Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28.Tuduhan yang Menyakitkan
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suasana di ruang tamu rumah sakit tempat kedua keluarga berkumpul terasa sangat tegang dan mencekam.
Mama Laras berdiri dengan wajah memerah padam, matanya menatap tajam ke arah Ayah Abdul dan Bunda Maryam, lalu beralih ke arah Gus Aqlan yang masih terbaring lemah namun sadar penuh.
"Jadi begini ceritanya...?" suara Mama Laras terdengar bergetar hebat, campur aduk antara marah dan takut. "Selama ini saya kira mereka cuma kebetulan ketemu di kampus! Ternyata... ternyata ini semua ulah takdir yang kalian simpan rapi-rapi?!"
Papa Arya berdiri di samping istrinya, mencoba memegang bahu istrinya untuk menenangkan. "Sabar ya Ma... Bicaranya pelan-pelan. Ini kan kabar baik, mereka kan memang ditakdirkan..."
"KABAR BAIK APAAN YANG BAIK, YAH?!" potong Mama Laras meledak, air matanya menetes deras. Ia menepis tangan suaminya pelan namun tegas.
Ia lalu menatap Ayah Abdul dan Bunda Maryam dengan tatapan penuh emosi.
"Kalian... kalian sengaja ya membiarkan anak kalian mendekati putri saya?! Kamu, Aqlan..." Mama Laras menunjuk ke arah Gus Aqlan, suaranya penuh tuduhan. "...kamu sudah mau mendekati putri saya, kamu selalu dekat sama dia, tapi kenapa setiap kali kamu ada di dekatnya, Aisyah selalu kena sial terus?!"
Semua orang di ruangan itu terperanjat mendengar ucapan itu. Gus Aqlan terlihat tersentak, seakan ada pisau yang menusuk dadanya.
"Maksud Ibu...?" tanya Gus Aqlan pelan, suaranya lemah namun terdengar jelas.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" seru Mama Laras semakin keras. "Dulu waktu kecil... waktu kalian masih main bareng di pondok, Aisyah pernah sakit keras hampir meninggal! Terus sekarang... baru beberapa bulan dekat sama kamu lagi, dia pingsan, dia nangis terus, dia stres, dia sampai tidak mau makan! Apa lagi ini hah?!"
"Kenapa setiap kali nama Aqlan muncul di hidup anak saya, dia selalu saja mendapat kesusahan dan kesedihan?! Apa kamu memang pembawa sial buat dia?! Apa kamu memang tidak ditakdirkan buat bahagiain dia?!"
BRUK!
Kata-kata itu begitu tajam dan menyakitkan. Menusuk tepat ke jantung Gus Aqlan. Wajah pemuda itu pucat pasi, tangannya mengepal kuat di atas selimut.
"Bunda... Aqlan..." bisik Zea cemas, langsung memegang lengan kakaknya.
Ayah Abdul menghela napas panjang, wajahnya tetap tenang namun penuh wibawa. "Sabar ya Mbak Laras... Kami mengerti kekhawatiran Ibu sebagai seorang ibu. Tapi tolong jangan menuduh seperti itu. Aqlan anak baik, dia tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun."
"TAPI FAKTANYA BEGITU!" potong Mama Laras tak mau kalah. "Saya lihat sendiri mata anak saya bengkak menangis karena anak Bapak! Saya tidak mau! Saya tidak mau anak saya hidupnya penuh air mata karena laki-laki ini! Lebih baik mereka berjauhan daripada terus-menerus sakit hati begini!"
Mama Laras menangis tersedu-sedu, rasa takut kehilangan dan rasa khawatir berlebihan itu meledak menjadi amarah.
"Ma... Jangan bilang begitu..." Papa Arya kembali mencoba menenangkan istrinya, memeluk bahu istrinya erat-erat. "Itu bukan karena sial, Sayang. Itu karena mereka saling sayang, itu karena rindu, itu karena ingatan yang kembali. Jangan hubungkan hal buruk begitu."
"Kalau dia benar jodohnya, kenapa jalannya selalu penuh air mata, Yah? Kenapa tidak bisa bahagia biasa saja seperti orang lain?" isak Mama Laras di dada suaminya. "Mama takut... Mama takut Aisyah nanti sakit terus kalau sama dia..."
Suasana menjadi hening dan penuh tekanan. Tuduhan bahwa dia adalah pembawa sial dan sumber kesialan bagi Aisyah, terngiang terus di kepala Gus Aqlan, membuat hatinya hancur berkeping-keping.
BERSAMBUNG....