Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka dimata Galang
Rumah sudah rapi, wangi telur dadar masih tipis didapur. Gilang sudah tidur, ngorok halus dikamarnya, peluk guling. Capek menyusun lego legonya yang sudah sangat rapi disusun nya.
Raya sedang melipat baju diruang tengah, Daster lusuh yang tadi dibuang sembarangan kini sudah masuk ke kantong plastik sampah. Besok baru dibuangnya.
Galang keluar dari kamar. Tidak pakai medali lagi. Kaos oblong, celana pendek. Rambut masih basah siap mandi.
Galang duduk disamping Raya. Diam. Matanya ketumpukkan baju yang rapi.
“ Kok belum tidur bang? Apa nggak capek?” Raya melirik kearah Galang.
Galang gigit bibir. Tangannya meremas ujung kaos yang dipakainya.
“ Ma..” Suaranya kecil.
Raya pindahkan liputan baju, pindah duduk dekat Galang “ Iya, Sayang.”
“ Galang…Galang Bohong tadi.”
Raya diam,tidak menyela dan menunggu Galang menyelesaikan ucapanya.
“ Tadi,, Saat mama tanya, Apa semuanya baik baik saja, Galang bilang, baik. Padahal tadi Galang sudah jadi anak jahat ma.” Galang mendekap Raya.
Raya mengerutkan kening, karena dia tidak mengerti dengan ucapan Galang Sekarang. Anak jahat? Tentu saja tidak. Galang adalah anak yang baik dan penurut selama ini.
“ Kata mama, kita tidak boleh membentak orang tua, apalagi mama dan papa. Tapi tadi disekolah Galang membentak Papa, Galang kesal sama papa, karena Papa dipeluk tante tante. Seperti mama sering peluk papa.” Galang semakin mendekap erat tubuh Raya.
Jantung Raya berhenti sedetik. Tapi wajahnya datar.Tenang.” Terus?”
“ Galang kesal sama papa, Galang benci sama papa.” Galang angkat kepala. Mata itu, mata Bagas, tapi sekarang isinya kecewa yang dalam.
Tangan Raya mengenal diatas paha. kukunya nancep.
“ Terus Galang bilang apa?” Raya berusaha bicara selembut mungkin. Padahal didalam hatinya sekarang sangat marah. Tapi ujungnya bergetar.
Raya tidak menyangka Bagas sudah berani membawa selingkuhannya kesekolah anak anaknya.
“ Galang bentak tante itu, Galang bilang. Jangan panggil Galang sayang, Galang bilang yang boleh panggil Galang sayang. Cuman mama.”
Raya tertawa. Kecil. Pahit. Airmatanya langsung jatuh satu, langsung dia seka.
“ Habis itu?” Raya masih ingin tahu apa yang terjadi.
“ Papa marah ma,”
Raya semakin terluka, berani sekali Bagas memarahi anaknya demi wanita lain yang sama tidak ada hubungan darah dengannya.
“ Galang langsung narik tangan Gilang, pergi. Papa mau ngejar, tapi Galang bilang jangan mendekat.” Galang akhirnya nangis. Tidak ada suara, cuman airmata yang jatuh ke kaosnya.” Galang takut ma, Galang takut kalau mama tahu. Mama sedih lagi kalau tahu.”
Raya kini mendekap Galang lebih erat dalam pelukannya. Kencang. Seperti tidak rela untuk lepas.” Sssst..Galang tidak salah” Raya elus rambut basah Galang.
“Galang hebat. Galang sudah jagain adek, jagain mama.”
“ Pas Galang nengok terakhir, papa diam aja, wanita itu masih saja memegang tangan papa,” Galang sesegukkan dalam pelukan Raya.
Raya menutup matanya, membayangkan bagaimana hancurnya hati Galang tadi siang gara gara ulah papanya.
“ Sudah ya sayang..” Raya melepaskan pelukannya. Dia pegang pipi Galang, lalu mulai menghapus air mata Galang dengan jempol.” Mulai hari ini, Abang tidak usah jadi benteng lagi, Itu tugas mama untuk menjaga kalian berdua.”
Raya senyum. Senyum yang sampai kemata. Bara kecil tadi pagi sudah jadi api.
