4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Lelaki Bermata Rubah
Kartu kecil itu tetap berada di dada Naomi bahkan setelah mobilnya meninggalkan Hotel Aruna Megah.
Aku sudah menunggu 4 tahun.
Kalimat itu terlalu pendek untuk menampung empat tahun kesunyian. Terlalu ringan untuk semua malam ketika Naomi terbangun dengan napas patah, meraba ponsel, lalu mengingat tidak ada lagi nama Darren di sana. Nomornya hilang. Pesannya hilang. Jalan pulang ke masa itu pun hilang.
Gerimis menempel di kaca mobil seperti bekas air mata. Sopir valet yang tadi mengantar mobilnya sudah kembali ke hotel, dan Naomi mengemudi sendiri dengan kedua tangan menggenggam setir. Mawar putih di kursi penumpang membuat ruang mobil terasa sempit.
Di lampu merah, ia memejamkan mata sebentar.
Empat tahun lalu, hujan juga turun.
Naomi berdiri di tepi jembatan Kota Megah dengan pakaian basah, rambut menempel di pipi, dan dada yang terasa kosong. Malam itu ia baru saja meninggalkan apartemen kecil yang dulu menjadi tempat ia dan Darren merencanakan hal-hal bodoh. Liburan setelah Darren selesai rapat. Kafe kecil yang ingin mereka coba. Gaun putih sederhana yang pernah ia gambar sambil bercanda.
Semua rencana itu hancur dalam satu hari.
Kevin Halim datang dengan wajah berat, suara tertahan, dan kalimat yang sampai sekarang masih bisa Naomi dengar.
"Pergilah dari hidup Darren. Kalau kamu benar-benar menyayanginya, jangan membuatnya kehilangan segalanya."
Naomi tidak ingat semua kata setelah itu. Yang ia ingat hanya rasa malu. Rasa kecil. Rasa tidak pantas yang menutup tenggorokannya. Ia menelepon Darren berkali-kali, tetapi nomornya tidak tersambung. Pesan-pesannya tidak terkirim. Di apartemen, barang-barang kecil miliknya sudah ditata dalam kardus, seolah hidupnya bisa dikemas dan dibuang begitu saja.
Di jembatan itu, pikirannya tidak lagi jernih.
Ia tidak melompat karena cinta itu indah. Tidak. Ia melompat karena saat itu ia terlalu lelah untuk mencari pintu lain. Dunia terasa gelap, dan ia membuat keputusan paling buruk dalam hidupnya.
Air sungai menghantam tubuhnya seperti ribuan batu kecil.
Setelah itu hanya dingin, suara orang berteriak, lampu ambulans, dan tangan asing yang menariknya kembali.
Naomi membuka mata dengan napas tersengal.
Klakson dari belakang membuatnya sadar lampu sudah hijau.
"Maaf," gumamnya, meski tidak ada yang mendengar.
Ia menepikan mobil sebentar di depan minimarket dua puluh empat jam, menunduk di atas setir, lalu memaksa dirinya bernapas. Satu. Dua. Tiga. Ia masih di sini. Ia bukan gadis di jembatan itu lagi. Ia punya Maison de Belle, punya pegawai yang menunggu gaji, punya klien yang memercayai tangannya, punya Tiffany yang akan memarahinya kalau ia pulang dengan mata sembap.
Ia menyeka pipi, mengambil mawar putih itu, lalu meletakkannya di kursi belakang.
"Kamu tidak boleh masuk lagi semudah ini," bisiknya. Entah kepada Darren, entah kepada kenangan.
Keesokan paginya, Naomi datang ke Maison de Belle lebih awal dari biasa.
Boutique itu berdiri di sudut jalan komersial Kota Megah, dengan jendela kaca tinggi dan papan nama hitam emas yang selalu ia bersihkan sendiri. Di dalam, manekin memakai gaun champagne pesanan klien, rak kain tertata menurut warna, dan aroma kopi dari mesin kecil di pantry bercampur dengan wangi bunga segar.
Tiffany Lin sudah ada di sofa pelanggan, menyilangkan kaki sambil memegang paper bag roti.
"Lo telat tujuh menit dari jadwal orang gila lo sendiri," kata Tiffany tanpa menoleh. "Berarti ada sesuatu."
Naomi menggantung tasnya. "Aku cuma kurang tidur."
Tiffany menoleh. Matanya langsung menyipit. "Mata lo bengkak."
"Alergi."
"Alergi mantan?"
Naomi terdiam.
Tiffany langsung berdiri. "Serius? Dia muncul?"
Naomi belum sempat menjawab ketika Tiffany sudah menarik lengannya ke ruang fitting paling dalam, menutup tirai, lalu menatapnya seperti polisi interogasi.
"Ceritain. Dari awal. Jangan sensor bagian yang bikin gue pengin lempar sepatu."
Maka Naomi bercerita. Tentang ballroom, Reza, Darren yang mengusir pria itu, suara rendah yang memanggilnya Nao, dan mawar putih di mobil.
Tiffany mendengar sampai akhir dengan ekspresi makin gelap.
"Empat tahun dia hilang, sekarang datang bawa bunga? Enak banget hidupnya." Tiffany berkacak pinggang. "Dia pikir hati lo paket COD? Tinggal muncul, kasih kartu, selesai?"
Naomi hampir tersenyum. "Tiff."
"Jangan Tiff-Tiff-in gue. Gue masih sopan ini." Tiffany menunjuk tirai fitting. "Kalau dia datang ke sini, gue gulung pakai kain tule."
