Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugurnya daun-daun dunia
Musim kemarau di pesantren selalu datang dengan perlahan, membawa angin kering yang membisikkan pesan tentang ketabahan. Bagi Zayna, kemarau kali ini tidak hanya melanda sawah-sawah di sekitar Al-Fatih, tetapi juga menghantam pondasi kehidupan yang selama ini ia anggap sebagai jaring pengaman.
Hanya tiga bulan setelah akad yang sakral itu, sebuah kabar buruk datang dari Jakarta laksana petir di siang bolong. Perusahaan Ayah, Almeera Group, benar-benar mencapai titik nadir. Likuidasi massal tidak bisa dihindari. Seluruh aset yang tersisa harus dilepas untuk menutupi hutang-hutang masa lalu yang membengkak akibat sabotase dan bunga bank yang mencekik.
Pagi itu, Zayna duduk bersimpuh di teras Ndalem, menatap surat sita yang baru saja dikirimkan melalui kurir. Tangannya gemetar. Rumah mewah di Menteng, apartemen di Singapura, hingga koleksi mobil Ayah yang menjadi simbol kejayaannya, semuanya telah berpindah tangan.
"Mas..." bisik Zayna saat Haidar berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. "Semuanya sudah habis. Ayah dan Bunda benar-benar kehilangan segalanya. Aku merasa... aku merasa ini semua karena kesalahanku yang dulu tak peduli pada mereka."
Haidar tidak segera menjawab. Ia menatap hamparan daun jati yang kering dan berguguran di halaman pesantren. Ia mengambil selembar daun cokelat yang rapuh, lalu meletakkannya di telapak tangan Zayna.
"Lihatlah daun ini, Zayna. Apakah pohon jati ini sedang bersedih saat ia melepaskan mahkotanya?" tanya Haidar lembut.
Zayna menggeleng kecil, air matanya mulai menggenang.
"Pohon jati menggugurkan daunnya bukan karena ia kalah, tapi karena ia tahu ia harus menyimpan energi di dalam akarnya agar bisa bertahan hidup melewati musim panas yang panjang. Jika ia memaksakan diri menyimpan daun-daun itu, ia akan mati kekeringan," Haidar menjeda, jemarinya mengusap air mata di pipi Zayna. "Begitupun Ayah dan Bundamu. Allah sedang menggugurkan 'daun-daun dunia' mereka agar mereka tidak mati karena beban yang terlalu berat. Allah ingin mereka fokus pada akar mereka kembali."
Kepindahan Ayah dan Bunda ke desa dilakukan secara sangat sederhana. Tidak ada truk besar yang membawa furnitur mewah impor. Mereka hanya membawa beberapa koper pakaian dan barang-barang yang memiliki nilai kenangan. Mereka kini menempati sebuah rumah kecil berbahan kayu dan bata ekspos di perbatasan pesantren, sebuah rumah yang dulu digunakan oleh para pengajar senior.
Zayna berdiri di depan pintu rumah itu, hatinya perih melihat Bunda yang dulu selalu tampak glamor kini sedang menyapu lantai semen dengan sapu lidi. Bunda mengenakan daster katun sederhana dan hijab instan.
"Bunda... maafkan Zayna," isak Zayna sambil memeluk ibunya dari belakang.
Bunda berbalik, dan untuk pertama kalinya, Zayna melihat sorot mata yang begitu damai, sesuatu yang tak pernah ia lihat saat Bunda mengenakan perhiasan berlian paling mahal sekalipun.
"Kenapa minta maaf, Sayang?" Bunda tersenyum, lalu menarik Zayna duduk di bangku kayu panjang. "Bunda justru ingin berterima kasih. Jika bukan karena pernikahanmu dengan Gus Haidar, Bunda dan Ayah mungkin sudah gila menghadapi kebangkrutan ini di Jakarta. Di sana, orang menghargai kami karena angka. Di sini, orang menyapa kami karena kami adalah sesama hamba Allah."
Ayah muncul dari arah belakang, membawa dua buah kelapa muda yang baru saja dipetiknya bersama santri. Wajahnya yang dulu selalu tegang karena grafik saham, kini tampak lebih segar. Kulitnya sedikit terbakar matahari, namun guratan amarah di dahinya telah hilang.
"Zay, Ayah baru sadar," ucap Ayah sambil meletakkan kelapa itu. "Dulu Ayah mengejar gunung emas, tapi Ayah lupa cara menapak di atas tanah. Sekarang, Ayah tidak punya emas, tapi Ayah merasa bumi ini sangat luas untuk dipijak. Abahmu—Kyai Sepuh—memberi Ayah tanggung jawab mengelola koperasi pesantren. Ayah merasa seperti memulai hidup baru di usia senja, dan itu sangat indah."
Malam harinya, di bawah langit bertabur bintang, Zayna dan Haidar berjalan menyusuri jalan setapak di antara pematang sawah. Suara air mengalir di irigasi memberikan musik latar yang menenangkan bagi batin Zayna yang mulai pulih.
"Mas, aku baru paham sekarang," kata Zayna sambil menggandeng tangan suaminya. "Kekayaan itu ternyata bukan tentang apa yang kita pegang, tapi tentang apa yang tidak lagi bisa menyakiti kita saat ia pergi."
Haidar berhenti melangkah. Ia memutar tubuh Zayna agar menghadapnya. "Zayna, kamu tahu kenapa mawar di pesantren ini tetap harum meski jarang disiram di musim kemarau?"
Zayna menatap mata suaminya yang bercahaya diterpa sinar rembulan. "Kenapa, Mas?"
"Karena ia tidak lagi mengandalkan air hujan yang datang dari langit sesekali. Akarnya sudah belajar merambat jauh ke dalam tanah, mencari sumber mata air yang abadi. Itulah iman. Dan hari ini, aku bangga melihat mawar kota-ku sudah menemukan mata airnya sendiri."
Haidar menarik Zayna ke dalam pelukannya. Di tengah kesunyian malam, Zayna menyadari bahwa kebangkrutan keluarganya adalah cara Tuhan untuk membersihkan noda terakhir dalam hidupnya. Ia tidak lagi memiliki apa-apa untuk dipamerkan kepada dunia, dan justru dalam keadaan "kosong" itulah, ia merasa jiwanya benar-benar penuh.
"Terima kasih sudah menjadi tanah yang sabar bagiku, Mas," bisik Zayna di dada Haidar.
"Dan terima kasih sudah bersedia luruh bersamaku, Zayna. Karena setelah musim gugur ini, kita akan menyambut musim semi yang paling indah, di mana setiap bunga yang tumbuh adalah bunga yang diridhai-Nya."
Zayna kini menyadari, kehidupan barunya bukan hanya tentang menjadi istri seorang Gus, tapi tentang menjadi saksi hidup bahwa Tuhan bisa mencabut segala sesuatu dari tangan kita, hanya untuk memberikan sesuatu yang jauh lebih besar di dalam hati kita. Di rumah kecil perbatasan pesantren itu, sebuah keluarga baru saja lahir kembali—keluarga yang tidak lagi berpijak di atas tumpukan harta, melainkan di atas hamparan doa.
Dosa gak sih puasa sambil nangis nulis cerita ini...
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp