Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. DI BALIK GERBANG KEKUASAAN
..."Ketika kau melangkah ke istana kekuasaan, setiap kata adalah taruhan, setiap gerakan adalah jebakan."...
...---•---...
Kereta kuda berhenti di depan gerbang besi tinggi yang menjulang seperti dinding benteng. Dua penjaga Belanda berdiri kaku dengan seragam putih bersih dan senapan di bahu. Mata mereka menatap tajam ketika Doni turun dari kereta, pakaian kampungnya yang sederhana terlihat sangat tidak pada tempatnya di tengah kemegahan ini.
Van der Berg turun duluan, menunjukkan surat izin pada penjaga. Mereka membaca sejenak, mata mereka bergerak cepat di atas kertas, lalu mengangguk dan membuka gerbang dengan bunyi besi berderit keras yang membuat bulu kuduk Doni berdiri.
"Jangan bicara kecuali ditanya," bisik Van der Berg ketika mereka berjalan melewati taman luas. Suaranya rendah, mendesak. "Dan jangan menatap Residen terlalu lama. Mereka anggap itu tidak sopan."
Doni mengangguk, meski hatinya bergemuruh seperti genderang perang. Telapak tangannya berkeringat. Ini bukan lagi soal mengobati orang sakit. Ini soal bertahan hidup.
Kediaman Residen berdiri megah di ujung jalan setapak batu, tiga lantai dengan pilar-pilar putih tinggi yang menjulang ke langit, jendela-jendela besar yang berkilau menangkap cahaya matahari, dan atap genteng merah seperti istana. Di halaman depan, air mancur marmer menyembur air jernih dengan bunyi gemerisik yang menenangkan, bunga-bunga impor yang tidak pernah Doni lihat tumbuh di mana-mana, warna-warni yang menusuk mata. Mawar merah darah. Tulip kuning cerah. Bunga lavender ungu yang mengeluarkan aroma asing.
Ini bukan rumah. Ini simbol kekuasaan yang dibangun di atas keringat rakyat pribumi.
Pelayan membukakan pintu dengan gerakan halus yang terlatih. Lantai marmer putih mengkilap seperti cermin, langit-langit tinggi dengan lukisan malaikat yang melayang di awan, tangga melingkar dengan pegangan emas yang berkilauan. Udara di dalam terasa dingin, berbau lilin mahal dan bunga segar. Doni merasakan napasnya menjadi lebih pendek. Ini terlalu jauh dari gubuk bambu. Terlalu jauh dari dunia yang aku kenal.
Mereka dipandu naik ke lantai dua, sepatu kulit Van der Berg mengetuk lantai marmer dengan irama teratur. Doni berusaha melangkah sepelan mungkin agar tidak membuat bunyi. Mereka melewati lorong dengan lukisan-lukisan wajah orang Belanda yang menatap dengan angkuh dari bingkai emas, mata mereka seakan mengikuti setiap gerakan Doni. Akhirnya mereka berhenti di depan pintu kayu besar dengan ukiran rumit, gambar-gambar burung dan dedaunan yang begitu detail.
Pelayan mengetuk tiga kali. Tok. Tok. Tok.
"Masuk."
Suara berat, penuh wibawa, membuat perut Doni bergolak.
Pintu terbuka dengan bunyi engsel yang hampir tidak terdengar. Ruangan di dalam luas, dipenuhi rak buku tebal dengan punggung kulit cokelat dan huruf emas, meja kerja besar dengan tumpukan dokumen yang rapi, dan di belakang meja itu duduk seorang lelaki Belanda berusia lima puluhan dengan kumis tebal yang dipelihara sempurna dan mata biru tajam seperti pecahan es. Residen Van den Bosch. Penguasa tertinggi wilayah ini.
Di sampingnya, seorang perempuan duduk di kursi malas dengan selimut tebal menutupi tubuhnya meski udara tidak dingin. Kulitnya pucat seperti lilin, matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya, rambutnya pirang kusam terikat longgar. Dia terlihat rapuh, seperti boneka porselen yang retak dan akan hancur jika disentuh terlalu keras.
"Ini tabib yang dibicarakan?" tanya Residen dengan nada meragukan, menatap Doni dari atas ke bawah, seakan menilai hewan ternak.
"Ya, Tuan Residen," jawab Van der Berg hormat, kepalanya sedikit menunduk. "Dia yang menyembuhkan istri saya dan anak Tuan Kasim."
