"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Beberapa hari kemudian...
Pak Restu datang bersama orang tua nya ke rumah Seruni. Entah apa gerangan yang membuat mereka bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.
Seruni mempersilahkan tamu nya masuk untuk duduk di dalam. Dan sementara para tamu duduk, anak-anak nya Seruni dan juga orang tua nya masih berada di halaman belakang.
Sejak Bapak dan Mak nya Seruni datang, mereka sudah menanam beberapa jenis sayuran dan juga membuat kolam kecil untuk memelihara ikan.
Mereka bosan hanya duduk saja di rumah Seruni. Maka dari itu, mereka pun mencari kesibukan di sana. Dan karena hal itu, anak-anak nya pun menjadi betah berada di halaman belakang yang tidak seberapa luas itu.
"Jadi, apa yang membuat Pak Restu dan Bapak Ibu ke sini? Apa mau memesan cemilan atau makanan utama?" Seruni langsung bertanya hal itu dan tidak mau berbasa-basi.
"Ehem, maaf nak. Kami hanya penasaran dengan mu. Tapi, Restu sudah cerita pada kami siapa kamu sebenarnya. Kami hanya tidak ingin termakan omongan Syasya dan juga orang tua nya. Kenal kan, ini Ayah dan juga Bunda nya Restu."
"Oh, iya tak apa." Ucap Seruni walaupun sedikit bingung dengan tiga orang yang ada di hadapan nya saat ini.
Tidak lama kemudian, makanan ringan dan juga segelas teh hangat tersaji di atas meja. Seruni selalu menghidangkan sesuatu kepada setiap tamu yang datang.
"Ini kan, yang biasa kami makan di rumah nya Adam." Ucap Bunda nya Restu. Wanita itu seperti nya sudah sangat menghafal cemilan yang di suguhkan oleh Seruni.
"Iya, Bunda. Seruni memang memasok makanan dan cemilan ke perusahaan nya Adam." Pak Restu pun menceritakan pada Ayah dan juga Bunda nya, bagaimana Seruni bisa mengenal Adam.
"Oh, jadi begitu. Hmmm,, jadi nak Seruni. Ketika melihat kami, apa kamu sama sekali tidak mengingat apapun?"
Dahi Seruni mengernyit. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Bunda nya Restu.
"Maaf. Saya sama sekali tidak mengerti."
"Hmm,, Restu mengatakan pada saya. Jika kamu adalah teman masa kecil nya ketika ia liburan di desa dulu. Apa kamu, tidak ingat?"
"Teman masa kecil? Saya sama sekali tidak ingat. Dan, saya juga tidak mungkin lupa dengan semua teman-teman saya yang berasal dari desa. Apa mungkin, Pak Restu salah orang?"
"Tidak mungkin aku salah orang. Seruni yang aku kenal dulu, masih sama. Aku tidak akan pernah lupa."
Kali ini, giliran Seruni yang bingung. Ia sama sekali tidak ingat dengan wajah Restu. Dan Seruni juga tidak mungkin lupa dengan teman-teman nya dulu.
"Tapi, Pak Restu. Saya sama sekali tidak ingat. Maaf."
"Jangan panggil aku Pak. Kita sebaya. Oh ya, ini gambar kita dulu. Kamu yang menggambar nya. Dan seperti nya, bakat mu itu menurun ke Mentari."
Seruni mengambil sebuah gambar usang yang ada di bingkai kaca. Ia melihat seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki gendut yang sedang tertawa.
Seruni ingat gambar itu. Walaupun tidak terlalu bagus, tapi gambar itu adalah satu-satunya gambar yang ia berikan pada orang lain ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Ini kan, si Ndut. Kok bisaaa....."
"Eheeeem.. Seruni. Tapi Restu dulu memang gendut dan hitam karena suka main panas-panasan." Bunda nya Restu pun ikut menimpali.
"Jadi, kamu si Ndut? Restu? Bagaimana bisa berubah menjadi seperti ini? Dan, bukan nya kamu dulu tidak suka menggambar? Kenapa...."
