NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Tatapan Baru

"Cari tahu semua tentang dia."

Perintah itu terdengar ringan di dalam Alphard hitam, tetapi asisten Chandra langsung menunduk dan membuka tablet.

Ia sudah lama bekerja untuk Chandra Kurniawan. Ia tahu, ketika bosnya menatap sesuatu dengan senyum seperti itu, kata "cari tahu" tidak pernah berhenti pada berita, tanggal lahir, atau daftar proyek. Chandra ingin ukuran hidup seseorang. Kebiasaan. Kelemahan. Orang yang bisa dibeli. Pintu yang bisa disusupi.

"Kiara Tanuwijaya," asisten itu membaca cepat. "Aktris muda. Baru bergabung dalam film Gerbang Majapahit sebagai Putri Mahkota. Belakangan dekat dengan Rayhan Purnawan. Ada insiden hotel yang sedang ramai. Keluarga Tanuwijaya juga jadi sorotan karena masalah internal."

Chandra masih melihat potongan gambar di ponselnya.

Kiara di layar tidak sedang tersenyum. Wajahnya pucat, bibirnya tipis menahan lelah, tetapi punggungnya lurus saat berdiri di depan kamera. Di antara orang-orang yang menangis, membela diri, dan berusaha terlihat benar, gadis itu justru tampak paling bersih.

Rapuh, tetapi tidak pecah.

Itu yang membuat Chandra tertarik.

"Umurnya?"

"Dua puluh dua menuju dua puluh tiga. Informasi publik tidak banyak. Agensinya sekarang lewat Kiara Media, ada kaitan investasi dengan Purnawan Group."

Baru saat mendengar nama itu, Chandra tersenyum lebih lebar.

"Rayhan Purnawan cepat juga."

"Pak Chandra mau saya hubungi orang produksi Gerbang Majapahit?"

"Tidak langsung." Chandra mengunci layar ponsel. "Orang seperti itu tidak didekati lewat pintu depan. Cari tahu siapa yang masih butuh dana tambahan. Film besar selalu punya lubang."

Asistennya mengangguk.

Chandra menyandarkan tubuhnya ke jok. Di kaca jendela, pantulan wajahnya terlihat tenang. Rapi. Terhormat. Tidak ada yang akan menebak bahwa di dalam kepalanya, wajah Kiara sudah dipindahkan ke ruang pribadi yang hanya ia izinkan dirinya sendiri untuk masuk.

"Dan satu lagi," katanya.

"Ya, Pak?"

"Cari perempuan dengan postur mirip dia."

Jari asisten itu berhenti di layar.

Chandra menoleh, senyumnya tetap sopan. "Tidak perlu sempurna. Yang penting tinggi badan, leher, dan bentuk wajah mendekati. Sisanya bisa dibantu klinik estetika."

Udara di dalam mobil menjadi lebih sempit.

Asisten itu tidak bertanya. Orang yang masih ingin bekerja pada Chandra tahu kapan harus tuli.

"Baik, Pak."

***

Keesokan paginya, Kiara bangun dengan tenggorokan kering dan dada yang masih terasa berat.

Ia tidak langsung membuka ponsel. Santi sudah menaruhnya jauh di meja kecil, bersama obat, air hangat, dan bubur ayam tanpa terlalu banyak bumbu. Di layar televisi apartemen servis, suara berita infotainment dimatikan. Hanya teks berjalan yang masih terlihat.

Keluarga Tanuwijaya jadi sorotan.

Wenny bungkam setelah CCTV tersebar.

Rayhan Purnawan kembali dampingi Kiara.

Kiara memejamkan mata sebentar.

Kemarin seharusnya terasa seperti kemenangan. Wenny tidak lagi bisa memakai topeng kakak baik tanpa orang bertanya. Papa dan Mama tidak lagi bisa menyembunyikan keberpihakan mereka di balik kata keluarga.

Tapi anehnya, yang tersisa justru sunyi.

Seperti setelah mencabut duri lama. Darahnya berhenti, namun tempatnya masih ngilu.

Pintu kamar terbuka pelan. Rayhan masuk tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung. Di tangannya ada gelas kecil berisi obat.

"Suhu badan normal," katanya. "Tekanan darah juga lebih baik dari semalam. Tapi dokter tetap melarang kamu berdiri terlalu lama hari ini."

Kiara menatapnya. "Dokter bilang, atau Koko yang menambahkan sendiri?"