Residen Van den Bosch menatap Doni lama. Tatapannya menusuk, mencari kelemahan, mencari kebohongan. "Kau terlihat muda. Berapa umurmu?"
"Lima belas tahun, Tuan."
Alis Van den Bosch naik tinggi. "Lima belas? Dan kau klaim bisa menyembuhkan penyakit yang dokter terlatih tidak bisa?"
"Saya tidak pernah klaim bisa menyembuhkan semua penyakit," jawab Doni hati-hati, memilih setiap kata seperti melangkahi ranjau. "Tapi saya akan coba yang terbaik."
Van den Bosch terdiam, mengamati dengan mata yang tidak berkedip. Lalu dia mengangguk pada istrinya. "Ini Mevrouw Van den Bosch. Sudah tiga tahun dia seperti ini. Lemah. Tidak bisa makan banyak. Berat badan terus turun. Dokter Leiden bilang ini penyakit saraf. Tidak bisa disembuhkan."
Doni melangkah lebih dekat, berlutut di samping kursi Mevrouw Van den Bosch agar sejajar dengan matanya. Lantai marmer dingin menusuk lututnya melalui celana tipis. Perempuan itu menatapnya dengan tatapan kosong, lelah, seperti seseorang yang sudah menyerah pada nasib.
"Boleh saya periksa?" tanya Doni pelan dalam bahasa Melayu.
Mevrouw Van den Bosch mengangguk lemah, gerakan yang nyaris tidak terlihat.
Doni mulai dari yang paling dasar. Memegang pergelangan tangannya, kulitnya terasa tipis dan dingin seperti kertas basah, merasakan denyut nadi yang cepat tapi lemah, tidak teratur, kadang melompat, kadang tertinggal. Dia memeriksa mata, mengangkat kelopaknya dengan lembut, melihat selaput putih yang kekuningan, pembuluh darah yang terlihat jelas. Bibir pucat kebiruan, kering dan pecah-pecah di beberapa bagian. Lalu dia menyentuh leher, jari-jarinya meraba dengan hati-hati, merasakan ada benjolan kecil di bawah rahang, tidak terlalu besar tapi jelas teraba.
Di sini. Ada sesuatu di sini.
"Boleh saya lihat lidahnya?"
Mevrouw membuka mulut dengan susah payah. Lidahnya pucat seperti daging mentah yang sudah lama, kering, ada lapisan putih tebal di permukaannya seperti jamur.
"Apa yang Nyonya rasakan setiap hari?" tanya Doni, matanya tetap fokus pada wajahnya.
Mevrouw menjawab dengan suara lemah, nyaris berbisik, dan Van der Berg menerjemahkan. "Dia selalu lelah. Bahkan setelah tidur sepanjang malam. Dia sering pusing, dunia berputar kalau dia berdiri. Jantung sering berdebar-debar tiba-tiba tanpa sebab. Tangan dan kaki terasa dingin sepanjang waktu, bahkan di siang hari. Dan dia tidak nafsu makan. Kalau dipaksa makan, langsung mual, kadang sampai muntah."
Doni mendengar dengan seksama, otaknya bekerja cepat menyusun puzzle, mencocokkan gejala dengan diagnosis. Dia meminta Mevrouw membuka telapak tangannya. Garis-garis di tangannya pucat, bukan merah muda sehat. Kukunya rapuh, sedikit melengkung ke dalam seperti sendok terbalik. Dia menekan kuku itu dengan lembut, melihat warnanya kembali sangat lambat setelah dilepas, alirah darah yang buruk.
Lalu dia menatap wajahnya lagi. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang familiar. Aku pernah melihat ini di masa depan, di ruang praktik yang dulu. Pasien dengan gejala yang sama.
"Boleh saya periksa leher lebih detail?"
Van den Bosch mengangguk tegang, rahangnya mengeras.
Doni meraba area leher dengan hati-hati, jari-jarinya menekan lembut, merasakan bentuk kelenjar tiroid. Ada pembengkakan. Tidak besar, tapi jelas ada, seperti bola kecil di bawah kulit. Dia menekan sedikit, dan Mevrouw meringis, napasnya tertahan.
"Sakit?" tanya Doni.
"Sedikit," jawabnya lemah, suaranya bergetar.
Semua bagian puzzle mulai terkumpul. Kelelahan kronis. Jantung berdebar. Tidak tahan dingin. Kuku rapuh. Rambut rontok. Doni melirik kepala Mevrouw, melihat beberapa helai rambut di bahu selimutnya. Pembengkakan tiroid. Ini bukan penyakit saraf.
