NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Aku tidak pernah benar-benar melupakan nama Hanzo.

Bahkan ketika dunia sudah tenang, bahkan ketika aku menjadi Tauke Besar Keluarga Tong, nama itu tetap muncul di sela-sela malam yang terlalu sunyi. Hanzo bukan sekadar musuh. Ia adalah luka yang berjalan—pengkhianatan yang lahir dari tempat yang sama denganku.

Kami berasal dari desa yang sama.

Kami belajar jurus yang sama.

Kami pernah bermimpi tentang masa depan yang sama.

Dan justru karena itulah, pertemuan kami tak pernah bisa sederhana.

Aku menemukannya di perbatasan lama, tempat yang dulu menjadi jalur pelarian terakhir saat desaku runtuh. Hanzo berdiri di sana seolah menungguku. Rambutnya kini memutih di beberapa bagian, wajahnya lebih keras, tapi sorot matanya… masih sama. Tajam. Penuh perhitungan.

“Akhirnya,” katanya. “Tauke Besar Kenzy Tong.”

Aku tidak mencabut senjata. Ia juga tidak. Angin bergerak pelan, membawa debu dan kenangan yang tak diundang.

“Kau tahu kenapa aku di sini,” lanjutnya.

Aku mengangguk. “Dan kau tahu kenapa aku tidak mengirim orang lain.”

Hanzo tertawa kecil. “Masih terlalu sentimental.”

Ia benar. Tapi ada pertempuran yang tidak bisa diwakilkan.

Kami bergerak hampir bersamaan. Tidak ada aba-aba. Tidak ada teriakan. Tubuh kami sudah saling mengenal ritme satu sama lain sejak lama. Setiap serangan yang ia lancarkan terasa familiar—jurus lama yang dimodifikasi, penuh niat membunuh, tapi juga penuh ego.

Aku menahan, mengalihkan, membaca. Hanzo selalu menyerang lebih dulu. Ia ingin mendominasi, ingin membuat dunia tunduk lewat tekanan. Aku berbeda sekarang. Aku menunggu celah, bukan menciptakan kekacauan.

“Kau berubah,” katanya sambil mundur setengah langkah.

“Kau juga,” jawabku. “Tapi tidak cukup.”

Ia marah. Dan di situlah kesalahannya.

Hanzo mengeluarkan teknik yang dulu hanya diajarkan pada sedikit orang. Teknik terlarang. Bukan karena mematikan, tapi karena mengorbankan kendali diri. Setiap gerakannya menjadi lebih cepat, lebih keras—dan lebih mudah ditebak.

Aku tidak menghindar. Aku masuk ke dalam jangkauannya.

Benturan itu mengguncang tanah. Nafasku berat, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang menekan dadaku. Dalam sepersekian detik, aku melihat wajahnya—bukan sebagai pengkhianat, tapi sebagai teman lama yang memilih jalan berbeda.

“Kenapa, Hanzo?” tanyaku di sela benturan.

“Karena aku tidak mau hidup bersembunyi seperti kau!” teriaknya.

Di situlah aku mengerti.

Hanzo tidak mengkhianati desa karena benci. Ia melakukannya karena takut menjadi kecil. Takut hidup tanpa kekuasaan. Takut dunia tidak mengingat namanya.

Aku menghentikan seranganku.

Itu hampir membunuhku.

Hanzo memanfaatkan jeda itu untuk menyerang penuh tenaga. Dunia berputar. Aku jatuh, tapi bukan karena kalah. Aku memilih untuk jatuh agar bisa berdiri dengan cara berbeda.

Aku bangkit perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak emosional.

“Aku tidak bersembunyi,” kataku pelan. “Aku memilih hidup.”

Kali ini aku yang bergerak. Bukan dengan amarah, tapi dengan keputusan. Setiap langkahku presisi. Setiap serangan punya tujuan, bukan pembuktian. Hanzo mulai kehilangan ritme. Ia terbiasa menghadapi orang yang ingin menang—bukan orang yang ingin mengakhiri sesuatu.

Pertarungan kami mencapai puncaknya saat matahari mulai tenggelam. Cahaya senja menyelimuti medan, membuat bayangan kami memanjang seperti masa lalu yang tak mau pergi.

Serangan terakhir kami bertemu di tengah.

Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan.

Hanya keheningan panjang.

Hanzo terhuyung. Aku berdiri.

Ia tidak mati. Aku memastikan itu. Karena membunuhnya hanya akan menyederhanakan cerita yang terlalu rumit untuk diselesaikan dengan darah.

Ia jatuh berlutut.

“Lakukan,” katanya. “Akhiri.”

Aku menatapnya lama. Lalu aku menurunkan senjataku.

“Jika aku membunuhmu,” kataku, “aku akan mengabadikan alasanmu. Dan aku menolak itu.”

Aku pergi meninggalkannya di sana—hidup, kalah, dan harus menghadapi dunia tanpa kebencian sebagai tameng.

Langkahku terasa berat, tapi dadaku ringan.

Malam itu, aku berdiri sendirian, memandang langit. Aku sadar sesuatu yang penting: pertarungan terbesarku bukan melawan Hanzo, Scarlet, atau Lin—melainkan melawan diriku sendiri yang dulu hidup dari dendam.

Aku menang bukan karena lebih kuat.

Aku menang karena aku berhenti ingin menang.

Dan sebagai Tauke Besar Keluarga Tong, itulah keputusan paling berat—dan paling benar—yang pernah kuambil.

Aku selalu tahu, jika aku dan Hanzo bertemu lagi, salah satu dari kami tidak akan pulang.

