuti hembusan angin. Matanya tetap mengikuti laju gelombang makhluk itu dari kejauhan.
“Jangan menyerang dulu,” suara Garrick terdengar rendah namun tegas, menjangkau telinga semua orang yang berjaga.”Tahan sampai jaraknya tepat.”
Di atas menara sebelah, sudut bibir Rogan terangkat membentuk senyum tipis. “Jadi inilah pesta yang kalian siapkan untuk kita?” Ia melirik sekilas ke bawah, menatap kawanan yang jaraknya kini makin dekat. “Kalau begitu terimalah hidangan pembuka ini... dasar monster sialan.” Jari-jarinya menekan tuas pengatur posisi sasaran.
Bersamaan dengan itu, di semua menara penjaga lainnya, para petugas bergerak serempak. Tuas-tuas logam diputar kuat, roda-roda gigi mekanis berputar cepat menimbulkan suara gesekan yang keras. Seluruh alat penembak otomatis mulai hidup, bagian-bagiannya bergerak menyesuaikan posisi dengan tepat.
“SEKARANG!” teriak Rogan memberi isyarat.
Panah pertama melesat keluar dengan kecepatan tinggi, membelah udara hingga menimbulkan suara desisan tajam.
THACK... THACK... THACK...
Satu demi satu, lalu berbarengan, puluhan anak panah meluncur memenuhi ruang udara di atas gerbang. Dalam sekejap suasana berubah sepenuhnya, seolah langit malam turun menjadi hujan dari batang-batang baja yang runcing. Panah-panah itu melaju lurus dan kuat, mampu menembus lapisan kulit pohon yang tebal sekalipun.
Di barisan paling depan, seekor Nightclaw Stalker yang sedang melompat tinggi melewati semak belukar tiba-tiba tersentak kaku di udara. Satu batang panah tepat menembus bagian tengah dadanya, menembus tubuhnya hingga ujungnya terlihat keluar dari punggung. Gerakannya terhenti sepersekian detik, lalu tubuhnya jatuh bebas ke tanah dengan suara berat. Tubuhnya terguling di atas tanah yang lembab, lalu segera tergilas oleh langkah kaki kawanan yang bergerak di belakangnya, menekan tubuhnya masuk ke dalam tanah lunak hingga hanya sebagian kecil saja yang terlihat.
THACK... THACK...
Dua ekor lainnya terkena serangan bersamaan. Satu terkena di bagian bahu, tenaga tembakan yang kuat membuat tubuhnya terpental ke samping dan menghantam permukaan batu besar. Tulang-tulangnya patah seketika, tubuhnya jatuh dalam posisi yang tidak wajar dan tak mampu bergerak lagi. Yang lain terkena di bagian kaki, jatuh terguling menghantam tanah dengan suara keras hingga menimbulkan lubang dangkal, dan tidak pernah bangkit kembali.
“MAKAN INI, BANGSAT!”
Seorang pemuda yang bertugas di menara sebelah berteriak lantang. Tangannya bergerak cepat memutar tuas penggerak alat penembak dengan tenaga penuh.
KLIK-KLAK-KLIK...
Suara mekanisme logam berderu cepat. Panah-panah keluar semakin sering, semakin banyak dan terhambur ke segala arah, namun tetap tepat sasaran. Seperti hujan badai yang tidak memiliki arah tertentu, namun hanya memiliki satu tujuan, menghancurkan apapun yang berada di bawahnya.
Di lapangan terbuka, kawanan itu tetap bergerak maju tanpa berhenti. Seekor Stonefang Ravager yang berukuran paling besar berada di tengah barisan terus melangkah teguh.
Satu panah menancap kuat di bagian bahunya yang tebal. Darah berwarna gelap menyembur keluar membasahi tanah di sekitarnya, membuat permukaan tanah yang tadinya kering menjadi basah dan berwarna pekat. Makhluk itu meraung keras, suaranya bergema hingga memicu getaran kecil di udara. Namun langkahnya tidak melambat, bahkan justru menjadi lebih berat dan cepat, amarahnya yang muncul menambah tenaga gerakannya.
Panah lain masuk tepat di bagian samping lehernya. Tubuhnya tersentak hebat, kepalanya terayun ke samping karena dampak serangan, namun kakinya tetap melangkah maju. Rasa sakit itu hanya dianggapnya sebagai gangguan kecil yang tidak mampu menghentikan tujuannya.
“Bagus...” gumam Rogan dari atas menara.