“ Mama janji, tidak akan ada yang bisa nyakitin abang sama adek lagi. Termasuk papa. Termasuk tante itu.”
Galang mengangguk.Pelan. Lega.” Mama makasih ya..!”
“ Mama yang harusnya berterima kasih sayang.” Raya kembali memeluk Galang dengan kencang. Matanya melihat kearah pintu ruang tamu. Sofa kosong. Bagas belum pulang. Tidak apa.
Dulu dia takut kesepian, Sekarang dia tahu , lebih baik sepi tapi aman. Daripada ramai tapi terluka.
Raya mengajak Galang masuk kekamar, karena dia butuh istirahat .
Sementara itu Bagas dan Andini sudah kembali ke kantor.
Bagas sudah tidak ada lagi tenaga untuk bicara, pikirannya sekarang hanya tertuju kepada keluarga kecilnya yang sudah hancur karena ulahnya sendiri.
AC mobil dingin. Tapi keringat Bagas mengalir ke kemeja yang dipakainya. Basah. Bukan karena panas. Tapi karena tatapan Galang tadi padanya.
" Papa jahat.." kata kata itu Terus berputar dikepalanya seperti kaset rusak.
Andini tersenyum, dia sungguh sangat menikmati hari ini. " Nanti kita makan apa ya sayang? Seperti aku mau makan stek,deh." Andini bertanya sendiri lalu menjawab sendiri pertanyaannya.
Bagas diam,matanya ke jalan.Tidak ke Andini .
" Mas kamu dengerin aku nggak?" Andini mulai kesal dengan sikap Bagas.
Namun Bagas sama sekali tidak tertarik dengan semua omongan Andini, karena dia sudah tidak punya tenaga lagi.
Andini tidak peduli. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan listip, lalu mengoleskannya ke bibir.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Bagas sudah sampai di parkiran kantor.
Bagas masuk. kemeja kusut. Mata sembab. Tapi punggungnya tegak.
Andini juga mengikutinya dari belakang, karena dia tidak mau nanti gosip beredar di kantor. kalau dia ada hubungan spesial dengan Bagas.
Satria berdiri didepan, bahas evaluasi klien Narada yang batal. Lihat Bagas masuk. Satria diam. Dibelakang Bagas ada Andini.
Bagas tetap bekerja seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apa apa.
Bagas melakukan hal itu. Untuk mencoba menghilangkan rasa sakit dihatinya.
Dirumah.
Setelah Galang tidur, Raya berdiri dibalkon, menikmati angin malam yang menusuk kulitnya.
Raya mengeluarkan HP nya dan mulai mengirim pesan kepada Baga.
" Aku ingin bicara, kita berdua. cepatlah pulang." send.
Pesan terkirim, Raya hanya ingin. bicara dengan Bagas tentang bagaimana selanjutnya rumah tangga mereka, jujur dia tidak bisa lagi seperti ini.
Raya ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh Bagas, Kali ini Raya ingin bicara dari hati ke hati. Bukan dengan emosi.
HP Bagas bergetar, Saat dia melihat layar HP ternyata ada pesan dari nomor Raya.
Bagas segera membalas pesan tersebut dan dia berjanji akan segera pulang.
Bagas tersenyum. Hatinya cukup lega sekarang karena Raya sudah mau lagi bicara dengannya.
Andini melihat wajah Bagas yang tampak senang, Dia tidak terima hal itu.
Andini mencoba mencari cara untuk melihat HP Bagas, karena malam ini mereka kembali lembur . Dia tidak akan membiarkan Bagas kembali baikan dengan Raya.
karena Raya tidak pantas bahagia. Hanya dia yang boleh bahagia .
Bagas berjalan ke toilet dan meninggalkan HPnya diatas meja.
Andini yang melihat kesempatan. Andini mulai mendekat ke meja kerja Bagas dan dengan cepat mengambil HPnya.
Andini membaca pesan dari Raya, perasaannya sangat kesal sekarang.
Andini dengan cepat menaruh HP Bagas ditempatnya semula. Bagas mendekat.
Andini mulai mencari cara untuk membuat Bagas tidak pulang kerumahnya malam ini.
bugh.
Andini pura pura pingsan didepan Bagas, Dia ingin membuat Bagas khawatir padanya.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