Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Cahaya
Gelombang energi merah dari tongkat Tuan Arus masih bergema di dinding beton bawah tanah, meninggalkan aroma ozon yang menyengat dan rasa panas yang membakar kulit Dinda. Bara terlempar ke sudut ruangan, clipboard-nya retak separuh, layarnya berkedip-kedip tidak stabil menampilkan kode error berwarna merah darah. Mbak Siti, meski berhasil menahan hantaman utama dengan perisai energi tipis, kini tampak sangat transparan, cahayanya redup seperti lilin yang hampir padam.
Tuan Arus berdiri tenang di tengah ruangan, jas hitamnya bahkan tidak berdebu sedikit pun. Di belakangnya, tiga sosok bayangan itu—yang kini terlihat lebih jelas sebagai manusia bertopeng dengan pakaian taktis gelap—memegang artefak mereka dengan sikap siaga. Satu memegang kristal hijau yang berdenyut seperti jantung hutan, satu lagi memegang pedang kecil berbilah biru es, dan yang terakhir memegang sebuah cermin kuno berbingkai ungu yang memantulkan cahaya kelam.
"Empat elemen," gumam Bara sambil berusaha bangkit, darahnya mengalir dari pelipis. "Tanah, Air, Api, dan... Angin? Tidak, itu bukan angin biasa. Itu adalah Ruang."
Tuan Arus tertawa rendah, suara yang dingin dan tanpa emosi. "Pintar sekali anak muda. Kau benar. Kami telah mengumpulkan empat aspek dasar keseimbangan alam. Dan sekarang, hanya tersisa dua: Cahaya dan Kegelapan. Atau dalam istilah leluhurmu, Nyai Sugara... Mata Barong dan Jantung Rangda."
Mata Dinda melebar. Jantung Rangda? Ia menatap Mata Barong Hitam yang masih terbaring di atas batu granit, berdenyut liar seolah merasakan kehadiran saudaranya yang jahat.
"Kalian tidak bisa memiliki keduanya," desis Mbak Siti, suaranya lemah namun tajam. "Jika Mata dan Jantung bersatu di tangan orang yang tidak suci, keseimbangan akan hancur. Jakarta akan tenggelam dalam kekacauan abadi."
"Tenggelam? Atau justru dibersihkan?" tanya Tuan Arus sinis. Ia melangkah mendekati batu granit. "Dunia ini sakit, Nyai. Korupsi, polusi, keserakahan. Sungai Mahakam sudah sekarat. Hutan-hutan dibabat. Apa salahnya jika kita memulai ulang? Menghancurkan tatanan lama yang busuk ini untuk membangun dunia baru yang murni?"
"Itu bukan pemurnian, itu pembunuhan massal!" teriak Dinda, meskipun tubuhnya masih lumpuh akibat guncangan energi tadi. Ia mencoba merangkak menuju Mata Barong, tetapi salah satu pengawal bertopeng hijau (elemen Tanah) mengangkat tangannya. Akar-akar beton tiba-tiba tumbuh dari lantai, membelit kaki Dinda dan menahannya kuat.
"Dinda!" seru Bara, mencoba melepaskan diri dari puing-puing beton, namun energinya terlalu lemah.
Tuan Arus mengulurkan tangan menuju Mata Barong. Saat jarinya hampir menyentuh obsidian hitam itu, tiba-tiba pupil emas di tengah mata tersebut berkedip cepat. Sebuah gelombang kejut tak terlihat meledak dari benda itu, menghempaskan tangan Tuan Arus mundur.
Tuan Arus mengerutkan kening, terkejut. "Masih ada sisa kesadaran di dalamnya? Menarik."
Ia menoleh ke arah Dinda yang terbelenggu akar beton. "Gadis ini... dia memiliki koneksi batin dengan Fragmen. Dia adalah 'Anchor'. Jika kita membunuhnya, mungkin ikatan itu akan putus, atau sebaliknya... fragmen itu akan menjadi lebih liar."
"Bunuh saja dia," kata pengawal bertopeng biru (elemen Air) dengan suara datar. "Kita punya waktu terbatas sebelum pasukan khusus pemerintah tiba di lokasi ini."
Tuan Arus menggeleng. "Tidak. Kita butuh dia hidup. Setidaknya untuk sementara. Bawa dia. Bawa juga hantu tua itu dan anak aneh dengan alat elektronik itu. Kita akan mengurung mereka di Markas Pusat sampai kita menemukan Fragmen kelima dan keenam."
Dinda panik. Ia tidak bisa dibiarkan ditangkap. Jika Tuan Arus mendapatkan akses ke pikirannya melalui koneksi batin dengan Mata Barong, dia bisa menemukan lokasi Fragmen lainnya sebelum Dinda sempat memperingatkan siapa pun.
Mbak Siti! Bara! pikir Dinda putus asa. Ada ide?
Mbak Siti, yang sedang berusaha mengumpulkan sisa energinya, menatap Dinda. Matanya bertemu dengan mata Dinda. Ada pesan diam-diam di sana. Pecahkan segel.
Dinda bingung. Segel apa?
Lalu ia ingat. Saat mereka masuk ke ruangan ini, Mbak Siti membuat lingkaran kapur putih untuk menstabilkan energi. Lingkaran itu masih ada, meski sebagian rusak akibat serangan Tuan Arus. Tapi di tengah lingkaran, tepat di bawah Mata Barong, terdapat simbol kecil yang digambar Sagara dengan darah halusnya sendiri sebelum mereka berangkat dari Glodok. Simbol itu adalah kunci darurat.
Darah, pikir Dinda. Butuh darah.
Dengan sekuat tenaga, Dinda menggigit lidahnya sendiri hingga terasa rasa besi di mulutnya. Ia memuntahkan sedikit darah ke arah lantai, tepat mengenai simbol tersembunyi di antara celah-celah batu granit.