Matanya tetap tajam mengamati setiap gerakan, namun napasnya mulai terasa berat karena terus bekerja dengan cepat. Tangannya tidak pernah berhenti menarik dan melepaskan tali busurnya. “Terus begitu... jangan berhenti.”
Satu panah lain melesat dengan lintasan yang miring. Di antara bayangan yang bergerak cepat di bawah sana, seekor Nightclaw tiba-tiba berhenti bergerak. Bagian dadanya terbuka terkena tusukan baja itu. Tenaga di tubuhnya hilang seketika.
Di bawah dekat gerbang, Bram menatap pemandangan di hadapannya. Rahangnya tertekan kuat hingga otot di bagian pipinya terlihat jelas. Tangannya menggenggam gagang tombak dengan erat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol jelas. “...mereka tak ada habisnya...” Suaranya terdengar rendah, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran yang kini mulai menjadi kenyataan yang berat untuk dihadapi.
Saat itulah, Garrick mulai melangkah maju. Satu langkah kakinya menyentuh tanah, menimbulkan getaran yang terasa jelas di sekitar tempatnya berdiri. “Siapkan persediaan amunisi.” Suaranya berat, tenang dan tidak berubah sedikit pun sejak awal, namun kini terdengar lebih dalam dan tegas. “ISI ULANG SEMUA ALAT TEMBAK!”
Di atas menara, para penjaga segera bergerak serempak. Satu per satu batang panah baru dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan, roda-roda penggerak diputar kembali hingga siap digunakan sepenuhnya.
Rogan menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Baiklah kalau begitu.” Senyumnya kembali muncul, kali ini terlihat lebih tipis namun jauh lebih dingin dari sebelumnya. “Kalau kalian mau terus datang, mari kita ulangi lagi permainannya.”
THACK... THACK... THACK...
Gelombang serangan kedua kembali turun, kali ini lebih rapat jaraknya, lebih cepat tembakannya dan terhambur lebih luas.
Di bawah sana, kawanan itu terus bergerak maju tanpa peduli apa yang menimpa mereka. Tubuh-tubuh yang sudah mati berserakan di seluruh permukaan tanah, membuat jalur yang tadinya bersih kini tertutup oleh darah dan lumpur. Namun makhluk-makhluk yang masih hidup hanya melangkah di atasnya. Bagi mereka, yang jatuh bukanlah korban, melainkan hanya bagian dari jalan yang harus mereka lewati.
Dan di balik hujan panah yang tak berhenti itu, masih terlihat bayangan-bayangan baru yang terus keluar dari hutan, mendekat semakin cepat dan jumlahnya makin banyak. Seolah kegelapan malam itu sendiri yang perlahan bergerak maju untuk menelan desa Brakenford sepenuhnya.
Monster tidak berhenti bergerak sama sekali. Gelombang kedua meneruskan serangan, bergerak tepat melewati tumpukan tubuh kawan mereka yang sudah mati, seolah puing-puing itu hanyalah bagian dari jalan biasa.
Tanah lapang di depan gerbang Brakenford kini sudah berubah total. Darah berwarna gelap meresap masuk ke dalam tanah, mencampur debu dan pasir menjadi lumpur kental. Di mana-mana terlihat bekas hantaman, bekas tusukan, serta sisa-sisa tubuh yang berserakan. Udara dipenuhi bau logam, tanah yang terbalik, dan bau anyir yang menusuk hidung. Meskipun pemandangannya mengerikan, mereka terus datang seakan tidak peduli dengan nyawa sendiri.
Seekor Stonefang Ravager berukuran besar melompat dan mendarat tepat di depan gerbang utama. Saat kakinya menghantam tanah didepan gerbang, mekanisme roda gigi raksasa di bawah tanah berputar. Pancang besi tajam menyembur keluar dari perut bumi seperti taring raksasa yang bangkit.
SPLAAASH...
Batang-batang besi runcing menyembur keluar dari dalam tanah dengan tenaga yang luar biasa, persis seperti barisan tombak raksasa. Satu batang besi tepat menembus bagian perutnya, lalu terus bergerak naik, mengangkat seluruh tubuh berat itu terlempar ke udara. Darah hitam menyembur deras dari luka itu, membasahi tanah di bawahnya dan memercik hingga ke papan-papan kayu dinding gerbang.
Badan monster itu masih bergerak, kaki depannya mencakar-cakar udara dengan panik, mulutnya mengeluarkan raungan nyeri yang memekakkan telinga hingga batang besi kedua muncul tepat di belakangnya.
SPLAAASH...
Besi itu menembus bagian dadanya dan keluar menembus tulang punggungnya. Tubuhnya kini tertusuk dan tergantung tinggi di udara, bergetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya berhenti bergerak sama sekali.
