hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan
Jam satu siang, para murid sudah meninggalkan gerbang sekolah untuk menuju rumah mereka, sementara itu Risma, ila dan Nana sedang berdiri di depan gerbang yang sudah tertutup, sedang menunggu sesuatu.
" ini sudah lewat lima belas menit kalian masih mau menunggu? " Nana berbicara kepada dua temanya itu.
" yaudah deh kita pulang aja " Risma berdiri dari duduknya, saat Risma dan Nana berniat pergi tiba-tiba ila berbicara.
" tunggu dulu, gimana kalau kita mengecek warung yang disana " ila berbicara dengan semangat yang tinggi.
" mau ngapain? " Risma bertanya.
" ya.... Siapa tau dia lagi main game di sana " ucap ila sambil menarik tangan kedua sahabatnya menuju warung yang disana.
Di depan warung ada sepeda milik Risma yang sedang terparkir disana, yang berarti Aidan ada di dalam sana, tapi untuk lebih memastikan ila bertanya kepada penjaga warung itu.
" anu... Bang mau tanya, ada anak laki-laki yang lagi main game gak? " ila bertanya nadanya sopan.
" ada, kalian masuk aja " penjaga warung itu menyuruh mereka masuk kedalam, setelah mereka membuka sepatu milik mereka, melihat ke arah dalam Risma, ila dan Nana akhirnya bisa melihat Aidan yang sedang fokus menatap layar monitor.
...****************...
Pov Aidan
Aku sedang fokus menatap layar monitor memainkan zombie Hunter, menembak semua zombie yang datang, suara game terdengar cukup keras sampai aku tidak mendengar dengan jelas suara orang yang memanggil.
Pundak ku ada yang menyentuh, menoleh kebelakang aku melihat Risma dan temannya sedang berdiri ekspresi Risma terlihat sedikit kesal, aku melihat jam tangan yang sudah menunjuk ke angka 1 dan 4.
" maaf banget, aku kelupaan " aku segera meminta maaf karena sudah lupa untuk menjemputnya.
" gak usah di bahas ayo pulang " ekspresi Risma tidak berubah sama sekali masih terlihat kesal.
Aku berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar, setelah selesai membayar aku keluar bersama, menunggu mereka menggunakan sepatunya kembali aku berdiri sambil melihat ke arah pepohonan yang tampak begitu indah.
Setelah mereka selesai memakai sepatu mereka kami akhirnya berjalan menuju arah pulang, di sepanjang jalan aku hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka kepadaku, selebihnya aku hanya diam menyaksikan candaan mereka.
setelah perjalanan cukup panjang kami berpisah dengan ila dan Nana, menyisakan Risma dan aku yang masih satu arah tujuan, kami sedikit mengobrol tentang kehidupan sekolah kami.
" enak ya sekolah disini jam 1 sudah pulang " aku berbicara tentang perbedaan jam pulang sekolah.
" hm..memangnya kamu biasa pulang sekolah jam berapa? " Risma melirik ke arahku sambil bertanya.
" Hah.... Aku pulang jam 4 sore " memikirkan kembali bahwa aku harus menghabiskan 40% waktu ku berada di sekolah membuatku menghela nafas panjang.
" kamu hampir gak ada waktu buat bermain dong " ucap Risma
" ya begitulah kehidupan sebagai seorang pelajar "
" kenapa gak pindah aja sekolah disini " Risma bertanya
" haha mungkin nanti saat naik kelas 3 aku pikirkan untuk pindah kelas " aku menjawab pertanyaan itu dengan sedikit candaan.
Aku akhirnya bisa melihat rumah nenekku, semakin dekat aku melihat mobil milik ayahku terparkir di depan rumah nenek.
" aku masuk dulu ya dah " aku melambaikan tangan kearah Risma, yang di balas juga oleh dia.
Aku masuk kedalam, kedua orang tuaku dan juga kakakku sedang duduk bersama nenek di sofa panjang.
" Aidan bukannya kamu temanin nenek kamu, kamu malah jalan-jalan gak jelas " ayah berbicara nadanya tinggi.
" maaf " aku tidak punya alasan hanya bisa meminta maaf karena telah meninggalkan nenek sendirian.
Aku duduk di sebelah kakakku, kami berdua diam melihat ibu dan nenek yang saling berbicara.
" ngak mau, ibu gak mau pindah " ucap nenekku.
" aku khawatir kalau ibu harus tinggal sendirian disini, ibu tinggal bersama kami saja yak " ucap ibuku sedikit memohon.
Walaupun dibujuk terus menerus oleh ibu dan ayahku, nenek masih terus menolak ajakan untuk pindah kerumah kami dia masih bersikukuh untuk tetap tinggal disini walau sendirian.
Kakakku mengigit bibirnya seperti menahan mulutnya untuk berbicara selain itu tangannya juga bergetar pelan, aku kemudian memegangi tangannya.
" Kakak ngak apa-apa? " tanyaku bisik-bisik, kakak diam tidak menjawab. Menghela napas pendek kemudian kakakku memotong pembicaraan ibu dan nenek.
" ibu aku ingin tinggal disini " kakakku berbicara dengan nada tinggi untuk menutupi rasa gugupnya.
Tinggal disini! Sedikit bingung mendengar ucapan itu keluar dari mulut kakakku aku melirik kearahnya. Sepertinya kakakku sudah mengumpulkan keberanian untuk membicarakan ini.
" Kamu mau tinggal disini Lisa? " ibuku bertanya kepada kakakku
" Iya, aku ingin tinggal disini " kakakku kembali berbicara dengan penuh percaya diri, setelah insiden yang menimpanya.
Entah kenapa ibu dan ayahku terlihat seperti hendak menangis, ya... Aku tahu alesan mereka membuat ekspresi seperti itu. Sudah cukup lama kak Lisa menutup dirinya, melihat kembali anak mereka berbicara dengan percaya diri setelah bertahun-tahun menutup dirinya, tentu saja membuat itu membuat mereka ingin menangis.