Dengan kasar Arga melepas manik-manik yang menghiasi kepala istrinya, melepas kasar jilbab beserta ikatan rambutnya. Banyak helaian rambut yang tercabut membuat Mawar meringis kesakitan.
“hentikan aku mohon!! Hiks hiks”
Allih-alih memperdulikan Mawar yang menangis ketakutan Arga lebih memilih meneruskan perbuatannya memaksa melepaskan kebaya putih yang menutupi tubuh mawar. Sekuat apapaun mawar melawan jelas tenaganya tak sebanding dengan Arga yang kini telah tersulut emosi. Perkataan mamahnya mengiang jelas difikirannya bukan pernikahan seperti ini yang mawar harapkan, memang dengan Arga ia ingin membangun rumah tangga tapi tidak seperti ini. Dirinya dipaksa melepas pakaian dengan kasar oleh suaminya sendiri hingga kini ia sudah pasrah karna kebaya yang menutupi tubuh atasnya telah terlepas menyisakan bra hitam yang dengan setia menutupi gunung kembarnya. Arga menghentikan aktivitasnya menatap manik mata sang istri yang segera menunduk ketakutan.
“ini pilihanmu Mawar, jangan salahkan aku”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon afrabaik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan
Kemeja putih dengan short jeans dan sepatu sneakers membuat alif semakin dipandang para kaum hawa di Bandara Soeta. Terlebih saat doi menyibak rambutnya membuat setiap pasang mata yang melihatnya akan meleleh seleleh-lelehnya.
“kenapa sih harus pakai kacamata segala??” sungut mawar yang terus memelototi alif semenjak keberangkatan.
“hmm??”
Alif yang mengenakan kacamata hitam bermerek bvlgari memang membuatnya terlihat sangat maskulin. Karena melihat bibir istrinya yang sudah maju sepersekian centi yang artinya ‘aku sedang marah’ membuat alif bingung.
“kenapa dengan kacamataku??” tanyanya lembut
“lepas!! Biar aku saja yang pakai” ketusnya
“ohh… kamu marah karena ingin memakai ini?? Ya ampun sayang, nanti kita beli di turki” alif mengelus pucuk kepala istrinya.
“bukan begitu, mas gak peka bgt sih. Liat tuh, tiap cewe yang lewat, matanya gak lepas dari mas alif!! Karena apa coba?? Karena mas alif kegantengan tau gak! Pokoknya cepat lepas kacamatanya, biar aku yang pake”
“ohh, cemburu?? Baiklah, nih”
Saat alif melepas kacamata, seluruh wanita memandangnya, menangkap damage alif yang cool abiz saat melepas kacamata.
“uwaaaaaaaaaaaaa!!”
Alif semakin tampan dengan memperlihatkan mata hitamnya yang pekat, ia terheran dengan reaksi yang menurutnya agak berlebihan. Sementara mawar tambah panas.
“PAKAI LAGI!”
“hah?? oh o oke”
“pakai ini juga!!!” mawar memberikan masker hitam miliknya dan alif segera memakainya.
Bukannya menyembunyikan ketampanannya, justru dengan masker dan kacamata hitamnya, membuat visual alif kian menggoda. Mawar bukan kepalang sangat marah. Kakinya seakan tak menyentuh lantai karena geram, pendingin di bandara pun tak terasa sama sekali. Matanya makin melotot, marah.
“matamu nanti copot sayang”
“HEM!!! Besok-besok kalau mau keluar kamu harus pakai kerudung!!” mawar mengalihkan tatapannya pada alif, semakin tajam ‘kenapa kamu harus berpenampilan seperti ini’ batinnya
Alif segera melepas maskernya, menyimpannya di saku. Melepas kacamatanya dan menggantungkannya di sela-sela kancing baju. Alif meraih tengkuk mawar dan \*\*\*\*\*\*\* bibirnya di depan umum, cukup lama. Mawar kaget dibuatnya, matanya tak menutup saat menikmati ciuman dari suaminya. lidahnya bermain didalam sana, menyesap kuat dan \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* habis. Alif melepas ciumannya, memegang wajah mawar dan mengarahkannya untuk mencium kening, pipi dan terakhir hidungnya.
“aku milikmu, ini semua… (alif melingkari tubuh dengan telunjuknya) milikmu. Jadi, jangan takut ada wanita lain yang merebutnya. Saat kamu ingin menunjukan bahwa aku milikmu, berilah tanda kepemilikan disini (menunjuk bibir) dengan begitu mereka akan tau bahwa aku milikmu. Mengerti sayangku”
Mawar mengangguk pelan, senyumnya tak bisa ditahan. Bahkan pipinya sudah lebih dulu merona.
“liif!!!”
Riko berlari dari kejauhan, menggenggam tangan rika yang kewalahan mengimbangi langkah riko yang besar dan cepat.