Namun kematiannya tidak menghentikan yang lain. Makhluk yang bergerak di belakangnya tidak sempat mengerem langkahnya. Seekor Nightclaw Stalker melompat terlalu jauh, mendarat tepat di atas tubuh Ravager yang sudah tertusuk itu. Besi yang sudah menembus tubuh besar itu langsung menembus juga tubuhnya dari bawah. Raungannya terputus tepat di tengah suaranya, lalu mati seketika.
Yang lain terus berdatangan bersamaan. Satu, dua, tiga ekor sekaligus. Mereka tidak lagi berusaha menghindari jebakan atau mencari jalan aman. Mereka sengaja menginjak tubuh-tubuh yang sudah mati, menjadikannya pijakan untuk melompat lebih tinggi dan lebih jauh. Tulang-tulang yang sudah patah remuk semakin hancur tertindih beban berat, suaranya bercampur dengan suara gesekan logam yang bergesekan satu sama lain. Lapisan tanah yang tadinya keras kini menjadi lunak dan licin karena campuran darah dan cairan tubuh.
Di atas menara pengawas, Rogan menghembuskan napas panjang yang terasa tajam. “Perangkapnya bekerja!” Namun seketika itu juga raut wajahnya kembali menjadi tegang dan serius. Karena gelombang berikutnya sama sekali tidak peduli dengan pemandangan kematian di hadapan mereka. Bagi mereka, kematian hanyalah tanda bahwa jalan masih bisa dilewati.
“Ada yang berhasil lolos masuk!” seru salah seorang penjaga.
Di bawah dekat gerbang, suasana berubah total menjadi pertempuran jarak dekat yang kacau.
Mereka yang berhasil melewati jebakan besi kini sudah berada di antara barisan para penjaga.
“JANGAN BIARKAN MEREKA MASUK KE DALAM DESA!” Bram berlari maju ke depan gerbang.
Tepat sesaat itu juga, seekor Nightclaw langsung menerjangnya dari samping. Cakarnya yang tajam melesat cepat menuju lehernya. Bram menundukkan kepalanya dalam sepersekian detik. Cakaran itu melesat tepat di atas kepalanya, lalu menghantam papan kayu dinding gerbang di belakangnya. Serpihan kayu kecil beterbangan dan bekas goresan dalam terlihat jelas di permukaannya.
Tanpa menunggu waktu, Bram langsung membalas serangan. Tombak mekanis di tangannya bergerak cepat bagaikan cambuk yang terbuat dari baja. Ujung tombak itu menembus tepat ke bagian dada makhluk itu. Pegas yang tersembunyi di dalam batang tombak itu langsung meledakkan tenaganya. Dampak dorongan itu membuat tubuh Nightclaw terlempar mundur sejauh setengah meter sebelum akhirnya jatuh dan terseret di atas tanah yang licin.
“Ke kanan! Ada yang datang dari sisi tembok!” seru penjaga lain.
Seekor Stonefang Ravager menabrak bagian sisi tembok pembatas. Kayu-kayu penyangga dan batu-batu penyusunnya bergeser karena benturan keras itu. Ia langsung menyambar salah seorang penjaga yang berdiri di dekatnya.
Kedua tubuh itu terpental jatuh ke tanah. Debu tebal mengepul menutupi pandangan sekitar. Penjaga lain yang melihat hal itu langsung menyerang dari samping. Ujung tombak mereka menghantam dan menusuk kulit tubuh makhluk itu yang sekeras batu. Percikan api kecil muncul setiap kali logam bergesekan dengan permukaan tubuhnya yang kasar dan bergerigi. Namun luka yang terbentuk hanya tipis dan dangkal saja.
Ravager itu hanya mengeluarkan suara geraman marah, lengan batu itu menyapu seperti palu raksasa. Dua penjaga tidak terpental, mereka seperti dipatahkan dari dalam sebelum sempat jatuh.
Bram mengepalkan tangannya dengan erat, rahangnya menegang kuat. Bram meludah ke tanah. “Formasi rapat! Jangan lawan satu-satu, kita hancurkan mereka bersama!”
Di atas menara, Rogan masih terus menembak dengan cepat, namun raut wajahnya kini terlihat jauh lebih tegang dan lelah. “Isi ulang! Cepat!”
Garrick melangkah maju melewati Bram. Tanah yang licin oleh darah bahkan tidak membuatnya goyah. “Minggir.” Suaranya tidak keras. Tapi semua orang menurut.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)