NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Kehancuran

Tepat pukul 21:00, ketika Gala Dinner mencapai klimaksnya dan Kirana sedang memberikan pidato penutup tentang "Integritas dan Nilai-Nilai Keluarga," bom waktu Nadia meledak.

Di venue mewah itu, ratusan ponsel wali murid, donatur, dan media massa lokal yang diundang serentak berbunyi. Di layar-layar besar yang menayangkan wajah Kirana yang berseri, bayangan pemberitahuan e-mail muncul di beberapa ponsel yang diletakkan di meja.

Nadia telah meluncurkan senjata nuklirnya.

Isi e-mail anonim yang dikirim Nadia ke Dewan Sekolah, semua wali murid, dan media massa lokal itu adalah:

Subjek: ELEGIE DI BALIK GERBANG MAHONI: Kebenaran di Balik Integritas The Golden Bridge

Isi e-mail itu, yang diklaim dari mantan karyawan Komite, merangkum kejahatan moral Kirana dan menyertakan tiga lampiran yang mematikan.

Nadia ada di rumahnya, memantau dampak e-mail itu dari feed media sosial yang ia siapkan. Dalam hitungan menit, keributan mulai terjadi.

Rina, yang masih berada di Gala Dinner sebagai mole, mengirimkan pesan suara singkat, suaranya tercekat oleh kepanikan di sekitarnya: "Bu Nadia, semua orang melihatnya! Beberapa ibu berdiri dari meja mereka. Salah satu anggota Dewan Sekolah terburu-buru keluar ruangan. Kirana sedang berbicara tentang legacy keluarga, dan sekarang tidak ada yang mendengarkannya!"

Di Gala Dinner, Kirana mengakhiri pidatonya dengan senyum penuh kemenangan, merasa lega karena lelang berjalan sukses dan ancaman Nadia sudah selesai. Namun, ia melihat ratusan orang tidak bertepuk tangan. Mereka menatap ponsel mereka dengan mata melebar.

Seorang reporter muda dari meja belakang mengangkat teleponnya dan memotret layar e-mail itu, mengirimkannya ke kantor berita.

Kirana melangkah turun dari panggung dan segera didekati oleh Ketua Dewan Sekolah, yang wajahnya sangat pucat.

"Kirana, ada e-mail... lihat ini," bisik Ketua Dewan Sekolah itu, tangannya gemetar menunjukkan lampiran Memo Asli Mr. Taufik.

Kirana membaca memo itu—tulisan tangan Taufik yang mengonfirmasi bahwa Aksa tidak plagiat dan ia dipaksa berbohong—dan darahnya seolah surut. Wajahnya berubah dari kelelahan menjadi teror. Lampiran pertama adalah penghancuran moral atas nama baik putranya.

"Ini... ini fitnah! Data lama yang tidak valid!" Kirana tersentak, menggunakan bantahan yang selalu ia gunakan, tetapi kali ini suaranya tidak meyakinkan.

"Tidak, Kirana! Ada lampiran B dan C!" balas Ketua Dewan Sekolah itu, suaranya meninggi. "Lampiran B menunjukkan korespondensi Anda tentang pengorbanan Rizky dan selisih 3% dana Yayasan! Ini sudah kejahatan institusional!"

Sesaat kemudian, seorang ibu berteriak nyaring: "Mengapa Anda mengorbankan anak yatim piatu itu?!"

Kerumunan mulai berkumpul. Lampiran C, Perjanjian Kerahasiaan Widodo Raharja yang dikirim oleh Arief, adalah pukulan telak yang menyerang fondasi finansial The Golden Bridge. Para donatur panik, menyadari bahwa sekolah mereka berdiri di atas aib penipuan dan uang haram.

Di rumah, Nadia menerima pesan suara dari Rina, yang kini berada di toilet venue untuk merekam keributan.

"Bu Nadia, Ibu-ibu menyerbu Kirana! Mereka menanyakan tentang Vila Uluwatu! Mereka menanyakan mengapa Bapak Wijaya tidak hadir! Ini seperti pesta kehancuran! Kirana hanya berdiri di sana, dia tidak bisa berbohong lagi! Dia terlihat seperti akan pingsan!"

Rina menambahkan, "Pemenang lelang Kirana juga menanyakan sesuatu. Dia baru saja membaca Booklet Lelang yang Anda buat!"

Pemenang lelang—pengusaha properti yang tidak mengenal Kirana—kini menyadari bahwa Booklet yang baru ia tandatangani mengandung Klausul Denda Lima Kali Lipat. Ia mendekati Kirana, bukan untuk mengucapkan selamat, tetapi untuk menanyakan keabsahan kontrak.

Kirana, yang baru saja didera oleh skandal Memo Taufik, skandal dana 3%, dan aib sejarah, kini harus berhadapan dengan bom waktu legal yang ia tanda tangani sendiri.

Klimaks terjadi ketika Ibu Siska dan Ibu Nina, kedua korban pengkhianatan Kirana, memasuki kerumunan.

Ibu Siska, yang kini telah menemukan keberaniannya, berbicara dengan lantang di tengah kekacauan. "Kirana menghancurkan anak saya demi display Gala Dinner! Dia menghancurkan Rio! Dia menghancurkan semua orang yang berani tidak sempurna!"

Ibu Nina, yang kini memegang kendali atas kredibilitas finansial, menelepon Ketua Yayasan Tangan Emas di depan semua orang. "Saya menarik semua donasi saya dan meminta audit eksternal penuh atas semua aset Yayasan, termasuk Vila Uluwatu. Kirana telah melanggar integritas finansial dan moral!"

Nadia mematikan feed media sosialnya. Ia tidak perlu melihat akhirnya. Ia tahu, Gerbang Mahoni telah runtuh. Kirana tidak hanya kehilangan reputasinya; ia kini menghadapi konsekuensi hukum (Yayasan), konsekuensi institusional (Dewan Sekolah), dan konsekuensi sosial (semua sekutunya kini menjadi musuh).

Beberapa jam kemudian, ponsel Nadia berdering. Itu adalah Bapak Wijaya. Suara Bapak Wijaya sangat dingin, lebih dingin dari yang Nadia duga.

"Nadia Permata," kata Bapak Wijaya, suaranya nyaris seperti desisan. "Anda yang melakukannya. Saya tahu. Anda mengancam bisnis saya dengan leak Vila Uluwatu dan sejarah Widodo Raharja. Kirana adalah boneka bodoh yang Anda hancurkan. Tapi saya akan pastikan Anda membayar mahal untuk ini."

Nadia tidak panik. Ia telah memprediksi ini. "Bapak Wijaya, saya hanya ibu yang membalaskan keadilan untuk anaknya. Vila Uluwatu adalah masalah Anda dan pengacara Anda. Memo Mr. Taufik adalah masalah anak saya. Dan sekarang, saya sudah selesai."

Nadia mengakhiri panggilannya. Ia melihat ke kamar Aksa yang tidur nyenyak. Keadilan telah ditegakkan, bukan melalui hukum yang berbelit-belit, tetapi melalui seni manipulasi data dan kehancuran citra—senjata yang sama yang digunakan Kirana untuk menyerang Aksa.

Elegi di balik Gerbang Mahoni bukanlah ratapan atas kemewahan yang hilang, melainkan ratapan atas ilusi kesempurnaan yang akhirnya pecah. Gerbang itu kini terbuka lebar, dan yang tersisa hanyalah aib yang busuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!