“mas!! Huh hah… (mengatur nafas) gak bisa pelan-pelan apa?? itu kaki orang atau kaki unta sih, lebar bgt langkahnya" mawar memberikan rika minum setelah sampai dihadapannya.
“hehe, maaf sayang. lagian itu kaki kamu udah kaya koyo, rapet bgt” jawab Riko tekekeh yang dibalas pukulan oleh Rika.
"ampun sayang" mohon nya mencium kening Rika.
“kamu melupakan ini” riko memberikan buku pada Alif
“bagaimana bisa aku melupakan ini?? Terimaksih ko. Ini sangat berharga bagiku”
“buku apa itu mas??” tanya Mawar
“ini buku pertama yang aku pelajari di SD dan aku sangat menyukainya”
“setebal itu?? Waaah pantas saja dokter alif cerdas sekali. Dari SD saja bacaannya begituan”
Alif tersenyum menanggapi rika.
“sayang??”
“ibu??” mawar berlari menghampiri ibunya, memeluk dan menciumnya berualang kali, begitupun yang ia lakukan pada ante anggi dan bunda suci.
Alif menyalami 3 keluarga besar bersahabat itu. Meminta restu dan do’anya agar selalu diberi kelancaran.
“dimana orang tuamu lif??” tanya ayah Dimas
“oh beliau…”
“saya disini!” ayah Faruk muncul dari pintu masuk 3, hanya sendiri.
“maaf terlambat” sambungnya, menyalami semua orang yang ada di sana.
“anne tidak bisa ikut karena sedang sakit, maaf.”
“tidak apa-apa ayah, maaf karena kami harus pergi disaat anne sakit”
“tidak apa-apa”
“ibu harap kalian selalu bahagia dan Allah bersama kalian dalam segala keputusan-NYA”
“baik-baik disana yah sayang” anteu anggi memeluk mawar
“jangan khawatirkan kami di dini” pinta bunda suci
“iya bun, apa bunda sudah bertemu mas arga??”
Tidak ada jawaban dari bunda suci, hanya tatapan syahdu yang ia perlihatkan.
“ini semua bukan salah mas arga sendirian bun, mawar juga bertanggung jawab karena telah mengizinkannya menikah lagi. bagaimanapun mas arga adalah anak bunda, mungkin saat ini mas arga sangat butuh denngan kehadiran bunda”
“bunda akan ingat kata-katamu, sekarang yang terprnting adalah kebahagiaan kamu. Bunda bersyukur kamu mendapatkan laki-laki seperti alif, dia pria yang sangat hebat. Berbahagialah sayang”
“terimakasih bun” mereka berpelukan.
“aku juga mau” rengek rika. Mawar pun beralih memeluk rika.
“aku akan sangat merindukanmu” tukas mawar
“aku pun, nanti di hari kelulusan kamu harus datang”
“tentu”
“setelah hari kelulusan, aku dan mas riko akan menyusulmu. Dan bantu kami untuk mempersiapkan pernikahan yah. Heheh”
“tentu, aku sangat menunggu moment itu. Oiya rik, kalo kamu ketemu mas Arga tolong perhatikan kesehatannya yah. Aku aku sedikit khawatir melihat postur tubuhnya yang kian menciut”
“hhmmm?? Hmmmm oke. tenang ajh”
“dan, kabari aku”
“kamu ingin aku mengurusnya, lalu mengabarinya padamu?? Kamu gila??” bisik rika “kamu istri sah dokter alif, tidak pantas kamu mengkhawatirkan laki-laki lain”
“bu bukan begitu. Aku hanya merasa bersalah. Aku mohon, hanya sampai dia kembali seperti semula. Yah mau yah… aku mohon”
Rika hanya diam mematung. Menatap mawar tajam, berpikir untuk kesekian kalinya dan mengangguk mengiyakan.
---
“tolong jaga putriku baik-baik” mohon ayah Dimas dalam pelukan
“tentu ayah, mawar adalah prioritasku” jawab Alif
“terimakasih nak, kami akan pastikan mengunjungi kalian nanti”
“kami sangat menantikannya ayah”
Alif kembali memeluk ayah dimas. Kemudian beralih pada ayah Faruk.
“ibumu bersikeras akan menikahkanmu kalau-kalau mawar belum juga hamil. Ayah tidak bisa mencegahnya nak. Maaf” bisik ayah faruk dalam pelukan. Alif hanya menanggapinya dengan senyuman, kemudian beralih pada riko. Yang sudah seperti cacing kepanasan menunggu gilirannya.
“sebenarnya apa isi buku tuamu itu hah??” tanya riko
“rahasia”
“itu bukan buku kan?? Aku tahu”
“haha, memang…”
setelah menyalami semuanya, mereka bergegas menuju pesawat karena beberapa kali operator menyebutkan pesawatnya akan segera lepas landas.
