Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Brak.
" Surat apa ini? "
Inara yang sedang duduk di sisi meja makan dengan menikmati puding kesukaannya, melirik ke arah surat perceraian yang di banting kasar oleh Brian.
" Apa matamu buta hingga tak bisa membaca isi dari surat itu? "
Brian tercengang. Dan sekejap menatap Inara dengan bingung.
Dalam hati pria itu bertanya - tanya.
Apakah wanita di depannya ini benar - benar Inara yang selama ini dirinya kenal?
Mengingat jika selama ini kalimat yang keluar dari dalam mulut Inara selalu terdengar lembut, halus bahkan terdengar sangat menyejukan hati.
Tapi ini....
Kenapa Inara terlihat sekasar ini.
Brian kembali menatap Inara dengan lekat.
Dari tekstur wajah wanita itu terlihat benar - benar sangat mirip dengan Inara yang selama ini ia kenal.
Sampai sebuah tebakan gila pun tak sengaja terlintas di benak pria itu.
Apakah dia adalah kembaran Inara?
Tapi Inara adalah anak tunggal. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki kembaran.
Sampai nada suara dingin Inara kembali menggema di kedua telinga Brian.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? "
Brian berdehem sejenak. Seolah ingin menetralkan rasa keterkejutannya terhadap perubahan sikap yang di tunjukan Inara.
" Maksudku kenapa kau memberikan surat cerai itu padaku? "
" Kau isi bertanya kenapa aku memberikan surat cerai itu padamu? " Inara tertawa kecil. Namun bukan tawa yang terlihat manis seperti biasanya yang wanita itu perlihatkan di depan Brian.
Melainkan sebuah Tawa menyeramkan, yang berhasil membuat sekujur bulu kuduk yang ada pada tubuh Brian jadi merinding ketika melihatnya.
__
Melihat wajah Brian yang diam seperti orang bodoh. Inara pun menghentikan tawa kecil bercampur rasa kesalnya.
Entah selama ini otaknya yang bodoh. Atau matanya yang buta. Hingga ia bisa begitu mencintai dan tergila - gila dengan pria spesies binatang seperti sosok pria di hadapannya itu.
Dan Inara sangat bersyukur. Karena kini Tuhan telah membukakan pintu hati serta pikirannya.
Agar tak sampai mencintai pria yang tak layak untuk ia berikan cinta.
" Apa maksud ucapanmu Inara? "
Inara kembali terkekeh. Dan dengan santai mengusap sudut bibirnya menggunakan selembar tisu yang telah di sediakan pelayan di atas meja makan.
Sampai wanita bergaun hitam itu berkata." Bukankah hal ini yang selama ini kau inginkan tuan Brian Domani. Jadi aku hanya mengabulkannya saja."
" Sekali lagi aku tanya padamu Inara. Apa maksud dari surat perceraian ini? " dengan nada kesal bercampur tak sabar Brian membentak Inara. Hingga kegaduhan itu pun tak sengaja di dengar oleh para pelayan yang berlalu lalang di sana.
Apalagi ini merupakan kali pertama Brian membentak Inara.
Semakin merasa penasaranlah mereka terhadap apa yang menjadi penyedap kedua pasangan yang selalu terlihat adem ayem. Kini malah tampak bertengkar hebat.
Namun seperti pelayan orang kaya pada umumnya.
Apapun yang mereka lihat dan mereka dengar tentu saja harus mereka simpan seorang diri.
Tak boleh sampai bocor ke orang luar. Apalagi wartawan. Jika mereka masih mau bekerja sebagai pelayan di mansion besar itu.
" Surat itu artinya aku ingin berpisah dengan mu Brian. Masak hal sepele seperti itu kau tak mengerti? " Inara berdiri. Dan menatap Brian dengan nyalang.
" Alasannya... Apa kau bisa mengatakan alasannya hingga kau meminta cerai dariku? "
" Alasannya? " Inara terkekeh kecil sejenak. Setelah mendengar sebuah pertanyaan konyol yang pria itu layangkan untuknya.
Sampai wanita itu mendekatkan diri ke arah Brian yang berdiri tak jauh darinya berada. Kemudian berbisik." Apa kau tak berniat untuk menjadikan wanita murahan itu sebagai istri sah di keluarga ini? "
Deg.
Tubuh Brian membeku. Dengan otot lidah yang terasa kelu ia gerakan , untuk Brian gunakan mengeluarkan kalimat sebagai balasan atas pernyataan Inara yang menjurus ke arah hubungan gelapnya bersama Anita.
" Atau ... kau tak berniat memberikan status sah kepada anak yang saat ini tengah di kandung oleh wanita itu, Brian? "
Untuk kedua kalinya , tubuh Brian membeku di tempat.
Ia benar - benar tak menyangka jika Inara selama ini sudah mengetahui semua rahasia yang ia simpan.
Namun bukannya meminta maaf. Pria gila itu malah terkekeh kecil. Hingga Inara di depannya hanya bisa menatap dingin ke arah pria itu. Dan tentu saja dengan kondisi hati yang semakin terasa benci kepada Brian.
" Jadi akhir - akhir ini kau berubah karena masalah ini? "
Brian kembali melanjutkan tawa kecilnya.
Terlihat tampan memang. Tapi sayangnya wajah yang dulu seringkali Inara puja - puja itu , sekarang malah ingin sekali ia tonjok hingga berubah babak belur tak berbentuk.
Karena sikap pria itu yang benar - benar menyebalkan untuk ia lihat.
Entah setan apa yang dulu pernah merasukinya hingga ia bisa begitu mencintai pria tak memiliki hati seperti Brian.
" Ya.. Jadi mari kita berpisah Brian? Lagi pula aku sudah bosan bermain rumah - rumahan denganmu. Apalagi harus bersikap seperti boneka baik setiap hari. Aku benar - benar muak melakukannya."
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra