NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: BELATI DI BALIK SENYUM AYAH

​Mentari pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar cerah bagi mereka yang hidup di puncak piramida kekuasaan. Di kantor Perdana Menteri yang bernuansa maskulin dengan dominasi kayu ek dan aroma cerutu mahal, Pradikta Kusuma sedang menatap papan catur kristal di meja kerjanya. Pintu besar ruangan itu terbuka tanpa ketukan, menampilkan sosok Cansu yang melangkah masuk dengan setelan blazer hitam yang memancarkan aura otoritas sekaligus duka yang tersembunyi.

​"Duduklah, Putriku," ucap Pradikta tanpa mengalihkan pandangan dari bidak catur. Suaranya terdengar hangat, namun Cansu tahu di balik kehangatan itu terdapat dinginnya baja.

​Cansu tidak duduk. Ia berdiri di depan meja ayahnya, meletakkan tas tangannya dengan suara gedebuk yang disengaja. "Berhenti menekan rumah sakit tempat ayah Rhea bekerja, Ayah. Kamu sudah memecatnya, jangan buat dia kehilangan izin praktiknya juga."

​Pradikta akhirnya mengangkat wajah. Ia tersenyum—senyum yang sering muncul di baliho kampanye, namun di mata Cansu, itu adalah senyum seorang predator. "Kenapa? Apa Ibu Negara mulai merasa iba pada gadis kecil itu? Atau... kamu takut Adrian akan semakin membencimu jika gadisnya menderita?"

​"Ini bukan soal Adrian," sahut Cansu cepat, meski dadanya berdenyut perih mendengar nama itu. "Ini soal martabat. Jika kita terus menyerang warga sipil secara terang-terangan, publik akan mulai mencium bau busuk dari kantor ini. Dan itu tidak baik untuk rencana besarmu menjadikan Presiden Diningrat sebagai boneka."

​Pradikta tertawa rendah, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. Ia berdiri, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Cansu. Ia merapikan kerah baju putrinya dengan gerakan yang nampak sayang namun terasa seperti cekikan.

​"Jangan mengajariku soal politik, Cansu. Ingatlah siapa yang membawamu ke kursi Ibu Negara. Tanpa aku, kamu hanyalah wanita yang nyaris mati di bak mandi karena cinta monyet yang bodoh."

​Cansu menegang. Rahangnya mengeras. "Aku melakukan apa yang Ayah mau. Aku menikahi Diningrat. Aku meninggalkan hidupku. Apa itu belum cukup?"

​"Belum," desis Pradikta, matanya berkilat penuh ambisi. "Selama Adrian masih memegang kendali Diningrat Grub, posisi kita belum aman. Anak itu terlalu cerdas, terlalu mirip denganku dalam hal kelicikan. Dia menggunakan gadis itu sebagai tameng emosional. Maka, cara terbaik untuk menghancurkan tamengnya adalah dengan menghancurkan sumber kebahagiaannya."

​Pradikta mencengkeram lengan Cansu, cukup kuat untuk meninggalkan bekas. "Pastikan kamu tetap di pihakku. Jangan biarkan perasaan lamamu pada Adrian membuatmu lengah. Jika kamu mengacaukan rencana ini, ingatlah ibumu di Milan. Dia sangat menyukai udara Italia, bukan? Sayang sekali jika ia harus pindah ke tempat yang... jauh lebih gelap dan sempit."

​Cansu menatap ayahnya dengan tatapan yang bisa membunuh. "Anda benar-benar iblis, Ayah."

​"Iblis adalah sebutan bagi mereka yang menang dalam sejarah, Cansu. Sekarang, pergilah. Siapkan dirimu untuk pertemuan dewan besok. Dan pastikan tunangan Adrian itu tahu posisinya."

​Cansu keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sedikit limbung. Ia bersandar di dinding koridor yang sepi, berusaha mengatur napasnya yang sesak. Di telapak tangannya, bekas kuku ayahnya meninggalkan jejak kemerahan.

​Ia harus bergerak. Bukan untuk menghancurkan Rhea, tapi untuk memastikan Adrian tidak melakukan langkah gegabah yang bisa memicu kemarahan ayahnya lebih jauh. Baginya, kebencian Adrian adalah harga kecil yang harus dibayar demi keselamatan nyawa pria itu.

​Di mansion pegunungan, suasana jauh lebih hangat namun penuh kecurigaan. Rhea sedang berada di perpustakaan bersama Vier. Mereka sedang mempelajari jurnal medis, namun pikiran Rhea terus melayang pada pembicaraan tengah malamnya dengan Ian.

​"Vier," panggil Rhea pelan.

​"Hmm?" Vier menoleh tanpa melepaskan kacamata bacanya.

​"Apa kamu tahu kenapa Kakakmu dan Cansu... maksudku, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu mereka? Kenapa atmosfer di antara mereka terasa seperti medan perang yang penuh luka?"

