Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Adrian melempar tubuhnya ke sofa ruang tamu sesampainya di rumah sambil mengusap wajah kasar. Jas hitamnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi ekspresinya terlihat lelah dan kesal sekaligus.
Di meja makan, Mita yang sedang menuangkan teh hangat menoleh pelan.
“Kamu capek banget?” tanyanya lembut.
Adrian mengembuskan napas panjang.“Hari ini kantor kacau.”
Mita mendekat membawa cangkir teh lalu duduk di samping suaminya. “Ada masalah?”
Pria itu diam beberapa detik, seolah mempertimbangkan apakah cerita itu pantas diucapkan atau tidak. Namun akhirnya ia tertawa miris.“Aku mergokin Rio.”
Mita mengernyit. “Rio? Kenapa memang?”
Adrian menatap istrinya. “Dia lagi sama Tiara di ruang meeting.”
Hening seketika.
Mita langsung memahami maksud kalimat itu tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.
Matanya membesar perlahan.“Maksud kamu… mereka berdua?”
Adrian mengangguk pelan sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Aku awalnya cuma mau ambil berkas presentasi yang ketinggalan. Ruang meeting lantai tiga gelap. Tapi pas aku buka pintunya…” Ia berhenti lalu tertawa hambar. “Sialnya aku malah lihat mereka lagi pelukan.”
Mita menutup mulutnya kaget.“Ya Allah…”
Adrian menyandarkan kepala ke sofa. “Tiara bahkan duduk di atas meja meeting. Rio panik banget waktu lihat aku.”
“Terus?”
“Aku tegur lah. Sebenarnya Malas ribut di kantor. Tapi, Tiara itu asisten ku, bawahanku. Repot urusannya kalau udah nyebar. ” Adrian mendecakkan lidah. “Tapi yang bikin aku muak, Rio punya Livy di rumah. Anak-anaknya juga.”
Nada suara Adrian terdengar penuh penilaian.
Ia memang tidak menyukai perselingkuhan, terlebih setelah melihat sendiri bagaimana istrinya adalah korban perselingkuhan dan Livy juga selama ini berusaha mempertahankan rumah tangganya. Lebih sialannya lagi, keduanya adalah korban dari laki-laki yang sama. Meskipun Livy dulu juga adalah pelaku.
Mita menatap wajah suaminya hati-hati.“Tiara gimana?”
“Panik, tentu aja.” Adrian tertawa sinis.
“Aku pengin tau, besok dia masih berani masuk ruanganku atau nggak. Pengin tau alasan apa yang mau dia kasih ke aku.”
Mita menghela napas panjang.“Kasihan Livy kalau sampai tahu.”Ada rasa senang juga sebenarnya dalam hati Mita. Karena dulu ia merasakannya.
Adrian diam sesaat. Rahangnya mengeras mengingat ekspresi Rio tadi terlihat panik, takut, gugup, tapi juga seperti ketagihan.
“Yang aku takut,” gumam Adrian pelan, “ini bakalan kesebar. Sebenarnya hal begituan tuh di kantor banyak. Cuma aja— hah."
Mita menggigit bibir bawahnya. “Kamu mau ngomong ke Livy?”
Adrian langsung menggeleng.“Itu bukan urusanku.” Tatapannya berubah berat. “Tapi kalau suatu hari semuanya terbongkar, aku nggak bakal heran.”
Suasana mendadak sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar memenuhi rumah itu.
Mita menatap Adrian beberapa detik sebelum akhirnya menggenggam tangan pria itu pelan.
“Aku senang kamu beda.”
Adrian menoleh.
Mita tersenyum kecil. “Kamu pulang ke rumah. Cerita semuanya ke aku.”
Tatapan Adrian langsung melembut. Ia menarik tangan Mita lalu mengecup punggung tangannya singkat.
“Aku nggak mau jadi laki-laki kayak gitu.”Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup tegas.
Akhirnya ia merasa sedikit lega. Karena sejak keluar dari kantor tadi, kepala Adrian terasa begitu berat. Kini jauh terasa lebih ringan.
。◕‿◕。
Malam itu hujan turun pelan di luar rumah. Suasana kamar terasa hangat dengan lampu tidur redup dan aroma vanilla dari lilin kecil favorit Mita. Perempuan itu duduk di lantai dekat meja kecil sambil membuka laptop kerjanya, fokus mengecek revisi pesanan dessert dari pelanggan.
Sementara Adrian baru selesai mandi dan keluar memakai kaos hitam serta celana training abu-abu.
Pria itu berhenti sebentar memperhatikan istrinya.
Cantik.
Tapi juga keras kepala.
“Kamu belum tidur?” tanyanya sambil mengeringkan rambut.