Seketika, simbol itu menyala merah terang. Bukan merah darah, tapi merah api purba.
BOOM!
Ledakan asap tebal berwarna abu-abu menyembur dari lantai, memenuhi seluruh ruangan basement dalam hitungan detik. Asap itu bukan asap biasa; ia memiliki berat dan viskositas, membuat pandangan kabur total dan mengganggu sensor elektronik para pengawal.
"Apa ini?!" teriak Tuan Arus, mengibaskan tangannya untuk mengusir asap.
"Sekarang!" teriak Mbak Siti, suaranya kembali terdengar kuat karena gangguan energi musuh.
Bara, yang sudah sedikit pulih, segera aktifkan fungsi cloaking darurat pada clipboard-nya yang retak. Gelombang distorsi visual menyelimuti mereka bertiga. Dalam kebingungan akibat asap dan gangguan sensor, mereka berhasil melepaskan belenggu akar beton Dinda (yang rapuh karena fokus pengalihannya terganggu).
"Lari ke saluran ventilasi kiri!" perintah Bara, menunjuk ke arah celah sempit di dinding yang sebelumnya tertutup pipa.
Dinda tidak membuang waktu. Ia meraih Mata Barong Hitam yang masih hangat, memasukkannya ke dalam pouch, lalu berlari mengikuti Bara. Mbak Siti melayang di belakang mereka, menggunakan sisa energinya untuk menutup jejak panas tubuh mereka agar tidak terdeteksi oleh penglihatan termal para pengawal.
Mereka merangkak masuk ke dalam saluran ventilasi sempit yang berbau karat dan kotoran tikus. Di belakang mereka, teriakan kemarahan Tuan Arus terdengar samar-samar.
"Tutup semua pintu! Jangan biarkan mereka lolos! Aktifkan protokol Pemburu!"
Dinda merangkak secepat mungkin, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya penuh lecet dan memar, namun adrenalin membuatnya tetap sadar. Mereka bergerak melalui labirin pipa bawah tanah selama sepuluh menit yang terasa seperti satu jam, hingga akhirnya mencapai lubang keluaran yang mengarah ke selokan besar di kawasan Pasar Baru.
Saat mereka muncul ke permukaan, hujan deras kembali mengguyur Jakarta. Lampu-lampu kota berkedip-kedip di kejauhan. Mereka berada di gang sempit yang sepi, dikelilingi tembok tinggi bangunan tua.
Bara langsung memeriksa clipboard-nya. Layarnya masih retak, tapi masih berfungsi. "Status: Kita bersih dari pelacakan langsung untuk saat ini. Tapi Tuan Arus pasti sudah memasukkan data biometrik kita ke sistem pusat mereka. Kita tidak bisa kembali ke tempat aman mana pun yang pernah kita gunakan."
Mbak Siti duduk bersandar di tembok basah, napasnya (meski hantu) terdengar berat. Wajahnya sangat pucat, hampir transparan sepenuhnya. "Aku... aku perlu waktu untuk memulihkan energi. Serangan tadi menguras hampir seluruh cadangan spiritualku."
Dinda memandang kedua temannya. Bara terluka, Mbak Siti lemah, dan mereka kini menjadi buronan organisasi misterius yang menguasai empat elemen alam. Rasa takut mulai merayap naik, namun kali ini, Dinda tidak membiarkannya melumpuhkan.
Ia mengeluarkan Mata Barong Hitam dari pouch-nya. Benda itu berdenyut tenang, seolah puas karena berhasil lolos. Dinda menatap pupil emasnya.
"Kau mendengar dia, kan?" tanya Dinda pelan pada benda itu. "Dia mencari Jantung Rangda. Dan dia bilang... hanya tersisa dua."
Bara menatap Dinda. "Apa maksudmu?"
"Mbah Sagara pernah menyebutkan bahwa setiap Fragmen memiliki pasangan," kata Dinda, otaknya bekerja cepat menghubungkan potongan informasi. "Jika Tuan Arus punya Empat Elemen Dasar, maka kita harus mencari Dua Elemen Spiritual: Cahaya dan Kegelapan. Atau dalam konteks legenda kita... Penjaga dan Perusak."
"Jadi, Fragmen kelima dan keenam adalah..." gumam Bara.
"Mata Barong Putih dan Jantung Rangda Merah," lengkap Mbak Siti, membuka matanya yang setengah tertutup. "Dan berdasarkan peta ley line yang aku rasakan... Jantung Rangda tidak berada di Jakarta. Ia berada jauh di selatan. Di Gunung Merapi."
Hening sejenak. Suara hujan menderu di sekitar mereka.
"Merapi?" tanya Dinda tercengang. "Itu ribuan kilometer dari sini."
"Dan Tuan Arus pasti tahu itu juga," tambah Bara suram. "Jika dia sudah punya empat elemen, dia hanya butuh satu lagi untuk memulai ritual penghancuran. Kita harus ke Yogyakarta. Sekarang."
Dinda mengangguk tegas. Ia menyimpan kembali Mata Barong. Rasa lelah masih ada, tapi tekadnya semakin baja. Mereka bukan lagi sekadar korban yang lari. Mereka adalah pemburu yang sedang membalikkan keadaan.
"Siapkan tiket kereta paling cepat ke Yogyakarta," perintah Dinda pada Bara. "Kita pergi malam ini juga. Sebelum dia menyadari bahwa kita tidak lari menjauh, tapi lari menuju sumber kekuatan berikutnya."
Di balik kerudung hujan Jakarta, tiga sosok itu menghilang ke dalam kegelapan gang, membawa serta rahasia yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan negeri ini. Perjalanan menuju Merapi telah dimulai.