Ini penyakit gondok. Kelenjar tiroid yang bengkak dan tidak berfungsi normal. Di dunia modern, ini mudah didiagnosis dengan tes darah. Tapi di sini, tanpa lab, aku hanya punya pengamatan klinis dan logika.
"Saya tahu apa penyakitnya," kata Doni pelan.
Ruangan langsung sunyi. Semua mata tertuju padanya. Bahkan Mevrouw menatapnya dengan mata yang sedikit lebih hidup, ada secercah harapan di sana.
"Apa?" tanya Van den Bosch, suaranya tajam seperti pisau.
"Kelenjar di lehernya bengkak. Kelenjar yang mengatur tenaga tubuh. Karena bengkak, tubuh Nyonya tidak bisa jalan normal. Makanya selalu lelah, tidak nafsu makan, jantung tidak teratur."
Van den Bosch menatap Van der Berg, seakan meminta konfirmasi, mencari kebenaran. Van der Berg hanya mengangkat bahu, tidak tahu, wajahnya sama tegangnya dengan Residen.
"Leiden bilang ini bukan masalah kelenjar," kata Van den Bosch, nada suaranya ragu-ragu. "Dia sudah periksa."
"Dokter Leiden periksa dengan cara Eropa," jawab Doni hati-hati, memilih kata-katanya seperti berjalan di tali tipis. "Saya periksa dengan cara berbeda. Merasakan, melihat, mendengar tubuh bicara."
"Dan kau bisa menyembuhkannya?"
Pertanyaan sejuta gulden. Doni tahu, di dunia modern, gondok bisa diobati dengan yodium atau hormon buatan. Tapi di sini? Tanpa obat modern? Hanya ada satu cara.
"Saya bisa memperbaiki," kata Doni akhirnya, suaranya lebih yakin dari perasaannya. "Tidak langsung sembuh total. Tapi perlahan, tubuh Nyonya akan lebih kuat."
"Bagaimana caranya?"
Doni berpikir cepat. Yodium. Aku butuh yodium. Dan yodium ada di laut. Di rumput laut. Di garam laut yang belum diproses.
"Saya butuh rumput laut segar," kata Doni. "Yang dari laut, bukan kolam. Dan garam laut kasar yang masih basah. Setiap hari, Nyonya harus makan sedikit rumput laut, dimakan mentah atau direbus sebentar. Dan garam laut itu diminum dengan air hangat."
Van den Bosch mengerutkan kening, alisnya hampir menyatu. "Rumput laut? Itu makanan orang miskin."
"Tapi di dalam rumput laut ada zat yang tubuh Nyonya butuhkan. Zat yang bikin kelenjar di leher bisa kerja normal lagi."
"Dokter Leiden tidak pernah bilang soal ini."
"Karena Dokter Leiden tidak tahu," jawab Doni tenang, meski jantungnya berdebar keras. "Ini pengetahuan lama, dari orang-orang pesisir. Mereka jarang kena penyakit ini karena setiap hari makan rumput laut."
Itu bukan sepenuhnya bohong. Di Jepang dan daerah pesisir lain, orang memang jarang kena gondok karena diet tinggi yodium. Tapi aku menyederhanakannya agar bisa diterima.
Van den Bosch menatap istrinya lama. Matanya melembut untuk sesaat, menunjukkan kekhawatiran yang dalam. "Apa kau mau coba?"
Mevrouw Van den Bosch menatap Doni lama. Matanya yang lelah seakan mencari kebenaran di wajah bocah kampung ini, mencari kepercayaan di tengah keputusasaan. Lalu dia mengangguk pelan.
"Baik," kata Van den Bosch, suaranya kembali keras. "Tapi jika dalam dua minggu tidak ada perubahan, kau akan berhenti. Aku tidak mau istriku jadi bahan percobaan."
"Saya mengerti," jawab Doni, tenggorokannya kering.
"Dan," tambah Van den Bosch, suaranya menjadi lebih keras, mata birunya menusuk seperti es yang membakar, "jika dia semakin parah, kau akan bertanggung jawab. Paham?"
Ancaman jelas. Kalau gagal, aku bukan hanya kehilangan praktik. Aku kehilangan nyawa. Doni menelan ludah tapi mengangguk. "Paham."
Van den Bosch mengangguk pada pelayan yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Urus apa yang dia butuhkan. Rumput laut, garam laut, apapun."
...---•---...
...BERSAMBUNG...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