Mita menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Masih ada yang harus dicek.”
Adrian berjalan mendekat lalu duduk di samping Mita di lantai.“Dari tadi kerja terus.”
“Aku suka kok, Mas. Ini tuh rekapan yang harus aku hitung ulang.”Mita menjelaskan dengan sekali menoleh.
Adrian diam beberapa detik sebelum akhirnya menyender ke sofa kecil di belakang mereka.
“Mita.”
“Hm?”
“Kamu masih mau kerja terus?”
Pertanyaan itu membuat Mita menoleh.
“Kenapa emangnya?”
“Capek nggak?”
Mita tersenyum kecil. “Normal lah capek.”
Adrian memperhatikan wajah istrinya lama.
Sejak menikah, ia sadar Mita tipe perempuan yang tidak bisa diam. Mita senang produktif. Senang membuat sesuatu. Senang punya penghasilan sendiri.
Dan Adrian justru menyukai sisi itu.
Namun melihat Mita pulang kerja dalam keadaan lelah beberapa kali membuatnya mulai berpikir.
“Aku kepikiran sesuatu,” ucap Adrian pelan.
“Apa?”
“Kita belum pernah bahas ini sebelumnya. Kalau nanti kamu berhenti kerja dari bakery..."
Mita langsung memicingkan mata curiga.“Terus?”
“Kamu buka usaha sendiri aja.”
Mita terdiam.
Adrian melanjutkan santai, “Kamu suka bikin dessert. Suka eksperimen. Kenapa nggak sekalian serius?”
Mita tertawa kecil. “Usaha nggak segampang itu.”
“Ada aku.”
“Nggak mau ah bergantung terus.”
Adrian langsung menarik tangan Mita pelan hingga perempuan itu otomatis bersandar di dadanya.“Dengerin dulu.”
Nada suara pria itu melembut.“Aku bukan mau ngebatasin kamu kerja.”
Mita menatap Adrian diam-diam.
“Aku cuma nggak suka lihat kamu terlalu capek kerja buat orang lain.” Adrian mengusap pelan punggung tangan istrinya.“Kalau bisa punya usaha sendiri, kenapa nggak?”
“Modalnya besar, Mas.”
“Aku yang keluarin.”
Mita langsung menggeleng cepat. “Mas Adrian...”
“Anggap investasi.”Adrian mengecup kening Mita.
“Tapi itu uang kamu.”
Adrian terkekeh kecil. “Dan kamu istri aku.”
Entah mengapa kalimat sederhana itu sukses membuat Mita salah tingkah.
Adrian selalu jujur soal perasaan. Tapi setiap kali bicara serius, Mita selalu merasa sangat dihargai.
“Aku nggak mau kamu berhenti jadi diri sendiri setelah nikah sama aku,” lanjut Adrian pelan. “Kalau kamu suka kerja, ya kerja. Kalau kamu punya hobi, ya lanjut.”
Mata Mita perlahan melembut.
“Banyak orang mikir setelah nikah perempuan harus diem di rumah,” gumam Adrian. “Aku nggak mau kayak gitu.”
“Terus kalau aku sibuk nanti?”Mita menatap lembut kedua mata suaminya.
“Aku ikut sibuk.”
Mita tertawa kecil.“Kalau aku gagal?”
Adrian langsung menjawab tanpa ragu,“Ya coba lagi.”
Jawaban sesederhana itu justru membuat hati Mita terasa hangat. Adrian tidak pernah menertawakan mimpinya. Tidak pernah meremehkan hal-hal kecil yang ia sukai. Bahkan dessert gagal buatan Mita saja tetap dimakan habis oleh pria itu.
“Aku serius,” ucap Adrian sambil menatapnya. “Nanti buka bakery sendiri.”
Mita tersenyum malu. “Namanya apa?”
Adrian berpikir sebentar lalu menjawab santai, “Terserah kamu.”
“Kalau pakai nama aku?”
“Bagus.”
“Kalau pakai nama kamu?”
Adrian langsung menggeleng. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Nanti orang pikir aku yang jualan pudding.”
Mita langsung tertawa keras sampai kepalanya jatuh ke bahu Adrian.
Dan pria itu ikut tersenyum kecil sambil memeluk istrinya lebih dekat.
Di luar, hujan masih turun perlahan.
Namun di dalam rumah itu, Mita merasa hidupnya perlahan menjadi jauh lebih tenang sejak bertemu Adrian.
Bagi Mita, Adrian adalah rumah ternyaman. Semua hal yang belum pernah ia dapatkan dari keluarga dan mantan suaminya dulu. Kini ia dapatkan dari suaminya, Adrian Azzam.
[]