"Dokter bilang istirahat."

"Terus bagian berdiri terlalu lama?"

"Aku yang memperjelas."

Kiara hampir tersenyum, tapi ujung bibirnya terlalu lelah. "Koko makin pintar memanipulasi kalimat medis."

Rayhan duduk di sisi ranjang, lalu menyentuh keningnya dengan punggung jari. Gerakannya lembut sekali, bertolak belakang dengan mata dinginnya saat melihat berita di televisi.

"Kalau boleh, aku ingin kamu tidak ke studio hari ini."

"Tidak boleh."

"Sayang."

"Aku sudah ambil setengah hari istirahat. Sore nanti cuma fitting ringan dan diskusi adegan. Kalau aku hilang terlalu lama setelah konferensi kemarin, orang akan mengira aku benar-benar hancur."

"Kamu tidak harus membuktikan apa pun pada mereka."

"Aku tahu." Kiara mengambil gelas obat dari tangannya. "Tapi aku harus membuktikan pada diriku sendiri."

Rayhan tidak langsung menjawab.

Ia menatap Kiara minum obat sampai habis, lalu mengambil gelas kosong itu. Ada banyak hal gelap yang bergerak di balik matanya. Kiara bisa melihatnya. Sejak insiden hotel, sejak Hendra menyuruhnya minta maaf, sejak nama Chandra yang belum ia tahu mulai merayap mendekat di luar sana, dunia di sekitar Rayhan seperti menajam.

Namun di depannya, pria itu tetap menurunkan suara.

"Kalau kamu pusing sedikit saja, pulang."

"Iya."

"Kalau dada sesak, telepon aku."

"Iya."

"Kalau ada orang asing mendekat..."

Kiara mengangkat alis. "Aku harus telepon Koko juga?"

"Tidak." Rayhan menunduk, mencium ujung jarinya. "Aku akan ada di sana."

Wajah Kiara menghangat.

Santi yang baru masuk membawa kantong obat langsung berdeham keras. "Maaf, Kak Kiara, saya cuma mau bilang Ci Lucy sudah siap di bawah."

Kiara buru-buru menarik tangannya. Rayhan justru terlihat sangat tenang.

"Santi," katanya.

"Ya, Pak Rayhan?"

"Mulai hari ini, semua paket untuk Kiara dibuka oleh tim keamanan dulu. Tidak ada bunga, makanan, minuman, kosmetik, atau hadiah apa pun yang langsung masuk ke tangannya."

Santi mengangguk cepat. "Baik."

Kiara menatap Rayhan. "Koko curiga sesuatu?"

"Aku selalu curiga."

Jawaban itu seharusnya menakutkan. Tapi setelah kemarin, Kiara justru merasa aman mendengarnya.

***

Studio Gerbang Majapahit sore itu lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena kru tidak bekerja, melainkan karena semua orang berusaha tidak terlihat sedang menatap Kiara. Begitu ia masuk dengan Santi dan Ci Lucy, beberapa bisikan langsung berhenti. Ada yang tersenyum canggung. Ada yang pura-pura memeriksa lampu. Ada yang jelas-jelas ingin bertanya, tapi takut.

Gunawan Halim datang dari arah monitor dengan topi andalannya.

"Kamu yakin mau masuk hari ini?" tanyanya.

"Cuma fitting dan diskusi, Om Gunawan."

"Kalau pingsan di lokasi, aku yang dimarahi Rayhan. Aku masih sayang hidup."

Kiara tertawa pelan. Rasanya ringan, walau sebentar. "Saya tidak akan pingsan."

"Semua orang yang mau pingsan juga biasanya bilang begitu."

Nada Gunawan terdengar bercanda, tetapi matanya benar-benar memeriksa wajah Kiara. Melihat itu, Kiara merasa dadanya sedikit hangat. Di rumah Tanuwijaya, sakitnya selalu dianggap merepotkan Wenny. Di studio ini, orang-orang justru mengkhawatirkannya sebagai dirinya sendiri.

"Saya akan hati-hati," katanya.

"Bagus. Hari ini adegan Putri Mahkota cuma diskusi ekspresi setelah dikhianati keluarga istana. Cocok sekali, tapi aku tidak mau kamu bawa emosi asli terlalu jauh."

Ci Lucy langsung menatapnya.