Bukan karena dendam semata, tapi karena ada dosa lama yang tidak bisa ditebus dengan kata-kata. Hanzo adalah pengkhianat desaku. Tapi lebih dari itu—ia adalah cermin dari diriku yang mungkin akan lahir jika aku mengambil satu langkah yang salah di masa lalu.

Kami bertemu di tanah kosong bekas Desa Aokawa. Tidak ada bangunan tersisa, hanya fondasi patah dan batu altar yang retak. Tempat ini seharusnya mati bersama kenangan, tapi justru di sinilah segalanya berakhir.

Hanzo berdiri membelakangiku saat aku tiba.

“Aku tahu kau akan datang sendiri,” katanya tanpa menoleh.

“Aku tidak pernah menyuruh orang lain menyelesaikan urusan lama,” jawabku.

Ia berbalik. Wajahnya penuh garis usia, matanya cekung, tapi api di dalamnya masih sama—api yang dulu membuatnya berbakat, dan akhirnya menghancurkan segalanya.

“Kau berhasil, Kenzy,” katanya. “Pemimpin. Tauke Besar. Pelindung keluarga.”

“Dan kau gagal,” balasku. “Tapi itu belum terlambat.”

Ia tertawa. Bukan tawa gembira. Tawa orang yang tahu jalan pulang sudah tertutup.

Kami bergerak bersamaan.

Benturan pertama membuat lenganku mati rasa. Hanzo menyerang tanpa ragu, tanpa niat bertahan. Setiap jurusnya keras, tajam, dan penuh keputusasaan. Ia tidak bertarung untuk menang—ia bertarung untuk mengakhiri.

Aku menahan. Menghindar. Membaca. Tapi setiap kali aku membuka celah, Hanzo masuk lebih dalam, seolah ingin memastikan tidak ada masa depan setelah duel ini.

“Kau selalu seperti ini!” teriaknya. “Selalu menahan diri! Selalu merasa lebih benar!”

Aku menangkis serangannya dengan susah payah.

“Aku belajar,” kataku. “Sementara kau berhenti.”

Hanzo mengeluarkan teknik terakhir—jurus lama yang dulu dilarang keras oleh para tetua. Teknik yang menguras tubuh penggunanya sedikit demi sedikit. Aku bisa melihat tangannya gemetar, napasnya terputus-putus.

“Kenapa, Hanzo?” tanyaku di sela benturan. “Kenapa kau mengkhianati desa kita?”

Matanya merah.

“Karena aku lelah hidup kecil!”

“Dan pengkhianatan membuatmu besar?”

“Setidaknya… dunia melihatku.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada serangannya.

Aku melihat diriku yang lain di sana. Versi diriku yang mungkin akan memilih kekuasaan daripada kesunyian. Versi yang tidak pernah belajar berhenti.

Pertarungan kami mencapai puncaknya saat senja turun. Darah menetes ke tanah—aku tidak tahu milik siapa. Nafasku berat. Tubuh Hanzo mulai goyah, tapi ia masih memaksa berdiri.

Serangan terakhir datang cepat.

Aku bereaksi terlambat.

Pisau Hanzo menembus sisiku. Rasa sakitnya tajam, tapi yang lebih menyakitkan adalah ekspresi wajahnya—lega. Seolah akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari.

Aku mendorongnya menjauh. Kami berdiri saling berhadapan, darah mengalir di antara kami.

“Sekarang kau bisa,” katanya terengah. “Akhiri aku. Buktikan kau lebih baik.”

Tanganku gemetar saat mengangkat senjata.

Aku tidak ingin melakukan ini.

Tapi aku sadar—membiarkannya hidup berarti membiarkannya terus melukai dunia, dan dirinya sendiri. Hanzo tidak mencari pengampunan. Ia mencari akhir.

Serangan terakhirku cepat. Bersih. Tepat.

Hanzo terdiam.

Ia jatuh berlutut, lalu roboh ke tanah. Aku berlutut di sampingnya, menahan darah yang keluar percuma. Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di matanya. Hanya kelelahan.

“Akhirnya… tenang,” bisiknya.

“Maaf,” kataku lirih. “Aku terlambat menyelamatkanmu.”

Ia tersenyum tipis.

“Tidak… kau menyelamatkan dirimu sendiri.”

Napasnya berhenti di sana.

Aku duduk lama di samping jasadnya. Tidak ada kemenangan. Tidak ada kelegaan. Hanya kesunyian yang sangat dalam. Angin malam melewati reruntuhan desa kami, membawa suara masa lalu yang tidak bisa diperbaiki.

Aku menguburkan Hanzo di sana. Tanpa nama. Tanpa simbol. Bukan sebagai pengkhianat—tapi sebagai anak desa yang tersesat.

Malam itu, aku menangis. Bukan sebagai Tauke Besar. Bukan sebagai ninja. Tapi sebagai Kenzy—anak yang kehilangan teman, sekali lagi.

Aku menang.

Tapi ada bagian dari diriku yang mati bersamanya.

Dan sejak hari itu, aku mengerti:

tidak semua kemenangan membuatmu utuh. Beberapa hanya mengajarimu cara hidup dengan kehilangan.

Aku kembali ke Keluarga Tong membawa luka yang tidak terlihat. Aku memimpin dengan lebih hati-hati. Lebih sunyi. Karena aku tahu—jika aku lengah, dunia akan melahirkan Hanzo lain.

Dan aku tidak ingin mengubur siapa pun lagi di tanah kenangan.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!