​Vier terdiam. Ia meletakkan bukunya dan menghela napas panjang. "Rhea, di keluarga ini, rahasia adalah mata uang. Tapi karena kamu adalah tunangan Kakakku—meski aku tahu soal kontrak itu—aku akan memberitahumu satu hal."

​Vier mencondongkan tubuhnya. "Kak Ian tidak pernah mencintai wanita lain selain Cansu. Dan Cansu... dia dulu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Kak Ian tertawa lepas. Tapi politik mengubah segalanya. Ayah Cansu, Perdana Menteri Pradikta, adalah orang yang mengatur semua ini. Dia memisahkan mereka dengan cara yang paling kejam agar dia bisa mengontrol Ayahku melalui Cansu,Entah Cara apa yang digunakan untuk mengubah Seorang cansu ceria menjadi seperti sekarang."

​Rhea merenung. * Tumor yang menyakitkan untuk menyelamatkan pasien.* Ia mulai mengerti analogi itu sekarang. Cansu bukan mawar berduri karena ia ingin, tapi karena ia harus melindungi akar yang tersisa.

​Sore harinya, Ian pulang dengan wajah yang sangat lelah. Yusuf membawakan tas kerjanya sementara Ian langsung menuju bar kecil di ruang tengah untuk menuangkan wiski.

​"Tuan Muda, ada pesan dari asisten Ibu Negara," ucap Yusuf ragu.

​Ian berhenti menuang. "Apa?"

​"Nyonya Besar ingin bertemu di taman rahasia Istana Bogor akhir pekan ini. Beliau bilang... ini soal keselamatan Nona Rhea dan masa depan Diningrat Grub."

​Ian menyeringai pahit. "Dia mulai menggunakan ancaman sebagai undangan minum teh lagi."

​Tiba-tiba, Rhea muncul dari balik pilar. Ia menatap Ian dengan tatapan yang berbeda—bukan lagi tatapan takut atau bingung, melainkan tatapan penuh empati yang membuat Ian merasa tidak nyaman.

​"Pergilah, Ian," ucap Rhea tegas.

​Ian menoleh. "Apa kamu sudah gila? Dia bisa saja merencanakan sesuatu untuk mencelakaimu."

​"Dia tidak akan mencelakaiku selama aku berguna untuk menekanmu," balas Rhea cerdas. "Tapi jika kamu tidak menemuinya, kamu tidak akan pernah tahu apa yang sedang direncanakan ayahnya. Aku tahu Pradikta adalah ancaman yang sebenarnya, bukan Cansu."

​Ian menatap Rhea lama, mencari keraguan di mata gadis itu, namun ia tidak menemukannya. Ian melangkah mendekati Rhea, berdiri cukup dekat hingga Rhea bisa mencium aroma wiski dan maskulin yang pekat.

​"Kamu mulai belajar cara bermain di dunia ini, Rhea," bisik Ian. Tangannya perlahan mengusap pipi Rhea, sebuah gerakan yang sangat lembut dibandingkan dengan kekasaran dunianya. "Tapi ingat, sekali kamu masuk terlalu dalam, tidak ada jalan kembali."

​"Aku sudah masuk sejak aku menerima kontrakmu, Adrian," sahut Rhea tanpa gentar.

​Di sisi lain, Cansu berdiri di balkon kamarnya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang kini sudah diperbaiki. Ia memakai cincin berlian pemberian Presiden Diningrat—cincin yang terasa seperti borgol di jarinya.

​Ia mengambil secarik kertas kecil yang ia sembunyikan di balik pigura foto ibunya. Di sana tertulis sebuah alamat di pinggiran kota, tempat yang pernah menjadi saksi bisu janji-janji masa mudanya dengan Ian.

​"Pertunjukan terakhir akan segera dimulai," gumam Cansu.

​Ia tahu Pradikta sedang mengawasi setiap geraknya melalui Maya. Maka, ia harus memainkan peran sebagai Ibu Negara yang kejam dengan lebih sempurna dari sebelumnya. Ia harus membuat Adrian membencinya sampai ke titik di mana Adrian akan melakukan segala cara untuk menjatuhkannya—karena hanya dengan jatuhnya Cansu dan Presiden Diningrat, kekuasaan Pradikta akan ikut runtuh.

​Ia bersedia menjadi tumbal, asalkan Adrian tetap menjadi raja di atas reruntuhan itu.

​Malam itu, simfoni pengkhianatan mulai mencapai nada-nada tinggi. Di satu sisi, Ian mulai menyadari bahwa ia mungkin benar-benar jatuh cinta pada Rhea, namun di sisi lain, bayang-bayang Cansu tetap menjadi hantu yang menuntut penjelasan. Dan di atas segalanya, Pradikta Kusuma sedang menyiapkan panggung untuk sebuah tragedi yang akan mengubah wajah negara selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!