Gunawan mengangkat dua tangan. "Aku sutradara, bukan orang jahat. Aku cuma bilang, bahan emosinya ada. Pakai seperlunya, sisanya simpan buat hidup."

Kiara mengangguk. "Saya mengerti."

Fitting berjalan lebih cepat dari perkiraan. Kostum Putri Mahkota berwarna merah tua dipasang di tubuh Kiara. Kerahnya tinggi, kainnya berat, dan tusuk konde emas imitasi membuat lehernya harus tegak. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, Kiara merasa aneh.

Kemarin ia berdiri di depan media sebagai anak yang berhenti meminta rumah.

Hari ini ia memakai kostum putri yang dikhianati istana.

Hidup di dunia novel ini benar-benar suka bercanda.

"Cantik banget, Kak," bisik Santi.

Kiara tersenyum kecil. "Berat banget."

"Cantik memang berat."

Mereka sama-sama tertawa pelan.

Tawa itu berhenti ketika seorang staf produksi masuk sambil membawa rangkaian bunga putih besar.

"Untuk Kiara Tanuwijaya," kata staf itu. "Dari sponsor baru."

Santi langsung maju sebelum bunga itu mendekat. "Tunggu. Semua paket harus lewat keamanan dulu."

Staf itu bingung. "Tapi ini baru ditaruh di resepsionis. Katanya urgent."

Ci Lucy mengambil kartu kecil yang terselip di antara bunga, membacanya tanpa menyentuh kelopak terlalu banyak.

Wajahnya berubah.

"Apa?" tanya Kiara.

Ci Lucy tidak menjawab langsung. Ia menyerahkan kartu itu kepada Rayhan yang baru masuk dari pintu samping.

Kiara bahkan belum mendengar langkahnya.

Rayhan membaca tulisan di kartu.

Untuk Kiara Tanuwijaya. Ada keindahan yang seharusnya disimpan dari dunia.

Tidak ada tanda tangan, hanya inisial C.K.

Ruang fitting mendadak terasa terlalu diam.

Rayhan mengangkat mata. "Siapa yang mengantar?"

Staf produksi menelan ludah. "Kurir, Pak. Tapi katanya dari pihak yang ingin masuk sebagai sponsor tambahan properti dan promosi."

"Nama?"

"Chandra Kurniawan."

Santi spontan melihat Kiara.

Kiara tidak mengenal nama itu. Namun cara Rayhan menggenggam kartu membuat kulit di tengkuknya meremang. Kertas kecil itu terlipat sedikit di antara jarinya, nyaris sobek.

"Buang bunganya," kata Rayhan.

Ci Lucy mengangguk pada Santi. Santi segera membawa rangkaian itu keluar bersama staf keamanan.

Kiara menatap Rayhan. "Koko kenal dia?"

"Aku tahu jenisnya."

Kalimat itu terlalu pendek, terlalu dingin.

Sebelum Kiara sempat bertanya lagi, suara sopan terdengar dari luar ruang fitting.

"Sepertinya hadiah saya kurang disukai."

Semua orang menoleh.

Chandra Kurniawan berdiri di ambang pintu dengan jas abu tua dan senyum yang sangat rapi. Di belakangnya, asisten yang sama membawa map proposal sponsor. Ia tidak masuk terlalu jauh, seolah menghormati batas. Tapi matanya sudah lebih dulu menyentuh Kiara dari kepala sampai ujung kostum, lambat dan menjijikkan dalam balutan pujian.

"Maaf datang tanpa janji," kata Chandra. "Saya Chandra Kurniawan. Saya baru melihat siaran langsung kemarin, dan harus saya akui, Nona Kiara jauh lebih memesona secara langsung."

Rayhan melangkah di depan Kiara.

Tidak banyak. Hanya satu langkah.

Tetapi udara di ruang itu langsung berubah.

"Pak Chandra," ucap Rayhan pelan. "Kalau urusan sponsor, bicara dengan produser. Kalau urusan Kiara, Anda salah pintu."

Senyum Chandra tidak hilang.

Ia justru menatap tangan Rayhan yang masih memegang kartu bunganya, lalu tertawa kecil.

"Saya hanya ingin memberi apresiasi pada aktris berbakat. Jangan terlalu tegang, Pak Rayhan."

Rayhan membalas tatapannya.

"Saya selalu tegang saat ada sampah masuk ke ruangan Kiara."

Senyum Chandra akhirnya berhenti di matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!