Tangan kanan alif menyeret koper sementara tangan kirinya tak mau lepas menggenggam mawar.
“mas gak ribet apa pegangin tangan aku terus??”
“kalo tangan ini aku lepas, aku gak jamin klo aku bakal selamat sampe tempat duduk”
“iisshhhh… PD bgt sih. Dikira semua cewe bakalan suka gitu sama mas??”
“mau di coba??” alif melonggarkan genggamannya
“jangan jangan jangan!!” mawar kembali mempererat genggamannya.
“gitu do…” “ng”
Mawar melepaskan genggamannya, menatap takjub ruangan first class yang alif ambil. Kursi dengan warna elegan dan bahan berkualitas yang sangat membuat nyaman. Ditambah dengan beberapa fasilitas yang akan membuat penumpang tidak merasakan bosan selama perjalanan.
“uwaaaaaw ini ini bagus bgt mas… ini hmmmmmtp”
Alif membungkam mulut mawar. tak enak merasa banyak orang ‘kelas satu’ yang melirik istrinya tak suka.
“ini tempat duduk kita sayang”
“oh hehe. Pasti mahal bgt yah beli tiket pesawat nya??”
“perjalanan kita sampai 21 jam sayang, aku tidak ingin membuatmu merasa bosan selama perjalanan. Apa kamu mabuk udara??”
“hmmm… tidak” “uahh lihat ini mas” mawar menekan salah satu tombol yang ada di kursinya, membuat bantalan kursi yang ia sender terjatuh ke bawah, perlahan seperti membentuk ranjang. “waaa, mas…” alif hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya.
Pria bertubuh tambun dengan banyak lipatan lemak di perut, terus memperhatikan mawar sambil tersenyum. Kepalanya yang plontos memantulkan cahaya karena sangking berkilaunya. Warna kulitnya tidak terlalu hitam atau putih, sawo matang seperti mayoritas orang Indonesia. Karena geram melihat pria itu terus cekikikan melihat aksi konyol mawar, akhirnya alif mengambil tindakan.
Dengan kasar alif menarik mawar.
“hemmm?? Ke kenapa??”
“sini” alif menarik pinggul istrinya, membuatnya terduduk di pangkuan alif.
Terlihat ekspresi pria gendut itu tak suka yang justru membuat alif tersenyum kegirangan.
“cium aku” katanya pelan
“hem?? Cium?? Kita masih di pesawat mas, ya ampun”
“cium cepat. Kalo tidak aku yang akan memakanmu”
Daripada harus melihat alif yang akan memakannya, lebih baik aku saja. Perlahan mawar mendekatkan bibirnya, mencium kening alif lama.
“bukan di situ sayang tapi di…” alif meraih tengkuk mawar
“iya iya iya… aku yang akan melakukannya. Mas jangan balas ciumanku yah” mawar menghentikan aksi suaminya.
“hem”
Mawar kembali menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi alif. Mendekatkan bibirnya, menyapu bibir alif. Mengecupnya tanpa gerakan tapi sangat lama. Selagi mawar melakukan tugasnya. Mata alif melirik pria gendut tadi yang sedang melihat mereka berciuman. Tangannya menunjuk mawar kemudian menunjuknya, setelah itu mengisyaratkan sesuatu yang bila di artikan akan berbunyi ‘dia milikku, jika kamu berani meliriknya, maka habislah kau!!'
Pria gendut itu memicingkan matanya, mengangkat alisnya tak mengerti. Alif ikut bingung dengan ekspresi pria tersebut. Setelah mawar melakukan tugasnya, ia diperbolehkan untuk kembali duduk. Pria itu kembali senyum-senyum ke arah mawar, padahal istrinya tidak sedang melakukan hal-hal konyol seperti tadi. Alif mengikuti arah mata si pria gendut dan ‘oh ya ampun’ batinnya. Ternyata pria gendut itu bukan tersenyum melihat mawar tapi melihat pramugari seksi yang sedang memunggungi mereka, membantu menjelaskan peralatan frist class kepada salah satu penumpang. Rok nya yang pendek, menyuguhkan pemandangan yang mampu membangkitkan sesuatu dalam diri pria, tapi tidak dengan alif.
Pria gendut itu menunjukan ekspresi tidak suka karena pemandangannya terhalang oleh mawar yang duduk di pangkuan alif. Seketika alif tertawa cukup keras ‘hal konyol apa yang telah aku lakukan??’ batinnya.
“mas sakit??” tanya mawar khawatir
“haha, ohh tidak sayang”
“lalu kenapa mas tertawa sampai sebegitunya??”
“karena kamu!”
“hemm??”
Alif kembali tertawa… ‘lucu, aku sudah hilang akal karena mawar’
buat author, semangat ya, tetap lanjutkan donk ceritanya...