"Runiiiii,"
Wajah Restu memerah. Ia sangat malu karena di goda dengan cara seperti itu. Bagi nya, Seruni adalah satu-satunya teman ketika ia liburan ke desa tempat kakek dan juga nenek nya.
"Eh, maaf. Aku nggak nyangka kita bisa bertemu lagi. Dulu, setiap liburan, kamu pasti akan menjenguk ku di desa. Tapi, tiba-tiba kamu menghilang. Aku nggak tahu siapa nama kamu. Aku hanya terus menunggu di bawah pohon kapuk yang kapas nya selalu kita mainkan."
Mata Seruni berkaca-kaca. Ia masih teringat bagaimana ia dan Restu dulu. Restu selalu membawa banyak makanan enak dan juga mainan untuk nya setiap kali berlibur ke desa.
Bapak dan Mak nya Seruni, dulu sempat bekerja di lahan milik kakek dan nenek nya Restu. Karena sering membawa bekal untuk Mak dan juga Bapak nya, Seruni jadi mengenal Restu yang ikut kakek nya ke ladang.
"Runi, maafkan aku. Aku pergi tanpa pamit. Saat itu, aku sakit. Dan dalam perjalanan ke kota, kakek dan nenek mengalami kecelakaan. Aku sampai di bawa ke luar kota dan beberapa rumah sakit untuk di sembuhkan."
"Kenapa tidak ada warga desa yang tahu tentang hal itu? Mak dan Bapak ku, di berhentikan tiba-tiba secara sepihak. Banyak warga desa yang tidak di gaji saat itu. Kami pun terpaksa menjual rumah dan tanah untuk pindah ke desa tetangga."
Restu menunduk. Ia berusaha untuk bercerita tentang semua masa lalu yang terjadi. Ayah dan Bunda nya merasa iba. Sungguh mereka tidak tahu jika Restu memiliki teman masa kecil yang selama ini ia cari.
"Pantas saja, kamu tidak ada lagi di desa itu. Seruni, cerita nya panjang. Nanti kapan-kapan aku akan bercerita tentang kakek dan juga nenek ku. Oh ya, apa kabar nya Mak dan Bapak?"
"Alhamdulillah mereka sehat. Sebentar aku panggil kan dulu."
Dengan cepat Seruni langsung memanggil kedua orang tua nya. Di susul oleh ke empat anak-anak yang langsung menyalami tiga orang itu tanpa di perintah.
"Pak, Mak. Restu minta maaf atas kesalahannya mendiang kakek Pramudia dulu."
"Pramudia? Juragan? Ada apa dengan juragan?"
Bapak nya Seruni merasa terkejut karena nama itu disebut kembali oleh seseorang yang dikenal oleh anak nya.
"Bapak. Saya cucu nya Kakek Pramudia yang dulu sering bermain dengan Seruni. Kakek dan nenek saya sudah tiada. Meninggal ketika saya kecil."
"Apa? Pantas saja semua berubah. Sudah berubah kamu nak. Dulu kamu gendut dan suka menangis kalau di ganggu Seruni."
"Iya, Pak. Saya juga mencari Seruni dan kalian sudah tidak lagi di desa itu."
"Benar. Kami terpaksa pergi. Di paksa lebih jelas nya. Karena semua tanah, di kuasai oleh anak nya juragan Pramudia."
"Hmm,, maafkan kesalahan Om saya."
"Sudah. Tak apa. Kita lupakan semua masa lalu."
Mereka semua pun larut dalam pikiran masing-masing. Sedangkan Restu, ia merasa lega karena telah jujur siapa ia yang sebenarnya. Walaupun ia takut, Seruni akan menjauhi nya karena cerita masa lalu yang buruk di antara keluarga mereka.
"Jadi nak Seruni, apakah anak perempuan mu ada empat?" Tanya Bunda nya Restu.
"Bukan. Anak saya ada 6. Semua nya perempuan."
"Apa?"