"Dia tidak akan datang."
Ucapan itu terbukti salah sebelum jam makan siang.
Pukul sebelas, seorang kurir berseragam rapi datang membawa satu vas besar mawar putih. Kartu kecilnya hanya berisi satu kalimat.
Jangan lupa sarapan.
Naomi menatap kartu itu lama. Di bawahnya ada kotak makanan dari restoran bubur ayam langganannya, lengkap dengan cakwe ekstra yang dulu selalu Darren rebut dari mangkuknya.
Tiffany membaca kartu itu dari bahunya. "Oke. Level stalker romantis. Gue benci harus bilang ini, tapi dia ingat detail."
"Kita kembalikan."
"Betul." Tiffany mengambil vas itu dengan kedua tangan. "Biar gue yang kembalikan ke neraka asalnya."
Namun sebelum ia sempat bergerak, pintu boutique terbuka lagi.
Pria bertubuh agak berisi masuk dengan napas terburu-buru. Wajahnya ramah, kemejanya rapi, dan kedua tangannya memegang buket tambahan seolah sedang membawa bom.
"Permisi, Bu Naomi?" tanyanya.
Naomi menatapnya. "Iya. Anda?"
"Saya Billy Huang, asisten Pak Darren." Pria itu tersenyum gugup. "Bos minta saya memastikan bunganya sampai dan sarapannya dimakan selagi hangat."
Tiffany maju satu langkah. "Oh, jadi lo kaki tangan lelaki bermata rubah itu?"
Billy berkedip. "Maaf?"
"Dengar, Billy." Tiffany mengambil buket dari tangannya, lalu menyodorkannya kembali ke dada Billy. "Bilang ke bos lo, Naomi bukan showroom mobil. Enggak bisa dia kunjungi kapan pun dia kangen."
Billy memeluk buket itu seperti tameng. "Saya cuma menjalankan tugas, Ci."
"Gue bukan Ci lo."
"Baik, Kak."
"Jangan Kak juga."
Naomi menahan tawa kecil untuk pertama kalinya sejak semalam. Billy tampak semakin panik.
"Pak Darren juga bilang," lanjut Billy hati-hati, "kalau Bu Naomi tidak mau makan, saya harus berdiri di sini sampai beliau makan."
Tiffany memutar mata. "Bagus. Lo bisa berdiri di luar. Di bawah matahari. Sambil merenungi dosa bos lo."
Naomi menyentuh lengan Tiffany. "Tiff, jangan menyiksa orang yang cuma kerja."
"Dia kerja untuk sumber masalah."
Billy langsung mengangguk. "Saya paham posisi saya memang sulit."
Kalimat polos itu membuat Tiffany hampir kehilangan galaknya. Ia mendengus, mengambil kotak bubur, lalu menaruhnya di meja kerja Naomi.
"Lo makan," katanya pada Naomi. "Bukan karena dia. Karena gue nggak mau lo pingsan dan bikin gue harus urus orderan gaun sendirian."
Naomi menatap bubur itu. Aroma hangatnya naik perlahan. Perutnya memang kosong sejak semalam.
Akhirnya ia membuka tutupnya.
Billy menghela napas lega.
Tiffany menunjuk pintu. "Nah, saksi sudah melihat korban makan. Pergi."
"Tapi Bos bilang saya harus menunggu konfirmasi foto."
"Lo mau gue foto lo diusir?"
Billy tidak menunggu ancaman kedua. Ia membungkuk cepat pada Naomi, lalu mundur sampai hampir menabrak pintu kaca.
Sepanjang siang, Darren tidak muncul. Tapi jejaknya ada di mana-mana.
Kopi tanpa gula diantar pukul dua, tepat saat Naomi biasanya mulai pusing karena menatap sketsa. Payung hitam baru muncul di depan pintu ketika langit mendung. Bahkan sopir Grab yang dipesan salah satu pegawai bercerita, ada mobil hitam berhenti lama di seberang jalan sejak pagi.
Naomi tahu itu Darren.
Ia membenci caranya mengingat semua hal kecil. Lebih membenci lagi karena hatinya, yang sudah ia paksa membatu, masih bisa berdenyut oleh hal sekecil bubur hangat.
Sore turun bersama hujan tipis.
Naomi berdiri di balik kaca boutique, memandangi jalan yang basah. Tiffany sedang di pantry, mengomel pada supplier kain lewat telepon. Pegawai lain sudah pulang lebih dulu. Maison de Belle menjadi sunyi, hanya tersisa suara jarum mesin jahit yang berhenti dan aroma kain baru.
Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan boutique.
Naomi tidak bergerak.
Pintu mobil terbuka. Darren keluar dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, rambut sedikit basah oleh hujan, dan satu tangan masuk ke saku. Di bawah lampu jalan, mata rubahnya tampak lebih terang, seolah seluruh kota boleh gelap asal ia tetap bisa menemukan Naomi.
Tiffany keluar dari pantry dan langsung mengumpat pelan. "Nah. Bos besar sok romantisnya datang sendiri."
Darren bersandar di sisi mobil, menatap Naomi melalui kaca.
Lalu ia tersenyum, kecil dan nakal, seperti empat tahun tidak pernah berdiri di antara mereka.
"Nao," ucapnya ketika Naomi membuka pintu, suaranya menembus gerimis. "Kamu mau terus menghindariku sampai kapan?"